Secuil Surga

Ceritanya, malam-malam aku lapar. Jam kecil di depan monitor komputerku menunjukkan pukul 21.30. Sudah lewat jam makan. Salahku juga tadi sore hanya makan roti secuil dan berharap roti itu bisa mengganjal perut sampai malam. Sayangnya, naga di perutku berontak. Hahaha. Mana kenyang dia hanya disumpal dengan sepotong roti? Daripada nanti malam aku tidak bisa tidur karena lapar, mending makan to? Lagian kenapa mesti menahan lapar? Kayak orang susah saja.πŸ˜€πŸ˜€ Di dapur masih ada nasi dan sedikit sayur masakanku sendiri. Sebetulnya tak terlalu selera sih. Maunya masak mi instan. Tapi aku pikir, sayang juga kalau sayur itu tidak kuhabiskan.

Rasa lapar ini mengantarkanku pada kenangan saat masih di asrama dulu. (Memang ya, tinggal di asrama itu bagiku banyak kenangannya…) Sekitar pukul 9 atau 10 malam, kadang aku atau salah seorang teman unit ada yang kelaparan. Karena masih harus begadang–entah karena mengerjakan tugas atau besoknya ujian–maka kami akan ke dapur unit yang merangkap ruang tamu untuk memasak mi instan. Sebagai gambaran, asrama kami dibagi atas beberapa unit yang masing-masing unit terdiri dari ruang belajar, kamar tidur, ruang ganti, dan yang terakhir ruang tamu. Jangan bayangkan ruang tamu itu tempat untuk menerima tamu dari luar. Itu adalah ruang tamu untuk sesama warga asrama saja. Ruang tamu untuk tamu dari luar ada sendiri. Nah, di ruang tamu itu ada beberapa kursi, wastafel, dan rak untuk menyimpan gula, teh, dll. Di situ ada pula kompor. Kompor itu bukan bagian dari fasilitas asrama, tapi biasanya ada salah satu dari kami yang membawa (lengkap dengan wajan dan sodet untuk memasak). Waktu itu masih zaman kompor minyak (terdengar jadul banget ya?). Jadi, salah satu tugas unit adalah membersihkan dan mengganti sumbu kompor. Oke, cerita tentang dapur asrama cukup sekian dulu.

Saat salah satu dari kami memasak mi instan, kadang ada satu atau dua orang teman yang ikut nimbrung. Entah ikut memasak mi instan, entah ikut icip-icip saja. Pokoknya akhirnya kami meriung saja di ruang tamu itu. Kadang ada yang berbaik hati membuat teh. Semangkuk mi instan itu kadang dihabiskan berdua atau tergantung siapa yang mau ikut meramaikan suasana. Dan siapa yang memasak mi instan biasanya gantian. Misalnya malam ini aku, besok temanku yang lain. Begitu saja. Sambil makan kami biasanya mengobrol santai. Ada yang berbagi gosip (biasaaaa, perempuan gitu lo! Kalau nggak bergosip, mana bisa? Hihi), ada yang cerita pengalaman di kampus, ada yang cerita tentang keluarganya, pacarnya, adiknya, kakaknya, simbahnya… apa saja. Obrolan itu bisa berlangsung seru diiringi tawa terbahak-bahak.

Mengingat pengalaman itu, aku merasa itu adalah salah satu indahnya tinggal di asrama. Dulu aku menganggap acara makan mi instan ramai-ramai itu adalah sesuatu yang wajar. Biasa. Saat berlangsung, aku tidak mengira bahwa kebersamaan makan mi itu menimbulkan kehangatan tersendiri di dalam hati ketika mengenangnya. Aku tak mengira bahwa sesuatu yang dulu kuanggap wajar, kini kuanggap kenangan indah. Kebersamaan dengan teman seunit–tertawa bersama, obrolan ngalor-ngidul, minum teh dan makan mi bersama–menjadi harta dalam hati. Memang kalau ditimbang-timbang, sesuatu yang kini tampak biasa dan sederhana, bisa jadi itu adalah secuil surga. Mungkin aku perlu lebih membuka mata menyadari keindahan di sekitarku.

Kamu sendiri, punya kenangan indah makan mi instan?

4 thoughts on “Secuil Surga

  1. Di asrama putri, satu kamar berempat, kamarku di lantai dua, jadi suka malas turun ke dapur yang berada di lantai satu. Tapi setiap sore, bibi mengantarkan dua termos panas…jadi kalau lapar bisa bikin coklat, susu, teh….
    Bagaimana cara masak mi instan…cuma direndam di air panas dalam rantang, ditutup, kemudian diberi taburan bawang goreng….rasanya ? wahh sedap sekali, maklum anak asrama.

  2. Saya juga … sampe sekarang … kalau mau makan enak …
    Bikin Mie Instan … hahaha

    Dan satu lagi …
    … salah satu tugas unit adalah membersihkan dan mengganti sumbu kompor …
    Waaa … ini pasti yang kalau bisa dihindari ya … Sudah bau minyak tanah … hitam jelaga pula

    Salam saya Kris

    (21/2 : 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s