Cerita Banjir

Tahu kan Jakarta sering banjir beberapa hari belakangan ini? Meskipun tidak punya televisi, aku bisa menebak tayangan tentang banjir di Jakarta pasti lumayan sering ditayangkan. Ya iyalah, semua stasiun televisi skala nasional kan adanya di Jakarta. Jelas mereka merasakan langsung akibat banjir itu. Dan karena mereka punya “corong”, mereka jadi rajin koar-koar.

Ngomong-ngomong soal banjir, tempo hari seorang teman mengeluh dia kena macet dalam perjalanan ke tempat kerja. Butuh empat jam untuk sampai tempat dia mencari nafkah itu. Gile ye? Empat jam itu setara perjalanan naik bus Madiun-Jogja. Dia cerita, bajunya kuyup karena terpaksa jalan kaki turun dari angkot. “Kendaraan sama sekali tidak gerak,” lapornya. “Aku sempat keciprat air karena ada motor melintas seenaknya. Trus aku kejar orang itu, sampai lampu merah kupukul pundaknya. Kuomelin dia.” Aku tertawa campur iba mendengar ceritanya. Aku bisa membayangkan seperti apa kesalnya keciprat air di jalan. Apalagi jika kita berada di posisi lemah, misalnya sebagai pejalan kaki, sementara yang menciprati kita adalah mobil bagus. Bawaannya pengen nampol kan?

Meskipun rumahku tidak kena banjir, hujan superderas ditambah berita bahwa banyak jalanan yang tergenang air cukup tinggi membuatku memilih mengurung diri di rumah. Aku tak ingin konyol terjebak macet gara-gara banjir. Duh, amit-amit. Membaca ocehan teman-teman di dunia maya ketika mereka terjebak macet dan banjir saja membuatku eneg. Kebayang kalau aku sendiri yang harus mengalaminya. Matur nuwun, kamsia, enggak deh. Sebisa mungkin tidak.

Seperti biasa, saat hujan seperti ini yang menjadi masalah buatku adalah… cucian! Dengan tempat jemuran terbatas, kesabaranku diuji ketika hujan terus mengguyur. Lagi pula, kalau tidak hujan, matahari tampak malas. Hanya muncul sebentar. Jadi kangen matahari deh.

Saat seperti ini aku bersyukur bahwa listrik di rumah tidak mati. Air PAM juga masih lancar dan bersih. Aku tetap bisa bekerja di rumah. Tapi, suamiku mesti berangkat ke tempat kerjanya seperti biasa. Nah, ada satu cerita dari suamiku yang masih kuingat sampai sekarang. Ceritanya, pagi itu hujan deras sekali. Pol deh derasnya. Sebelum berangkat, suamiku mengecek dari internet daerah mana yang kira-kira macet parah. Dia kemudian memutuskan untuk naik metromini 49 yang lewat Utan Kayu. Kata suamiku, dia cukup beruntung lewat situ karena meski macet, tidak terlalu parah. Dia naik dari terminal Rawamangun–terminal terdekat dari rumah. Waktu bus itu sedang ngetem, suamiku sempat mengobrol dengan sang supir. Jalanan yang macet dan di mana-mana banjir, membuat si supir baru dapat dua rit sejak pukul 4 pagi (padahal saat itu sudah pukul 9 lebih, eh atau malah hampir pukul 10 pagi ya?). Supir itu kemudian bercerita soal saudara (atau tetangganya, lupa deh aku) yang awalnya tinggal di Kampung Pulo. Seperti diketahui, Kampung Pulo adalah daerah langganan banjir. Kini saudaranya itu pindah di daerah Klender dan tak mau balik lagi ke Kampung Pulo. Apa penyebabnya? Semata karena banjir? Rupanya tidak sesederhana itu. Ceritanya, ketika daerah itu dilanda banjir, si saudara itu berkemas hendak mengungsi. Saat itu tak disangka ada sesuatu yang tertinggal dan hanyut oleh banjir. Tahu apa yang hanyut? Anaknya yang berusia dua tahun! Aku yang mendapat cerita itu hanya terlongo-longo. Kok bisa? Bisa-bisanya anak sampai kelupaan “diangkut”? Ah, entahlah. Mungkin si orang tua terlalu panik?

Aku kadang berpikir, betapa ringkihnya Jakarta ini. Kena hujan deras saja langsung banjir. Jelas ini merugikan banyak orang. Ditambah lagi banjir pasti menimbulkan kemacetan. Kalau macet begitu, berapa banyak BBM yang terbuang sementara nun jauh di ujung Indonesia sana masih banyak orang yang butuh BBM. Berapa pula banyak waktu yang terbuang sia-sia hanya karena orang terjebak banjir dan kena macet? Belum lagi kalau sampai ada bayi hanyut segala. Halah… halah… Bagiku sendiri, suasana hujan dan banjir ini membuat sayuran jadi mahal. Kangkung yang biasanya cukup kutukar dengan uang dua ribuan, kini jadi lima ribu.

Aku berharap Jakarta bisa lebih baik lagi kondisinya. Selain itu yang menurutku penting adalah semoga kota-kota lain bisa belajar dari Jakarta. Kalau bisa, cukup Jakarta saja deh yang mengalami kekonyolan seperti ini. Maksudku, yang kena hujan deras saja langsung banjir. Semoga kota-kota lain juga berbenah, jangan sampai kaya Jakarta rusaknya.

6 thoughts on “Cerita Banjir

  1. Jogja sepertinya akan mengalami “keringkihan” seperti Jakarta. Sebab, gedung-gedung bertingkat dan perumahan berjalan beton semakin tumbuh subur di Jogja. Belakangan, kalau hujan deras, air tergenang terlihat di mana-mana.. Semoga saja bisa segera diantisipasi oleh pemerintah setempat sebelum semuanya terlambat..

  2. Perjalanan empat jam?
    Saya pernah mengalami perjalanan 7 jam, saat itu bukan karena banjir, tapi karena ada demo…bayangkan dari jalan Veteran ke rumahku di belakang Citos, 7 jam.

    Saat banjir kemacetan makin menggila…saya memilih nggak ngantor, inilah enaknya kerja pensiunan, bisa dari rumah … namun untuk meeting, tetap aja harus ke kantor, tak mungkin pakai “conference call” kan?

    Minimal seminggu tiga kali saya keluar rumah, setiap saat selalu siap segala kondisi di jalan….juga siap jika terpaksa harus menginap di suatu tempat karena terhadap macet, banjir, ataupun ada demo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s