Memang Sudah Musimnya…

Kamu suka hujan?

Aku? Kadang suka, kadang tidak. Aku suka hujan, kalau hujan turun tidak terlalu lama. Cukup membuat segar saja. Tidak terjadi banjr. Tidak membuat jalanan becek. Tapi aku kurang suka hujan yang turun pagi hari. Berbeda dengan suamiku. Ketika masih kecil, daerah tempat tinggalnya sering hujan. Jadi, berangkat sekolah sambil hujan-hujanan adalah hal yang biasa. Aku tidak. Aku lebih suka pagi yang cerah. Aku menyukai matahari pagi yang hangat. Bagiku, matahari pagi selalu memberi semangat. Kakakku suka berjemur saat sinar matahari pagi mulai jatuh di halaman belakang rumah kami di Jogja–dan aku suka ikut-ikutan berjemur. Berjemur di pagi hari rasanya enak sekali. Ah, singkat kata, aku mencintai matahari pagi.

Desember lalu, sewaktu aku di Jogja, pada suatu periode hujan turun setiap hari. Hari tampak muram. Mendung menggantung, diikuti rintik hujan yang kadang turun dengan derasnya. Udara dingin. Paling enak meringkuk di tempat tidur. Tapi kalau di tempat tidur terus-terusan tidak enak juga. Inginnya jalan-jalan. Lagi pula, bagaimanapun kan tetap harus keluar rumah. Belanja ke pasar, misalnya. Persediaan sayuran di rumah lama-lama habis dan harus pergi belanja. Dan aku kurang suka belanja di pasar saat hujan. Beceknya itu loh… males deh ah.

Saat cuaca muram seperti itu, aku mengobrol via WhatsApp dengan my partner in crime, sepupuku–Mbak Nova. Aku sempat mengeluh, aku tidak bisa keluar-keluar karena hujan. Dia yang sedang melewati musim dingin dan bersalju di Kanada sana mengatakan bahwa hujan yang tidak berhenti-berhenti itu “memang lagi musimnya.” Aku seperti tersentil. Yaelah, ini si mbak yang di sana mestinya kedinginan, malah tidak terlalu mengeluh. Aku kena hujan sedikit saja, sudah melempem. Dengan kata lain, kalau sering hujan, tidak usah heran. Tidak usah mengeluh. Eh, mengeluh barangkali boleh ya. Tapi jangan berlama-lama kali. Tidak usah terlalu lebay. Aku sudah 30 tahun lebih mengalami musim hujan setiap tahun, kenapa sepertinya masih heran jika ada kalanya hujan bisa turun setiap hari? Dan memang setiap kali cuaca mendung, aku merasa hari-hari muram itu berlangsung abadi. Aku jadi membayangkan bumi berhenti berputar, lalu ada belahan dunia yang siang terus, dan belahan dunia lain gelap terus. Hah, mulai lebay kan?

Kadang aku memang merasa musim hujan itu musim yang muram. Menurutku, hujan boleh saja turun, tapi … kalau aku pas di dalam rumah, kalau cucianku sudah kering semua, kalau aku tidak perlu ke pasar, plus seribu kalau lainnya! Mana bisa begitu? Aku tidak bisa menerima kalau matahari pagi kecintaanku itu tidak muncul. Tapi rasanya berlama-lama mengeluh, percuma juga kan ya? Wong sedang musimnya. Jadi, yang bisa kulakukan adalah menerimanya. Eh, please deh, nggak usah cemberut gitu kali. Toh pagi ini matahari tampak cerah. Dia seperti seorang kekasih yang tersenyum lebar dan menyemangati. Seperti bocah-bocah yang berdendang riang dan melangkah ringan. Seperti pelukan sahabat yang menghangatkan. Mungkin nanti sore, besok, atau minggu depan hujan. Ini masih Januari. Dari yang pernah kudengar dulu, Januari berarti “hujan sehari-hari.” Oke, aku sudah siapkan payung di setiap tas yang sewaktu-waktu kubawa. Semoga, aku tidak terlalu senewen lagi kalau hujan turun. Eh, mana bisa? Haha.

5 thoughts on “Memang Sudah Musimnya…

  1. Hujan-hujanan saat sudah berumur gini kelanjutannya meriang seminggu … “pengalaman”

    Habis hujan-hujan, trus kungkum air hangat barangkali, Pak.🙂

  2. Jaman saya kecil …
    Mandi hujan adalah kebahagiaan yang tiada terhingga

    salam saya Kris

    waktu kecil, saya jarang diperbolehkan main hujan-hujanan, Om. kasihan deh saya. haha. tapi memang benar, main hujan-hujan waktu kecil itu membahagiakan.🙂

  3. Karena terbiasa hidup di Bogor, saya selalu siap sedia payung, yang bermanfaat di segala musim, melindungi kepala saat panas menyengat dan melindungi tubuh saat hujan.

    Hujan membuatku gembira, senang mendengar suara rintik hujan….dan kawatir jika petir dan gludug sudah menyambar-nyambar, apalagi ada anak kecil yang suka menangis saat petir gludug menyambar. Dan ini saatnya memakai baju manyala…hehehe….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s