Pembangkit Kenangan

Beberapa waktu lalu, ketika pulang ke Madiun, cuaca saat itu sering mendung lalu berubah menjadi hujan. Suatu sore, hujan turun cukup deras. Tanpa sadar, aku sudah berdiri di balik jendela kaca ruang tamu. Dari situ aku bisa melihat curahan air hujan di halaman depan. Di jalan tampak empat orang bocah berlarian tertawa-tawa. Seluruh tubuh mereka basah. Main hujan-hujan sepertinya menjadi rekreasi tersendiri bagi anak-anak usia tanggung. Melihat pemandangan itu aku tersadar bahwa beberapa belas tahun lalu, aku suka berdiri di balik jendela kaca ruang tamu mengamati hujan turun. Waktu masih kecil, beberapa kali aku menyelipkan tubuhku yang kecil di pinggiran jendela yang cukup lebar. Aku duduk di situ, mengamati hujan. Bagiku, hujan adalah pembangkit kenangan. Kenangan masa kecil ketika mengamati hujan dari balik jendela. Tidak istimewa memang. Tapi kemarin, ketika aku pulang dan tanpa sadar berdiri di dekat jendela kaca itu, aku seperti merasakan diriku yang dulu, ketika masih kecil dan hanya bisa melihat derasnya air yang turun membasahi halaman. Aku hampir tak pernah berhujan-hujan. Kalau pun pernah, itu pun aku sengaja keluar dengan memakai payung lebar berwarna hitam. (Ketika aku kecil, payung di rumahku rata-rata berwarna hitam. Seperti payung Thomson dan Thompson itu lo. Payung warna-warni baru kukenal ketika aku sudah agak besar.) Hujan dan jendela ruang tamu rumahku di Madiun adalah salah satu pembangkit kenangan.

Selain jendela ruang tamu, kamarku juga menyimpan banyak kenangan. Aku masih ingat ketika menyerakkan buku-buku di atas ranjang lalu kebingungan mau membaca yang mana dulu. Waktu itu menjelang ujian kelulusan seingatku. Tak usah ditanya tentang yang lain-lain, karena banyak sekali kenangan di kamar yang kuhuni semasa remaja, dari SMP hingga SMA. Sewaktu memasuki kamar itu, salah satu kenangan yang muncul adalah ketika ada teman SMP-ku datang dan menghabiskan waktu di kamarku. Rumahnya waktu itu cukup jauh, agak di pinggiran kota. Namanya Yayuk. Entah apa yang kami obrolkan, yang jelas waktu itu kami asyik mengobrol di kamar. Selepas SMP dia masuk ke SMA yang berbeda denganku. Lalu kudengar kabar dia meninggal karena kanker. Aku tak sempat menengoknya. Tak pula melayatnya karena aku sama sekali tidak tahu rumahnya. (Aku ini teman macam apa ya?)

Tempat-tempat tertentu memang seperti pembangkit kenangan bagiku. Kampus Sadhar, Asrama Syantikara, Kapel Panti Rapih, Gereja Kotabaru Jogja adalah tempat-tempat yang sepertinya bisa membawaku menyusuri lorong waktu. Tempat-tempat itu sepertinya menyimpan cerita di setiap dindingnya.

Selain tempat, pembangkit kenanganku adalah aroma dan musik. Aroma sabun Lifebouy warna merah, misalnya, baunya mengingatkanku akan masa kecilku. Waktu itu, ibuku hampir tak pernah mengganti sabun kami dengan sabun lain. Entah, karena apa. Mungkin karena paling murah? Aroma sabun Lux putih mengingatkanku pada hari-hari awalku di asrama. Ada pula sabun berbau melati yang mengingatkanku pada salah seorang teman asramaku yang berasal dari Solo. Dia suka sekali pakai sabun yang tergolong mahal tersebut. Waktu kutanya alasan dia memakai sabun itu, dia mengatakan karena jarang berdandan, dia pun membeli sabun yang agak mahal dan berbau lebih wangi.😀 Masuk akal juga sih.

Kalau musik, lagu-lagu tahun ’80-an dan ’90-an–Fariz RM, Dian Pramana Putra, Indra Lesmana, Kla Project, Roxette, Queen, Genesis, dll–seperti kekuatan mistis membawaku ke masa lalu. Sekelebat-kelebat mengingatkanku pada masa SMP sampai kuliah. Kalau lagu-lagu lama seperti lagu-lagu zaman Koes Plus mengingatkanku pada Mak’e, pengasuhku dulu. Dia dulu sering sekali menyetel lagu-lagu lama dan hapal nama penyanyinya. Siang-siang, ketika dia membersihkan beras di meja belakang dia akan menyetel radio, lalu kalau lagu kesukaannya diperdengarkan, dia akan bilang, “Ini Teti Kadi yang nyanyi” atau dia akan ikut bersenandung. (Waktu itu, keluargaku dapat beras jatah karena orang tuaku PNS, dan beras jatah sering kali kualitasnya buruk, banyak kerikil atau gabah, jadi harus dibersihkan/ditampi sebelum dikonsumsi.) Jadi, lama-lama aku pun akrab dengan lagu-lagu yang lebih tua umurnya dariku itu.

Ah, cuaca yang mendung seperti belakangan ini memang enak kalau ngomong soal kenangan. Ngomong-ngomong apakah kamu juga punya pembangkit kenangan?

3 thoughts on “Pembangkit Kenangan

  1. Aku nggak tahu apa yang membangkitkan kenangan…mungkin foto…visual banget ya?! Tapi aku suka lihat awan. Awan bisa membuat aku teringat pada laut, pada pelajaran Bumi Antariksa (terus jadi inget guru sekolah dan teman-temanku…). Awan juga bisa membuat aku ingat macam-macam hal soalnya kadang bentuknya kayak Petruk, kadang kayak bayi gendut, kadang kayak rambut Rapunzel….hahahaha….rasanya awan dan imajinasiku kompakan ya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s