Dunia yang Bising

Ada beberapa anak yang gemar bermain di depan rumahku. Di jalan kecil depan pagar rumah kontrakanku, tepatnya. Kalau mereka bermain, suaranya terdengar sampai dapurku. Heboh deh. Selain itu, yang tak kalah heboh adalah suara para ibu mereka. Seperti pagi beberapa hari lalu, dari pagi hingga sore suara mereka seperti tak ada habisnya. Riuh. Entah apa yang mereka perbincangkan seharian itu. Aku, seperti biasa, tidak pernah tertarik untuk bergabung. Entahlah, di mana pun aku berada, urusan “nonggo” alias ngrumpi dan ngumpul ramai-ramai dengan tetangga itu tidak pernah menjadi agenda khusus. Malas saja. Mungkin aku termasuk tetangga yang tidak pernah gaul.

Kebetulan pagar depan rumahku ini ditutup seng. Saat anak-anak kampung bermain bola, mereka kadang sengaja mengarahkan bola ke arah pagar, sehingga terdengar suara “dueng… dueng… dueng….” Aku enggan sekali menegur mereka. Sepertinya ini salah satu “sifat burukku” karena merasa diri sebagai pendatang, sementara mereka penduduk asli sini. Malas ribut. Syukurlah jarak antara pagar dan rumahku cukup jauh.

Bagiku, tinggal di Jakarta berarti siap menulikan telinga dari berbagai suara. Kota ini bising sekali. Mulai dari suara tendangan bola anak-anak ke pagar, suara emak-emak mereka yang kedengaran sampai dapur, bunyi bajaj jingga yang memekakkan telinga (plus bau asap knalpotnya yang selalu tercium), bunyi-bunyian dari rumah ibadah yang ada di sekitar rumah, teriakan para penjual keliling yang sering terdengar dari pagi sampai sore, dan seterusnya. Singkat kata: Di sini polusi suara ada di mana-mana. Sementara itu, yang bisa kulakukan adalah diam, membiarkan dan mencoba bersahabat dengan suara-suara tersebut.

Sementara dunia nyata terasa bising, saat terkoneksi internet, aku pun kadang merasa dunia maya juga terasa “bising”. Kalau ada suatu kejadian dalam skala nasional atau internasional, tidak sedikit orang yang melontarkan komentar senada. Misalnya, seperti ketika para dokter mogok, di FB kubaca sebagian orang mendukung, sebagian lagi mengecam. Lalu ketika ada yang posting tentang dokter dari Solo yang baik hati karena suka menggratiskan ongkos pasiennya, orang-orang seketika memberikan pujian. Pertanyaannya, apakah mereka yang memuji itu juga mau meniru tindakan sang dokter–menolong tanpa mengharapkan balasan? Kalau iya dan memang dilakukan sih, ya tidak apa-apa. Idealnya begitu. Tapi kalau cuma memuji lalu tidak melakukan apa-apa, njuk ngopo–trus ngapain? Eh, sinis sekali ya aku? Masih mending memuji ding, ya, daripada tidak sama sekali.😀

Kadang aku merasa dunia ini terlalu bising. Baik dunia nyata maupun dunia maya–entah kalau dunia lelembut. Hihihi. (Bayangkan suara tawa itu seperti tawa Mak Lampir.😀 :D) Begitu pula kadang aku merasa tulisanku seperti hanya menambah kebisingan. Jadi, kadang aku hanya ingin diam. Mengamati. Menyadari. Itu saja.

3 thoughts on “Dunia yang Bising

  1. tapi kalau biasa tinggal di mtb yang ramai, lalu tiba-tiba sepi…. atau ketika aku hidup sendiri di Tokyo dan tak ada teman…. Aku merindukan suara-suara yang membangkitkan nostalgia. Tapi tentu saja hodo-hodoni (sewajarnya, tidak berlebihan)

    menurutku, mtb termasuk sepi deh mbak, jika dibandingkan dengan tempat tinggalku. hehe. ya, kadang-kadang suara-suara tertentu bisa menimbulkan kenangan tersendiri.

  2. hehehe…sekarang memang dunia maya juga semakin ramai ya…makanya kalau nggak perlu-perlu amat saya juga nggak segetol dulu lagi bersuara. Tapi sebenarnya yang saya pelajari dari menulis di dunia maya ini adalah kesempatan untuk menuliskan suatu pemikiran yang bisa menjadi bahan refleksi di kemudian hari. Dan bila kita tidak menuliskannya, maka momen itu bisa saja menghilang terkikis pendeknya memori manusia.

    Betul, Mbak Retty. Dunia maya bisa jadi tempat untuk menuliskan refleksi bagi saya. Yang membuat saya merasa dunia maya itu “bising” adalah ketika orang beramai-ramai mengomentari sesuatu dengan “suara yang sama”. Kesan saya, nggak kreatif deh.

  3. Orang bilang Jakarta tak pernah tidur… bahkan malam hari masih juga ada suara yang mengganggu: suara bajaj, suara anak-anak muda balapan motor liar, dan parahnya nih di kosku dulu. kontrakan tukang/ karyawan lajang, rame banget kalau udah ngobrol dan gitaran. Mau negur juga sungkan.. Untuk mengatasi suara dari luar ya harus nyetel radio/CD…

    Iya, kadang untuk mencari tempat yang agak sunyi pun susah bukan main.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s