Otak-Atik Tempe

Untuk urusan masak, aku menganggap diriku amatiran. Asal bisa. Karena merasa “asal bisa” dan merasa perlu menambah ilmu, salah satu hal yang kulakukan adalah koleksi buku resep masakan dan suka melihat-lihat atau memperhatikan ketika ada orang memasak. Kadang kalau pas lagi pulang ke Jogja, aku bisa menonton TV dan menyaksikan acara masak. Salah satu acara masak yang kusukai adalah Gula-gula yang dipandu Bara Pattiradjawane. Menurutku, masakan dia sederhana. Aku memang kurang suka masak yang terlalu ribet. Kalau bisa mudah dan enak, kenapa tidak? Berkutat di dapur itu butuh waktu dan tenaga. Masalahnya, kemalasanku kan tiada tandingannya hahaha. *Duh, malas saja dibanggakan.*

Setelah sekian lama berusaha untuk bisa memasak, aku berpikir memasak itu berkaitan dengan kreativitas (“kreativitas” pakai “v” ya, bukan pakai “f”; kalau “kreatif“, baru deh pakai “f”). Plus keberanian. Mungkin ibarat menulis, huruf yang tersedia dari A sampai Z kan hanya 26 biji, tapi bisa dijadikan bertumpuk-tumpuk buku, dokumen, makalah, dan sebagainya. Butuh kreativitas kan untuk mengotak-atik 26 huruf itu? Memasak juga begitu. Kalau memasak, bumbu, sayur, dan bahan makanan yang ada di dapur kadang itu-itu saja. Kadang bosan karena yang kita masak juga begitu-begitu saja. Menurutku, itulah gunanya buku resep. Kadang aku membaca buku resep untuk benar-benar meniru apa yang tertulis di situ, kadang ya diotak-atik sendiri resepnya–terutama jika menu yang sudah cukup kita kenal, misalnya sup atau tumis sayur. Misalnya soal tumis sayur, kadang bosan kalau hanya menumis kangkung. Lalu kenapa nggak dicoba menambahkan sedikit potongan ikan tuna atau pipilan jagung? Begitu deh kurang lebihnya. Tapi yaaa, sekali lagi, aku ini amatiran. Untuk mengubah resep kadang masih belum berani.

Ceritanya, kemarin aku menemukan tempe yang kubeli sudah on the way busuk alias semangit. Kalau di rumahku dulu, tempe kadang sengaja dibuat jadi tempe bosok lalu dibuat bumbu. Masalahnya, aku kurang suka tempe bosok. Aku kurang suka baunya. Dan selama ini aku tidak pernah memasak dengan memakai tempe bosok. Mungkin dari seluruh anggota keluargaku, cuma aku yang tidak suka. (Setahuku, orang Jawa memang suka memasak dengan tempe bosok. Setahuku sih, ya. Aku tidak tanya pada keluarga Jawa yang lain sih.) Nah, karena tempe yang ada di kulkas sudah semangit (sudah kecokelatan dan agak bau), aku berpikir mau diapakan tempe ini? Untunglah aku kemarin berhasil mengalahkan kemalasanku (karena ingat akhir-akhir ini tempe termasuk barang mahal). Akhirnya, aku membuatnya jadi semacam perkedel tempe. Dari pengalamanku, jika dibuat perkedel begitu, bau tempe yang semangit itu sudah jauh berkurang. Soalnya kan sudah ditambah bumbu dan telor. Bagaimana cara membuatnya?

Pertama-tama aku mengukus tempe itu karena sudah semalam di dalam kulkas dan agak keras. Dengan dikukus, tempe jadi agak lunak dan mudah dihancurkan. Jadi, setelah dikukus kira-kira 5-10 menit (aku lupa sih sebetulnya berapa lama, jadi kira-kira saja), tempe dihaluskan.

Siapkan bumbunya: bawang merah dan putih. Perbandingannya lebih banyak bawang merahnya daripada bawang putih. Misalnya, bawang merah 3, bawang putih 2 atau kurasa 1 siung juga bisa. Banyaknya bawang merah dan bawang putih ini tergantung seberapa banyak tempenya ya. Kemarin tempe yang kumasak hanya sedikit, jadi aku hanya pakai 3 bawang merah dan 1,5 siung bawang putih. Pokoknya kira-kira saja. Setelah itu, ulek/haluskan semuanya dengan ditambah garam.

Setelah bumbunya siap, campurkan dengan tempe yang sudah dihaluskan. Lalu diceplokin telur atasnya. Campur sampai merata dan bisa dibentuk seperti perkedel. Setelah itu, digoreng. Gampang kan?

Oya, kalau kamu punya tahu, enak juga kalau dicampurkan. Jangan lupa tahunya dihaluskan terlebih dulu. Kalau malas menggoreng, kadang aku pakai cetakan apem untuk memanggangnya. Kalau punya sedikit daging cincang, kurasa enak juga dicampurkan. Aku belum pernah sih, tapi bayanganku enak juga.πŸ˜€

giginya... eh, perkedel tempenya tinggal dua. :D yang lain sudah masuk perut.

giginya… eh, perkedel tempenya tinggal dua.πŸ˜€ yang lain sudah masuk perut.

5 thoughts on “Otak-Atik Tempe

  1. wah … memang masuk dapur itu butuh perjuangan, perjuangan mengalahkan malas… hahaha…. tapi karena aku “harus”, ya mau ga mau harus masak. Lagian kalau beli sayur matang, biasanya rasa tidak sesuai lidah. Kalau bikin perkedel tempe biasanya aku cuma pake bumbu bawang putih plus merica, mbak. Yah, selera masing2 sih.πŸ™‚ selain ditambah daging cincang, bawang goreng juga enak loh kalau dicampur ke adonan (bawangnya udah digoreng loh ya). Hehehe … semangat masak yuk, mbak! Ayo produksi gizi dan makanan sehat sendiri!πŸ™‚

    yuuuk! soal bumbu memang selera sih ya. dulu aku jarang pakai bawang merah, tapi sekarang aku penggemar bawang merah. jadi biasanya aku pakai bawang merah lebih banyak. soal beli sayur matang, kalau benar-benar malas, ya aku beli. duh, bener-bener parah kalau malasku kumat, mit! andai bisa pesen kamu kaya pas di kantor dulu, hahaha.πŸ˜€

  2. Memasak itu bisa belajar sambil jalan ya, gak enak sekarang bisa diperbaiki esok harinya, gak enak lagi perbaiki lagi… betul gak seperti itu ya…πŸ˜€

    iya betul. kalau sekarang belum enak, besok bisa diperbaiki. paling senang kalau pertama masak, sudah enak.πŸ™‚

  3. Saya juga suka perkedel tempe (atau tahu)…
    Tapi biasanya bikinan sendiri karena susah nyari yang jual.
    Seringnya langsung habis karena saya “gado”…

    Iya, memang jarang ada yang jual. Perkedel tempe (atau tahu) paling enak digado saat masih hangat, Pak MarsπŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s