Obrolan tentang Pencarian

Pagi ini aku teringat obrolan soal pekerjaan, soal panggilan hidup.

+ Kemarin Ratri (teman kami) cerita soal cowok yang lagi dekat dengan dia.
– Pacar barunya?
+ Ng … nggak tahu. Kayaknya bukan, atau belum? Nggak tahu deh. Lagi pedekate kayaknya.
– Apa dia bilang?
+ Dia bilang, mereka punya minat yang sama, sama-sama suka baca buku. Dulu mereka teman satu kampus, satu jurusan. Teman lama.
– Lalu?
+ Katanya si cowok ini sudah lama nggak bekerja.
– Oh.
+ Padahal menurutku kalau sama-sama dari jurusan Bahasa Inggris, nggak akan susah-susah kok cari kerja. Asal nggak terlalu pilih-pilih ya.
– Semua orang, kalau nggak suka pilih-pilih kerjaan, benernya ada saja kerjaan yang bisa dilakukan.
+ Gitu ya?
– Itu menurutku sih.
+ Kayaknya emang dia pilih-pilih banget deh. Kapan hari Ratri nunjukin dia lowongan kerja ngajar bahasa Inggris di pertambangan. Tapi cowok itu nggak mau.
– Kenapa nggak mau?
+ Katanya pekerjaan semacam itu cocok untuk anak yang baru lulus, bukan buat dia.
– Emang dia dulu kerja di mana?
+ Di perusahaan gede. Di penghasil banyak duit dot com. Di luar sana.
– Oh, gitu.
+ Gaji di Indonesia kali kalah jauh sama gaji di luar.
– Emang. Kayaknya sih gitu.
+ Tapi kalau dia nggak kerja-kerja, kan akhirnya tabungan dia selama kerja habis dong.
– Ya, kan dia sendiri yang membuat habis.
+ Benernya orang cari kerja itu mesti gimana sih?
-Cari kerja atau cari panggilan hidup?
+ Dua-duanya.
– Idealnya memang begitu. Tapi kadang nggak bisa. Pekerjaan seseorang kadang bukan panggilan hidupnya.
+ Iya emang sih. Sayang sebetulnya kalau kaya gitu.
-Setiap orang punya panggilan hidup masing-masing.
+ Gimana caranya bisa tahu?
– Cuma kamu yang tahu. Butuh kejernihan batin untuk mengetahuinya. Misalnya, kerbau punya badan yang besar, tenaga kuat. Dia memang dipakai untuk membajak. Atau ayam, dia punya daging yang enak dan telornya bisa dimakan. Kotorannya juga bisa dimanfaatkan untuk pupuk. Binatang saja punya “panggilan” masing-masing.
+ Kalau manusia?
– Manusia lebih dari binatang kan? Dia punya otak, punya hati. Setiap orang punya talenta dan minat sendiri-sendiri. Itu harus digali.
+ Caranya menggali?
– Seperti yang aku bilang tadi, butuh kejernihan batin.
+ Caranya?
– Meditasi, misalnya. Atau bisa dengan menuliskan kelebihan, kekurangannya. Tulis hobinya apa saja. Minatnya apa. Intinya adalah melihat ke dalam, melihat diri sendiri.
+ Bagaimana kita tahu bahwa pekerjaan kita adalah panggilan hidup kita atau bukan?
– Orang yang menemukan panggilan hidupnya akan merasa lebih bersemangat dalam bekerja. Orang yang menjalani panggilan hidupnya akan merasa bahagia dengan apa yang dilakukannya. Dan biasanya pekerjaan itu memberi dampak positif kepada orang-orang di sekitarnya.
+ Gitu ya?
– Teorinya sih gitu. Hehehe. Tapi aku yakin kok setiap orang memiliki panggilan masing-masing. Dan panggilan hidup itu biasanya membawa seseorang pada kebaikan.
+ Trus kalau kaya temannya Ratri gitu gimana? Dia kan galau tuh belum dapat-dapat kerja.
– Kali minimal dia kerjakan apa yang memang dia mau deh. Meskipun awalnya itu mungkin tidak menghasilkan banyak uang. Kerjakan hal-hal kecil dengan cinta yang besar, begitu kata Bunda Teresa. Meskipun kita hidup butuh uang, tapi kan hidupmu nggak mesti dikendalikan oleh uang to?

– Mungkin setiap orang perlu bertanya, “Apa fungsiku di dunia ini?” Ayam saja punya tugas di sini: bertelur, memberikan dagingnya untuk dijadikan makanan manusia, kotorannya untuk pupuk. Itu sumbangsih ayam bagi dunia. Manusia tentunya juga begitu. Apalagi manusia kan lebih dari binatang. Mungkin kalau sampai akhir hidupnya seseorang nggak juga menemukan panggilan hidupnya, sumbangsihnya adalah ketika dia mati, dia bisa jadi pupuk.
+ (Membayangkan kuburan dijadikan kebun sayur dan buah-buahan …😀 :D)

5 thoughts on “Obrolan tentang Pencarian

  1. Hahahaha menarik ini!
    Mencium bau semangat, “migunani tumraping liyan”🙂

    Migunani tumraping liyan atau semacam Man for other(s)

  2. Kris…sebetulnya yang penting berguna untuk orang lain.
    Cari kerja kan sama dengan cari suami atau isteri…hehehe…tapi kalau saya dulu, yang penting halal dan dapat penghasilan, karena ayah ibu sudah tua dan masih harus mengirim uang untuk adik-adik ku yang belum lulus.

    Nah, betul. Saya juga berpikir begitu, Bu Enny, bahwa Cari kerja itu seperti cari jodoh.

  3. Ini tulisan yang dalem nih …
    meskipun bahasanya ringan …
    tapi isinya tidak bisa dikatakan enteng …
    perlu perenungan

    Terima kasih Kris

    Salam saya

    Terima kasih kembali, Om NH.:)

  4. Mengapa ada panggilan hidup ya? Siapa suruh si hidup memanggil-manggil? Tulisan yang membuatku mudah dipertanyakan. Halah,

    Haha, komentare khas Ema banget!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s