Sebuah Catatan (Sebelum Dibuang)

Radio adalah salah satu sumber bagiku untuk mendapatkan berita. Belakangan aku agak jarang juga sih menyetel radio, lebih tepatnya tidak sesering dulu. Kebanyakan sekarang buka internet saja. Kalau televisi kutonton saat aku pulang ke Jogja. Itu pun karena ada TV kabel di rumah. Jadi, yang kutonton ya film-film saja. Jarang banget menonton televisi lokal. Gaya ya? Hehe. Ya, begitulah. Soalnya selain di sini juga tidak punya TV, di kepalaku sudah teracuni pemikiran bahwa acara televisi lokal banyak yang buruk.

Ketika mendengarkan radio, kadang aku iseng mencatat kalau ada informasi penting. Seringnya kucatat di kertas bekas. Sempat juga aku berniat mengetik catatan-catatan itu dan membuat file khusus. Tapi yah, dasar males … akhirnya kadang hanya tergeletak di depan komputer saja. Soalnya aku berpikir, “Ah, hal seperti ini kan bisa kudapat di buku lain. Googling juga bisa. Jadi, ngapain mesti repot-repot mengetiknya?” Kadang catatan-catatan itu akhirnya kubuang.

Beberapa waktu lalu kebetulan aku menemukan satu catatan yang rasanya sayang untuk kubuang. Catatan itu tentang tanah dan biopori. Kupikir aku akan membuangnya begitu saja. Tapi aku pikir kalau aku menuliskannya di blog, ada gunanya untuk orang lain. Dan ini bisa jadi pengingat untukku.

Tanah memiliki pori-pori. Pori-pori ini berfungsi untuk menyerap air. Nah, jika tanah tertutup semua oleh bangunan, disemen, atau banyak pohon ditebang, maka air tidak sempat tersimpan dalam tanah. Air langsung ke sungai. Akibatnya, air sungai meningkat dan ini bisa mengakibatkan banjir.

Karena itu, buatlah lubang biopori di halaman rumah. Lubang itu kira-kira 30 cm kedalamannya dan isilah dengan sampah organik. Sampah tersebut akan diurai oleh binatang/cacing. Cacing akan membentuk lubang-lubang dalam tanah (pori-pori) yang bisa menyerap air.

Sebisa mungkin sisakan sebidang tanah di halaman rumah kira-kira 1-2 meter persegi saja untuk menyerap air atau untuk ditanami tanaman perdu.

Begitu saja catatan itu. Singkat ya. Tapi kurasa ini penting. Tidak semua orang peduli akan hal ini. Apalagi di perkotaan, di mana halaman rumah banyak yang disemen dan tidak tersisa secuil tanah pun. Nah, sudahkah kalian memiliki/membuat lubang biopori?

9 thoughts on “Sebuah Catatan (Sebelum Dibuang)

  1. Senang sekali Jeng Kris menuliskan catatan ke postingan ini. semakin banyak yang membuatnya semakin bumi kita lega bernafas. Tidak mudah koq membuatnya, jadi ingat komen Jeng Kris di postingan saya “menabung air hujan yook”. Selamat mempraktekkan LRB

  2. Halaman rumahku, dibawah tanah seluruhnya adalah boipori.
    Setiap musim hujan, kadang terpikir mau bikin kanopi biar nggak kehujanan jika baru pulang naik taksi…kemudian berpikir lagi, sungguh sayang jika tanah tertutup.

  3. halaman rumah di mtb masih luas, sehingga kami sering membuat biopori di beberapa tempat. Tapi yah itu biasanya mama yg buat, ngga tau deh sekarang gimana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s