Punya Anak? Siapkan Orang/Pihak “Menganggur” untuk Mengurusnya

Beberapa waktu yang lalu temanku di Fb mengirimi tautan tulisan di dunia maya tentang pengasuhan anak. Satu hal yang masih kuingat dari tulisan itu kira-kira bunyinya begini: “Kenapa ada orang tua (terutama ibu) yang berusaha mati-matian untuk mendapatkan anak (mungkin dengan berbagai terapi), tapi setelah mendapatkan anak, tak lama setelah anak mereka lahir, mereka cepat-cepat kembali bekerja.” Bagiku tulisan itu cukup menohok untuk seorang wanita pekerja yang memiliki anak. Jujur saja pertanyaan itu menggemakan pertanyaan yang selama ini tersimpan di sudut hati. Tapi barangkali aku ini hanyalah seorang pengamat yang nyinyir. Wong, punya anak belum. Meski demikian, boleh kan aku punya pendapat?

Begini, dari pengamatanku selama ini, aku melihat bahwa jika satu pasangan suami-istri memiliki anak, maka mereka mesti menyiapkan seseorang atau institusi (daycare, misalnya) yang siap sedia merawat anak tersebut sepenuhnya. Gambarannya begini: kalau kedua orang tua itu bekerja, maka mereka mesti tahu ke mana akan menitipkan anak mereka selama mereka bekerja. Entah dititipkan ke suatu daycare, ke nenek-kakeknya, ke saudara, ke … siapa pun deh yang mereka percaya. Dan menurutku, kerabat atau daycare yang akan dipilih tersebut sudah disiapkan ketika anak itu belum lahir. Misalnya, ketika si ibu sudah hamil sekian bulan. Misalnya lo. Bagiku–yang lagi-lagi hanya pengamat ini–jika pengasuh atau daycare itu baru dicari menjelang si ibu harus kembali bekerja, bakal merepotkan. Menurutku, kalau orang tua “nubyak-nubyak” alias rempong alias heboh mencari pengasuh baru saat anak harus ditinggal bekerja, itu tindakan yang tidak bertanggung jawab. Lah, ini soal kemanusiaan, kan? Lagi pula, ini anak (kalian) sendiri. Anak tidak minta dilahirkan. Tugas orang tua yang menyiapkan pengasuhan anak sejak awal. Jadi, kupikir tidak selayaknya orang tua beranggapan: “Lihat gimana nanti deh” untuk urusan pengasuh.

Beberapa pasangan yang kukenal, mereka cukup beruntung memiliki saudara atau orang tua/mertua yang bisa dititipi anak mereka ketika si bapak atau ibu kembali bekerja. Biasanya orang-orang dekat itu tinggalnya tidak jauh dari mereka. Misalnya, satu kompleks, atau tetanggaan, atau malah tinggal serumah dengan mereka. Kadang kalau iseng aku menyebutnya: Siapkan orang “menganggur” yang bisa dipercaya yang bisa dititipi anak selagi orang tua si anak bekerja. Terlalu kasar kah? Hihihi. Maaf… maaf. Tapi bukankah kenyataannya begitu? Kalau salah satu orang tua tidak ada yang “mengalah” untuk tinggal di rumah dan mengurus anak plus rumah, berarti perlu ada orang lain yang mengurusnya kan?

Sebetulnya, menyadari kenyataan seperti ini, diperlukan daycare atau tempat penitipan anak di sekitar tempat kerja kedua orang tua si anak. Aku sendiri kurang tahu apakah hal seperti ini sudah umum di Indonesia. Mungkin kalau ada, tarifnya cukup mahal (?).

Melihat beberapa orang tua yang rempong mencari pengasuh anak ketika mereka hendak kembali bekerja (dan kadang ikut “merasa repot” atau minimal “terpaksa ikut berpikir” karena urusan pengasuh tersebut), belakangan aku sangat menghormati seorang ayah/ibu yang memilih tidak bekerja untuk mengurus anak di rumah. Atau setidaknya, si ayah/ibu memilih pekerjaan part-time sehingga punya cukup waktu untuk mendampingi anak. Dan memang pada kenyataannya, pemerintah kita masih belum terlalu peduli soal ini. Aku hanya berpikir, seandainya pemerintah memang peduli, mungkin baik jika ada penitipan bayi/anak yang cukup terjangkau tarifnya di sekitar lingkungan kerja/perumahan. Atau mungkin pemerintah bisa membuat kebijakan yang mendukung para orang tua dalam pengasuhan anak. Ya, lagi-lagi, aku memang bisanya “ngomong doang”. Hehehe, namanya juga pengamat kan?

10 thoughts on “Punya Anak? Siapkan Orang/Pihak “Menganggur” untuk Mengurusnya

  1. Punya anak itu menurutku bukan cuma soal bagaimana bikin (dan terapi jika dibutuhkan) tapi lebih pada komitmen jangka panjang antara suami dan istri sih.

    Waktu aku mau punya anak dulu, kita masih idealis, rencananya setelah anak usia 2 tahun istri kembali bekerja bla bla bla..

    Tapi kenyataannya, terlebih di sini yang tak ada pembantu, bahkan daycare pun tak cukup bisa membuat kami percaya bahwa anak kami akan baik-baik saja.

    Maka jadilah, Joyce memutuskan untuk break dulu dari karirnya. One day, kalau anak-anak udah besar (at least setelah mereka ke primary school) ia bisa mulai lagi karena toh, karir terbaik dari seorang wanita adalah menjadi ibu (bagi yang dianugerahi anak tentu saja)…

  2. Dilematis memang kondisi seperti itu, apalagi di saat sekarang, di mana karier bagi perempuan sangat terbuka luas. Persiapan matang jelang kehamilan dan bahkan sebelum menikah, itu memang benar-benar harus dimiliki. Sebab, keputusan menikah dan kemudian punya anak memiliki konsekwensi yang tidak mudah. Dulu aku pernah menulis di blog, bahwa jika tidak siap dengan segala konsekwensi memiliki anak, mending tidak usah punya anak sekalian..:)

  3. Kalau di Indonesia, lingkungannya masih bisa mendukung orang untuk menitipkan anak bukan di institusi. Masih bisa menyewa baby sitter, atau menitipkan pada yang menganggur. Juga masih bisa berhenti bekerja untuk kemudian mulai lagi nanti (spt Joycenya Donny). Tapi kalau di Jepang, begitu kamu berhenti, jangan harap bisa kembali lagi ke tempat yang sama. Itu kalau mau yang profesional ya, kalau cuma part timer sih gimana juga bisa. Spt aku yang bekerja di universitas (dan masuknya sulit sekali), aku tidak bisa minta cuti (karena sistem kontrak) dan jika aku berhenti, sudah pasti aku tidak bisa kembali lagi🙂 Untungnya lagi, jika bekerja di universitas, otomati aktifnya hanya 2 kali 15 minggu setahun. Jadi masih bisa diakali untuk memasukkan ke penitipan, meskipun bayarnya lebih banyak daripada yang aku terima😀 Ini merupakan juga salah satu sebab mengapa wanita karir di Jepang malas punya anak, belum lagi biaya pendidikan yang amat tinggi.

  4. saya sih udah siapin diri untuk tidak bekerja sejak menikah mbak, eh blom dikasih anak juga hehehe … jadi yaaa ikutan jadi pengamat dulu aja deh😀 Dan aku paling gemes kalau ada ibu yang punya anak, pas pulang bukannya ngurusin anak yg udah ditinggal seharian, tapi memilih mlototin tv nonton sinetron *nyeritain tetangga :D*

  5. Ceritanya pas banget sama keadaan seorang teman saya. Dia seorang wanita karir, setelah punya anak tetap bekerja dan menyewa seorang babysitter. Tapi untungnya ada keluarga yang akhirnya tinggal di rumahnya untuk membantu menjaga si kecil, sekarang anaknya udah 2 tahun hehehe

  6. benar kris… harus di pikirkan matang-matang kalo mau KARIR dan ANAK… iya di prancis memang sebelum melahirkan si ibu udah daftar di penitipan anak…pemerintah atau privat, seringnya dekat dg tempat kerja biar praktis..bisa juga solusi alternatif yaitu penjaga bayi yang datang atau antar bayi kerumah penjaga bayi, semua biaya yang dikeluarkan akan dilaporkan ke pemerintah alias gaji penjaga bayi dan akhir tahun akan MENGURANGI PAJAK pendapatan kita, kalo tidak ,ada yang namanya ” cuti merawat anak maksimal 3 tahun hingga anak bisa masuk sekolah..bisa pilih si ibu atau si bapak…nanti bisa kembali bekerja. Mungkin di Indonesia akan mulai memikirkannya. Tapi meskipun begitu aku yang tinggal disini bertanya: mereka hanya menjaga tapi tidak mendidik anak-anak kita. Jadi aku tetap “enggak sampe hati”. Memang KALO BISA aku memilih option merawat anakku sendiri minimal sampe 3 tahun.. setelahnya kalo Tuhan berkenan cari kerja lagi🙂 Mungkin Indonesia akan ke arah ini nantinya tapi enggak tau kapan. Selamat merenung😉 JBU

  7. Hidup itu pilihan…kalau mau punya anak, suami isteri harus sudah mempunyai pemahaman yang sama, siapa yang mengasuh anak saat ayah ibu bekerja, bagaimana nanti sekolahnya dst nya.
    Karena dibesarkan oleh ayah ibu bekerja (dan kenyataannya kami baik-baik saja)….saya juga memilih bekerja setelah menikah…bahkan saya berani memutuskan hubungan saat mantan pacar menginginkan saya cuma di rumah saja.

    Selalu ada jalan keluar, jika ada kemauan. Yang penting dipikirkan bagaimana caranya. Oleh karena itu, anak sulungku, isteri dan anaknya masih tinggal serumah denganku, agar saat anakku dan isterinya bekerja, anaknya yang diasuh baby sitter ada yang mengawasi (yaitu si mbak yang sudah ikut di keluargaku 16 tahun lebih).
    Saya sendiri…biar sudah nini-nini masih aktif bekerja, walau tak sesibuk dulu (maunya tak sibuk banget, walau kadang tetap saja pergi pagi pulang malam jika sedang ada proyek).

  8. Saya sekarang berada di posisi melepaskan karir saya disaat naik jabatan untuk mengurus si baby yg baru berusia 16 bulan. sebelumnya bisa saya tinggalkan dengan BS dgn pengawasan Mama saja krn mertua sudah tdk ada, tapi lama-lama tidak tega karena mama ada kesibukan sendiri dan berasa terkekang tidak bisa kemana mana dengan kehadiran cucunya apalagi dia tidak percaya dengan BS. Saya melepaskan karir itu Rasanya gak karu-karuan, tidak gampang memang bahkan apalagi jika belum ada kesibukan tapi yang pasti harus ikhlas🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s