Sepotong Obrolan Malam Minggu

Sudah pukul delapan lewat. Mungkin sudah agak terlambat bagi kami untuk memulai perbincangan di malam minggu. Tapi tak apalah. Lagi pula, Jakarta kota yang tak pernah tidur. Berbincang satu-dua jam tidak akan membuatku pulang kemalaman.

Ya, Sabtu malam yang lalu aku bertemu seorang teman. Kami mengobrol di sebuah kafe kecil sambil menyeruput hot lemon tea. Itu minuman dengan harga yang paling murah–tiga belas ribu satu teko, bisa diminum berdua. Lagi pula ini kan kafe. Jika teh dibandrol kurang dari dua puluh ribu, cukup murah menurutku.

“Jadi, akhirnya kalian tidak pernah saling berkontak lagi?” tanyaku.

Dia menggeleng. Temanku ini–sebut saja namanya Rayi–sebelumnya menceritakan persahabatannya dengan kawan kuliahnya dulu. Sebut saja sahabat Rayi ini bernama Bella.

“Aku merasa persahabatanku dengan Bella tidak imbang,” jelas Rayi. “Aku selalu berusaha ada buat dia ketika dia disakiti oleh pacarnya, ketika dia gagal, ketika dia mau berbagi kebahagiaan. Tapi Bella kerap membuatku sakit hati. Misalnya, ketika aku ulang tahun, dia tidak datang karena dia mau kopi darat dengan seorang teman yang baru dikenalnya lewat internet. Kalau soal mengejek, tidak perlu disebut berapa kali. Aku sudah kenyang dengan sindirannya. Tapi aku tetap mau berkawan sama dia. Barangkali masa itu aku memang gemar menyiksa diri.”

“Kok bisa tahan sih sama dia?” potongku.

“Karena aku kagum sama kecerdasannya. Kalau diskusi sama dia tuh mantep banget. Tapi ya cuma itu. Sisanya adalah sakit hati,” jawab Rayi.

“Rayi, kalau aku jadi kamu, barangkali aku hanya tahan hitungan bulan deh. Biar dia cerdas, tapi kalau dia sering membuatku sakit hati, sepertinya aku bakal mundur teratur,” kataku.

“Mungkin ada gunanya aku bersahabat dengan dia waktu itu. Dengan begitu aku jadi sadar bahwa dalam persahabatan itu harus ada sikap saling menghargai.”

Saling menghargai. Dua kata itu memang sederhana, mudah diucapkan, dan sering dikutip. Tapi penerapannya tidak semudah itu.

4 thoughts on “Sepotong Obrolan Malam Minggu

  1. Sampai tengah-tengah aku kok merasa seperti kamu menceritakan aku dalam diri Rayi hehehe.
    Saling menghargai dan saling memperhatikan. Tidak perlu memperhatikan dalam hitungan 24 jam sehari, tapi secukupnya.

    Berarti nggak cuma Rayi yang mengalami hal seperti itu, ya Mbak. Sepertinya ini pengalaman yang umum. Memang dalam pertemanan atau persahabatan perlu ada sikap saling memperhatikan dan menghargai.

  2. Cerita yang singkat tapi penuh makna. Persahabatan sering seperti itu. tapi jangan dikira pacaran atau bahkan pernikahan pun juga tak bisa seperti itu😉

  3. Pertemanan atau persahabatan yang awet, apabila kedua pihak saling memberi dan menerima.
    Saya juga punya teman seperti Rayi, meminta perhatian terus….tentu saja saya hanya sekedar berteman aja….dan lebih memilih menghindar. Hidup ini singkat, jadi harus berkualitas dan bisa dinikmati…biarlah teman tak banyak tapi saling memahami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s