Kebodohan Hari Kartini

Ketika masih kecil dulu, ibuku pernah memberiku kebaya warna merah muda. Jika dilihat-lihat, kebaya itu cantik. Apalagi ada sulaman bunga-bunga dengan benang perak, membuat kebaya itu kelap-kelip. Tapi aku paling tidak suka jika diminta memakai kebaya itu. Gatal! Kebaya itu tidak diberi furing untuk lapisan dalamnya, jadi sulaman benang-benang perak itu menggesek kulit. Aku tidak suka.

Kebaya merah muda itu sebetulnya rencananya mau kupakai saat hari Kartini. Tapi seingatku kebaya itu hanya kupakai sekali, dan aku kapok. Yang membuatku “kapok” juga adalah karena saat memakai kebaya itu aku harus bangun pagi-pagi sekali, pergi ke salon dekat rumah, dan membiarkan rambutku disasak, disemprot dengan hair-spray supaya kaku. Selanjutnya, aku harus menutup hidung rapat-rapat supaya semprotan untuk rambut itu tidak banyak yang kuhirup. Setelah itu, aku juga harus merelakan wajahku dipoles, bibirku dicat merah, mataku diberi celak, dan yang terakhir … aku mesti memakai jarik. Duh, itu siksaan. Aku tidak bisa jalan cepat apalagi berlari. Yang paling repot, aku jadi sulit untuk pipis. Benar-benar merepotkan.

Sesampainya di sekolah, kulihat semua temanku juga didandani. Tapi ternyata ada temanku yang memakai baju bodo dan tidak memakai jarik yang ketat. Baju bodo itu bawahannya semacam sarung lebar. Jadi, si pemakai tidak kesulitan untuk berjalan. Dalam hati aku bertanya-tanya, kok aku baru tahu ada baju daerah semacam ini? Kenapa ibuku tidak memesan si pemilik salon supaya aku memakai baju bodo saja? Entahlah. Yang jelas, hari itu aku sepanjang hari memakai kebaya plus jarik yang rapat. Bukan pengalaman yang menyenangkan untukku.

Aku tidak tahu apakah ada dari teman-temanku yang menikmati atau katakanlah senang didandani saat Hari Kartini. Mungkin ada ya? Mungkin memang ada yang senang dirias dan tampil cantik. Tapi aku tidak termasuk di antara mereka.

Kini, sekian belas tahun berlalu dan acara hari Kartini masih identik dengan memakai baju daerah. Jujur saja, aku tidak paham apa hubungannya. Kalau membaca tulisan-tulisan Kartini, dia lebih banyak membahas semangat anti feodalisme. Dia mempertanyakan mengapa perempuan Jawa banyak dibatasi oleh sekat adat istiadat sehingga tidak bisa bebas seperti perempuan Belanda. Dan dia melihat cara membebaskan diri dari sekat-sekat itu adalah lewat pendidikan. Coba deh baca bukunya Habis Gelap Terbitlah Terang. Aku sendiri bacanya loncat-loncat; belum tuntas. Hehe. Bukan contoh pembaca yang baik ya. Tapi dari membaca yang loncat-loncat itu, aku jadi menyadari kebodohanku saat diwajibkan memakai kebaya ketika peringatan hari Kartini di sekolah dulu.

Kadang kupikir-pikir pihak sekolah memang malas untuk membuat para muridnya lebih memahami apa yang mereka peringati. Padahal sekolah itu adalah tempat pendidikan. Tempat kita lebih sadar dan maju. Nah, kalau untuk masalah perayaan Kartini saja kita dari dulu hanya begitu-begitu saja, kebayang kan untuk urusan yang lebih serius lagi?

5 thoughts on “Kebodohan Hari Kartini

  1. Hmm iya mbak. Tahun lalu di acara kantor juga ada lomba berpakaian daerah. Aku jadi wakil dari unit kerjaku.

    Don’t take me wrong, aku suka dandan tapi peringatan Kartini dengan berpakaian baju daerah itu menurutku malah merendahkan perempuan.
    Spirit Kartini dikerdilkan hanya dengan lomba yang diikuti perempuan dengan penilaian berdasarkan lenggok-lenggok di catwalk, keserasian berjalan, berpakaian hingga keelokan tubuhnya! Apa gak merendahkan itu artinya? Seolah lingkup perempuan hanya disitu saja?

    Ada kegiatan lain untuk memperingati Kartini yang menurutku lebih bermanfaat. Bikin seminar sehari kek, bikin lomba menulis kek atau yang lainlah. Aku gak menolak Lomba kebaya asalkan dengan spirit berbeda. Justru bagus untuk melestarikan nilai budaya tapi enggak pas Kartini deh…

    Aku sempat protes dengan alasan2 yang aku sebutkan dan hasilnya tahun ini gak diadakan lagi🙂

    Wah, bagus dong kalau protesmu didengar.🙂 Aku juga merasa lebih seru kalau lombanya buat tulisan tentang Kartini.

  2. dulu aku waktu jadi pengurus OSIS di SMA, meniadakan kebaya-kebayaan, dan mengadakan perlombaan membuat barang dari sampah/barang bekas. Malah kalau bisa buat kejuaraan pancho! hahahaha (tapi suster larang :D)

    Suster takut kalah kali kalau lomba pancho hihihi.

  3. Tp kris, msh mending diadakan acara begituan. Drpd ndak Ada sama sekali? Jangan2 Ada yg bisa ga tau sapa bu Kartini itu,hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s