Obrolan Soal “Langit dan Bumi”

Apa yang pertama kali kamu bayangkan ketika mendengar kata Jakarta? Yang jelas, bayanganku sebelum dan sesudah tinggal di Jakarta berbeda sekali. Misalnya, dulu ketika kerabatku yang tinggal Jakarta datang untuk mengunjungi kami (waktu itu aku masih tinggal di Madiun), oleh-oleh yang dibawa adalah makanan yang kerap kulihat di televisi: Dunkin Donuts, Pizza Hut, dll. Waktu itu, makanan seperti itu termasuk makanan mahal dan langka. Jadi, kesanku Jakarta adalah kota yang gemerlap. Semua orang berduit tumplek blek di sana. Singkatnya: tak ada orang miskin di kota itu. Naif banget ya? Namanya juga masih bocah. Hehehe.

Kini setelah sekian tahun berlalu, aku tinggal di kota itu. Terus terang, memang Jakarta itu agak mengagetkan bagiku yang besar di kota kecil. Tak usah kuceritakan panjang lebar keterkejutanku itu. Yang jelas, di Jakarta masih tampak jelas kemiskinan di sana-sini. Membuat miris. Jauh sekali dari pandanganku ketika masih kecil.

Suatu kali aku dan suamiku berjalan-jalan tak jauh dari Mal Grand Indonesia. Dia bilang, “Daerah belakang sini masih banyak yang kumuh lo.” Aku tak percaya. “Masak sih?” Wong depannya magrong-magrong dan gemerlap begini lo, masak belakangnya kumuh? Dan waktu itu, kami kemudian berjalan ke daerah di belakang sekitar Grand Indonesia (dan Plaza Indonesia). Ternyata betul. Di sana rumahnya berdempet-dempet. Kalau dibilang kumuh banget, yaaa … nggak banget-banget sih. Tapi tetep saja sih, kontras dengan mal di depannya yang mewah. Bedanya seperti langit dan bumi.

Kini, aku tidak terlalu terkejut dengan berbagai kekumuhan yang dapat ditemukan dengan mudah di Jakarta. Biasanya tempat-tempat seperti itu berdekatan dengan daerah yang tampak mewah. Kalau kamu melihat kompleks rumah gedong, bisa dipastikan tak jauh dari situ ada sederetan rumah-rumah yang rapat, kecil, dan biasanya berventilasi buruk. Lengkap dengan gang cukup dilalui oleh satu sepeda motor. Tikus got yang hitam dan gemuk pun menjadi penghuni tetapnya.

Kadang aku berpikir, apakah rumah-rumah yang rapat dan terkesan kumuh itu menyangga kehidupan mewah di sebelahnya? Bukannya tidak mungkin jika para penghuni kompleks rumah mewah itu memakai jasa dari orang-orang yang tinggal di daerah yang kurang beruntung itu. Mungkin ada yang menjadi tukang cuci, satpam, tukang kebun, dan lain-lain.

Aku tak tahu ini jenis hubungan macam apa. Apakah ini bisa disebut simbiosis mutualisme? Apakah karena itulah kemiskinan langgeng senantiasa? Jika tidak ada orang miskin, barangkali tidak akan ada lagi pekerja kasar?

Kupikir-pikir, orang tetap miskin karena tidak mendapatkan akses. Akses untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik, akses informasi untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, akses untuk mengembangkan diri.

Ah, embuh. Wis bengi. Ngantuk … Yang kaya gini memang cuma “nikmat” untuk diomongin eh … ditulis di blog, maksudku.

6 thoughts on “Obrolan Soal “Langit dan Bumi”

  1. itulah kerennya jakarta dengan segala ketimpangan sosialnya… Plaza Indonesia mewah sedangkan rumah makan pinggir got juga ada… hehehehe…

    Dan betul kata dirimu.. orang miskin karena tidak mendapatkan akses yang cukup luas untuk pengembangan diri…

    iya, kalau sedang jalan-jalan di mal mewah dan mau cari makanan murah, itu gampang. keluar sedikit dari mal, pasti ada tempat makan murah. tapi segi kebersihannya ya, biasa saja. akses itu yang sebetulnya penting untuk membuat seseorang “naik level”.

    • dan jangan salah lho, yang makan di rumah makan pinggir got itu justru orang2 yg kerja di PI ato GI😀

      bener banget. aku pernah tuh makan di rumah makan sederhana belakang mal besar, kulihat banyak pekerja mal yang makan di sana.

  2. social economy gap yang besar emang udah jadi masalah di indonesia sejak dulu. gedung2/rumah2 mentereng bersanding dengan daerah kumuh… akibatnya ya kecemburuan sosial…

    cemburu tapi saling membutuhkan. hehe. orang kaya kalau tidak ada orang miskin, gimana? kurasa nggak bisa. begitu pula sebaliknya.

  3. Ngga usah jauh-jauh, dekat rumahku juga ada (daerah Permata Hijau) TAPI jangan pikir mereka tidak bahagia hidupnya loh. Banyak di antara mereka satu gereja denganku, dan aku tahu mereka bisa membesarkan anak-anakya sampai masuk universitas terkenal loh. Mungkin lebih beruntung daripada anak orang kaya yang DO tengah jalan, atau sekolah di LN dan terlibat narkotik dsb. Ada yang usaha fotocopy, ada yang sewa kursi/tenda untuk pesta. Pelanggan mereka ya yang tinggal di gedongan itu.

  4. Selama 23 tahun saya tinggal di kompleks rumah dinas, yang rata-rata tiap rumah minimal punya 2 (dua) mobil. Tapi justru kampung kumuh yang berbatasan dengan kompleks perumahan menjadi daerah penyangga, satpam di kompleks berasal sebagian dari penghuni rumah di sekitar kompleks, sebagian lagi dari kantor. Tukang pijat (mereka penghasilan nya gede lho, rata-rata sekali pijat Rp.100.000,- per orang dan sehari bisa 5-6 orang), tukang kebun, pembantu dll.

    Dan jika ada acara2 justru merekalah yang membantu kami, yang rata-rata suami isteri kerja.
    Nahh di gedung yang tinggi-tinggi itu, belakangnya dipenuhi makanan warteg dll..atau amigos (agak minggir got sedikit)….dimana para pekerja asingpun kalau siang antri di warung2 tersebut dan melepas dasinya. Lha kalau makan di restoran terus selain bangkrut juga bosen…dan makanan di warung itu uenak-uenak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s