Cinta Bahasa

Rasanya beberapa hari terakhir ini aku jarang sekali mengunjungi blogku sendiri, apalagi blogwalking. Alasannya: lagi rajin-rajinnya kerja. Tumbeeeen😀. Tapi memang aku berusaha mengurangi jatah waktuku ubek-ubek dunia maya. Nanti kalau sudah agak longgar, baru deh nongkrongin blog dan Facebook (tetep!).

Hmm … tapi aku kangen juga lo dengan blogku. Aku mau cerita sedikit tentang satu-dua hal yang masih menempel di kepalaku.

Awalnya ketika hari Minggu lalu, tanggal 28 Oktober aku misa sore. Misa hari itu agak istimewa karena didahului dengan lagu Indonesia Raya. Loh kok di gereja pakai lagu nasional? Iya, karena kan hari Sumpah Pemuda. Aku senang karena gereja Katolik mendukung persatuan bangsa Indonesia. Memang kalau dipikir-pikir Sumpah Pemuda itu dapat menjadi perekat bangsa, karena entah seberapa besar perbedaan di antara kita (suku, agama, adat, dll), kita ini satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air.

Bagian dari Sumpah Pemuda yang kuakrabi saat ini adalah soal bahasa. Pekerjaanku tak jauh-jauh dari bahasa persatuan kita itu. Memang, aku menerjemahkan teks dari bahasa Inggris, tapi dari pekerjaan ini, keterampilan bahasa Indonesia mutlak diperlukan. Belum tentu orang yang cas cis cus bahasa Inggris dapat menerjemahkan teks Inggris-Indonesia dengan baik. Silakan coba deh. Sebagai penerjemah, aku berteman kamus dan (buku) EYD. Kadang yang jadi masalah adalah kita paham maksud dalam bahasa Inggrisnya, tapi begitu harus mengungkapkan dalam bahasa Indonesia, kita malah mendadak bego. Kalau aku kadang mudeng bahasa Inggrisnya, tapi pas mau menerjemahkan suka agak tercampur dengan bahasa Jawa. Lupa bahasa Indonesianya apa. Haha. Dodol nggak sih? Misalnya, untuk kata calf yang berarti betis, aku mudah terpeleset untuk mengartikannya “kempol” (betis, bahasa Jawa).😀

Waktu sekolah dulu, aku menganggap remeh bahasa Indonesia. Lagi pula, memang gampang kan ya? Tapi waktu awal kerja dulu, aku mulai sadar bahwa keterampilanku berbahasa Indonesia harus banyak ditambah. Dulu, aku agak sulit membedakan kapan memakai kata “tidak” dan harus memakai kata “bukan”. Hayo, ada yang tahu? Ngacung! Selain itu, dalam bekerja aku dituntut untuk memakai bahasa Indonesia yang efektif. Hemat dan enak dibaca. Kadang itu tidak selalu mudah. Harus berani mencoret kata atau bahkan kalimat yang tidak perlu. Nah, blog ini kuanggap ajang bermain-main kata. Jadi, agak suka-suka deh. Hi hi. Dasaaar!

Beberapa waktu lalu, seorang kawan bertanya kepadaku lewat Facebook: Apa sih artinya “miapah”? Dengar-dengar kalau kata anak alay sih, itu artinya “demi apa”. Iya nggak? Aku sendiri kurang begitu mengikuti bahasa alay. Mungkin sudah ketuaan ya?😀 Tapi barangkali juga karena saban hari ublek-ublek kamus, aku jadi semakin menghargai bahasa Indonesia dan kurang tertarik dengan bahasa alay. Selain itu aku masih ingat, dulu waktu masih jadi editor di sebuah penerbitan, aku kadang menerima naskah kiriman. Aku merasa, lebih mudah mengedit atau menggarap naskah terjemahan daripada naskah hasil tulisan orang Indonesia. Soalnya, naskah itu sering harus diobrak-abrik supaya bisa jadi tulisan yang enak dibaca. Tak jarang masuk naskah yang bahasa Indonesianya kacau-balau atau penempatan tanda bacanya morat-marit. Melihat naskah semacam itu kadang aku bertanya-tanya, orang ini belajar bahasa Indonesia di mana sih?😀

Malam ini aku baru saja mendengarkan siaran radio NHK berbahasa Indonesia. Kali ini ada surat dari pendengar yang dibacakan. Salah satu surat yang dibacakan itu berasal dari orang Myanmar. Awalnya kupikir pendengar itu memang orang Indonesia. Tapi ternyata tidak lo. Dia memang asli orang Myanmar. Dia sudah mendengarkan siaran radio NHK berbahasa Indonesia sejak umur 12 tahun, jadi kira-kira sudah 10 tahun lalu. Dia kini mahasiswa tahun ketiga (kalau aku tidak salah dengar), jurusan bahasa Inggris. Surat yang dikirimkan kepada NHK itu dia tulis dalam bahasa Indonesia. Hebat ya! Aku terharu ada orang asing yang mau memakai bahasa Indonesia.

Aku pikir, kita perlu membiasakan memakai bahasa Indonesia dengan baik. Bagaimanapun, bahasa adalah cerminan kepribadian kita. Karena itulah, aku sangat menghargai orang yang bisa berbahasa Indonesia dengan baik, dan tidak terkesan kaku. Biasanya orang-orang tersebut santun dan punya latar belakang pengetahuan yang baik. Sayangnya, yang sering kujumpai adalah orang yang mencampur pemakaian bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, padahal kata bahasa Inggris yang dipakai itu ada padanannya dalam bahasa Indonesia.

Nah, semoga kini semakin banyak yang mencintai bahasa Indonesia.🙂

8 thoughts on “Cinta Bahasa

  1. aku tidak begitu setuju dengan “pengindonesiaan” bahasa Inggris. Karena kupikir banyak yang sudah ada bahasa Indonesianya, yang jauh mudah dimengerti. Kasus pengindonesiaan boleh untuk kata-kata yang memang tidak ada bahasa Indonesianya

  2. Kemarin nonton wawancara Mustafa Daood (kalau tak salah begitu ejaan namanya), vokalis Debu. Kagum sekali karena dia benar-benar berusaha berbicara bahasa Indonesia terus, jarang menyisipkan kata bahasa Inggris. Seingat saya hanya “composer” dan “sorry”.

  3. Tinggal di Australia dan menetap di sini, tapi kecintaanku pada Bahasa Indonesia tak pernah pudar dan semoga demikian🙂

    Bagiku Bahasa Indonesia itu seksi karena terhubung dengan masa lalu dan seluruh batinku. Bahasa Inggris, mungkin ya karena aku tak punya ‘hubungan’ batin dan ‘masa lalu’ jadi ya hanya kuanggap sebagai bahasa praktikal saja.

  4. ya betul sekali… siapa lagi yang cinta bahasanya kalau bukan kita warganya… saya senang sekali pakai bahasa Indonesia… malah kalau presentasi suka sengaja pakai bahasa Indonesia…

  5. Jeng Kris, bahasa keseharian saya seperti Pak Mars, Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Berbekal buku EYD, Kamus Bahasa Indonesia dan tetap sering meleset menuliskannya dengan benar. Salam

  6. aku paling mumet dengan bahasa alay… jian…memperkosa bahasa tenan… mungkin aku udah ketuaan juga Nik hehehe….
    Keseharianku aku pakai bahasa Indonesia, yang mudah dimengerti. Karena sering pindah-pindah dan berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai suku, paling aman memang pakai bahasa Indonesia..

    aku juga kurang suka dengan bahasa alay. kalau bisa sih, tidak memakainya sama sekali. jadi tidak ikut-ikutan menyebarkannya.

  7. blogger aja banyak yang nggak perhatikan EYD, imbuhan atau kata depan aja masih nggak bisa bedain, kadang gatel pengen disentil he..he..
    kalau komen aku nggak pakai bahasa baku, tapi untuk tulisan kuusahakan betul pakai bahasa yang baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s