Harga Jakarta

Ini sebetulnya cerita lama. Dulu, ketika aku masih tinggal di Jogja, aku tidak terbiasa mengambil uang di ATM dalam jumlah banyak. Aku paling sering mengambil uang dari ATM yang mengeluarkan uang Rp 20.000-an. Setting ceritanya sudah mulai kelihatan kan? Tahun berapa itu ya ATM 20 ribuan masih bisa membuat hatiku ayem? Mungkin sekitar tahun ’90-an akhir menjelang awal tahun 2000-an. Waktu itu, aku memang baru mulai mengenal apa itu bekerja dan orang tuaku tidak lagi memberi uang saku bulanan.

Waktu itu aku bekerja di Jogja. Gaji ya … cukuplah untuk seorang lajang. Setidaknya dulu aku bisa beli 1-2 buku baru setiap bulan. Masih sering makan di luar karena masih agak jarang masak sendiri. Lagi pula di Jogja banyak warung makan dengan harga mahasiswa. Dan itu aku masih bisa menabung.

Saat aku mulai bekerja di Jogja, beberapa temanku mulai mengepakkan sayap meninggalkan Jogja. Kebanyakan bekerja di Jakarta. Tentu gaji mereka lebih banyak dari aku dong. Iyalah, standar Jakarta gitu lo. Aku waktu itu belum mengerti betul seperti apa sih kehidupan di Jakarta? Berapa ongkos yang harus mereka keluarkan setiap hari untuk makan dan transport? Aku sendiri hampir tidak pernah mengisi dompetku sampai angka 100.000 untuk biaya hidup seminggu. Itu untuk ongkos transport dan makan ya. Kalau untuk tempat tinggal aku masih sempat tinggal di rumah Simbah (dan akhirnya pindah ke rumah di Jogja sebelah utara). Tapi waktu itu uang seratus ribu itu terasa banyak sekali. Wong, makan bakso ayam di depan Gramedia (Jl. Sudirman) saja masih Rp 3000 semangkok. Itu sudah kenyang banget! (Entah sekarang bakso ayam itu masih ada atau enggak ya?) Dan kalau mau makan di warung makan mahasiswa, masih sekitar Rp 2000. (Zaman kakakku kuliah, tahun 1992, soto di seputaran UGM masih Rp 300.)

Suatu kali aku bertemu seorang temanku yang sudah bekerja di Jakarta. Dia cerita begini: “Boros deh hidup di Jakarta. Tiap malam minggu aku pergi makan sama teman-teman. Sekali jalan bisa habis 100 ribu sendiri.”

Wah? Sebanyak itu? Tapi kurasa itu jumlah yang sedikit jika dibandingkan dengan gajinya saat itu. (Ini pemikiranku sekarang sih.)

Kini aku tinggal di Jakarta. Di sini harga makanan mungkin lebih mahal dibandingkan di daerah. Walaupun kalian pasti banyak yang bilang, “Makan di mana dulu? Di Jakarta masih ada kok warung makan yang kisaran harganya 5000-7000 sekali makan.” Iya kan? Iya kan? Itu komentar orang yang luar biasa pelit hemat. Pasti ada sih warung makan yang murah. Tapi kalau makan di restoran macam KFC, kurasa sekarang kisarannya minimal Rp 25.000-an barangkali ya? Atau lebih? Tapi kurasa, sekarang untuk makan berdua di sebuah restoran dengan kategori sedang, rata-rata mesti siap uang Rp 50.000.

Beberapa waktu yang lalu, aku pernah pasang foto jajanan yang dijual di pinggiran jalan Solo, Jogja. Namanya lekker kalau tidak salah. Semacam crepes kalau di pusat-pusat perbelanjaan. Harganya waktu itu sekitar 500-700 rupiah. (Ini harga kira-kira 3 tahun yang lalu.) Waktu foto itu kupasang di jejaring sosial, temanku yang tinggal di Jogja berkomentar, “Jajanan larang kui.” (Jajanan mahal, tuh!) Padahal menurutku, itu murah. Yah, rupanya otakku sudah beradaptasi dengan harga Jakarta.

Ketika aku pulang ke Jogja dua bulan yang lalu, aku makan di sebuah kedai yang menyediakan chinese food. Aku lumayan kaget waktu kutahu harga semangkok cap cay Rp 7.000. Memang kedai itu letaknya di dekat kampus. Tapi yah, aku tetap saja kaget. Biasanya di Jakarta, makan cap cay paling murah 15-17 ribu. Kalau di restoran yang lebih bersih, harganya bisa 20 ribuan ke atas. Dan, cap cay Rp 7.000 itu mengenyangkan juga kok. Ditambah lagi waktu itu aku sedang lapar-laparnya. Rasanya juga nggak parah. Masih cukup enak. Walaupun tidak bisa kubilang rasanya luezaat… Tapi cap cay harga segitu = cap cay seharga Rp 15.000 di Jakarta. Waktu aku bilang ke kakakku bahwa harga cap cay itu murah sekali, kakakku bilang begini, “Harga segitu itu ya biasa. Malah bisa dibilang untuk anak mahasiswa agak mewah. (Tergantung jenis mahasiswa yang mana sih. Kalau yang kaya, ya murah kali.) Jadi, mikirnya, kalau di Jakarta harga cap cay bisa dua kali harga cap cay di sini, berarti minimal standar gaji di Jakarta dua kali gaji di sini.” Kalau kubilang sih, standar gaji di Jakarta bisa tiga atau lima kali gaji di Jogja.

Memang sepertinya tidak terlalu salah kalau orang mengatakan bahwa di Jakarta apa-apa mahal. Selain itu, pendapatan di Jakarta jauh lebih tinggi. Jadi, jika orang berbondong-bondong menyerbu Jakarta, itu biasanya untuk cari uang. Setahuku ada beberapa orang yang meninggalkan keluarganya di daerah, sementara ia sendiri bekerja di ibu kota. Jadi, tiap akhir pekan mereka pulang untuk bertemu keluarga. Banyak yang menjalani kehidupan seperti itu sampai bertahun-tahun. Banyak alasan yang membuat mereka tidak memboyong keluarganya di Jakarta. Salah satunya soal perumahan. Lalu apakah kondisi kehidupan di Jakarta lebih baik daripada di daerah (misalnya untuk kondisi lingkungan atau pelayanan publik)? Lebih baik tanya saja kepada orang-orang yang sudah puluhan tahun tinggal di Jakarta. Bagi yang sudah terbiasa sih ya … oke-oke saja barangkali. Aku sih no comment saja lah.

10 thoughts on “Harga Jakarta

  1. soal hidup di Jakarta MAHAL, sudah tak perlu dipertanyakan lagi karena faktanya emang begitu. soal perumahan pun yaaaa gitu deh😀
    kalau sanggup idup umpel2an yaaa …
    kami waktu urban ke Jakarta itu ya ngontrak mbak, dan setelah 15 tahun baru mampu beli rumah. Sekarang sih malah udah gak mampu beli rumah di Jakarta saking mahalnya, entah kalau kami dapat lotre yang ga pernah masang itu hehehehe

    makanya saya gak heran klo banyak yang kerja di Jkt tapi gak bawa keluarga.
    di kampung uang 500ribu itu bisa buat sebulan untuk 3 orang katanya. entah benar entah engga, wong saya blom rasain hidup di kampung bersama suami.
    tapi klo tua nanti sih mau di kampung saja, lebih ayem ketoke😀

    kayaknya kalau 500 ribu bisa buat bertiga, itu tergantung banget sama gaya hidup dan sekecil apa kampung tsb. kalau lihat harga rumah di Jakarta, waaah … nggak kuaaat. haha.

  2. di Jakarta kalau hilaf bisa tidak nabung sama sekali loh.. harus cerdas dalam hal berbelanja dan menahan hawa nafsu… jadi percuma juga gaji besar di jakarta karena biaya hidupnya juga mahal. Mungkin bisa di bilang hampir mirip kayak di singapore gitu kalau makan di mall mall..

    iya, mesti pintar-pintar menyisihkan uang untuk ditabung. bisa tekor kalau nggak.

  3. Walaupun ada pekerjaan di Jakarta dengan gaji yang lebih kecil, saya tetep pilih di daerah dengan gaji lebih besar…….hidup wong ndeso,.,,,,

    haha … iso ae kon iku, bi!

  4. Selain makanannya, yang lain2nya juga Jakarta paling mahal ya Mbak
    Tarip parkir, bayar tol dll dll.
    Tapi karena yang mampu beli juga banyak, maka hukum pasar juga tetap jalan…
    Padahal yg tak mampu beli juga banyak, meski tinggal di Jakarta juga.
    Kesenjangan sosialnya sudah sedemikian besar

    Kesenjangan memang tampak jelas Pak. Di balik gedung-gedung megah itu banyak perkampungan yang padat. Kontras sekali pemandangannya.

  5. yah walaupun ya ada lah yang murah, tapi emang rata2 di jakarta pada mahal sekarang. apalagi kalo dibanding ama kota yang lebih kecil ya pasti lah di jakarta lebih mahal. karena kan supply demand ya. demand nya banyak ya harganya jadi lebih tinggi.
    belum lagi masalah gengsi. kadang orang bayar mahal bukan karena harga produk nya aja, tapi juga karena gengsinya, karena ambience nya, dll…🙂

    iya Man, kalau makan di mal tertentu, harganya kadang mencekik deh. sampai bingung, ini makanan kenapa bisa mahal banget sih ya?

  6. Ya..harga Jakarta memang mahal…
    tapi, biaya hidup di luar pulau Jawa juga lebih mahal, Nik.. kalau nggak berhemat, bener-bener nggak bisa nabung…
    Syukurlah kami sudah kembali ke P. Jawa… sampai sekarang masih terkaget2 dengan harga sayur dan buah yang murahhh bangett…

    Memang sayur di Jawa ini murah banget. Melimpah lagi🙂

  7. nggak pernah tinggal di Jakarta dan nggak pengen ke sana. macet soalnya. enak di Pontianak🙂

    sebagian orang Jakarta kayaknya juga lebih suka tinggal di daerah sebetulnya. tapi apa boleh buat, uangnya ada di Jakarta je😀

  8. sebetulnya aku merasa dalam banyak hal, Jakarta lebih mahal daripada di Jepang.
    Atau yang benar, aku tidak akan bisa mengikuti pola hidup kaum sosialita di Jakarta, karena sudah pasti di Jepang aku hidup berhemat. Sedapat mungkin membeli barang diskon, di grosir, atau di ladang-ladang utk membeli sayur. Dan itu bisa didapat di sekitar rumah, tanpa perlu mengeluarkan transportasi yang mahal dan terjebak kemacetan.
    Makanya aku heran jika teman-temanku di Jakarta dengan seenaknya membayar minimum 150rb untuk makan siang! Padahal segitu bisa untuk makan satu hari 4 orang keluargaku😦

    Mbak, sepupuku yang pernah tinggal di Amerika juga bilang harga Jakarta lebih tinggi. Di sini kalau sering makan di luar bisa tekor deh. Hehehe.

  9. Setiap saat sebelum pulang ke Indonesia aku slalu ngecheck berapa kurs dollar ke rupiah. Makin tinggi kurs dollar terhadap rupiah, makin senanglah aku karena itu berarti bisa menjual dollar dengan rupiah yang lebih banyak🙂

    Tapi anehnya setiap selesai liburan, aku selalu bingung kenapa ongkos liburan ke Indonesia jadi makin mahal padahal kurs dollar makin tinggi?

    Check dan ricek sana sini, jebulnya hal itu karena harga barang per satuan di Indonesia sendiri sudah naik gila2an..

    Percaya ngga, uang 2 juta kuhabiskan dalam waktu 2 hari selama liburan kemarin tak peduli itu di Jogja ataupun Jakarta padahal aku tak beli apa2 selain cuma makan, nyemil, ngopi, gitu aja terus..

    Kok iso ya

    aku sendiri merasa harga-harga di sini juga semakin naik, don. dulu aku pede kalau bawa uang 50 ribu ke swalayan. sekarang mana bisa? uang 50 ribu paling bisa untuk beli 2-3 item barang. atau malah cuma 1 item. sitik yo? kudu prihatin! (ora nyindir pak preksiden loh).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s