Hiburan Sebatang Rumput

Aku kumat aras-arasen lagi. Hehe. Kurang lebih sudah seminggu ya aku tidak posting tulisan di blog. Bingung mau mulai nulis dari mana dan cerita apa. Mungkin singkat saja deh.

Peristiwa ini sudah cukup lama. Tapi aku tidak pernah melupakannya. Lagi pula belum pernah kutulis, walaupun untuk konsumsi pribadi.

Suatu kali aku sedang dalam perjalanan naik kereta dari Jogja ke Jakarta. Kalau tidak salah ini kira-kira dua tahun yang lalu, saat aku mudah sekali merasa aras-arasen dan mendadak bete saat kereta yang kutumpangi mulai berjalan. Jalannya roda kereta di atas rel itu menandai keluarnya diriku dari zona nyaman. Nggak perlu dibahas lagi kan ya kalau aku merasa energiku kurang begitu cocok dengan ibu kota ini. Walaupun di Jakarta ada suami, tapi kalau lingkungan di sekelilingku rasanya membuatku remuk redam kan ya gimana gitu deh ah. Please dong ah! *apaan sih?* Wis ah, nggak perlu dibahas panjang-panjang. Jadi singkat cerita, aku bete. Titik.

Biasanya aku menghilangkan kebetean itu dengan tidur. Kadang bisa tidur cukup lama saat di kereta. Kadang aku membaca buku. Kalau capek membaca, biasanya aku melihat pemandangan di luar jendela. Entah kenapa ya pemandangan di luar jendela itu sepertinya menarik. Aku paling suka ketika keretaku sampai di daerah persawahan, hutan kecil, atau daerah pedesaan. Suasana tampak ayem, tentrem, membuat hatiku damai. Tapi menjelang Jakarta, pemandangan itu biasanya berganti dengan rumah-rumah yang padat berimpitan dan kumuh. Sama sekali bukan pemandangan yang enak untuk dilihat. Saat itu, rasa bete mulai muncul kembali. Hati dan pikiranku mulai berceloteh ngalor ngidul. Kalau kuturuti dan kuikuti celotehan itu, aku bisa capek sendiri. Jadi cara terbaik adalah membiarkannya berceloteh tanpa mengikutinya.

Akhirnya, kereta berhenti di sebuah stasiun kecil. Aku tidak ingat itu daerah mana, tapi sudah cukup dekat dengan Jakarta. Mendadak mataku tertumbuk pada sebuah rumput gajah. Warnanya hijau cerah. Rumput itu tumbuh di sela-sela reruntuhan beton dan batu-batu. Pemandangan di sekitarnya sama sekali tidak cantik. Tapi dasarnya aku suka warna hijau cerah, aku jadi berlama-lama memandang rumput itu. Mendadak aku melihat rumput itu cantik sekali. Daunnya melambai-lambai tertiup angin, seolah-olah dia memberikan senyuman yang paling manis kepadaku. Aku merasa terhibur oleh lambaiannya itu. Lalu aku berpikir, “Rumput itu cantik karena tampil apa adanya, meskipun dia begitu sederhana.” Ya, sepertinya kalau kita tampil apa adanya meskipun kita tidak tampak wah, kita bisa tetap cantik ya. Meskipun kata orang cantik atau tidak itu tergantung siapa yang melihat. Tapi toh aku bisa melihat kecantikan rumput itu. Dan sebagai pemilik mata, barangkali aku perlu melatih melihat hal-hal biasa di sekelilingku. Hal biasa dan sederhana biasanya menyimpan kedalaman tersendiri–dan bisa memberikan hiburan dan kelegaan bagi yang menikmatinya.

 

9 thoughts on “Hiburan Sebatang Rumput

  1. kurasa lama2 bakal bisa menikmati Jakarta Nik,
    aku dulu juga kan gitu…
    biasa di daerah jalan kaki aja ke mana2, kuliah di Jkt harus gelantungan di bis, sempat jadi sakit juga
    tapi akhirnya kini bisa menikmati

    mbak Monda, peristiwa ini sudah cukup lama kok. ini waktu aku masih beradaptasi dengan Jakarta. yah, walaupun belum bisa enjoy banget sama Jakarta, sekarang sudah lebih mendingan. hehehe. apalagi saya kerja di rumah ya. jadi tidak perlu setiap hari gelantungan di bus kota🙂

  2. Kalau aku sih percaya, kecantikan itu asalnya dari dalam. Kalau kita percaya diri pada keadaan kita (yang apa adanya atau penuh gantungan emas misalnya), tetap akan terlihat cantik, termasuk juga bila didukung dng sikap yang manis pula ya.🙂

    sikap yang manis memang mendukung kita untuk tampil cantik ya!🙂

  3. Baca tulisan ini jadi kangen naik kereta.

    Dan entah kapan bisa ngalamin naik kereta ekonomi seperti dulu lagi. Klaten – Jakarta cuma belasan ribu dan campur dengan ratusan penumpang lain. Tapi aku nggak pernah sampe merhatiin rumput, mbak.😉

    Sekarang kalau naik kereta ekonomi reguler, juga masih murah. Nggak sampai 50 ribu sudah sampai Jogja.

  4. ..
    bagian endingnya dalem banget Mbak..
    kalau kita sadar banyak hal indah di sekitar kita, sayangnya kebanyakan orang gak menyadari..
    ..

    kalau banyak orang menyadari hal-hal sederhana, kira-kira bakal terjadi perubahan besar dalam masyarakat nggak ya, ta?

  5. Keadaan seperti itu yang saya alami ketika menerima surat keputusan untuk pindah ke Jakarta. Bukan pekerjaan atau tugas yang saya nrisaukan karena tugas itu kan ilmu katon, pasti bisa. Yang menjadikan galau adalah : keluarga di Surabaya dan macetnya Jakarta.
    tapi lama-lama jadi biasa juga.

    Salam hangat dari Surabaya

    Saya lama-lama cuek dengan kemacetan Jakarta, Pakde😀 Lagian jarang pergi juga sih.

  6. Duh, Kris inih orangnya suka merhatiin banget yah…
    Pernah juga baca postinganmu tentang merhatiin orang di Mall …
    *harus waspada kalo deket deket Kris*..

    Hal hal kecil yang mungkin bakal dicuekin, malahan bisa di jadiin bahan postingan ama Kris…
    Tapi emang hal hal kayak gitu yang bisa bikin kita bersyukur yah Kris…

    Hehehe, emang kayaknya aku kurang kerjaan deh suka merhatiin hal-hal kecil.

  7. baru seminggu belum apdet udah panik, beda sama saya haha. walah, saya kalo soal wanita juga lebih suka yang sederhana aja.

    kalau seminggu nggak apdet, itu tanda-tanda saya makin malas mas. kan bahaya kalau malasnya kebanyakan

  8. Kris..

    Dulu banget… awal-awal aku di Jakarta, aku pernah mengeluhkan suatu keadaan… trus temanku bilang (dia seorang Budhist)
    “Segala sesuatu adalah netral, yang menjadikannya positif atau negatif adalah diri kita sendiri”

    Sejak saat itu, aku berusaha utk selalu positif menghadapi apapun… tidak selalu berhasil memang, tapi dengan demikian aku menjadi lebih bisa bersyukur…
    Thanks Rio atas nasehatnya

    Salam,

    Mas Berto, ini sebetulnya pengalaman yang sudah lama berlalu, saat aku masih awal di Jakarta. Jadi barangkali masih agak shock ya dengan Jakarta. Sekarang sih sudah jauh lebih mendingan kok. Terima kasih nasihatnya🙂 Aku beberapa kali menemukan nasihat serupa.

  9. Kalau kita terlalu sibuk dengan keseharian kita, kadang lupa melihat yang kecil dan cantik ini. Karena itu aku usahakan agar tetap santai meskipun sibuk. Susah, tapi ya diusahakan. Dan jangan ngoyo…. Dengan begitu aku bisa melihat hal-hal kecil yang menyiram jiwa yang haus. Dan semoga kita juga bisa menjadi rumput gajah yang cantik ya (kalau aku sih sudah cocok ‘gajah’nya hehehe)

    Hehehe iya, setiap rumput itu kalau kuperhatikan sebetulnya punya kecantikan tersendiri. *Halah, makin ngelantur😀.*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s