Teka-Teki di Balik Pengamen

Hari ini dua kali aku naik metromini. Pertama, naik 46, dan kedua naik 49. Dua metromini itu melewati jalan Utan Kayu. Biasanya setiap kali melewati jalan itu, ada pengamen yang naik. Tadi juga begitu. Biasanya aku agak enggan menyisihkan uang receh untuk para pengamen soalnya suara mereka biasanya ya … biasa saja lah. Tapi hari ini tidak.

Dua pengamen yang kutemui suaranya lumayan. Pengamen yang pertama menyanyikan lagu bergaya Melayu. Cengkoknya yang membuatku mau membuka dompet dan mencari receh dengan nilai yang paling besar–lima ratus rupiah. Jumlah yang sedikit barangkali ya? Pengamen kedua menyanyikan lagu keroncong. Entah bagaimana suara, pilihan lagu, dan penampilannya mengingatkanku pada bapak-bapak yang hendak berangkat ke sawah, yang kadang kutemui ketika pulang kampung. Padahal jelas bapak-bapak yang mau berangkat ke sawah itu tidak sambil mendendangkan lagu keroncong. Tapi begitulah pikiranku. Pikiran itu muncul begitu saja. Aneh memang ya. Mungkin karena keduanya memancarkan suatu semangat.

Menurutku, suara kedua pengamen itu bagus dibandingkan para pengamen lain yang suaranya cenderung pas-pasan. Aku bersedia memberi angka delapan untuk suara mereka. Kalau mereka punya kelompok musik, mungkin bisa tampil di kafe-kafe. Mungkin sih ya.

Ketika menuliskan pengalaman bertemu mereka tadi, aku jadi merenungkan, sebetulnya apa yang membuatku mau memberi mereka uang? Padahal aku termasuk pelit lo untuk memberi uang kecil kepada pengamen atau pengemis. Kalau pengemis sih, aku sudah hampir tidak pernah memberi. Kalau pengamen, masih pilih-pilih. Kalau suaranya bagus, ya aku kasih. Tapi, sebetulnya pemberian itu terdiri dari komponen apa saja? Setelah kupikir-pikir, pemberian itu terdiri dari rasa kagum dan kasihan. Ya, kasihan. Mungkin rasa kasihan itu sampai 60%. Loh, jadi lebih banyak rasa kasihan? Sepertinya begitu. Kasihannya itu karena mereka sebetulnya punya kemampuan lumayan, tapi kehidupan hanya mengantarkan mereka di atas panggung bernama metromini (atau bus-bus lain). Kalau dibandingkan dengan para penyanyi yang sering tampil dalam acara-acara musik di televisi zaman sekarang, suara mereka tidak kalah. Barangkali mereka kurang beruntung. Mereka belum menemukan koin keberuntungan seperti Paman Gober. Meskipun sekarang banyak kontes-kontes yang dapat mengantarkan ke panggung nasional, seperti misalnya, Indonesian Idol, tapi barangkali energi mereka untuk ke sana masih belum cukup. Entahlah.

Barangkali ketika aku merogoh dompet koinku, aku seperti melihat perjalanan hidup manusia pada umumnya. Aku yakin mereka punya punya cita-cita setinggi bintang atau mungkin cita-cita sederhana seperti orang pada umumnya–menikah, punya keluarga, dapat menghidupi keluarga dengan baik. Tapi kehidupan kadang-kadang memangkas cita-cita kita. Apakah sebagai manusia kita kurang berusaha? Mungkin iya, mungkin tidak. Atau barangkali dalam cita-cita yang terpangkas itu terpendam suatu teka-teki yang menuntut untuk diselesaikan, barulah setelah itu kita dapat naik ke tingkat yang lebih tinggi? Entahlah. Hidup ini sendiri kadang-kadang juga bagaikan teka-teki. Mungkin yang perlu kita lakukan adalah berjuang sekuat tenaga dan saling mendukung satu sama lain.

Wong awalnya hanya menyaksikan pengamen, kok ujung-ujungnya serius begini ya?

10 thoughts on “Teka-Teki di Balik Pengamen

  1. mungkin ini pertama kalinya saya singgah ke blog hebat ini..
    yahhh..nasib mereka hanya kurang beruntung saja, krn persaingan hidup butuh pengorbanan yg tidak kecil…

    salam, ^_^

  2. iya kadang kalau saya melihat pengamen yang serius suka ngasihnya banyakan… tapi kalau yang nyanyi asal asalan suka males juga lebih terkesan mengemis dari pada pengamen..

    ngamen juga perlu harga diri….

  3. Mungkin yang perlu kita lakukan adalah berjuang sekuat tenaga dan saling mendukung satu sama lain. >>>> sayangnya yg sering terjadi adalah saling mendepak satu sama lain.
    Kalau pengemis aku tidak akan beri, tapi kalau penjual koran/majalah sering aku lebihkan. Pengamen? Jarang ketemu sih selama 1 bulan di Jakarta. Tapi satu pengamen yang di Batagor Kingsley, HEBAT nyanyinya jazz lagi. Aku rela memberikan 5-10 ribu untuknya🙂

  4. Suami saya malah suka mendengarkan suara pengamen, kalau suaranya bagus, lagunya indah, dia tak segan memberi uang banyak. Ada pengamen di prapatan simpang Dago, selain pakai gitar, dia pakai harmonika…..suaranya bagus pula……

    beberapa pengamen memang suaranya enak, Bu. saya paling suka kalau pengamen pakai harmonika atau biola. lain kelihatannya🙂

  5. Kalau menurutku pengamen ngga salah… Banyak pengamen sukses contoh mereka yang ngamen di mie kadin dan sgpc Jogja.. penghasilan mereka lumayan lho!

    Yang salah menurutku adalah mereka yang menempatkan posisi profesi pengamen yang memang tidak benar. Coba para pengamen yang bersuara lumayan itu lantas berpikir kreatif untuk tak mengamen begitu saja tapi memberikan additional value entah apapun itu yang positif, pasti mengamen jadi mengasikkan dan lebih menghasilkan..

    kalau mengamennya keren, sebetulnya asyik juga dengernya. ngasihnya juga enteng.

  6. Kunjungan perdana disini..salam kenal!!! Kalo akang udah lama nggak naik angkutan umum karena kemana-mana pake motor maklumlah di jkt lebih lincah kalo pake motor🙂

    terima kasih sudah berkunjung🙂

  7. Kunjungan Perdana di Blog ini.. Sekalipun sy mempunyai beberapa buku karya kk🙂..
    Yup pengamen juga sama hal nya dengan para pencari rejeki yang lain, sejuta teka-teki dan inspirasi yang mungkin mengelilingi mereka🙂 …. Baik pengamen, pengemis, ato pekerja kantoran pun punya segudang teka – teki n misteri… Well, hny mereka n diri mereka pribadi yang bisa memecahkan teka – teki itu ….:)
    Bravo buat Kak Kris n salam kenal…😀
    JBU

    terima kasih sudah mampir ya🙂

  8. hahay … mas bro, omset mereka tuh sama dg pns golongan 1a. mereka tu punya impian dan cita- cita. aq juga pengamen, dan sekarang di BUMN, dah lama bgd ga ngamen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s