Rindu Bahasa Ibu dan Jumpa Blogger

Beberapa bulan yang lalu, aku mendapat email dari seorang kakak asramaku yang kini tinggal di Prancis. Dia menanyakan bagaimana caranya membuat blog. Katanya, dia rindu bisa menyampaikan pemikirannya dengan bahasa Indonesia. Ya, kira-kira begitulah. Meskipun dia sudah bermukim di sana belasan tahun dan menguasai bahasa Prancis, tapi dia merasa tidak sefasih orang lokal. Jadi, bisa kubilang dia merindukan bahasa ibunya.

Aku sendiri pernah mengalami hal semacam itu. Pertama kali aku pindah ke Jakarta, mendadak lidahku kangen mengobrol dengan bahasa Jawa. Tapi dengan siapa? Jelas aku tidak bisa bercakap-cakap memakai bahasa Jawa dengan suamiku. Aku menikah bukan dengan orang Jawa. Akhirnya, kerinduanku ini tersalurkan ketika aku bertemu dengan teman-teman bekas kantorku dulu, dengan temanku semasa SMP yang tinggalnya hanya selisih beberapa gang dari rumahku, dan … dengan beberapa pedagang di pasar.πŸ˜€ Lucu ya? Memang para pedagang di pasar tak jauh dari tempat tinggalku dulu banyak yang orang Jawa. Jadi, aku bisa bertransaksi dengan bahasa Jawa. Rasanya jadi lebih akrab. Padahal ya cuma beli kangkung, sawi, atau wortel. Dan aku biasanya jadi pelanggan para pedagang Jawa itu.

Aku dibesarkan di Jawa, di lingkungan yang hampir semuanya orang Jawa. Jadi, bahasa ibuku ya bahasa Jawa. Menurutku, aku lebih bisa memasukkan unsur “roso” (rasa) jika aku bicara dengan bahasa Jawa. Aku sulit menjelaskan soal ini. Gampangnya, bicara dengan bahasa Jawa itu seperti mengikutsertakan hati, begtu deh. Hehe. Dan salah satu akibatnya, aku jadi lebih akrab ketika bertukar pikiran atau bercakap-cakap ala kadarnya dengan orang lain dengan bahasa Jawa. Terlalu berlebihan kah? Entahlah. Tapi itulah yang kurasakan.

Dulu aku tidak terlalu merasakan kerinduan bahasa ibu sebelum menikah dan pindah ke Jakarta. Kerinduan bahasa ini semakin kurasakan ketika suatu kali aku ikut pulang suamiku ke Belitung. Di sana, para penduduk kebanyakan berbicara dengan bahasa Melayu dan di kalangan keluarga suamiku, mereka bicara dengan bahasa Kek. Akibatnya … aku plonga-plongo haha! Memang sih, aku masih bisa bercakap-cakap dengan bahasa Indonesia. (Bahasa Melayu kan akarnya bahasa Indonesia, kan? Jadi banyak kesamaannya.) Tapi kok rasanya seperti kurang plong gitu ya? Nah, suatu kali aku bertemu dengan orang Jawa yang tinggal di Belitung. Dan serta-merta aku bicara dengan bahasa Jawa dengan orang tersebut.πŸ˜€

Pernah suatu kali aku saking “sakaw”-nya bercakap-cakap dengan bahasa Jawa, aku telepon orang rumah hanya agar bisa menyalurkan kerinduan lidahku itu. Kalau tidak, aku mengirim SMS kepada kakak atau temanku dengan bahasa Jawa.

Kini salah satu kebiasaanku selama tinggal di Jakarta adalah bicara dengan bahasa Jawa saat bertemu dengan sesama orang Jawa. Memang lalu tidak langsung pakai bahasa Jawa terus sih. Masih diselingi bahasa Indonesia. Dan satu hal lagi, aku sulit sekali mengadopsi pemakaian kata ganti “elu” dan “gue”. Entah kenapa, sulit sekali dan cenderung tidak bisa. Ya, pernah sih aku memakai kata “elu” dan “gue”, tapi itu jarang sekali.

Nah, Senin siang yang lalu (tgl 30 Juli), aku mendapat kesempatan bertemu dengan Donny Verdian (DV) di Pacific Place. Begitu dia datang, seketika aku langsung ingin bicara pakai bahasa Jawa dengannya. Dan memang rasanya canggung saat mengobrol pakai bahasa Indonesia dengannya. Tapi, tentu saja kami tidak bisa mengobrol pakai bahasa Jawa, karena selain dengan DV, ada Mbak Imelda, Joyce–istrinya DV, Odilia, dan kemudian suamiku menyusul bergabung bersama kami. Jadi, obrolan dengan bahasa Jawa tertunda dulu. Hanya jadi selingan.πŸ™‚ Aku tidak ingin mereka yang tidak fasih bicara bahasa Jawa jadi bengong.

Aku senang bisa bertemu dengan mereka. Jujur saja, mereka adalah pendorongku saat aku kumat malasnya dalam ngeblog. Tahu sendiri kan, DV selalu bisa diandalkan posting setiap Senin dan Kamis–kecuali jika dia pamit hendak libur. Sedang Mbak Imelda? Jelas, dia rajin sekali nulis blog. Tulisannya di blog entah sudah berapa ribu. Dan barangkali aku mesti menggosok-gosok lampu ajaib supaya dapat bantuan jin cakep agar jumlah postinganku bisa menyaingi Mbak Imelda.πŸ˜€πŸ˜€

Saat sudah sore dan sudah mendekati jam buka puasa, kami hendak bubaran. Tapi, masih ada satu blogger yang kantornya tidak jauh dari tempat kami kopdar, yang sudah bersiap bertemu dengan kami. Siapa lagi kalau bukan Om NH? Ah, akhirnya setelah sekian lama, aku bisa bertemu dengan si Om penggemar bubur ayam ini. Lengkap sudah acara kopdar kami. Jadi, meskipun aku mesti meluangkan waktu di sela-sela usahaku untuk meringkus singa mati (baca: deadline/tenggat pekerjaan), rasanya tidak sia-sia karena kerinduan untuk bertemu mereka tuntas sudah!πŸ™‚ Semoga aku tetap ingat untuk menambah tulisan di blog. Amin!

Dari kiri ke kanan: Om NH, DV, Mbak Imelda, aku.

Foto: didapat dari “nyolong” koleksi Mbak Imelda. (Pinjem ya Mbaaaak :))

11 thoughts on “Rindu Bahasa Ibu dan Jumpa Blogger

  1. iya kita pasti paling nyaman ngomong dengan bahasa ibu. udah pasti itu.πŸ˜€

    dulu pas pertama kali pindah jakarta pas umur 13 th juga gua susah dah mau ngomong bhs indo. masih suka kecampur2 bhs jawa. hahaha. gak nyaman banget dah ngomong bhs indo gitu. bahkan dulu mikir kalo gua kudu married ama orang jawa, soalnya gua gak kebayang harus ngomong indo sehari2. kalo ama bokap nyokap kan gua masih ngmong jawa.

    eh tapi lama kelamaan jadi terbiasa juga lho gak ngomong jawa. dan akhirnya juga married ama esther yang gak bisa ngomong jawa ternyata baik2 aja. hahaha. walaupun ya tetep kalo ketemu orang yang bisa ngomong jawa ya langsung keluar dah jawanya.πŸ˜›

    mungkin karena bhs indo adalah bhs ibu jadi gak terlalu masalah adaptasinya dari bhs jawa ke bhs indo.

    yang susah nih sejak pindah kemari. mungkin sama ama yang dialami temen lu di perancis. bisa sih komunikasi pake inggris, tapi gak enak. gak plong.πŸ˜€ dan iya bener, blog itu salah satu alat penyaluran ngomong indo!! hahaha.

    btw asik banget ya kopdarnya…πŸ™‚

  2. Karena alasan itulah aku membuat blog berbahasa Indonesia! Rindu bahasaku sendiri.
    MESKIPUN, kadang kalau waktu bicara di Indonesia, ada beberapa ekspresi yang ada dalam bahasa Jepang tapi tidak ada dalam bahasa Indonesia, sehingga membuatku sulit menyampaikan pemikiranku.

    Wah ternyata sedang berada di “garis mati” ya? Kalau sudah lewat mari kita rayakan lagi hehehe

    (Foto tentu saja no problem)

  3. wah mbak, aku malah sekarang lagi senang posting pakai bahasa Jawa, ngobatin kangen mbak jarang bisa ngomong bahasa Jawa, bahasa Indonesia jugaπŸ™‚ .. blog jadi pelampiasannyaπŸ™‚

    seneng ya ketemu mbak ImeldaπŸ™‚

  4. Bahasa ibuku sunda…tumbuh di era globalisasi yang menggunakan bahasa indonesia dan inggris,,,

    kangen juga sama bahasa sunda yang benar-benar nyunda,,,

  5. Mbak Kris, aku tuh walau bukan orang jawa dan tak mengerti bahasa Jawa suka banget mendengar orang bercakap bahasa Jawa. Iramanya gimana gitu, berbelok-belok penuh misteri. Nah tiap orang bercakap jawa itu saya membayangkan komik-komik A Kosasih yang sering saya baca dulu. Padahal apa hubungannya coba? Yah gitulah Mbak..Ketidak mengertian mesti diisi oleh imajinasi hehehe..

  6. Senangnya kopdar dengan teman lama.
    Mudah2an minggu depan bisa ketemuan ya Menik.
    Jangan tanya soal tulisan di blog, makin lama makin kewalahan deh..apalagi blogwalking….

  7. Aku sempet bingung pas ngomong, “Kita pakai bahasa Indonesia saja ya..” ke kamu siang itu… Bagiku itu adalah hal teraneh selama pertemuan itu!

    Benar saranmu, kita bertemu di sebuah warung mie jawa saja di Yogyakarta yang tercinta!

    Salam untuk Onny! Sukses dan teruslah berusaha mengusirkan diri sendiri dari Jakarta menuju Jogja!πŸ™‚

    Iya, lha aku yo merasa aneh. Wong biasanya kita kalau ketemu ngomong pakai basa Jawa to, Don? Hehehe. Wis, suk meneh nek kopdar ning Jogja wae yo

  8. Aku ngomong karo kowe juga rasane wagu kok nganggo bahasa Indonesia… hahaha…
    awal-awal di asrama pancen berbahasa Indonesia (golek aman) tapi suwe2 basa Jawa lebih dominan…

    ujug-ujug makbedunduk ketemu di blog… komentare nganggo bahasa Indonesia.. hehehehe..

    tapi memang ada saatnya kita harus cerdas menyesuaikan diri dalam berbagai situasi.
    setuju dengan kesepakatanmu dgn DV, utk berbahasa Indonesia saja supaya semua merasa nyaman….πŸ˜€

    lha nek ra nganggo boso jowo ki ra apdol je, na hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s