Nostalgia Klender

Gara-gara jalan di depan rumah ada acara yang memasang pengeras suara besar-besar, kemarin malam aku “mengungsi” ke rumah temanku, Joanna. Daripada malam tidak bisa tidur dan hanya mendengar suara yang memekakkan telinga, mending kabur kan? Untung benar punya teman yang bersedia menampung aku dan suamiku hehe. Makasih ya, Jo!

Menginap di rumah temanku ini mengingatkan aku saat masih tinggal di Perumnas Klender, kira-kira empat tahun yang lalu. Waktu itu aku pertama kali pindah ke Jakarta. Dan daerah itulah yang pertama kali kukenal. Untung saja tinggalku tidak terlalu jauh dari rumah Joanna. Hanya selisih tiga gang. Oya, Joanna ini temanku SMP dulu. Tapi justru selepas SMP (dia SMEA, aku SMA), kami malah sering main. Karena sama-sama sering di Mudika sih dan entah kok sepertinya ada saja ya yang membuat kami sering main. Setelah lulus SMEA dia bekerja di Jakarta. Dan ketika anak perempuannya lahir, orang tuanya menyusul tinggal di Jakarta. Jadi, ketika aku di Jakarta dan tempat tinggal kami berdekatan, aku merasa cukup lega. Setidaknya seperti ada saudara di dekatku. Dia dan keluarganya sangat membantuku ketika awal-awal aku tinggal di Jakarta. Sekarang aku sudah pindah, tidak lagi di Klender tinggalnya. Tapi tidak terlalu jauh kalau mau ke sana. Cukup naik angkot sekali.

Oya, balik ke acara “mengungsi” tadi ya. Tadi pagi, tak berapa lama setelah bangun, dia tanya ke aku, “Mau ke pasar, nggak?” Aku mengiyakan karena ingin membeli beberapa sayuran.

Tak jauh dari perumnas ini ada pasar yang cukup besar. Dulu, kami punya “ritual” bersama pada hari Sabtu pagi, yaitu ke pasar bersama. Pasar itu lumayan besar. Kalau kita pergi ke pasar sebelum jam enam pagi, di pinggir jalan banyak pedagang sayur grosiran. Murah-murah! Dulu sempat tuh aku dapat wortel satu kantong kresek kecil cukup dengan seribu rupiah. Kalau milihnya cermat, bisa dapat sayur yang bagus-bagus juga. Tadi aku ke pasar sudah jam 7 lebih, masih ada beberapa pedagang sayur grosiran. Akibatnya, jalanan depan pasar muacet! Memang bukan tempat belanja yang menyenangkan, tapi kalau mau murah ya mesti mengesampingkan kenyamanan.

Pergi ke pasar pada Sabtu pagi itu seperti mengetuk-ngetuk kenangan awalku di Jakarta. Perasaan yang muncul campur aduk. Tidak senang, tapi tidak juga sedih. Bagaimana ya? Bingung aku menggambarkannya. Mungkin seperti berpetualang. Semacam memacu adrenalin. *Halah, istilahe rek!* Tapi aku merasa cukup beruntung ada Joanna yang menjadi “pemanduku”. Terutama untuk masalah belanja ke pasar ini, aku selama tinggal di Klender, jadi ikut dia belanja ke mana. Pedagang yang jadi langganannya, akhirnya jadi langgananku juga. Beli sayur di mbak yang medok berbahasa Jawa, beli ayam di ibu di dekat jalan belakang, beli ikan di los agak belakang. Dan yang enak sih, dia pandai menawar! Hehehe. Aku kan tidak tegaan untuk urusan yang satu itu.

Selain itu, pengalaman menginap di Klender ini menyisakan penggalan perasaan yang lain. Ceritanya, Joanna selama ini tinggal di situ bersama kedua orang tua, Fani–putri tunggalnya, dan beberapa saudaranya. Tapi beberapa hari lagi kedua orang tua Joanna, Fani, dan keponakannya itu akan pindah ke Madiun. Fani akan melanjutkan sekolah di SMP almamater kami dulu. Rencana ke depan Joanna kemungkinan akan menyusul mereka. Jadi, mungkin ini acara menginapku di Klender semalam yang terakhir, tepatnya saat rumah itu masih terisi lengkap. Beberapa waktu lagi barangkali rumah itu sudah berganti pemilik. Dan aku tidak bisa nostalgia lagi. Sedihkah aku? Hmm … bagaimana ya? Sebetulnya aku ikut senang sih mereka pulang ke Madiun lagi. Toh jika aku pulang ke Madiun, aku masih bisa bertemu mereka. Jadi, tidak sedihlah. Memang kota ini perlu dikurangi penduduknya kok. Hehehe. Tapi satu hal yang aku kenang dari keluarga ini: Mereka menerima aku dengan baik sekali dan sangat membantuku ketika beradaptasi di Jakarta. Menyenangkan jika seorang teman jadi seperti keluarga sendiri. Terima kasih, Jo!

8 thoughts on “Nostalgia Klender

  1. Pengeras suara besar2 itu paling bikin stress Mbak.
    Saya juga sedih manakala ada acara yg pakai begituan, apalagi kalau deket rumah
    Dada rasanya mau copot

    Iya, Pak. Dada rasanya gemrudug…

  2. Sudah lama sekali saya tidak ke pasar tradisional. Dulu nyaris setiap minggu nemenin ibu, pas masih di Cilacap, tapi sejak masuk kuliah jadi tidak pernah, huhuhu.
    Ah, dan speaker depan rumah ada acara kaya gitu selalu jadi drawback, menurut saya, dalam hidup di perkampungan/pedesaan. Meski orang-orangnya ramah, suasananya asri, ramai pula, tapi kalau malam ada kaya gituan, *sigh* nyerah deh😛

    Di Jakarta biar orang kaya juga banyak tuh yang suka nutup jalan, pasang tenda, karena ada acara.

  3. seneng ya mbak bisa mengungsi ke rumah temannya utk menghindari pengeras suara itu sekalian bernostalgia

    ngomong ttg pasar tradisional, kalau dtg ke sana pagi pagi itu bisa dpt segala sesuatu yg masih seger seger, kalau ´pintar menawar bisa dapat harga murah

    iya, untung ada teman yang mau menampung kami hehe.

  4. Aha, tulisanmu menarik karena kubaca setelah semalam kutonton acara debat calon gubernur DKI melalui siaran parabola.

    Aku sepakat dengan salah satu pendapat calon tersebut karena ia bilang bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi Jakarta kalau perlu dibikin nol persen supaya tak menarik para pendatang lalu mereka itu (para pendatang) akhirnya kembali pulang ke rumah masing-masing🙂

    Kamu, kapan pulang, Nik? mBangun desa?🙂

    Sik golek dina sing apik, Don!

  5. Dulu….awal tahun 81 sd pertengahan 83 saya tinggal di Rawamangun, si sulung lahirnya pas tinggal di Rawamangun. Kami iuran untuk carter jemputan pergi dan pulang kantor, di antara teman jemputan ini ada yang rumahnya di Klender, di Perumnasnya. Sempat pengin punya rumah di Klender, tapi saat itu, bagi keluarga muda seperti saya dengan adik banyak, sulit untuk membayar DP nya.

    Seandainya Bu Enny tinggal di Klender, kalau kopdar, saya dekat dong. Hehe

  6. Pingback: Rindu Bahasa Ibu dan Jumpa Blogger | My Writings

  7. Pingback: Buku Favorit | My Writings

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s