Tentang Sebuah Keluarga

Rumah. Keluarga. Dua kata itu erat kaitannya. Rumah adalah tempat satu keluarga berkumpul. Keluarga membutuhkan rumah. Di rumah itu para anggota keluarga berinteraksi satu sama lain, ada emosi yang muncul, ada kebersamaan. Di dalamnya pasti pernah timbul rasa sebal, senang, kangen, marah, sedih, saling mendukung, saling melindungi, saling mengkritik. Campur-campur.

Ya, aku mau bercerita tentang sebuah rumah yang pernah kutinggali, yang sekarang–sayangnya–jarang aku kunjungi. Tapi biar begitu, aku masih merasakan suatu ikatan keluarga yang pernah terjalin selama aku tinggal di situ.

Rumah itu besar. Besar sekali. Dan berhalaman luas. Ada halaman di sisi luar, ada pula sepetak halaman di dalamnya. Ada sebuah sungai yang membelah halaman rumah itu. Jadi kamu bisa mendengar gemericik air setiap hari. Kedengarannya menyenangkan ya? Rumah ini terletak di pinggir jalan besar, tetapi halaman yang luas itu cukup bisa meredam riuhnya lalu lintas di depan. Oya, tidak seperti rumah-rumah pada umumnya, halaman depan rumah itu diaspal! Khas sekali. Ini bukan jalan raya lo. Tapi memang benar-benar halamannya.

Foto: Sungai Babilon. Begitulah kami menyebut sungai ini. Kira-kira tiga tahun kamarku terletak di samping sungai ini.

Dulu, aku sempat takut waktu hendak tinggal di sana. Rumah ini besar sekali. Ada ratusan ruang di dalamnya. Bagaimana kalau aku salah masuk? Lagi pula ruangan-ruangan itu mirip. Dan ada pula lorong-lorong yang panjang. Kalau malam, bisakah kamu membayangkannya? Saat semua penghuninya tidur, lorong itu begitu sepi. Memang cahaya lampu neon tetap bersinar terang sampai pagi, tetapi sepi itu kadang terasa menggigit.

Hmm, bisa menebak rumah apa yang sedang kubicarakan ini? Ini adalah asrama yang kutinggali sejak awal kuliah (bahkan beberapa bulan sebelumnya aku sudah tinggal di situ) sampai aku lulus. Lima tahun. Itulah Asrama Syantikara, Jogjakarta.

Sampai sekarang aku masih merasa Syantikara adalah salah satu bagian penting dalam hidupku. Tinggal dan berinteraksi dengan teman-teman di sana merupakan suatu tonggak penting dalam hidupku. Di sana aku belajar banyak hal. Tak hanya soal kemandirian, tetapi juga soal bagaimana hidup bersama teman-teman yang sangat berbeda latar belakang sukunya. Aku masih ingat ketika aku penasaran dengan rambut keriting temanku dari Irian, lalu dia mengizinkan aku memegang rambutnya. Bagiku rambut temanku itu unik. Ternyata rambutnya tidak sependek yang kusangka. Jika ditarik, rambut keritingnya itu molor dan kesanku waktu itu cukup panjang.

Beberapa minggu yang lalu aku pergi ke Tanjung Pandan, Belitung. (Suamiku aslinya dari sana, jadi aku ke sana dalam rangka “pulang” juga.) Di sana aku bisa dibilang tidak kenal siapa-siapa, kecuali kerabat suamiku. Tapi yang membuatku agak “tenang” adalah di sana tinggal seorang kakak asramaku. Dia memang bukan asli Tanjung Pandan, tapi kehidupan membawanya sampai ke sana. Aku memanggilnya Kak Mika. Aku senang bertemu dengannya. Meskipun waktu di asrama aku tidak dekat dengannya, toh waktu berjumpa lagi dengannya, aku merasa seperti bertemu teman lama. Ada cerita lama yang bisa kami urai bersama–soal asrama, soal Sr. Ben, soal teman-teman kami dahulu. Meskipun beda angkatan, tetap saja ada cerita kebersamaan yang bisa kami bagikan.

Bersama Kak Mika (kiri) di depan Gereja St. Regina Pacis, Tanjung Pandan.Foto: Bersama Kak Mika (kiri) di depan Gereja St. Regina Pacis, Tanjung Pandan.

Menurutku, itu adalah salah satu keunikan tinggal di asrama Syantikara. Di Syantikara aku seperti mengintip Indonesia versi kecil. Berbeda-beda, tetapi kami satu keluarga. Indonesia sekali kan?

18 thoughts on “Tentang Sebuah Keluarga

  1. Aduh Nik.. aku jadi kangen suasana asrama, kangen kebandelan dan kepala batuku saat itu… kangen ngakak di unit… masak bareng… dan aku bersyukur banget pernah tinggal di sana…

    Babilon…. nama yang unik ya?
    btw, Kak Mika kliatan makin kurus ya?

    Aku kangen theng-theng crit di asrama. Kangen teman-teman. Kangen duduk-duduk di biroku di tepi Babilon. Kangen duduk-duduk di ruang tamu BL sama teman-teman seunit, sambil minum teh di sore hari. Kangen mengantri di kafe–walaupun makannya ya gitu-gitu aja. Aku dulu ya heran kok sungai itu dinamai Babilon ya? Unik😀 Iya, Kak Mika kurusan. Tapi kulihat dia hepi-hepi sih di sana.

  2. aku yang di jogja malah jarang menengok rumahku, coba sekali waktu aku ke sana ah….! tapi sr. ben sudah tdk di sana lagi, rasanya banyak sekali yang hilang tanpa kehadiran beliau.

    Iya, Syantikara tanpa Sr. Ben seperti ada yang kurang ya. Dulu aku sering lewat (pas masih kerja di Jogja), pernah mampir tapi sesekali. Sekarang kalau mampir, mau cari siapa ya? Suster nggak ada…

  3. Aku ke Syantikara cuma kalau belajar saja waktu SMA dulu.. eh salah, tepatnya kalau pas lagi ngedeketin cewek yang sregep sinau trus dia ngajak ke Syantikara buat belajar bersama ya mau apa lagi.. tiada kata lain selain ikut pura2 belajar hahaha🙂

    Tapi kamu benar, pengalaman berada di asrama apalagi pada masa kita tumbuh adalah sesuatu yang hmmm.. “Sesuatu bianget!”.

    Waktu SMA aku juga tinggal di asrama Ampel 2 dan memang menyenangkan🙂

    Oh, kamu pernah belajar di kafe asrama to, Don? Pernah ikut beli makanan di sana nggak? Hahaha. Aku dulu awal-awal sempat belajar juga di kafe itu, tapi paling susah kalau kebelet pipis. WC-nya jauh!

  4. eh bener Nana, Kak Mika kok kurus ya…?

    Iya, Mbak Rin. Pertama kali lihat Kak Mika, aku juga berpikir begitu. Pertama kali ketemu dia di Belitung kira-kira 3-4 tahun yang lalu. Badannya ya masih sekurus itu. Tapi kayaknya masih suka menari🙂

  5. Dan Asrama di Solo atau Jogja kayaknya beda dari asrama dikota lain. Itu yang saya tau. Di Semarang juga banyak asrama, tapi tidak punya kharisma seperti di dua kota tadi…
    Mungkin karena bangunannya.
    Di Semarang, asramanya sudah berarsitek masa kini yang keanggunannya nggak ada lagi. Kesannya seperti bangunan biasa.

    Ya, mungkin karena bangunannya. Dan mungkin juga karena pengelolaannya.🙂

  6. Senang ya punya pengalaman tinggal di asrama. Aku sendiri menolak untuk masuk asrama di sini. Mungkin karena aku egois dan juga sudah merasa cukup bisa berbahasa Jepang. Di asrama PASTI memakai bahasa Inggris sebagai komunikasi antar mahasiswa asing. Karena itu aku lebih memilih tinggal bersama keluarga Jepang.

    Tinggal di asrama memang kenangan yang tidak terlupakan, Mbak. Tapi tinggal bersama keluarga Jepang, pasti juga tidak kalah menariknya kan?🙂

  7. keuntungan tinggal di asrama pasti jadi punya banyak temen ya…🙂
    gua gak pernah tinggal di asrama…

    bener, temen langsung nambah banyak. dari macam-macam suku🙂

  8. aku belum pernah tinggal di asrama mbak
    btw, terlihat sungainya bersih ya

    ya lumayan bersih, walaupun nggak bersih-bersih amat. tapi airnya mengalir terus sih. kalau malam suka ada yang cari ikan di situ.

  9. Menik…….pagi-pagi aku baca tulisanmu ini, langsung terbayang kegiatan pagi hari kita di Syantikara, riuh sekali berebut atau antri kamar mandi sambil ngobrol nenteng-nenteng handuk….Sama denganmu dari Syantikara aku juga belajar buanyak hal…..ketrampilan untuk hidup terutama. Aku senang istilah “mengintip Indonesia kecil”. Aku bersyukur boleh menghabiskan 6 tahun hidupku di Syantikara.

    Hehehe, iya ya Mbak. Nenteng-nenteng handuk trus duduk di ruang tamu unit, sambil antri mandi. Tampang aslinya kelihatan semua😀

  10. Iya lho, kata temen saya yang tinggal di asrama juga, kehidupan asrama itu layak dikenang katanya.🙂

    Layak banget! Dan bagiku menyenangkan sih🙂

  11. Memang pengalaman yg tiada duanya, rumah dalam indonesia kecil. saya pun mengalami hal yg seperti Kris rasakan, meskipun latar belakang yg berbeda, tapi kompak selalu, sperti keluarga besar.

    Iya, betul-betul kompak. Yang nggak hilang adalah kebiasaan “sadar kamera” kalau mau difoto. Biar sudah keluar dari asrama bertahun2, tapi tetep deh kalau ngumpul suka banget difoto (dekat tangga)

  12. asrama syantikara yg menarik tapi sering “kucueki” karena sering keluyuran hehehe…pasti pengalaman yg mengesankan ketika “biro ditutup paksa” hahahaha….Kak Mika…yg terkesan darinya adalah saat diajari nari India yg aku gak bisa-bisa dan kaku…bikin dia gregetan hahahaha….

    wahahahaha, itu pengalaman tidak terlupakan. hihihihi. nakal yo😀 aku nggak pernah diajari nari india. eh, kemarin waktu cerita2 sama kak mika, dia juga pernah bironya “ditutup paksa” :p

  13. dear menik, tulisan ini layak masuk ke buku kita! tambahin dikit ya menik, di bagian yang menyebutkan “meskipun tidak seangkatan atau jarak usia cukup jauh, ketika bertemu anak asrama bisa langsung akrab, tak berjarak, membuatkita jadi tenang, dsb… ” kejadian ini cocok dengan yang kita berdua alami kan” kita tak saling kenal sebelumnya, namun bisa cepat cair. mungkin karena kita berbagi kenangan, atau mungkin karena kita yakin sedang bertemu sesorang dengan latar belakang didikan yang sama, yang akan memahami kita dan mudah kita pahami? tolong eksplor dikit lagi, 1-2 alinea aja ya…..nanti dikirim ke aku aja langsung nana [at] gramediapublishers [dot] com

    oke, mbak Nana. nanti aku otak-atik tulisan ini. kutambahi dikit-dikit

  14. Terima Kasih, Menik. Atas kisah asrama kita dan dapat melihat Kak Mika yang sekarang. Semoga Kak Mika tetap sehat walafiat dan berbahagia.

    Sama-sama, Kak Betty.🙂

  15. saya kenal Syantikara th 92 menjelang sipenmaru. bisa jadi dari 91. tidak ingat persis darimana mulainya. tapi sejak pertama kali mencoba, saya menemukan tempat yg selama ini saya cari, tempat yg nyaman untuk belajar selain kamar kost.

    saya saat itu tinggal di belahan lain dunia Jogja, Tegalmulyo, sebelah utara prapatan Wirobrajan. Pergi ke Syantikara dg Skuter tua th 66, yg acapkali rewel dan perlu didorong sekuat tenaga. Gangguan itu cukup serius sampai ada teman yg sedia menemani belajar dan mendorong, jika ngadat. Sebagai gantinya, saya mesti menjemput dia tempat kostnya di daerah patangpuluh. sungguh perjuangan besar untuk ke Syantikara.

    Selama belajar disana, saya bahkan baru tahu kalau tempat tsb asrama putri setelah melihat bbrp kali mereka makan di tempat tsb. Jadi apakah yg saya pakai sebenarnya adalah ruang makan? saya tidak tahu.

    ruanganya luas. jika siang cahaya yg masuk cenderung temaram.

    sebagai anak SMA yg tengah bergulat meraih masa depan, saya tidak memiliki pikiran apa2 untuk apa yg kemudian orang sering sebut “kesempatan”. kepikir juga enggak: anak SMA kelas 3, masih ingusan, datang ke asrama putri. huh. lurus-lurus saja.

    kesempatan belajar di syantikara salah satu momen yg indah dalam kehidupan saya selama di di jogja.ketika sekolah sudah selesai, menunggu ujian sipenmaru, saya semakin intensif pulang pergi ke syantikara 2x sehari. pagi pukul 07.00 berangkat sp pk 12.00, pulang makan siang, istirahat, lalu berangkat lagi di atas pkl 15.00 sd 21.00 demikian rutin sampai ujian sipenmaru berlangsung.

    kemungkinan tempat belajar yang rajin dikunjungi Mas Handaka ini adalah kafe. dulu kafe itu jadi tempat makan sekaligus tempat belajar. di dekat pintu masuk ada tempat cuci piring, bukan? lantainya berwarna hitam putih kaya papan catur? jika iya, itu pasti kafe. di sebelah kafe ada taman kecil, lalu ada ruang belajar lagi namanya menza. sayang sekarang ruang belajar itu sudah ditutup. padahal saya merasa ruangan itu sangat dibutuhkan oleh para pelajar.

  16. Pingback: Keinginan yang Sempat Terlupakan | My Writings

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s