Penyiar Radio

Ini adalah penggalan percakapan antara aku dan Bapak lewat telepon. Kejadiannya siang hari, tengah hari bolong, di hari kerja.

Bapak: Halo?
Aku: Iya, Bapak.
Bapak: Sedang apa?
Aku: Biasa, di depan komputer.
Bapak: Sendiri?
Aku: Enggak. Ini ada teman, penyiar radio.
Bapak: Ngarang kowe ki. (Kamu ini mengarang.)
Aku: Iya, beneran. Dari tadi pagi temanku ya penyiar radio he he he.

Begitulah. Orang tuaku kadang masih suka menelepon (parah nih, bukan anaknya yang telepon, malah orang tuanya) pas aku sedang di rumah sendiri. Mereka cuma pengin tahu kabar anaknya yang terdampar nun jauh di ibukota.

Karena suamiku biasanya pagi-pagi sudah berangkat dan baru kembali sore atau petang, aku jadi seringnya di rumah sendiri. Bagi beberapa orang, di rumah sendiri itu kedengarannya tidak enak. Tapi bagiku, itu biasa. Aku lupa sejak kapan aku mulai terbiasa berada di rumah sendiri. Waktu di Madiun, kalau Bapak dan Ibu tidak di rumah karena ada urusan keluar, aku di rumah sendiri. Di Jogja, waktu serumah cuma berdua sama kakakku, kalau malam minggu dia ada kegiatan bersama teman-teman atau para mahasiswanya, aku di rumah sendiri. Jadi, tak masalah.

Tapi memang sih, waktu di Jakarta ini aku agak butuh waktu untuk beradaptasi berada di rumah sendiri. Entah ya, mungkin aku masih belum banyak teman di sini, dengan tetangga atau orang-orang sekitar masih belum banyak teman. Dulu terbiasa bekerja kantoran, setiap hari dari pagi sampai sore selalu dikelilingi teman-teman, dan waktu pindah ke Jakarta, mendadak seperti tidak ada siapa-siapa. Ada sih suamiku, dan waktu masih tinggal di Klender ada teman SMP-ku dulu yang tinggal tak jauh dari rumah. Tapi masih aneh saja rasanya berada di tempat baru yang asing.

Walaupun ada saja hal atau pekerjaan yang kulakukan, tetap saja terasa ada perasaan sepi. Lalu waktu itu, suamiku yang memang suka mendengarkan radio, mulai “memperkenalkan” kepadaku beberapa radio yang sering ia dengarkan. Ada beberapa radio sebenarnya yang ia kenalkan kepadaku, tetapi akhirnya aku seringnya hanya mendengarkan dua radio saja: I-Radio dan Kbr 64h/Green Radio. Kalau mau mendengarkan hal yang santai-santai, aku putar I-Radio; kalau mau serius, dengar Kbr. Kalau Kbr, aku biasanya mendengarkan Saga.

Biasanya pukul 6 kurang aku sudah menyetel radio. Nanti pukul 6 tepat, di I-radio akan ada acara Pagi-pagi yang dibawakan Muhammad Rafiq dan Poetri Soehendro. Acara itu tuh yang paling sering aku dengarkan. Nanti kira-kira pukul setengah 8, aku ganti channel ke Kbr, karena jam segitu akan ada editorial dilanjutkan Saga. Lalu biasanya sih balik lagi mendengarkan I-radio sampai sore. (Tapi kadang kalau mau sepi, aku sama sekali nggak menyetel radio.) Dan, tahu sendiri kan, aku banyak di rumah. Radioku terletak persis di samping komputer. Karena aktivitasku tak jauh dari komputer, jadi aku seringnya mengetik sambil mendengarkan radio.

Menurutku, mendengarkan radio itu menyenangkan, karena bisa disambi. Ini berbeda dengan televisi yang membuat penontonnya mau tak mau manteng di depannya. Dan karena aku tak punya televisi, jadi berita kebanyakan aku peroleh dari siaran dua radio tersebut.

Terus-terang saking seringnya aku mendengarkan radio, aku jadi menganggap para penyiar itu seperti kawanku. Kok bisa? Kenal saja tidak … (Eh, kalau penyiar di Kbr, memang ada yang kenal sih: tetangga depan rumah soalnya.) Pernah suatu kali aku mendengarkan radio, dan waktu itu penyiarnya mengatakan bahwa ini siaran terakhirnya dia. Di menit-menit terakhir dia siaran, suasana jadi gimana gitu. Sedih banget. Sampai dia nangis deh seingatku. Dua kali aku mendengarkan penyiar yang pamitan. Dan aku sempat ikut nangis. Hahaha. Lebay ya!

Kupikir-pikir, salah satu “teman akrabku” adalah penyiar radio. Kadang aku bisa hafal suaranya. Ada yang lucu, ada yang humornya garing, ada yang serius. Bervariasi. Dan kupikir penyiar itu adalah profesi yang menyenangkan. Setidaknya mereka bisa menghibur orang-orang yang kesepian–seperti punya kawan walaupun tidak bertemu langsung dan komunikasinya satu arah. Buat siapa pun yang jadi penyiar radio, aku salut dan berterima kasih untuk kalian semua.๐Ÿ™‚

5 thoughts on “Penyiar Radio

  1. Kalau di rumah nggak denger radio, nggak punya soalnya, denger di jalan doang,
    lumayan bisa ketawa dengerin Putri Rafiq biar lupa jalanan macet

  2. emang kalo lagi sendirian, asik dengerin radio, jadi gak berasa kesepian…๐Ÿ™‚
    gua selalu dengerin radio kalo lagi nyetir di mobil.

  3. Aku sampe sekarang kalo kerja masih ditemenin Geronimo dan Swaragama ataupun RB lewat radio streaming pake earphone.. Kadang lucu juga, kalau tiba2 teman atau bos manggil jawabnya kadang masih pake Bahasa Indonesia hehehe๐Ÿ™‚

  4. sayang ya aku ngga siaran di Indonesia dulu… kalo iya kan berarti ada yang temanin nangis waktu acara radionya dihentikan ….hiks๐Ÿ˜€

  5. Aku lumayan sering mendengarkan radio.. tapi ada salah satu channel favorit yang kuhindari jam 8-10 pagi. penyiarnya humornya garing… mereka siaran berpasangan, ribeeeettt bgt, ketawa2 guyon sendiri… jadi sebel aja dengernya.. abis ketawanya rada lebay dan rubyek sendiri sih… dan, pendengar (aku) sampai nggak ngerti mereka sedang bahas apa…
    Tapi di jam-jam yang lain, asyik banget radionya, lagu-lagunya bagus2 banget.. ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s