Ke Mana Saja Kalau Ke Jogja?

Oke, aku mau melanjutkan ceritaku saat di Jogja akhir tahun kemarin. Terlambat nggak apa-apa, ya?😀 Daripada tidak sama sekali …

Sebenarnya kalau aku ke Jogja, tempat yang kutuju ya itu-itu saja. Tidak banyak. Nah, jadi ke mana saja sih?

1. Mi Jawa
Rasanya ini kunjungan wajib deh. Biasanya hari pertama aku langsung cari mi jawa. Entah kenapa ya, kok rasanya mi ini ngangeni. Mungkin rasa gurihnya pas banget di lidahku. Dan mungkin juga karena selama di Jakarta, aku jarang sekali makan mi ini. Nah, jadi begitu sampai Jogja, aku biasanya malamnya berburu mi ini.

Mi jawa enak yang paling dekat dengan rumahku adalah yang terletak di Minomartani. Aku agak susah memberi ancer-ancernya. Tapi ada tempat lain yang menurutku juga enak, yaitu di sekitar Bintaran. Penjualnya adalah Pak Paino. Dia buka kedainya menempel di tembok Karta Pustaka sebelah timur. Kalau tidak salah, nama jalannya: Bintaran Timur. Pak Paino ini dulunya koki di Bakmi Kadin, tapi akhirnya dia buka warung sendiri. Selain itu ada juga di Terban. Kalau tidak salah (karena beberapa kali ada renovasi bangunan di sekitarnya), letaknya di dalam pom bensin Terban sekarang. Dulunya sih dalam terminal Terban. Aku lupa nama penjualnya. Pak siapa gitu ya? Tapi di sini rame banget. Antrinya banyaaak.

Saat pesan mi jawa, pesanku selalu sama: bakmi godog (bakmi rebus), pakai telur bebek (karena kadang ada yang pakai telur ayam), dan tidak pakai vetsin. Kalau sedang berduit, aku minta ditambah uritan (calon telur). Dan yang perlu diingat, kalau mau makan mi jawa, perginya jangan pas sedang lapar-laparnya. Kenapa? Karena masaknya lama, satu-satu; apalagi kalau antrinya banyak. Dulu aku pernah pesan waktu antrinya 9 orang. Nunggunya bisa hampir 1 jam lo! Kalau bisa dapat 15 menit atau 30 menit tersedia, itu rejeki. Hehe. Makanya kalau ke sana, kira-kira 1 jam sebelumnya.

Mi ini rasanya gurih, kaldunya mantep. Kuahnya putih agak kental, karena bercampur telur. Kalau suamiku biasanya makannya sambil ngletus cabe rawit. Berhubung aku kurang suka pedas, aku makan tanpa cabe. Kata dia sih enak pakai cabe. Kalau aku bilang, tanpa cabe tetap enak; apalagi kalau dibayari, lebih enak lagi.😀

2. Gudeg
Sebenarnya kerinduanku terhadap gudeg itu tak sebesar kerinduanku pada mi jawa. Tapi, karena suamiku suka gudeg, jadi mau tak mau pasti ke penjual gudeg. (Jadi, bingung … sebenarnya yang orang Jawa itu siapa sih? Suamiku yang bukan orang Jawa kok malah suka menu masakan Jawa ya?) Gudeg yang biasa kubeli ada dua. Yang pertama Yu Djum dan satu lagi, gudeg di dekat stadion Maguwo. Sebenarnya banyak penjual gudeg kalau pagi. Ibaratnya kalau di Jakarta, gudeg itu nasi uduk. Biasa untuk sarapan. Aku kurang tahu gudeg mana lagi yang enak. Tapi kurasa banyak lagi gudeg yang enak, bukan cuma dua itu saja.

3. Mirota Batik
Mirota Batik ini terletak di ujung jalan Malioboro. Nah, padahal aku termasuk orang yang agak malas ke Malioboro. Mungkin karena terbayang macetnya ya? Apalagi kalau pas musim liburan. Aduh … mau masuk Malioboro itu bikin males, macetnya itu lo! Di Jakarta ketemu macet, masak niat banget cari kemacetan di Malioboro? Lagi pula, aku bukan orang yang suka belanja. Kalau buat wisatawan, Malioboro itu magnet, tapi aku sekarang menganggapnya biasa-biasa saja. Bukannya nggak suka, tapi males, dan bingung mau beli apa ….😀😀 Tapi biasanya aku ke Mirota Batik sih untuk beli sabun lerak untuk mencuci batik, dan kalau ada teman yang nitip sesuatu, aku biasanya cari di situ. Kalau bisa, perginya pagi-pagi supaya belum terlalu ramai. Jam 8 pagi, toko ini sudah buka. Nah, kalau musim libur, toko ini penuh banget!

4. Toko Merah
Ya, untuk beberapa hal aku masih beli di Jogja. Salah satunya di toko ini. Ini adalah toko alat tulis. Harganya menurutku cukup miring dan barangnya bervariasi. Toko ini punya beberapa cabang, salah satunya ada di Condong Catur. Jadi, aku tidak perlu sampai menyeberang ke Ring road. Barang yang terakhir aku beli di toko ini adalah tempat pensil. Hihi. Kayak di Jakarta nggak ada aja ya? Kalau di Toko Merah, tempat pensil harganya jauh lebih murah dibandingkan jika kita beli di Gunung Agung atau Gramedia. Lagi pula aku tidak cari yang bermerek. Buat persediaan saja, sih karena tempat pensil suamiku sudah hampir jebol. Kata temanku, di Jatinegara sebenarnya ada toko alat tulis yang cukup murah harganya. Tapiii, kok aku rasanya lebih suka ke Toko Merah ya? Males ke Jatinegara, kebayang pasarnya yang kemruyuk, padat, dan yaaa … gitu deh. Intinya: malas belanja di Jakarta. Hahaha. Jauh aja ya belanjanya?😀

5. Toko Progo
Dulu semasa aku kuliah, toko ini sudah cukup ramai. Cukup besar, tapi sekarang, toko ini jauh lebih besar. Toko ini menjual berbagai keperluan rumah tangga. Di bagian dasar ada para penjual makanan. Di lantai 1 ada swalayan. Swalayan tahu kan? Ya, bahan-bahan keperluan rumah tangga gitu deh. Dulu bagian swalayan ini tidak sebesar sekarang. Nah, yang aku suka sebenarnya ke lantai atasnya lagi, yaitu di bagian alat rumah tangga. Di situ ada segala macam printilan dapur. Mulai dari barang-barang yang kecil misalnya sendok, alarm dapur, pisau, dan semacamnya, sampai barang-barang yang gede, misalnya panci bakso yang sebesar aku ada deh. Aku beli rantang makanan, pengasah pisau, teko kecil di situ. Lalu di bagian lain ada barang-barang dari plastik, mulai dari jemuran sampai wadah-wadah yang imut. Jadi, one stop shopping deh. Kalau pas belanja kelaparan, bisa turun dulu tuh. Makan mi ayam, batagor, siomay, es dawet … Harganya tidak terlalu mahal menurutku (barangkali aku sudah membandingkannya dengan harga makanan di Jakarta :D). Cuma memang ramai sih, jadi mesti cepat-cepat cari meja kalau mau makan di situ. Terakhir ke Progo, aku menemukan sabun hijau batangan yang populer di zaman dulu.🙂

Sabun hijau batangan, ternyata masih ada🙂

6. Toko buku Togamas
Aku termasuk jarang beli buku di Jakarta karena tidak dapat diskon. Jadi, kalau ke Jogja, mesti ke toko buku diskon dong. Di sini nih, aku biasanya foya-foya. Hehehe. Yang agak malas sebenarnya adalah waktu mencari buku. Di toko ini penyusunannya kebanyakan cuma kelihatan punggung buku. Kan capek tuh kalau mencarinya. Untung ada komputer pencari. Ya, lumayan lah. Tapi tetep saja aku bisa lama di situ. Yang aku suka juga adalah di situ, buku yang kita beli bisa disampul plastik gratis. Eh, aku lupa ada ketentuannya nggak ya? Lupa. Selama ini sini setiap beli buku, aku selalu minta bukuku disampuli. Tapi, aku kadang juga suka menahan diri untuk tidak ke toko ini … soalnya tetep saja bisa boros! Kan tidak mungkin aku cuma beli satu buku? Minimal dua atau tiga. Diskonnya sekitar 20% di sini, tapi rasanya diskonnya bervariasi deh. Pas akhir tahun lalu, toko ini memberikan diskon untuk semua buku sampai 30%. Lumayaaan ….

7. Showroom Kanisius
Di showroom ini menjual buku terbitan Kanisius. Terbitan mereka tidak hanya buku yang berkaitan dengan kekatolikan, tapi banyak pula buku tentang keterampilan, buku anak, buku filsafat, spiritualitas, keluarga, dll. Macam-macam juga yang buku umumnya. Entah ya, aku suka ke sini. Rasanya adem, karena banyak pohon di sekitarnya dan suasananya tenang. Kadang aku lihat-lihat saja, kadang beli juga. Kalau ada buku yang menarik, aku beli. Dulu aku punya kartu KRC (Kanisius Reading Community), yang bisa dapat diskon 20% untuk beli buku. Tapi ternyata, kalau aku pakai kartu alumni kampusku dulu, bisa dapat diskon juga. Asyik … asyik! Jadi, kan tidak perlu membayar perpanjangan kartu KRC hehehe. Pas akhir tahun lalu, aku masih kebagian diskon besar-besaran di sini, harganya mulai dari 5000 rupiah. Memang rata-rata buku jadul sih, tapi kadang yang jadul itu yang penting dan menarik.

Sudah, tujuh tempat itu yang biasa kudatangi saat aku pulang ke Jogja. Lainnya sih opsional, tergantung ke mana keberuntungan membawaku hehehe. Sisanya, bersantai di rumah: nonton tivi (kalau di rumah bisa nonton film-film detektif yang tayang lewat tivi kabel dan film-film dokumenter yang bagus), main-main dengan Kelik si kelinci cilik, masak, makan. Yaaa pokoknya santai-santai gitu deh. Eh, tapi kalau ada pekerjaan, tetap mantengin komputer pekerjaan sih.

Betewe, kalau di Jogja itu kenapa rasanya waktu berjalan lebih lambat ya daripada di Jakarta?

Nah, kalau kamu ke Jogja, ke mana saja?

31 thoughts on “Ke Mana Saja Kalau Ke Jogja?

  1. togo mas ditasik juga ada mbak, kalau ke yogya saya mengunjungi bakpia patok, museum dirgantara, heheh,tak lupa pasti ke malioboro

    ya, malioboro memang jadi tujuan wisata. bakpia patok juga banyak yang cari tuh🙂

  2. Mbak beberapa bulan lalu aku ke Jogja, malam-malam main ke alun-alun yg depan kraton. Yang banyak sepeda dan beca yang dihias lampu warna-warni. Wah seru banget, malam2 makan wedang ronde disana🙂

    Betul Mbak Evi, main ke alun-alun Jogja memang asyik. Tapi banyak juga yang ke alun-alun kidul, mencoba masangin: mencoba jalan di antara pohon beringin dengan mata tertutup. Bisa dicoba kalau ke Jogja lagi.🙂

    • hi…hi.. ya aku itu Nik… berhasil juga lho lewat di antara 2 beringin kembar itu
      terus mutar alun2 pakai sepeda tandem

      mi Jawa itu juga yang kami cari, tapi nggak tau di mana yg enak akhirnya diantar tukang becak ke depan RS PKU

      aku malah belum pernah nyoba bakmi jawa di depan RS PKU. aku dengar ada bakmi jawa di dekat alun2 lor. aku tapi belum pernah nyoba. di dekat pojok beteng kulon juga ada yang enak katanya…

  3. mbaaaaa…
    belum pernah ke Jogjaaaaa…
    *kecian cekaliiii*

    Tapi…tapi…Mie Jawa di Bandung juga ada kok mba..
    *walopun mungkin rasanya gak terlalu original kali ya*…

    Toga mas juga ada mba…
    Dan di Bandung juga ada Hotel yang namanya Hotel Progo lho mba…
    *ini komen apaan sih?*…hihihi…

    Wah, ternyata apa yang aku sebutin banyak kembarannya di Bandung ya? Hehehe. Di Bandung memang sempat aku lihat yang jual mi jawa, tapi nggak kucobain Mbak.🙂

  4. setuju, aku juga heran entah kenapa klo di jogja rasanya waktu itu lambat sekali jalannya😀

    barusan dari blognya mama anin ngomongin mi ayam di terban, kayaknya sama dengan yg mba Kris bilang deh hehehe, padahal saya baru saja makan mi aceh *ga nanya kan? hihihi*

    nique… makan mi acehnya di mana? mau dooong! hahaha. aku penggemar mi aceh nih…😀

  5. Aku punya cerita unik soal Mie Jawa karena aku emang suka banget hunting warung mie jawa dulu… Begini, cara buat cari tahu sebuah warung mie jawa itu enak apa ngga adalah, check sekitar jam 11 malam, kalau di warung itu banyak bapak2 tua nongkrong dan ‘gayeng’, biasanya mie nya enak🙂

    Percaya sukur ngga ya sukur…

    Jogja bagiku ngangenin dari sisi ‘inner’ nya.. sulit dilukiskan… sangat subyektif.. dan aku pengen nangis jadinya🙂

    Don, aku jarang banget keluyuran di Jogja sampai jam 11 malam😀 Kuper yo. Kata temanku, mi jawa itu bisa dititeni dari banyaknya ayam yang digantung. Makin banyak, makin enak. Jogja itu yang ngangeni … ya bener, “inner”nya. Membuatku selalu bete tiap kali akan kembali ke Jakarta haha. Kadang kalau pulang, suka terharu sendiri pas menjejakkan kaki ke kota itu. Takjub. Ah, kangen aku sama Jogja🙂

  6. ..
    aku paling sering ke progo mbak..hehe..
    sayange nang progo sumuk, gak ada AC..😦
    ..
    togamas gejayan parkirane sempit, bikin males..
    ..
    sebenarnya banyak tempat yg lebih ok di banding mirota, tapi nama mirota emang udah terlanjur terkenal..
    ..
    pertama ke jogja aku nyoba mie jawa di food fest, tapi ora enak koyok mie instan rebus..😦
    ..

    Baru sadar kalau ternyata Progo tidak ada AC. Tapi aku memang kurang suka ruangan ber-AC. Selama di Progo kok aku merasa biasa-biasa saja ya, Ta? Betul, pakiran Togamas sempit. Sebaiknya datang waktu pagi dan jangan pas malam minggu. Parkirnya jadi masih cukup. Ayo Ata, posting tempat-tempat lain selain Mirota.🙂 Yaaah, nyobain mi jawa kok di Food Fest. Di tempat seperti itu jangan mengharapkan mi jawanya enak. Hehehe…

  7. Aku malah belum pernah ketempat -tempat itu, aku terakhir ke yogya,,
    Tahun 2010, malam-malam ke alun-alun
    Nyoba yang pohon beringin ituh,
    Trus abis itu naek sepeda tandem.
    Seruuu

    Oh, nyoba masangin ya (jalan di antara pohon beringin)? Asyik tuh! Aku malah belum pernah nyobain sepeda tandem. Sempat blusukan di Pasar Ngasem?🙂

  8. Mi jawanya menggugah selera jeng Kris, rasanya Yogya selalu menarik dikunjungi, gerai kanisiusnya juga luas dan nyaman. Sering pulang Yogya jeng? Salam

    Nggak sering-sering amat sekarang, Bu. Showroom Kanisius itu memang adem🙂 Dan mi jawa memang enak kok hehehe

  9. di sekitar stadion mandala krida juga suka banyak yang jual makanan kayak pempek dan roti bakar.. yah nggak begitu khas sih sebenernya. cuman, lumayan pas buat nyari2 cemilan sore atau pas malam mingguan sebagai jombloers yang ngekos di jogja.😀 kalo ada umur dan duit:mrgreen: aku pasti mau ke jogja lagi..

    Oh iya, betul. Daerah situ memang banyak yang jual makanan. Tapi aku belum pernah beli camilan di daerah situ. Jogja bagiku ngangeni, jadi selalu pengen pulang

  10. wah, ke banyak tempat Mbaaa, Jogja seru sih, banyak tempat bersejarahnya🙂 Saya dulu pake tuh sabun yang ijo itu buat prakarya memahat. Saya bikin monas. Kemaren saya juga ke Mirota Batik karena ngikutin Atta, lucu juga tokonya, bagus2 batiknya (modelnya ga konfensional)

    Oh, bisa untuk bikin prakarya ya sabun itu? Keren dong monasnya🙂 Aku ke Mirota senang lihat barang-barang yang dijual, tapi tidak selalu beli. Yang selalu kubeli ya sabun lerak🙂

  11. Kalau lagi ke Jogja dan waktunya memungkinkan…
    Pertama ke bekas kos2an saya, nengok kamar yg pernah saya tempati trus ketempat “hik” langganan saya, tempat dimana pertama kali saya mengenal sega kucing
    Kedua sama seperti Mbak Kris, nyari Mie Jawa…😀
    Kalau gudeg malah eneg karena dulu tiap pagi sarapannya gudeg melulu.
    Dan entah knapa, mungkin sugesti saja, rasanya alat tulis kalau belinya di Jogja itu nggak pernah mengecewakan…

    Oh, dulu sempat tinggal di Jogja juga ya Pak? Mi Jawa itu memang ngangeni deh. Biasanya beli Mi Jawa di mana nih Pak Mars?🙂

  12. baru 2-3 kali ke Jogja, dan terakhir cuma pergi ke Yu Djum (ngga tau bener ngga hehehe)
    Tapi ke Toko Merah dan terbengong-bengong liat barang di situ. Belanja deh😀

    barang-barang di toko Merah itu buanyak! dan lumayan miring sih harganya. jadi kalau pulang, pasti ke sana hehehe

  13. wow .. baru tahu kalau sabun batangan hijau itu msh ada🙂

    biasany akalau ke yogya muter muter malioboro🙂

    beberapa tempat masih jual sabun batangan seperti itu. tapi ya jarang2

  14. ke Jogja ajak-ajak dong…hehehe..bawa pasukan pasti tujuan kunjungan jadi beda deh hehehe… Baru berkunjung lagi ke blog ini di tahun 2012…hehehe masih lebih rajin dari aku…lagi mumet nyiapin anak-anak siap UN hehehe….

    ayo mbak, kapan-kapan ke jogja deh. siapa tahu bisa barengan🙂

    • Saya ketika ke Jogya ???
      Tak lain dan tak bukan …
      MIROTA … !!!
      One Stop Shopping segala ada … and Ora Ndadak Ngenyang … (nggak pake nawar …)

      Soalnya saya suka “gondok” juga jika ada teman bisa beli barang yang sama .. tapi dengan harga yang jauh lebih murah … (nawarnya gigih soalnya … sementara saya …? paling ndak tega nawar …)(ya di getok harganya)

      salam saya
      (maap numpang komen di tempat Zee …)
      (abis mau buka komen sendiri susah kursornya nih…)

      betul Om, saya senengnya juga karena nggak harus nawar. takutnya keblondrok alias kemahalan. tapi sekarang saya tahu ke mana kalau cari tas batik yang murah. selisihnya agak lumayan sama Mirota. nggak pake nawar. kualitasnya sama kaya yang di Mirota. di Beringharjo lantai 3, Om.

  15. Kota yang ada didalam daftar kunjungan saya ini, JOGJA…

    semoga suatu saat nanti saya dapat mengunjungi kota penuh dengan inspirasinya ini,

    Salam

    Ya, semoga suatu saat bisa kesampaian🙂

  16. Itu sabunnya kayak apa tuh… belum pernah lihat ^^
    Aku tahu semua kecuali yang mi jawa. *yaiyalah wong jogja*
    Progo sekarang besaarr, gak kayak dulu ^^
    Gudeg Yu Djum ga sukanya yang jual juteeek, ahahaha. *malah curhat*
    Hihihi mbaknya asli Jogja kah?

    judul sabunnya Kompas. memang kalau di yu djum suka dijutekin ya. hehehe. aku bukan asli jogja. tapi pernah lama di jogja. kakakku sekarang di jogja. dan kami ada rumah keluarga di sana. jadi lumayann sering ke jogja. sudah seperti rumah sendiri hehehe

  17. Mirota batik sekarang udah ga kayak dulu lagi mb, padatnya minta ampun! Meskipun bukan hari libur tapi tetep sama aja, mau naik tangga aja sampe senggol-senggolan, milih-milih barang sekarang ga leluasa coz dah kebanyakan orang, Solusinya ya emang harus datang pagi-pagi, jam9an lah.

    Mie Jawa juga makannya sesekali aja, walau enak tapi kalau dimakan keseringan nanti eneg. hehe..

    berhubung saya tinggal di jogja, maka tempat yang harus dikunjungi mb kris kalo ke jogja lagi adalah gubug saya!hehehe…ga penting banget deh..

    kayaknya kapan-kapan mesti kopdar nih!🙂

    Oya mb, jogja sekarang udah mulai macetttt..banyak motor dan mobil baru!jumlah pendatang juga makin banyak, mana

  18. Mbak, sabun batangan itu mamahku msh pake smp skrg, klo di kampung2 kecil sptnya msh populer lho😀

    Oiya ya? Aku kurang tahu malahan. Kalau buat noda tertentu sabun batangan ini lebih bersih.

  19. cihui…. kok seleranya sama ya denganku… aku selalu ke mirota batik, walaupun cuma ‘ngapelin’ doang.. he..6x kalau progo sih udah sejak dulu aku ke situ, tp wkt kemarin aku diajak temenku yang asli jogja ke progo yang baru.. wuiiih… air liurku menetes! ha…6x dan bsk aku mau ajak jln2 ketiga anakku ke jogja, sembari nunggu misoa (suami) nganter ibunya (mertuaku) ke besannya di pakem..

    iya memang, di progo banyak banget pilihannya. bisa ngeces! haha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s