Tulisan Pertama Tentang Hari-hari Pertama di Jogja

Ini tulisan pertamaku di tahun 2012. Hmm … bingung deh mau nulis apa. Kelamaan libur ngeblog, jadi pikiranku seperti terblokir juga. Hehe. Bingung apa dulu yang mau akan kuceritakan.

Lumayan lama juga aku libur. Blog kulihat sekilas-sekilas saja, sekalian pas ngecek email. Tapi aku jadi tidak mengunggah tulisan di blog sama sekali. Begitulah sindrom kalau keenakan di rumah. Ya, ya … akhirnya aku mudik (lagi) dari menjelang Natal sampai akhir tahun 2011. Aku berangkat ke Jogja hari Sabtu pagi, tanggal 17 Desember lalu dan baru kembali ke Jakarta tanggal 31 Desember. Dan selama itu aku benar-benar tidak menulis untuk blog ini. Rasanya kalau sudah sampai rumah tuh rasanya seperti berbaring di ranjang yang empuk, berselimut tebal, jadi malas bangun dan nulis. Hehehe. Kebiasaan buruk, ya! Jangan ditiru.

Aku mau cerita soal hari-hari pertama di Jogja. Semoga tidak jadi tulisan yang membosankan.

Aku sampai Jogja sudah sore. Mendung. Waktu keluar dari stasiun, aku agak bingung karena ternyata jalan keluar dari stasiun Tugu ke arah Sarkem mesti lewat terowongan. Loh, terakhir pulang ke Jogja (bulan Oktober) rasanya tidak harus lewat terowongan deh. Katanya aturan itu baru sebulan ini berjalan.

Sesampainya di luar stasiun, aku bingung lagi. Wah, mau naik apa ya? Aku mencoba menelepon sebuah armada taksi yang sudah kukenal, tapi ternyata tidak ada armadanya yang kosong. Mau naik taksi yang ada di sekitar stasiun, aku belum pernah. Entah kenapa ya kalau mau naik taksi di Jogja aku malah bingung. Kebiasaan naik motor kalau di sana, jadi malah kagok kalau mau naik taksi. Takutnya juga mereka nggak mau pakai argo atau dimahalin. Mau naik becak, jelas tak mungkin. Rumahku terlalu jauh, bisa-bisa pak becaknya minta aku gantian ngontel. Hehe. Akhirnya ada taksi kosong yang lewat. Walaupun belum pernah naik taksi dari armada itu, aku dan suamiku naik saja. Sebelumnya tanya dulu sih, mau pakai argo apa tidak. Aku tidak mau kalau tidak pakai argo.

Ternyata walaupun taksinya tidak bagus-bagus amat, sopirnya cukup halus dan kalem kalau menyopir. Beda banget dengan sopir taksi di Jakarta. Aku paling tidak suka kalau nyopirnya ngebut. Selain itu taksinya tidak pakai “argo kuda”. Tarifnya wajar. Aku sampai minta nomor hpnya kalau-kalau besok membutuhkannya. Pak sopir ternyata sudah sedia kartu nama. Jadi, kalau sewaktu-waktu kami butuh naik taksi, kan lebih gampang, begitu pikirku.

Malamnya aku berdua dengan suamiku beli mi jawa di daerah Minomartani. Itu mi jawa paling dekat dengan rumah. Biar hujan, demi mi jawa untuk menghangatkan perut, kami lakoni juga.🙂

Hari kedua aku di Jogja (Minggu), aku sms Septarius, tanya, bisakah aku berkunjung ke Caty’s House? Jarak rumahku dengan Caty’s House cukup dekat. Naik motor kalau pelan-pelan paling 10 menit. Lagi pula jalannya cuma lurus-lurus. Dan aku mendapat jawaban aku bisa ke sana besoknya. Jadi, jadwal ke sana Senin, tanggal 19. Oke. Sip deh!

Lalu hari Minggu ngapain dong? Kakakku mendadak mengajak ke Pantai Depok. Aku sih sebenarnya seneng-seneng saja. Lagi pula memang tidak ada acara sepulang dari gereja. Cumaaaa, aku tidak kebayang naik motor kira-kira 1 jam. Biasanya di Jakarta naik angkot, eh sekarang suruh naik sepeda motor. Kalau jauh sebenarnya agak malas, sih. Cuma karena tergiur bisa makan ikan banyak-banyak sekalian lihat pantai, mau saja. Waktu berangkat cuaca agak mendung, tapi tidak hujan. Syukurlah, puji Tuhan. Sampai di sana, kami beli ikan dan minta dimasakkan di sebuah warung yang sudah jadi langganan kami. Kata kakakku warung itu cukup enak masakannya dibanding warung-warung lain. Di Pantai Depok memang ada pasar ikan. Jadi biasanya orang-orang akan belanja ikan, kepiting, udang, atau cumi yang masih mentah di pasar itu. Lalu belanjaan itu dibawa ke salah satu warung makan yang ada. Kadang ada pula ibu-ibu setempat yang mendekati para turis domestik pembeli ikan itu dan menawari mau memasakkannya. Sebenarnya sih mereka semacam calo untuk warung-warung makan itu sih. Kalau kami biasanya langsung ke warung langganan.

Sembari nunggu makanan jadi, aku main ke pantai. Suasananya ramai, karena selain itu hari Minggu, saat itu ada Yogya Air Show. Aku cuma melihat-lihat sebentar dan melihat para nelayan yang bersusah payah menarik perahu mereka ke darat.

Para nelayan sedang menarik kapal

Ah, tapi perut sudah lapar. Aku kembali ke warung, lalu kami pun menghabiskan hidangan sea food yang baru saja matang. Kenyang dan puas! Masakannya enak (dan kami selalu pesan supaya tidak pakai vetsin), ongkos masaknya pun juga terjangkau. Total kami berempat makan plus minum teh tawar, kelapa muda, dan soda gembira, kira-kira habis 100 ribu (ini dihitung sekalian beli ikan mentah sendiri).

Kalau pantainya sendiri biasa saja. Menurutku sih, tidak terlalu menarik ya. Di Depok pantainya berpasir cokelat/hitam, sementara aku lebih suka pantai berpasir putih. Aku sih, lebih suka pantai-pantai di Gunung Kidul. Tapi kalau ke sana kan lebih jauh lagi. Mana tahan naik motornya.

Mainan di Pantai Depok. Pasirnya hitam.

Pulangnya kami berniat lewat jalan yang lebih sepi (tidak dilalui bus-bus besar). Kakakku cukup tahu jalan-jalan kampung. Kalau aku jalan sendiri, pasti kesasar deh. Pas setengah jalan, turun hujan lebat. Mau berhenti nanggung, akhirnya terus saja. Aku kedinginan di jalan, meski sudah pakai jaket dan jas hujan. Mendekati tengah kota, di sekitar Gedong Kuning, mendadak aku sakit perut pengen ke belakang. Ah, kupikir bisa ditahan. Paling karena kedinginan naik motor. Tapi ya ampuuun, sakitnya makin melilit. Aku buru-buru berhenti mencoba mencari toilet. Kupikir akan kujumpai SPBU di dekat-dekat situ. Tapi SPBU-nya masih dalam proses dibangun. Lalu aku mau mampir ke rumah makan. Eh, ternyata katanya toiletnya tidak ada kakusnya. Aduuuh. Gimana dong? (Dalam hati aku mikir, masak sih tidak ada kakusnya? Kalau orang-orang di rumah makan itu kebelet gimana dong? Padahal aku sudah mengatakan tidak keberatan kalau harus membayar jasa toilet.) Untung dekat situ ada RS Angkatan Udara. Aku buru-buru ke sana. Sampai di sana, RS-nya sepi dan kamar mandinya kotor (kontras dengan ambulans dengan mobil VW yang diparkir di halaman RS tersebut. Kalau mampu punya ambulans VW, bisa bayar karyawan untuk membersihkan kamar mandi dong?). Tapi ya sudahlah, namanya juga kepepet. Sudah bagus tidak diusir petugas karena mau nunut ke WC doang, haha.

Setelah itu, kami akhirnya pulang. Lega deh bisa sampai rumah.

10 thoughts on “Tulisan Pertama Tentang Hari-hari Pertama di Jogja

  1. waaaah 100rb termasuk ikan mentahnya? Murah sekali ya….
    cuma kalau naik motor, pantatku bisa tepos deh😀

    Iya Mbak Imel, memang murah. Aku sebenarnya malas naik motornya, tapi kalau sewa mobil nggak sempat. Dan jatuhnya akan lebih mahal lagi ongkos ke sana hehehe

  2. asik banget makan seafood di pinggir pantai…😀

    ditunggu cerita di cathy’s house nyaa….🙂

    lagi disiapkan nih tulisan di caty’s house. ditunggu ya, Arman🙂

  3. sudah lama nggak ke pantai jadi pengen nih🙂

    blom pernah ke pantai depok, pernahnya ya di parnagtritis

    wow .. cuma seratus ribu buat berempat ? ….. mau juga dong makan ikan di sana🙂

    Pantai Depok ini sebelum Parangtritis. Cukup murah sih kalau makan di sana. Di warung makan bayar ongkos masak dan minum saja.

  4. Jeng Kris, cukup lama liburnya (eh pulangnya) di Yogya ya. Pantai Depok dengan ikan segarnya tetap menarik, perjalanan sepanjang arah Depok juga bagus2 ya (Ps Seni Gabusan, Manding dll). Selamat beraktivitas di tahun 2012 ya Jeng, Salam

    Iya cukup lama. Sekitar dua minggu. Puas mainnya🙂

  5. Wah, saya juga kemaren ke pantai depok, ada yang jual hiu Mba.. :p waktu di jogja saya pake trans jogja asik juga. Lucu yang tugas di busway medok banget, jadi khas gitu… ditunggu cerita Caty’s Housenya😛

    wah nemu yang jual hiu? di pasar ikan itu? aku kok nggak nemu ya kemarin. mungkin sudah lapar, jadi nggak perhatian hehe.

  6. Wahh kalau mau ke pantai Depok mesti tanya Menik, warungnya yang sebelah mana….lumayan kan, karena sudah dijamin masakannya enak.
    Saya senyum-senyum sendiri membayangkan Menik sibuk cari toilet….namanya kebelet memang tak bisa ditahan…..hehehe

    Warungnya paling ujung Bu, paling dekat sama bibir pantai. Wah, kok saya ya lupa nama warungnya ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s