Bukan Tradisi Lagi

“Sudah pasang pohon Natal?” tanya temanku lewat YM.

“Belum. Eh, enggak ding.”

“Kok enggak?”

“Iya, sudah lama nggak pasang pohon Natal.”

Sebenarnya memasang pohon Natal itu mengasyikkan. Pernik-perniknya yang mungil dan indah menimbulkan kegembiraan tersendiri saat memasangnya. Tapi aku dan keluargaku sudah lama menghilangkan tradisi memasang pohon Natal.

Aku tak ingat kapan mulanya tradisi itu hilang. Mungkin saat kakakku sudah bersekolah di luar kota. Dulunya sih, kami selalu memasangnya. Kebetulan di depan rumah ada pohon cemara. Jadi, kami memotong sebuah dahannya, dan memasangnya di sebuah pot besar di dalam rumah. Baunya khas sekali. Bau cemara. Wangi. Lalu, Bapak akan mengeluarkan kardus yang berisi hiasan Natal. Tak banyak yang kami miliki, hanya rumbai-rumbai dan lampu kelap-kelip. Kadang aku pengin juga punya pohon Natal plastik, seperti yang dimiliki oleh kebanyakan orang. Tetapi Ibu bilang, pohon Natal kami sudah cantik. Asli. Kalau yang lain kan buatan, begitu alasannya. Tapi memang pohon Natal dari plastik itu cukup mahal untuk ukuran kami waktu itu.

Dulu selain memasang pohon Natal, kami juga suka membuat gua Natal dari kertas sak semen. Kertas sak semen itu lalu dibentuk dan dicat cokelat serta kehijauan. Jadilah gua Natal. Sempat juga dulu Bapak membuat salju-saljuan dari sabun. Aku lupa campurannya. Yang kuingat hanyalah keasyikan dan kegembiraan saat membuatnya.

Sekarang, kami tidak membuat gua dan pohon Natal lagi. Entah ya, aku sendiri merasa hal semacam itu tidak perlu. Selain itu, beberapa tradisi lain seperti membeli baju baru pun sudah tak kami ikuti lagi. Aku merasa, Natal itu yang penting adalah bersama keluarga; bersama Bapak, Ibu, dan keluarga kakakku.

Namun, kurasa ada satu hal yang perlu aku lakukan menjelang Natal: membersihkan hati. Ini yang mungkin lebih sulit. Hidup di zaman yang serbacepat dan banyak tuntutan ini kerap kali membuat hatiku dipenuhi hal-hal yang tidak perlu.

Natal kurang dua minggu lagi. Semoga aku lebih bisa menyiapkan hati.

9 thoughts on “Bukan Tradisi Lagi

  1. Gua dari kertas sak semen itu rupanya sangat favorit juga ya …
    Dulu waktu saya sekolah di yayasan katolik … saya sering membantu teman-teman membuat gua-guaan ini … jika ada acara di sekolah …

    and yes indeed … saya bisa merasakan keasyikan tersebut.

    Dan satu lagi yang mengasyikkan adalah … ini kesempatan manggung nih … kesempatan buat nampang … mengiringi paduan suara lagu-lagu natal … hahaha

    Salam saya Kris

    Dulu saya cuma bantuin ngecat, Om. Belum bisa membentuk guanya. Hehe. Pengalaman Om NH ini memperkaya saya sebagai orang Katolik🙂 Terima kasih, Om

  2. ‘Namun, kurasa ada satu hal yang perlu aku lakukan menjelang Natal: membersihkan hati’. ….. Jeng Kris, selamat menyambut Natal dengan mempersiapkan dan membersihkan hati ya, selamat Advent. Salam

  3. Membayangkan betapa Menik menikmati saat membuat gua salju. Kebersamaan anak-anak dan orangtua, itu yang penting, bukan kok harga mahal atau murah.
    Kelihatannya memasang pohon Natal mengasyikkan jika masih punya anak-anak kecil sampai remaja, atau keluarga besar ya Menik….
    Betapapun, saya setuju, yang lebih penting adalah membersihkan hati kita.

  4. Kok ? Emangnya banyak yang gak lagi memasang pohon Natal jeng ? Jangan2 sebagai pelopor ya >
    Benar hati kita yang penting, namun tradisi itu memang agak sulit dihilangkan begitu saja.
    Salam hangat dari Surabaya

    Masih banyak yg pasang pohon Natal kok Pakde. Cuma saya saja yang tidak hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s