Pendidikan Karakter, Adakah Hasilnya?

Ya ampun, judulnya serius amat sih?

Hari itu siang menjelang sore. Aku dan suamiku hendak ke Jatinegara, ke resto vegetarian favorit kami. Tidak seperti biasanya, kami naik metromini ke sana. Biasanya sih naik mikrolet 02, tapi pengalaman naik 02 terakhir di depan LP Cipinang belakangan suka macet karena ada pembangunan jalur busway dan banyak mobil parkir di depan kantor imigrasi, kami pun naik metromini 46. Pikirnya sih untuk menghindari macet. Yah, tapi sebenarnya sama saja sih, menjelang pasar Jatinegara, macetnya pol-polan. Jakarta macet sudah biasa bukan? Bukan …

Selama naik metromini itu, kami sempat berbincang beberapa hal. Salah satunya sih soal pendidikan karakter di sekolah. Ya ampun, serius banget sih bahan obrolannya? Itu dipicu karena di sekitar Pasar Sunan Giri terjadi kemacetan juga dan kebetulan di situ ada sekolah. Kok sekolah bikin macet sih? Karena banyak mobil parkir di depannya. Jadi jalan yang mestinya bisa untuk dua jalur, jadi cuma bisa satu jalur saja. Dan lagi, kemacetan itu imbas dari lampu merah di simpang Sunan Giri. Yo uwis, rasanya kalau menghadapi kemacetan cuma bisa bersabar ya? Itu kata orang-orang sih. Bukan kataku hihi. Tapi memang ada pilihan lain selain bersabar dan “menikmatinya”? Entahlah. Coba tanya saja pada orang yang tiap hari merasakannya. Aku sih kebanyakan di rumah, jadi jarang kena macet. :p

Awalnya di tengah kemacetan itu aku tanya ke suamiku soal tawaran menulis buku anak-anak tentang multikultur. Tapi akhirnya nyambung ke pendidikan karakter. Dia bilang, pendidikan karakter sih kayaknya cuma banyak gembar-gembornya saja. Hasilnya belum tentu. Tak usah jauh-jauh, kalau sekolahnya benar, tidak akan ada parkir berderet-deret dan memakan ruas jalan di depan sekolah kan? Idealnya, sekolah yang katanya mencetak manusia jadi lebih beradab, tidak menyulitkan dan merepotkan masyarakat di sekitarnya. Tapi kenyataannya? Mana mungkin? Memang susah sih ya kalau anak sekolah kebanyakan tidak naik kendaraan umum atau yaaa … kalau mau sih jalan kaki atau naik sepeda. Kendaraan umumnya juga nggak jelas. Memang sih, kulihat ada kok anak sekolah yang mau naik kendaraan umum, bahkan yang masih TK. Tapi jumlahnya sedikit dan itu juga mungkin jaraknya dekat. Kebanyakan masih diantar orang tuanya, dan mobil-mobil orang tua itulah yang sepertinya banyak parkir di jalanan depan sekolah. Biarpun di pagar sekolah sudah ditulisi “dilarang parkir”, tetap saja mereka parkir di situ. (Aku sempat bertanya-tanya, apakah mereka menunggui anaknya sekolah ya? Soalnya parkirnya itu bisa sepanjang hari loh.) Kalau seperti ini, apa yang terlebih dahulu harus dibereskan? Semua saling terkait. Untuk urusan parkir dan kemacetan di depan sekolah saja, rantai yang terkait sepertinya panjang betul.

Oke deh … selesai obrolannya.

Ketika sampai di jalan Pramuka, di sekitar Kayu Manis, kulihat ada banyak anak sekolah. Dari seragamnya sih kayaknya anak SMP. Mereka ramai-ramai naik. Mulai rusuh deh. Aku agak khawatir kalau mereka tawuran. Sudah beberapa kali melihat langsung tawuran di jalan, dan awalnya ya sepertinya gerombolan anak sekolah seperti itu. Sebenarnya metromini yang kutumpangi sedikit penumpangnya dan kalau anak-anak itu mau duduk, masih ada tempat. Tapi kebanyakan dari mereka berdiri bergelantungan di depan pintu. Jadi, susah kalau ada orang yang mau naik. Pak sopir sudah menyuruh mereka masuk saja, atau kalau nggak mau mereka sebaiknya turun. Tapi omongan pak sopir tidak didengarkan, bahkan mereka bilang, “Nanti dibayar kok.” Rupanya omongan mereka cuma sesumbar. Tak jauh dari Pasar Pramuka, mereka turun semua dan … tidak ada satu pun yang membayar! Padahal tadi kira-kira yang naik ada deh kalau 10 orang. Kata pak sopir, itu sudah biasa. Kasihan …. Rasanya kalau orang sudah bergerombol dan ramai-ramai begitu, mereka tampaknya sah-sah saja mau berbuat apa saja–termasuk jika perbuatan itu merugikan orang lain.

Aku jadi berpikir, jadi memang sepertinya betul ya, pendidikan karakter di sekolah itu tak ada gunanya. Buktinya sudah kulihat di depan mataku. Kata suamiku, hal seperti itu adalah peristiwa lazim di sini. Kalau hal yang seharusnya tidak patut, tetapi oleh semua orang dianggap wajar, apa yang mau kamu harapkan?

Aku jadi bertanya-tanya, apa iya masyarakat kita sudah “sakit parah”? Dulu rasanya tidak separah ini deh. Kalau di sekolah ada yang mencontek, guru akan menegur dengan keras, memberi hukuman, dan bisa mempermalukan si pencontek di depan kelas. Tapi sekarang, mencontek massal agar dapat nilai bagus, sudah dianggap wajar. Di sekolah dulu selalu diajarkan untuk mematuhi rambu-rambu lalu lintas, tapi di sini sering sekali aku lihat orang menerobos lampu merah sambil memboncengkan anak-anak. Kadang kupikir, orang itu gila apa ya? Itu kan membahayakan nyawanya sendiri? Dan lagi ini jelas bukan teladan yang baik untuk anak-anak yang dibonceng, kan? Jadi rasa-rasanya kok sekarang pelajaran tentang budi pekerti dan pendidikan karakter di sekolah cuma jadi teori saja, ya? Praktik di masyarakat? Entahlah.

Bisa kebayang nggak Indonesia ke depan mau jadi seperti apa? Semoga masih banyak orang yang mau menjadikan Indonesia menjadi lebih baik. Semoga anak-anak sekolah seperti yang kuceritakan tadi hanya sebagian kecil saja jumlahnya. Semoga …

14 thoughts on “Pendidikan Karakter, Adakah Hasilnya?

  1. kalo udah ngomongin yang begini udah sampe bingung mau ngomong apa ya. solusinya apa. bingung, asli bingung. rasanya kok udah susah banget ya karena udah mendarah daging…
    karena sebenernya harusnya dimulai dari kesadaran sendiri2 atau paling gak dari keluarganya… tapi ya mana bisa diharepin…

    aku sendiri juga bingung kok. makanya cuma bisa nulis di blog doang.πŸ˜€ memang orang akhirnya diharapkan sadar sendiri. cuma aku pikir, pemerintah atau pihak berwenang mesti tegas dan ngasih solusi juga. tapi yah, pemerintah mana bisa diarepin juga Man?

  2. Jaman saya SD di Jombang dulu ada pelajaran Budi Pekerti dan masuk dalam penilaian pada raport. Apakah pelajaran itu masih ada atau tidak ya?
    Tawuran juga sudah menjadi pemandangan biasa juga kayaknya. Yan saya heran, miskin kok tawuran, entar kalau ada yang terluka, atau mati siapa yang membayari? Mbok jangan miskin di semua lini gitu lho .

    Salam hangat dari Surabaya

    Saya beberapa kali melihat langsung tawuran anak sekolah waktu naik kendaraan umum. Sereeem! Mungkin perlu ada kegiatan yang membuat mereka bisa menyalurkan kreativitas dan energi mereka.

  3. Bagiku sistem pendidikan formal tetaplah sesuatu yang ‘baru’, Kris.. kita tak bisa mengharapkan satupun keberhasilan darinya termasuk pendidikan karakter.

    Bagiku, berkaca dari yang sudah ada, pendidikan karakter terbaik ya yang alami. Orang Jepang bisa berkarakter bagus karena alam mengajarkan dengan keras untuk “Kamu harus berbuat baik dan bersikap baik … atau alam akan menghajarmu!”πŸ™‚

    Padahal kalau dihajar alam itu nggak main-main ya Don…. Bisa langsung KOπŸ˜€

  4. Saya kadang mikir apa orang Indonesia itu mentalnya emang udah mental perlu dijajah baru bisa tertib ya Mba… dikasi kebebasan malah seenak udel… mungkin kalo peraturan ketat dan pengawasannya juga ketat baru deh semua2 bisa tertib :p

    Kali memang perlu dijajah lagi ya? Hihihihi. Peraturan nggak pernah tegas sih.

  5. tapi kalo terlalu diketatin, usaha dan keinginan untuk melanggar “biasanya” malah naik…

    lagi-lagi tergantung kesadaran masing-masing orang ya. susah deh kalau begini. banyak yang belum sadar soalnya.

  6. Mbak yang kita (mBak Kris, kami dan banyak lagi yg terlibat) kerjakan di Jogja selama lima tahun terakhir ini juga pendidikan karakter lho… he he he…dan memang sulit sekali memulai dan mensosialisasikannya. Keinginan untuk belajar karakter bersama malah sering dicurigai. Bahkan ada yang bilang mengada-ada karena dipikirnya karakter itu bawaan bayi dan tidak bisa diubah atau di “budayakan” … kondisi sekolah yang sangat sangat mementingkan nilai angka (bukan nilai dalam arti etika dan budaya dan malah mengabaikan hal ini) membuat semua orang mengabaikan proses dan cenderung menghalalkan segala cara. Sistem nilai budaya jadinya runtuh…begitulah…tapi harus ada yang memulai untuk membuat perubahan…ditunggu di sanggar Mbak he he he

    Kapan-kapan kayaknya saya pengen juga main ke sanggar Mas. Dan memang sekarang ini kebanyakan orang lebih mementingkan angka (hasil), padahal proses itu kan tidak bisa diabaikan begitu saja. Justru ini (proses) yang penting, menurutku lo

  7. sebenarnya kita (*terutama yang muda) dalam krisis keteladanan untuk membangun pendidikan karakter. Siapa coba yang patut diteladani sekarang?
    guru? Apa bisa yakin dengan karakter guru?
    Ustadz? Apa iya?
    Pejabat? Apa benar?
    Orang tua? Apa lagi?

    huffft!!!!

    Banyaknya tekanan hidup, membuat orang jadi nggak peduli lagi dengan karakter. Akhirnya ya, gontok-gontokan, yang penting dirinya nyaman. Tapi semoga anak-anak muda banyak yang sadar dan semoga ada saja orang yang meneladankan kebaikan

  8. Mbak walaupun sepertinya tidak ada gunanya, tapi mari kita tetap optimis.
    Kalau semua berkata tidak guna melakukan itu, maka siapa yang akan bergerak mbak?
    Siapa yang akan menyelamatkan generasi kita?
    Are we going to loose them?

    Tetap optimis dan mari berkarya, menaburkan kebaikan ya Ka

  9. Di negara ini, orang yang mengikuti peraturan bisa dianggap aneh, dan yang jelas2 melanggar aturan malah diikuti orang banyak.😦

    Negara yang membingungkan…😦

  10. Jangan-jangan karena orang Indonesia makin kaya, atau jenjang kaya dan miskin makin jauh. Sekolahnya tetap sama, namun sekitar 20 tahun yang lalu, tak banyak mobil diparkir depan sekolah untuk menjemput anak..mobil penuh hanya saat terima rapor. Sekarang, rasanya tiap sekolah menjadi biang kemacetan, dan selalu menjemput atau mengantar harus turun pas di depan pintu.

    Iya. Yang saya heran ya itu, ada mobil yang diparkir sepanjang hari. Itu kan sangat mengganggu lalu lintas. Apalagi itu di jalan protokol (jl Pemuda, misalnya). Kalau zaman dulu, yang punya mobil sedikit. Hehe.

  11. Menurut pendapat saya …
    Karakter itu dimulai dari Rumah …
    Saya bisa “mengira” rumah macam apa yang dihuni oleh anak-anak SMP bergelantungan itu … dan juga rumah macam apa … yang di huni oleh pemilik mobil yang parkir seharian di depan sekolah itu … (bukan hanya rumahnya tetapi juga kata-kata apa yang sering terdengar di rumah itu …)(hehehe trainer sotoy …)

    Yang penting bagi saya adalah …
    Anak-anak itu titipan NYA …
    Dan mereka itu adalah Peniru Nomer Satu di dunia …
    Siapa yang ditiru … ? Ya Bapak-Ibunya …
    saya tidak tau apakah ini pendidikan karakter atau bukan …
    Namun … talking about character … maka kitalah yang harus mencontohkan karakter yang baik itu … karena itu akan ditiru

    Salam saya Kris

  12. setuju banget dengan mas Nh… kita sebagai orang tua yang harus menjadi contoh, dan juga berani menindak jika anak-anak kita tidak berbuat sesuai yang diajarkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s