Sisi-sisi Jakarta Dahulu dan Kini dalam Benakku

Ketika aku masih SD, liburan yang paling kutunggu adalah pergi ke rumah Simbah di Jogja. Bagiku, rumah itu menyenangkan. Yang paling kuingat adalah banyaknya tanaman yang diatur rapi dan terawat dengan baik. Mbak Kakung maupun Mbah Putri memang suka dengan tanaman. Dan mereka betul-betul memelihara sendiri, mulai dari menyiangi tanaman, menyiram, dan memberi pupuk. Seingatku, Mbah Kakung selalu menyediakan lubang yang khusus untuk membuang dedaunan kering di halaman rumahnya. Jika sudah penuh, akan digali lubang lagi untuk keperluan yang sama.

Berlibur di rumah Simbah itu berarti menikmati sarapan roti tawar dengan susu kental manis, menyantap burjo menjelang tengah hari, makan bakso untuk makan siang, dan makan sate di malam hati. Selain itu juga berarti mendengarkan berbagai cerita Mbah Putri, salah satunya adalah cerita tentang beberapa anak yang dibanggakannya. Bukan, bukan ibuku yang dibanggakan, tetapi anaknya simbah yang tinggal di Jakarta. Kepada setiap orang yang datang–terlebih orang baru atau tamu–simbah akan bercerita bahwa salah satu anaknya bekerja di Astra. Terus terang, aku tidak tahu persis kenapa Astra dan Jakarta adalah hal yang perlu dibanggakan dan diulang-ulang. Namun, di pemikiranku yang masih belia itu, aku hanya menangkap Jakarta adalah sebuah kota nun jauh di sana yang punya tingkat kemakmuran melebihi kota-kota yang kukenal–Madiun dan Jogja.

Suatu ketika Ibu mengajakku ke Jakarta. Aku lupa, waktu itu aku kelas berapa. Tapi sudah cukup besar rasanya. Ibu mengajak aku, kakakku, dan beberapa kerabatku ke Jakarta. Saat itu, kami menginap di rumah adik ibuku. Karena adik ibuku ada tiga yang tinggal di seputaran Jakarta, maka kami berpindah-pindah menginapnya supaya semua kebagian. Ketika itu, yang kutangkap Jakarta adalah kota yang besar, dan rasanya saudara-saudara ibuku rasanya cukup berada. Salah satu kategori yang kupakai untuk menunjukkan seseorang cukup berada adalah punya mobil. (Namun, di kemudian hari, kategori itu kuanggap tidak terlalu benar, apalagi untuk orang Jakarta.) Ya, ketiga adik ibuku itu punya mobil semuanya. Dengan adanya mobil kami tidak perlu naik kendaraan umum untuk menikmati Jakarta.

Waktu berlalu. Ketika kakakku lulus kuliah, dia menyatakan mau bekerja di Jakarta. “Di sanalah kita bisa mengumpulkan uang karena 80% uang Indonesia berputar di sana.” Aku masih tidak mengerti apa maksud kata-katanya itu. Yang aku tahu, dia lalu menumpang di rumah tanteku dan mulai bekerja. Aku ingat pernah menjenguknya satu kali. Kali itu aku datang ke Jakarta bersama Ibu saja, lalu langsung menuju rumah Tante. Kami tiba menjelang sore. Aku berharap, tak lama lagi aku bisa bertemu dengan kakakku. Ketika kutanya Tante jam berapa kakakku biasanya tiba di rumah, dia menjawab kira-kira pukul 8 malam. Wah, malam sekali. Aku berpikir dalam hati, mampir ke mana saja dia? Dia kan tahu aku dan Ibu datang, sudah sepantasnya dia pulang lebih cepat, kan? Benar saja, kira-kira pukul 8 kakakku datang. Dia kelihatan lelah. Dia mengatakan tidak mampir ke mana-mana. Langsung pulang setelah jam kantornya usai. Kami kemudian mengobrol sebentar, lalu tidur. Dia mengatakan harus bangun pagi-pagi benar, karena pukul 05.30 harus sudah keluar rumah untuk berangkat ke tempat kerja.

Aku sama sekali tidak mengerti kenapa dia mesti berangkat pagi-pagi begitu. Dia hanya bilang, waktu tempuh ke kantornya cukup lama dari rumah tanteku itu. Ah, masak harus pergi sepagi itu sih? Aku masih tak mengerti.

Akhirnya kakakku tidak betah berlama-lama di Jakarta. Awalnya dia mengeluh atasannya tidak menyenangkan. Suka merokok di ruangannya yang ber-AC, gajinya kecil pula. Dia sudah berusaha mencari tempat kerja yang lain, tetapi belum dapat juga. Mungkin kurang mujur. Dan dia pun memutuskan pulang ke Jogja–kota yang sudah diakrabinya selama belasan tahun sejak dia SMA. Mau kerja apa di Jogja, belum tahu juga. Yang penting pulang dulu ke Jogja. Kulihat dia beberapa kali memasukkan lamaran dan mencari informasi. Akhirnya setelah beberapa bulan, dia pun mendapat pekerjaan sebagai tenaga pengajar di sebuah universitas swasta katolik. (Sekarang aku berpikir, itulah kemujuran kakakku: Bisa pulang ke Jogja dan mendapat pekerjaan yang layak di sana. Jika tidak, mungkin dia akan tetap berada di Jakarta dan untuk bekerja, ia harus tetap berangkat pagi pulang malam. Kurasa itu adalah salah satu hal yang paling disyukurinya.)

Pengalaman kakakku selalu terpatri di benakku. Aku ingat betul mengantarkannya berjalan keluar kompleks perumahan tante pagi-pagi benar. Setelah sebelumnya bangun di pagi buta, mandi, lalu makan. Tak terbayangkan bagiku seperti itulah arti bekerja di Jakarta. Selama ini, bekerja di kantor berarti berangkat pagi pukul 06.30 seperti Bapak atau pukul 07.00 seperti Ibu. Lalu siang hari, pukul 12.00 atau 13.00 Bapak akan pulang untuk makan siang dan tidur siang sejenak. Nanti pukul 14.00 akan berangkat lagi ke sekolah tempatnya mengajar. Pukul 17.00 atau 18.00 sudah di rumah lagi. Sedangkan ibuku biasanya pukul 14.00 sudah berada di rumah. Itu saja menurutku jam kerja mereka lama sekali. Tapi itu belum apa-apa jika dibandingkan dengan kakakku yang berangkat pukul 05.30 dan sampai rumah pukul 20.00. Sabtu dia pun masih masuk sampai pukul 13.00. Aku sama sekali tidak bercita-cita mengikuti pengalaman kakakku untuk menghabiskan waktu terlalu lama di jalan dan bekerja di perusahaan yang buruk.

Kini setelah aku tinggal di Jakarta selama kurang lebih 3 tahun, aku jadi berpikir lain tentang Jakarta. Dulu aku menganggap Jakarta adalah kota yang gemerlap dan makmur. Sekarang aku berpikir, gemerlapnya Jakarta adalah tanda tidak meratanya pembangunan. Jakarta bagaikan teplok yang memijarkan cahayanya, lalu laron-laron akan mengerubutinya. Jika dulu aku berpikir, alangkah kayanya orang yang punya mobil (di Jakarta), kini aku berpikir, memang begitulah “tuntutan” masyarakatnya. Kebanyakan orang punya rumah jauh di pinggiran sana (seperti adik-adik ibuku), sehingga punya mobil bagaikan suatu keharusan jika mau hidup lebih enak sedikit–apalagi jika sudah punya anak–karena kendaraan umum yang sama sekali tidak bisa diandalkan waktu dan kenyamanannya. Lagi pula, di sini kredit mobil sepertinya semakin dipermudah. Beberapa orang bahkan mendapat bonus mobil jika memberikan kontribusi sampai level tertentu pada perusahaannya. Selain itu mungkin jika dikalkulasi, pulang-pergi ke tempat kerja dengan naik kendaraan sendiri lebih murah dibanding jika naik kendaraan umum. Jika dulu aku selalu menganggap bekerja kantoran itu berarti berangkat pukul 07.00 dan akan tiba di kantor kira-kira 10 atau 15 menit kemudian, kini aku berpikir hal itu adalah kenikmatan di luar Jakarta. Kini aku mengerti kenapa kakakku dulu mesti berangkat pagi-pagi dan pulang menjelang jam tidur. Perjalanan di kota ini selalu memakan waktu–dan tenaga.

Rasanya kota ini selalu saja bisa memberikan penawaran yang membuat banyak orang rela mengorbankan apa pun–termasuk kualitas hidupnya–agar bisa bertahan hidup dan memiliki penghasilan yang lebih tinggi dibandingkan kota-kota di daerah lain. Setelah menjejakkan kaki di kota ini dan melihat sisi-sisinya yang jarang sekali ditampilkan oleh televisi, kini aku punya pandangan yang berbeda tentang Jakarta. Kota ini punya kekurangan dan kelebihannya: kemacetan dan banjir yang sudah dianggap wajar oleh warganya, banyaknya peluang kerja, berbagai fasilitas yang mungkin lebih mudah didapat dibandingkan dengan daerah lain, tuntutan hidup yang berat, dan masih banyak lagi jika kuperinci. Tetapi yang jelas, aku tak ingin masuk dalam pusarannya yang penuh tuntutan. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri.

16 thoughts on “Sisi-sisi Jakarta Dahulu dan Kini dalam Benakku

  1. Hampir setiap pagi saya berangkat bersama orang-orang yang akan melaju ke jakarta, ga cuma yang kerja aja, tapi juga anak-anak sekolah. Kadang-kadang kesian ngeliat anak SMP pergi pagi buta dan harus tertidur di angkot, hanya karena sebuah harapan bahwa sekolah di jakarta lebih baik.

    yah, kalau berangkat sekolah pagi2 buta begitu, sampai sekolah nerusin tidur nggak ya? hehehe

  2. Menjadi diri sendiri juga berbahaya jika dalam kesendirian itu kita menutup pintu terhadap segala perubahan… Aku lebih senang mengadaptasi, jika memang baik kita terima, tak baik kita tolak.. hidup toh harus berkompromi๐Ÿ™‚

    Btw, aku beruntung tak pernah hidup di Jakarta… di Jogja dulu kantorku ya rumahku jadi tinggal 0 menit untuk sampe ke meja kerja dan kini jarak kantorku dengan rumah dengan kereta api cuma lima menit๐Ÿ™‚ saking dekatnya sengaja aku memperjauh jarak jalan kakiku hingga 20 menit untuk sport๐Ÿ™‚

  3. emang kemacetan selalu jadi momok para penduduk jakarta.

    gua sendiri merasa sangat beruntung dah… tadinya gua kerjanya di kuningan, rumah di sunter. perjalanan makan waktu 45 menit rata2. tapi pas setelah married, tiba2 kantor gua pindah ke gunung sahari, cuma 5 km dari rumah! what a coinsidence kan??๐Ÿ˜€

    jadilah kalo lunch time selalu pulang rumah. bisa ngobrol ama istri, bisa main ama anak dulu. baru balik kantor lagi. pulang kantor pun paling 15 menit juga udah nyampe rumah. sementara orang2 masih kena macet di jalan, gua udah kelar mandi, udah tidur2an sambil nonton tv. huahahaha.

    • Gak kebayang Om Arman dulu tinggal di Sunter dan kerja di Kuningan. Gilaaa….kalau Om Arman tinggal di Jakarta sekarang, udah tua di jalan kali tuch.
      Anyway, yup Jakarta memang parah banget macetnya. Belajar banyak sabarrrrr…..

  4. Jakarta mungkin sebuah kota impian, yang selalu diharapkan dapat menunjang perekonomian setiap orang yang tinggal di sana. Makanya banyak sekali yang ingin berhijrah ke kota metropolitan dengan harapan dapat memperbaiki perekonomian mereka.
    Kalau dipikir-pikir tak harus ke Jakarta untuk mendapatkan uang yang banyak, dimanapun tempatnya kalau memang ada jalan rejekinya maka tak perlu susah payah berangkat pagi pulang malam hanya karena macet.

  5. Rute Mas Arman kerja kaya rute saya ke tempat kursus, hehe..

    Iya ga enak Mba kerja di Jakarta kalo rumah jauh, makanya saya ngekos, dan kalo ada uang beli rumah untuk dikontrakkan saja, tapi tetep ngekos biar deket dengan kantor. sayang waktunya buat dihabisin di jalan, mana bahaya lagi…

  6. mbak, pengin share aja. memang hidup ini pilihan, setiap pilihan pasti ada konsukensinya, terutama dlm pilihan bekerja. dulu saya juga ada keinginan kerja di salah satu perusahaan di jakarta, tetapi setelah melihat dari berbagai pengalaman teman2 di jakarta, saya urungkan keinginan untuk bekerja di jakarta. sekarang lagi fokus ke bisnis online..

    cb mampir ya mbk..ke webku : http://www.nolimitadventure.com

  7. sampai lulus SMA sekolahku selalu dekat rumah, berangkat bisa jalan kaki
    jarak kampus ke rumah agak jauh
    dan kini rumah ke kerjaan lebij jauh lagi, jadi sebetulnya leisure itu sudah terbiasa ya

    tapi aku dan suami tak mau didikte orang2 yang berkata sebagian besar penduduk ibukota itu stress karena jalan macet ha..ha..

    betul kata Donny, adaptasi itu harus karena banyak hal yang bisa dilakukan ketika di jalan, kalau di bis bisa tidur, baca, atau bw sambl dengar musik .. , ambil waktu untuk santai, bahkan banyak ide artikel bisa kuambil dari jalan

    suami malah bilang dia sangat menikmati menyetir, karena pekerjaannya banyak ke lapangan,

  8. Jakarta memang kota penuh tuntutan.
    Ketika Om saya di Papua sana tak punya mobil, seperti katamu, memang di sana tak butuh mobil. Mobil bukan kebutuhan utama, berbeda dengan di Jakarta yang serba ‘dituntut’. Mau tak mau biarpun pas-pasan haruslah punya mobil meski bekas, karena mau pakai angkutan pun jatuhnya juga mahal.
    Tapi saya setuju dengan kakakmu, memang iya uang di Indonesia ini berputar lebih banyak di Jakarta. Lama-lama ya saya enjoy juga di sini….๐Ÿ™‚

  9. hmmm Tokyo pun sama seperti jakarta. Kami butuh waktu minimum 1 jam untuk bisa sampai tempat kerja. Dan aku dan suamiku biasanya butuh 1,5 jam itu berarti naik bus 2 kali, kereta 2/3 line+ jalan kaki. TAPI transportasi di Tokyo menjamin bahwa kita akan sampai pada waktunya sesuai perhitungan. Aku tidak pernah tinggal di rumah yang jaraknya kurang dari 1 jam dari rumah, baik di Jakarta maupun di Tokyo. Sudah biasa๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s