Nostalgia Belanja

Aku tak terlalu ingat, sejak kapan aku mulai benar-benar ke pasar. Maksudku, benar-benar belanja sendiri, memilih dan menawar sayur, bahan untuk lauk, bumbu dan semacamnya.

Ketika aku masih kecil, ibuku rasanya ke pasar hanya pada saat akan masak besar atau mau mencoba menerapkan resep baru. Kadang-kadang saja aku ikut Ibu ke pasar. Yang paling kuingat, aku senang jika Ibu belanja di Pasar Kawak (kawak = lama, bahasa Jawa). Pasar itu tidak terlalu besar dan sebenarnya agak jauh dari rumah. Aku tak terlalu ingat mengapa aku suka ke sana. Mungkin jika ke sana, di benakku berdering makna itu berarti ibuku akan mencoba resep baru atau hendak memasak makanan favorit.

Untuk makanan sehari-hari, ada tukang sayur yang sejak pagi pasti sudah meletakkan bakulnya yang penuh dengan berbagai sayur, bumbu, daging, jajanan pasar, dan semacamnya di teras depan. Yu Nem demikian keluarga kami memanggilnya. Aku pun ikut-ikut memanggilnya demikian. Kini kupikir-pikir aku tak seharusnya memanggilnya begitu karena “Yu” itu kependekan dari “Mbakyu” (kakak perempuan), padahal dia ibu-ibu setengah baya. Mungkin sebaiknya aku memanggilnya Mbok atau Bu Nem. Tapi sudahlah, namanya juga anak kecil, bisanya cuma ikut-ikutan. Dia juga tidak protes aku ikut memanggilnya demikian.๐Ÿ˜€

Untuk makanan sehari-hari, kami berbelanja pada Yu Nem itu. Nyaris tak pernah ganti tukang sayur, kecuali jika Yu Nem tak datang karena sakit atau ada keperluan tertentu. Yang berbelanja pada Yu Nem seringnya bukan ibuku, tetapi Mak’e–pengasuhku sekaligus pengurus dapur keluarga kami.

Acara belanja itu biasanya mulai sekitar pukul 06.30. Yu Nem biasanya sih datang pukul 06.00. Dia akan meletakkan bakulnya yang besar dan penuh sayuran, yang terdiri dari dua lapis. Lapis pertama adalah bakul lebar dan tak terlalu dalam, biasanya berisi bumbu-bumbu dapur dan jajan pasar. Lalu yang kedua adalah bakul besar, yang menopang bakul pertama tadi. Nah, di situlah tersimpan segala macam sayur: kangkung, bayam, gori (nangka muda), keluwih, kelapa, beberapa potong daging yang dibungkus daun jati, daging ayam, setumpuk daun jati untuk membungkus, dan entah apa lagi aku lupa. Selain itu dia masih menenteng beberapa keranjang ikan pindang. Meriah, deh. Dan aku senang sekali memerhatikannya mengeluarkan berbagai dagangannya. Mak’e biasanya membawa baskom untuk tempat belanja. Zaman itu tas kresek masih sangat jarang dipakai. Pun penjual tak pernah memberikannya kepada pembeli sebagai tempat belanja. Jadi orang yang belanja mesti membawa baskom atau keranjang belanja sendiri.

Aku paling suka jika libur sekolah karena aku bisa ikut nimbrung berbelanja di teras rumah. Kadang-kadang, kalau aku sedang tidak enak badan sehingga tak masuk sekolah, aku ikut nimbrung belanja pula. Hehehe. Nakal ya, harusnya istirahat di dalam rumah malah ikutan ngobrol di depan rumah. Padahal, aku takut juga kalau-kalau ada teman sekolahku yang lewat di depan rumah lalu nanti melaporkan bahwa aku malah duduk-duduk di depan rumah. Aku mendengarkan obrolan mereka sembari duduk di balik badan Mak’e yang gendut. Obrolan mereka selalu hangat walaupun seringnya mempercakapkan hal-hal remeh–soal harga beberapa bahan kebutuhan yang naik, wayang yang mereka dengarkan, dan yang lebih seru lagi adalah soal nomor buntut!๐Ÿ˜€ Itu lo, waktu masih ada SDSB, Porkas, dll.

Enaknya ikut nimbrung saat Mak’e berbelanja adalah aku bisa memilih jajan yang akan dibeli. Yu Nem memang selalu membawa jajan. Yang ia bawa bervariasi: getuk, tiwul, gatot, bolang-baling, kue moho (aku tidak tahu apa bahasa Indonesianya), grontol (pipilan jagung rebus yang diberi parutan kelapa), bakpau, kue jongkong (lagi-lagi aku tidak tahu apa sebutan bahasa Indonesianya), kue lapis, bolu kukus. Beberapa jajanan itu dibungkus daun jati, jati saat hendak dimakan, tercium aroma khas daun jati. Sayang sekali saat ini daun jati jarang dipakai untuk membungkus. Padahal ini termasuk pembungkus yang ramah lingkungan dan memiliki bau yang khas.

Selain Mak’e kadang ada juga tetangga yang ikut berbelanja di tempat kami. Jadi, halaman rumahku jadi “jujugan” atau salah satu tempat tujuan berbelanja. Ditambah lagi di depan rumahku ada dokter anak yang praktek pagi dan sore. Ia punya pembantu namanya Pak No. Yang aku ingat, Pak No bertugas membersihkan bagian depan tempat praktik merangkap tukang parkir dan jualan balon untuk anak-anak. Pak No ini juga kerap ikut nimbrung di halaman depan untuk mengobrol ala kadarnya. Walaupun tak ramai-ramai amat yang berbelanja, tetapi yang menyenangkan adalah rasa gayeng yang muncul saat orang-orang ini datang.

Sekarang jika kurenungkan, Yu Nem ini besar sekali jasanya bagi keluargaku. Kami tak perlu keluar ongkos ke pasar dan kami bisa mendapatkan bahan makanan segar setiap hari. Maklum, saat itu kami tidak punya lemari es. Jadi, bahan makanan yang dibeli hari itu, habis pada hari itu pula. Memang ada kalanya Yu Nem tidak berjualan karena sakit atau ada keperluan keluarga. Biasanya kalau hendak libur, ia memberitahukan beberapa hari sebelumnya. Jadi kami pun bersiap belanja di tukang sayur lainnya.

Yu Nem sendiri merupakan gambaran perempuan yang kuat. Ia bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Jarang kudengar ia mengeluh. Setiap hari ia bangun dini hari lalu ke pasar, selanjutnya ia belanja untuk dijual lagi. Bakul (bahasa Jawa: tenggok) yang ia gendong tidak ringan. Pekerjaan itu ia lakoni dengan berjalan kaki. “Seragam” yang kenakan juga khas: kebaya sederhana, jarik, dan sandal jepit. Rumahnya cukup jauh dari pasar besar dan dari rumahku, yaitu di daerah Winongo. Mungkin kalau naik sepeda dengan santai memakan waktu 15-20 menit. Entah sepanjang hari itu ia berjalan berapa lama dan berapa jauh. Aku tak pernah menanyakannya.

Kini, aku tak tahu Yu Nem ada di mana. Semenjak Mak’e meninggal, dia mulai jarang ke rumahku. Jika sekarang masih hidup, barangkali ia sudah tua sekali. Aku berharap, di masa tuanya ia bahagia dan tidak sakit.

17 thoughts on “Nostalgia Belanja

  1. nostalgia semacam ini juga kerap melintas pikiranku Kris. Kupikir saat ini kamu sedang melow juga ya? Kalau membaca cerita kamu di atas, betapa warga kita itu dulu amat ramah lingkungan ya. Tanpa lemari es (hemat listrik), tanpa kertas kresek, tanpa pembungkus. Rindu rasanya kemmbali ke jaman itu.
    Aku suka tuh jajanan jagung diberi kelapa grontol itu. Coba jajanan yang kamu sebut itu ada fotonya ya, pasti bisa jadi kenangan.

    EM

    melow-nya sudah berkurang mbak.๐Ÿ˜€ makanya trus bikin postingan baru.
    iya, zaman dulu itu aku ingat kalau kami perlu tak kresek, mesti beli. selembar 100 kalau tidak salah. kalau sekarang, sedikit2 dikasih tas kresek. mungkin tas kresek sudah sangat murah ya. dan yang paling ngangeni itu pembungkus dari daun jati. aromanya khas, dan jelas ramah lingkungan. sayang aku tak punya foto2 zaman dulu, jadi tak bisa posting jajanan jadul๐Ÿ™‚

    • di jalan mau berangkat kerja aku masih ketemu tukang ikan yang membawa lembaran daun jati di gerobaknya, dan masih ada kakek tua yang membuat tali dari gedebog pisang
      dahulu, daun jatpun jadi pembungkus daging di Medan

  2. wah bener ni…
    belanja di pasar tradisional sebenarnya menarik, tapi kadang karena gak biasa, canggung aja… ^^

    kalau sudah mencoba belanja sekali atau dua kali, nanti lama2 akan terbiasa juga

  3. Saya dan adik saya cukup suka menemani ibu kami belanja.๐Ÿ˜€
    Meski hanya jadi kuli angkut (soalnya sekali belanja benar2 banyak, dan berat sekali), cukup menyenangkan melihat kegiatan yang begitu hidup di dalam pasar. Tawar menawar, proses menanyakan harga, sampai proses pemotongan ayam dan daging, itu menarik untuk dinikmati.๐Ÿ˜‰

    wah, pasti ibumu senang ya punya anak yg suka menemaninya belanja. geliat aktivitas di pasar itu sangat menyenangkan untuk diamati ya. kalau di bandung aku suka ke pasar cihapit. pasar itu bersih, sayurnya segar2, dan di luar banyak penjual makanan.๐Ÿ™‚

  4. Di tempatku, nama tukang sayur seperti ini disebut “eyek”… dan benar jasanya sangat besar karena rumah kami jauh dari pasar..

    eyek? hehehe, namanya unik ya. di tempatku tak ada sebutan khusus. cuma ibuku yg kadang menyebutnya “yu bakul blanja.”

  5. Membaca tulisanmu yang seperti ini selalu melemparku ke belakang ke Klaten.. Masa-masa kecil dimana kami juga selalu didatangi tukang sayur dan mereka sibuk menggelar dagangan di pelataran kita.. Ah, aku tau! Aku tiba-tiba inget suasana pelataran rumah depannya Pak Ageng waktu pedagang sate usus itu datang dan Mr Rigen dan precil-precilnya mulai mengincar apa yang hendak dimakannya…

    Tulisanmu hebat!

  6. Keluarga saya juga punya langganan tukang sayur gendongan yang datang ke rumah..sebutannya bi Gil (bibi Ragil)….
    Kalau mau slametan baru deh ke Pasar Besar..kadang ke Pasar Klegen yang kelasnya lebih kecil. Saat SMA, saya sering kursus di daerah jalan Rajawali, mampir ke Pasar Kawak (pasar ini memang terkenal di Madiun dengan bahan sayuran yang segar…..masih adakah sekarang?) untuk belanja.

    Ehh kue Moho ini masih ada nggak ya? Saya cerita tentang kue moho ke pembantuku (asal Muntilan) dia nggak ngerti..baca ulisanmu ini jadi kangen kue Moho.

  7. dan yang lebih seru lagi adalah soal nomor buntut …
    Saya ngakak koprol … membacanya …

    Cara Kris menderskripsikan “performa” Yu Nem itu perfect banget … Ada double bakul berlapis … yang atas berisi bumbu dan pracangan kecil … bakul besar berisi sayuran dan sebagainya …

    Namun kalau di tempat saya … ada satu lagi … yaitu … Tampah yang di “sunggi” diatas kepala .. ini juga berisi sayuran Bayam, kacang panjang, jagung dan sebagainya … Plus kadang ada yang menenteng tas belanja terbuat dari plastik berwarna … (saya lupa ini biasanya berisi apa … )(daging kah ?)

    Kagum dengan ibu-ibu sayur jaman dulu …

    Salam saya Kris

  8. waktu kecil emak saya juga punya tukang sayur langganan,
    tapi sekarang istri lebih memilih langsung beli ke pasar.
    beruntungnya didekat saya masih ada pasar tradisional.
    jadi saya masiih semangat nemenin istri ke pasar.
    suasananya itu lho … ngga ada duanya deh

  9. ..
    rumahku di desa deket pasar Mbak, bisa dibilang anak pasar..^^
    jadi lebih sering belanja dipasar, cuman jalan sebentar..
    ..
    kalau pedagang yg keliling itu didesaku namanya bakul ethek..hihihi..
    seringnya cuman beli jajan pasar doang sih, ondhe2, wajik, nogosari, tape goreng..^^
    ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s