Kopdar … Kopdar …

Relasiku dengan internet belakangan ini kurang begitu mulus. Beberapa kali tersendat. Bahkan ngadat. Macet. Yang terakhir adalah karena laptop di rumah yang khusus untuk internet mendadak ngambeg. Jadi, meskipun ada modem yang bisa dipakai, aku tetap tidak mau memakai PC untuk konek internet. Dulu aku sempat memakai PC untuk konek internet, dan entah kenapa rasanya PC-ku ini kurang cocok dengan internet. Suka ngambeg juga. Nah, kalau sudah ngambeg, aku yang repot. Semua data dan pekerjaan ada di situ. Kalau mesti diperbaiki selama beberapa saat, merepotkan banget. Jadi, ya sudah lah. Puasa pakai internet dulu untuk beberapa waktu.

Di masa puasa internetan itu, aku sempat berpikir, Mbak Imelda sudah sampai Jakarta apa belum ya? Apakah ada acara kopdar? Belum sempat aku ke warnet untuk tersambung dengan dunia maya, aku mendapat SMS dari Bu Enny yang mengabarkan bahwa Mbak Imelda akan mengadakan kopdar hari Jumat tgl 29 Juli 2011. Untung juga dulu sempat bertukar no hp dengan Bu Enny, jadi aku dapat info tentang dunia maya walaupun koneksi dengan internet sedang kurang bersahabat denganku.

Setelah mendapat SMS dari Bu Enny, aku mengontak Riris, menanyakan apakah dia datang di acara kopdar itu. Dia bilang dia akan datang, tapi hari Sabtu. Loh? Ada dua acara kopdar? Aduh, benar-benar jadi tulalit kalau tidak bisa konek internet nih. Tapi aku memutuskan untuk datang hari Jumat karena sudah janji dengan Bu Enny. Dari dulu janjian mau kopdar dengan Bu Enny tak pernah sukses. Kali ini mesti sukses dong. Cuma pengen tahu, rumah Bu Enny di Madiun di mana sih? Halah, nggak penting deh ya! Hehe. Aku juga belum pernah ketemu Riris, kalau dia datang Jumat itu, kan sekalian kopdarnya. Tapi rupanya dengan Riris masih belum berjodoh.

Oke, jadilah aku siap-siap berangkat hari Jumat pagi. Kira-kira pukul 10.15 aku berangkat dari rumah. Hmm… rasanya aku kurang pagi berangkatnya. Tapi sudahlah, nanti semoga lancar dapat kendaraan. Lagi pula ini sudah memasuki jam kerja, jadi kemacetan sudah berkurang. Aku memilih naik TransJakarta setelah jalan kaki plus nyambung naik mikrolet sebentar. Sebenarnya bisa saja aku naik bus patas 16 dari terminal Rawamangun, tetapi aku tidak tahu jam berangkatnya. Kalau busnya ngetem lama? Bisa terlambat kuadrat dong! Tak lama kemudian aku sudah dapat TransJakarta dan perjalanan cukup lancar sampai Dukuh Atas. Tapi waktu mau pindah halte, rupanya ada bus yang mogok sehingga antrian jadi panjaaaang sekali. Duh, bisa capek duluan sebelum sampai lokasi nih! Akhirnya aku memutuskan keluar halte dan naik taksi BB. Biar sekalian turun di depan pintu Pacific Place, tak perlu jalan kaki. Hehe. Mulai kumat males jalan kaki nih … siang yang menyengat memang bikin malas jalan kaki.

Sesudah masuk Pacific Place, aku celingak-celinguk. Wih, mall-nya gede amat yak? Norakku mulai keluar deh. Mana Urban Kitchen-nya? Daripada nyasar dan muter-muter nggak karuan, aku tanya kepada sang petugas. Ternyata Urban Kitchen ini ada di lantai 5. Sesampainya di lantai 5, aku celingak-celinguk lagi. Mana ya si dapur kota ini? Akhirnya aku menemukannya. Aku diberi kartu warna hijau oleh petugas dan masuk ke dalam. Wah, ternyata cukup besar juga tempatnya. Mana Mbak Imelda? Sepintas sempat kulihat orang yang sedang kumpul-kumpul, “Ah, itu dia.” Tapi waktu kudekati, “Loh, kok bukan?” Waduh… Piye iki? Tapi untunglah waktu aku celingak-celinguk lagi, kulihat Mbak Imelda melambaikan tangan ke arahku. Lega deh! Dan waktu itu sudah ada Bu Enny dan Mbak Indah Juli. Kali ini aku benar-benar lega karena aku pikir aku sudah sangat terlambat. Dan mereka pun belum sempat pesan makanan. Jadi, kami adalah kloter yang datang pertama.

Kloter pertama (foto oleh Mbak Imelda)

Meja yang kami tempati terletak di dekat kaca yang menghadap keluar. Jadi terang benderang. Di awal Mbak Imelda sudah bilang, “Aku pilih di smoking area ini karena terang. Kalau yang nonsmoking agak gelap.” Okelah kalau begitu. Untung aku sudah nggak sesak napas lagi dan orang-orang yang kopdar juga tak ada yang merokok. Thank, God!🙂 Di awal memang bau rokok tidak terlalu mengganggu, tetapi begitu siang … hmmm … kalau dirasa-rasa yaaaa gitu deh. Hehe.

Pemandangan latar belakang dari balik jendela

Yang diobrolin apa sih waktu kopdar kemarin? Macam-macam. Kalau Bu Enny, seputar pekerjaan dan keluarga, juga tentang asisten rumah tangganya yang awet. Mbak Indah Juli juga begitu. Dan ternyata, Mbak Indah ini kakak ipar dengan teman sekantorku dulu waktu di Jogja. Ampuuun, dunia sempit betul! Jadi aku lumayan tahu kalau Mbak Indah cerita tentang keluarga yang dikunjungi di Jogja. Tak lama kemudian, bermunculan para blogger lain, yaitu Pak Iksa, Isnuansa, Putri Usagi. Ketiganya ini belum pernah aku jumpai dan blog mereka pun belum kunjungi . Hanya Isnuansa yang pernah aku kunjungi blognya (walaupun jarang hehehe).

Obrolan terus berlanjut. Kemudian muncul Clara, Reza (kalau tidak salah teman sekantor Clara, tapi tidak punya blog.) Kalau Clara dulu sudah pernah ketemu waktu tahun lalu Mbak Imelda mudik. Beberapa kali dia mampir ke blogku. Tapi belakangan aku agak jarang ke blognya Clara karena agak susah kalau mau komentar. (Pindah blog aja Clara, hihihi… kompoooor!!).

Tak lama kemudian datanglah Mbak Devi Yudhistira, Mas Necky, kemudian Mbak Monda. Dari ketiga blogger ini hanya Mbak Monda yang blognya cukup sering aku ikuti. Tapi acara ngobrol dengan yang lainnya pun tetap jalan dan masih nyambung. Tak lama kemudian, muncul Mas Nugroho. Wah, blognya Mas Nug ini juga tak pernah aku lihat. Cuma belakangan di FB sempat kulihat di wall Mbak Imelda ada info bahwa FB Mas Nug dihack orang. “Oh, ini to orangnya,” pikirku. Bu Enny sebelumnya sempat cerita bahwa istri Mas Nug banyak membantu waktu adik Bu Enny dioperasi di RS Harapan Kita.

Kai nangis beneran deh... Jangan lama-lama nangisnya ya Kai🙂

Di sela-sela kami mengobrol Mbak Imelda mesti sibuk mengurus dua krucilnya. Sebenarnya pengen bisa ngobrol juga dengan Riku dan Kai, tetapi tak bisa bahasa Jepang sih. Pakai telepati saja bisa nggak ya? Haha. Kalau Riku sedikit-sedikit bisa ngomong pakai bahasa Indonesia, tetapi kalau Kai sepertinya masih belum bisa deh. (Tolong dikoreksi kalau aku salah, ya Mbak EM.) Riku pengen main di Kidzania, dan Kai sempat gerung-gerung di depan kaca jendela sampai kami kira dia nangis. Ternyata dia main sendiri haha.

Hmm, kenapa ya ngobrol dengan blogger cukup mudah nyambungnya? Karena sudah kenal dengan blognya? Akrab dengan tulisannya? Mungkin ya. Lagi pula yang ditulis di blog kan hal sehari-hari kita alami, tak jauh-jauh dengan keseharian kita. Atau yang kita tulis itu adalah hal-hal yang kita pikirkan. Biasanya kita membaca blog yang kita cocoki bukan, yang sesuai dengan minat kita, atau meskipun tidak nyambung dengan keseharian kita, masih bisa kita nikmati. Mungkin karena itulah kita bisa ngobrol dengan enak.

Ayo foto bareng! (foto oleh Mbak Imelda)

Agak sorean, datang Mbak Yoga. Aku lumayan suka dengan tulisan-tulisan di blog Mbak Yoga. Bu Enny yang sepertinya sudah cukup sering berkontak dengan Mbak Yoga. Mbak Imelda juga sebelumnya sudah pernah bertemu dengannya, jadi obrolan pun tetap nyambung.

Para blogger ini datang dan pergi. Akhirnya di sore hari, ketika beberapa blogger sudah pulang, ada kabar kalau Mbak Ira sang Itik Kecil akan datang. Wah, jauh-jauh dari Palembang lo! Penasaran juga seperti apa sih sang itik kecil ini. Tapi tidak kecil-kecil amat kok. Mbak Ira agak pendiam. Hehe, apa karena masih jetlag ya?🙂

Mbak Ira tidak terlalu lama bergabung dengan kami. Akhirnya hanya tinggal aku, Bu Enny, Pak Iksa, Witcha, dan tentu saja Mbak Imelda sang host. Riku dan Kai sudah kembali setelah asyik bermain di Kidzania. Riku kemudian pengen sate. Wah, mana ada sate di Urban Kitchen? Tetapi akhirnya Riku setelah putar-putar ke gerai makanan ditemani Witcha, ia memilih piza. Dari sekian banyak blogger ini, hanya Witha yang bisa mengobrol dengan bahasa Jepang dengan Riku dan Kai.

Hari semakin gelap. Adik Mbak Imelda datang. Wah, iya, aku lupa memotretnya. Kemudian aku akhirnya pamit. Bu Enny pun pamit. Aku nebeng sampai jalan Sudirman dengan taksi yang dinaiki Bu Enny.

Aku melanjutkan perjalanan dengan kendaraan. Aku pulang dengan hati senang; bertemu teman-teman maya yang akhirnya jadi teman nyata. Teman-teman maya yang lama maupun yang baru. Hari itu akan selalu ingat. Terima kasih semuanya sudah menambah warna di hari itu🙂

15 thoughts on “Kopdar … Kopdar …

  1. Yang jelas kopdar kali ini saya seneng banget..lha bagaimana, udah tiap kali dibelikan sambel pecel sama Menik, kok belum ketemu di dunia nyata….duhh susah banget ya ketemunya. Padahal..ternyata rumah Menik sekarang di Rawamangun, tadinya kukira masih di Bekasi. Dengan Yoga sering ketemu, makan bareng…tapi biasanya sih memang dadakan..kalau lagi suntuk atau pengin teman makan bareng, saya kontak Yoga…maklum anak-anak sudah besar…makan sendiri sudah sering banget, termasuk nonton film sendiri. Dan kalau udah ketemu….ya bisa seharian, dan malam, sampai diusir sama restoran karena mau tutup…hahaha

    Kemarin untungnya ada Menik, jadi saya awet…biasanya kalau kopdar dengan EM, saya mengobrolnya juga lamaa….kangen-kangenan…hahaha….Fotomu bagus Menik…jadi yang nguplek sampai nggak ikut foto bareng kemarin, motret dari atas ya.

  2. Sayaaaaannng sekali saya tidak bisa ikut waktu itu. Karena di kantor juga ada acara pada hari Jumat jadi tidak bisa skip ke PP.
    Ah senangnya memang kopdar rame-rame….

  3. Iyaaaa.. mau tak kurangin aplikasinya, xixixi.. maklum Mba, dulunya itu terlalu kreatif karena blog baru, jadi semua aplikasi masuk deh :p

    Iya tuh Kai bikin kaget aja, kirain nangis di jendela, hehe.. bikin ketawa terbahak2

  4. Pingback: Kopdar Seru Banget | isnuansa.com

  5. Ini memang kopdar yang besar
    Ada banyak blogger yang datang kesana …
    Menyesal saya tidak bisa bergabung disana karena sedang ada di Bandung saat itu

    Dan yang membuat lebih menyesal lagi adalah … TKP nya itu hanya sepencetan lift saja dari Kantor saya … apa ndak nyesek coba ???
    Hilang kesempatan kopdar dengan blogger segitu banyak …

    Salam saya Kris

    (and as ussual … This is the beauty of Blogging)

  6. Aku senang sekali bu Enny langsung mengajak Kris, karena aku memang cuma pasang di FB. Mudik kali ini kita jarang ketemu ya Kris, soalnya anak-anak juga tidak mau lagi ikut-ikut saran ibunya untuk ikut atau pergi ke suatu tempat. Riku sudah bisa bahasa Indonesia, jadinya sok tau mau pergi sendiri atau tinggal di rumah bersama-sama sepupu-sepupunya. Kai, awalnya masih belum bisa lepas, tapi di minggu ke 3, dia lebih memilih kakaknya daripada mamanya. Sedih juga sih.

    Kopdar memang selalu menyenangkan meskipun mungkin kita jarang bicara/ngobrol waktu bertemu. Hanyalah sebagai suatu pernyataan bahwa kita kenal juga secara fisik, tidak hanya di dunia maya.

    Terima kasih loh Kris untuk kedatangannya. Sampai jumpa tahun depan ya

    EM

  7. Pingback: Twilight Express » Blog Archive » Aku dan Dia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s