Demo? Ngeblog Saja Deh ….

Hal yang mau kuceritakan ini berlangsung pada hari Kamis yang lalu tanggal 12 Mei lalu. Telat ya nulisnya?😀

Kamis siang itu, aku meluncur ke seputaran Sudirman. Niatnya adalah makan siang dengan suamiku. Jarang-jarang sih bisa ada waktu kosong di sela-sela dia mengajar, jadi ketika ada kesempatan kami pun berniat makan siang bareng. Sekalian mencari sepatu sandal buatnya karena miliknya sekarang sudah menunjukkan tanda-tanda bisa jebol saat dipakai.

Aku sengaja naik bus patas 16 dari Rawamangun. Sengaja memilih bus itu karena bus itu berangkatnya tak jauh dari rumah serta lewat depan kantor suamiku dan bisa langsung menuju ke tempat tujuan. Perjalanan dari terminal Rawamangun sampai kantor suamiku sih lancar. Tetapi waktu sampai Dukuh Atas, jalan Sudirman menunjukkan kemacetan yang tidak biasa. Ada apa nih? Bus yang kami tumpangi lewat jalur lambat. Jalan agak pelan.

Aku masih bertanya-tanya, ada apa ya? Ada pejabat mau lewat? Ada mobil mogok?

Rupanya ada iring-iringan metromini di jalur cepat. Di belakangnya ada mobil polisi yang mengiringi. Di atap metromini itu banyak anak muda duduk seenaknya. Ada yang memukul drum. Kalau tidak salah satu atau dua orang yang berdiri (menari-nari?). Ada yang menarik-narik batang-batang pohon yang ada di pinggir jalan. Mereka berteriak-teriak tak jelas. Yah, pokoknya tidak karuanlah.

Di bagian depan ada pemuda (yang juga duduk di atas atap metromini) yang memegang pengeras suara. Di depan Atmajaya kami turun. Dan saat itulah aku bisa mendengar teriakan mereka. Ooo, rupanya mereka sedang menghujat pemerintah. Kata-katanya kasar sekali. Banyak umpatan yang mereka lontarkan.

Inilah “nikmatnya” kemacetan yang diakibatkan oleh demonstrasi. Sebel? Iya. Tetapi aku tak habis pikir, kenapa mereka melakukan hal itu. Untuk menyuarakan suara rakyat? Agar didengar oleh pihak yang berkepentingan? Oke deh, terserah lah apa maunya mereka. Yang jelas mereka sudah mengganggu kepentingan umum. Dan kalau mereka hendak menyampaikan suara rakyat, aku sebagai bagian dari rakyat kok rasanya tidak suka ya? Penyampaian mereka yang penuh umpatan dan perilaku mereka yang tidak karuan itu membuat sakit telinga dan sakit mata. Aku berpikir, apa tidak ada cara yang lebih baik, lebih sopan, lebih elegan, dan lebih terhormat?

Oke, memang banyak hal yang tidak aku setujui dengan pemerintahan saat ini. Mulai dari soal penegakan hukum sampai sikap anggota DPR yang memalukan, mulai dari masalah HAM sampai TKI, dan sebagainya. Mungkin mereka juga merasakan hal yang sama. Mereka kini punya cukup nyali untuk menyampaikan ketidakpuasan rakyat. Dan anggaplah nanti mereka bisa duduk di pemerintahan, kok rasanya aku tidak setuju ya?  Apa jaminan mereka lebih baik dari pemerintahan sekarang? Dengan kelakuan mereka yang petakilan tidak karuan itu, jelas mereka sama buruknya.

Dengar-dengar, orang-orang yang berdemo itu memang dibayar. Kurasa memang masuk akal. Siapa sih yang mau berpanas-panas di siang hari bolong untuk berteriak-teriak seperti itu? Lagi pula menilik perilaku dan baju yang mereka kenakan, rasanya kok mereka itu pengangguran ya? Entahlah, penilaianku ini benar atau tidak.

Melihat orang-orang yang berdemo itu, aku jadi berpikir bahwa seberapa pun baiknya hal yang sebenarnya hendak kita sampaikan, tetapi jika cara yang dipakai mengganggu orang lain, orang tak tidak akan menghormati kita. Selain itu kupikir cara kita menyampaikan idealisme, cita-cita, pendapat, rasa tidak puas, atau apa pun itu akan menunjukkan kualitas kita. Kalau cara menyampaikannya buruk, mengganggu orang lain, dan terlebih dengan menggunakan kekerasan, itu kan justru menunjukkan betapa bodohnya orang tersebut, alias “ndak kreatip”. Mendingan ngeblog daripada demo plus teriak-teriak di siang hari bolong hehehe.😀

17 thoughts on “Demo? Ngeblog Saja Deh ….

  1. Seperti halnya sungai sudah hilang ‘kedung’nya, perlu ditambahkan dalam serat lama itu, bahwa demo pun sudah kehilangan esensinya🙂

    Demo bener2 untuk demo, untuk unjuk, untuk narsis dan bukan untuk unjuk pikiran. Sayang ya!

  2. Saya sendiri kurang sreg dengan para pendemo. Karena ya begitu, banyak yang bilang bahwa mereka cari duit dari situ. Hari ini ada yang butuh massa untuk protes dimana, tinggal bilang, langssung dikerahkan anggota, dengan bayaran sekian-sekian. Jadi ya…begitulah.
    Lebih baik do something usefull kan daripada bikin kerusuhan.

  3. Bener, Mbak. Demo bikin macet emang nyebelin. Apalagi kalo bayaran. Kan kelihatan banget ya, tampang kucel kayak pengangguran, masak demo mewakili pengusaha. Haha…

  4. sudah jadi rahasia umum kok klo ikutan demo dapat uang
    di sini malah ada nenek2 yang masih suka ikutan
    lumayan buat makan 2hari katanya😦

  5. Demo sekarang ngga menghasilkan apa2, paling cuma seminggu setelah itu… byar…. bubar.
    Mending kita blog walking,… mbaca nan manfaat, urusan wakil rakyatcari yang bener melalui media online beritanya. Nanti saat pemilihan tinggal tunjuk😀

  6. Hehehe…demo kalau nggak jelas, cuma bikin macet, dan disumpahi banyak pihak. Sopir taksi, karena tak bisa mengejar setorannya…juga kaum pekerja yang telat pulang ke rumah karena tersendat kemacetan.

    Anehnya, banyak yang mengatas namakan mahasiswa…kok wajahnya kayak nggak mahasiswa ya, kumal dan udah tua gitu…..sopir taksi bilang, “kan ada bayarannya bu, teman saya nggak narik taksi hari ini, pilih demo, dapat makan siang gratis, kaos dan uang”. Duhh sedihnya….

  7. potret orang Indonesia yang lebih memilih jalan singkat, enak tapi dapat uang🙂 Daripada mengeluarkan keringat bekerja kan mending teriak-teriak doang udah dapat uang. Jalan singkat. Mental orang malas!

    EM

  8. Aku sudah hampir pada titik tidak percaya pada aksi dengan cara-cara pethakilan seperti itu. Apakah aku beranjak apatis? Entahlah. Tetapi rasanya bukan aku seorang yang merasa bahwa cara-cara seperti itu rasanya sama sekali tidak memberikan solusi bagi kepentingan (yang menurut mereka) rakyat banyak itu.

    Terkadang banyak orang ingin melakukan hal baik tetapi dengan cara yang jauh dari baik menurut parameter umum. Jadinya apa yang mereka lakukan seolah kontra produktif. Bahkan sama sekali kontra produktif. Mengibakan.

    Lantas kita mesti bagaimana? Nge-blog saja?😀

    Yah paling tidak ada yang kita tuliskan. Ada yang kita kabarkan. Tentang hal-hal semacam itu, misalnya. Mencerahkan cara pandang orang banyak tanpa mesti menggurui, melainkan melalui tulisan, kan lebih enak🙂

  9. setiap dari segala hal sudah punya “garis tangan”.

    aktivis memang harus turun ke jalan, termasuk jika itu dilakukan demi uang. blogger memang harus menulis di situsnya, termasuk jika itu dilakukan untuk kesenangan dan bukan untuk uang.

    tukang demo bisa saja berkata, “blogger kurang kerjaan.” dan kita blogger pun berkata, “demonstran goblok.”

    kedua pihak itu sama-sama benar. tinggal memilih sudut pandang untuk mengatakannya.

    yang benar-benar goblok dan kurang kerjaan adalah: orang yang tidak mau demo dan juga tidak mau ngeblog. di kamus besar, namanya: pemalas!🙂

    opinimu cukup bagus.

  10. Benar juga ya. Seandainya jutaan orang ngeblog dan bersama-sama menyuarakan pendapatnya (kritik) kepada pemerintah, pasti rasanya akan beda.😐

    Dan blog nanti lebih populer ketimbang FB. Horeee…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s