Terima Kasih

“Tas ransel hitam itu, Mbak,” kataku sambil menunjuk tas yang kumaksud dan menyodorkan kartu penitipan tas kepada perempuan berkerudung hitam di depanku. Mungkin usianya lima tahun di atasku. Dan aku tidak tahu sudah berapa lama dia bekerja di toko swalayan ini. Yang jelas, sejak aku sering berbelanja di toko itu selama hampir setahun, aku sering melihatnya.

Dia dengan segera mengambil tas yang kutunjuk lalu menyerahkannya kepadaku. “Terima kasih,” kataku sambil tersenyum sekilas. Dia diam saja. Hampir selalu begitu. Rasa-rasanya aku tak ingat apakah dia pernah membalas ucapan terima kasihku atau tidak. Bibirnya yang bergincu merah semu oranye itu jarang mengulaskan senyum. Mimik mukanya datar-datar saja, bahkan rasanya cenderung agak galak. Tak jarang sorot matanya menunjukkan kelelahan.

Aku tahu, berdiri hampir sepanjang hari sambil menerima dan mengangsurkan tas-tas para pelanggan toko ini memang tak mudah. Maksudku, mungkin ini bukan pekerjaan yang menyenangkan. Kurasa ini juga bukan pekerjaan yang diimpikan banyak orang. Aku sangat maklum jika dia tak membalas senyumanku atau ucapan terima kasihku.

Terima kasih adalah dua kata yang dijejalkan di kepalaku selama lima tahun saat aku aku tinggal di asrama Syantikara, Jogja. Ketika pertama kali masuk ke sana, ucapan terima kasih itu ditekankan untuk kami ucapkan kepada siapa pun yang telah membantu kami–bahkan untuk hal yang sangat sepele dan sepertinya sangat wajar. Misalnya, kami harus mengucapkannya setelah kami sama-sama mencuci piring usai makan bersama. Awalnya agak janggal bagiku karena toh kami mencuci piring bersama. Ada yang bagian menyabun, ada yang membilas, dan ada yang mengelap piring-piring serta sendok yang masih basah. Pertama-tama aku bingung, kenapa mesti mengucapkan terima kasih dan mengapa aku perlu mendapatkan ucapan itu dari teman-teman yang lain? Tetapi aku sadar bahwa kami semua telah bekerja dan saling membantu, walaupun itu pekerjaan yang sederhana. Ucapan terima kasih adalah “upah” paling sederhana yang bisa diungkapkan kepada teman-teman. Jadi, usai mencuci piring, kami biasanya akan beramai-ramai mengucapkan “terima kasih” dengan menyebut nama semua teman yang ada. Ramai kan? Dan memang biasanya tempat cuci piring di kafe (tempat makan bersama kami) akan riuh dengan ucapan terima kasih itu.

Ucapan terima kasih ini saking sering diucapkan kadang membuat kami jadi latah. Dulu, jika ada yang mau berbelanja ke toko–seringnya ke Mirota Kampus–tak jarang akan woro-woro: “Aku mau ke Mirota, nih! Ada yang mau titip nggak?” Biasanya ada saja yang titip, entah titip pasta gigi, tisu, sabun, jajanan, dsb. Tentunya si penitip menyebutkan barang titipannya sambil menyerahkan uang. Yang unik, orang yang dititipi belanja itulah yang justru akan langsung mengucapkan “terima kasih” setelah menerima uang. Hihihi. Lha wong dia yang repot belanja, malah dia yang langsung berterima kasih. Mungkin karena kesannya dia diberi uang, lalu dia langsung mengucapkan kata-kata wajib itu.

Menurutku, mengucapkan terima kasih itu adalah hal yang perlu. Bukankah kepada seorang anak kecil kita juga menanamkan ungkapan tersebut? Tetapi memang sepertinya saat ini ucapan terima kasih agak jarang kudengar di tempat umum. Bahkan sepertinya, ucapan itu hanya berupa tulisan di depan kasir, di pintu keluar sebuah toko, dll. Tulisan itu dianggap sudah mengandung ketulusan suatu ungkapan. Tetapi tak jarang pula, ucapan itu hanya seperti pemanis bibir, tidak benar-benar keluar dari hati.

Sekarang setelah 10 tahun aku meninggalkan asrama, aku masih berusaha mengingatkan diriku sendiri untuk mengucapkan terima kasih dengan sungguh-sungguh kepada orang-orang yang kujumpai, mulai dari sopir angkot sampai petugas keamanan yang mengecek tasku ketika akan memasuki suatu gedung. Orang rata-rata membalas dengan ucapan “sama-sama” sambil tersenyum. Rasanya yang hampir tak pernah tersenyum ya cuma perempuan berkerudung, penjaga bagian titipan barang di toko swalayan langgananku itu tadi. Entah kenapa ia begitu, mungkin sedang sakit gigi.😀

11 thoughts on “Terima Kasih

  1. Hahahaha!
    Aku mendapat ‘pelajaran’ untuk mengucapkan “terimakasih” itu dari Joyce, istriku.
    Sebelumnya aku tak pernah melakukan itu bahkan untuk orang2 terdekatku sekalipun karena semula kupikir itu semua hanya basa-basi.

    Tapi sekarang, setiap melakukan/mendapat apapun dari orang lain aku slalu bilang “thanks” sebagai ungkapan apresiasi dan senyum yang kudapat dari mereka (kecuali ya mereka yang ngga kasi senyum) adalah steroid mujarab untuk lebih berbuat baik lagi bagi sesama🙂

    So, terimakasih untuk tulisan ini, Kris😉

  2. oh aku sendiri dari kecil dibiasakan ortuku untuk mengucapkan terima kasih, untuk hal-hal sekecil apapun. Bahkan kalau orang tua mengajak makan di luar, sesudah kembali ke mobil, kami akan berkata, “papa, mama, terima kasih sudah diajak makan di restoran”.
    Di SD Jepang HARUS mengatakan salam dan terima kasih sebagai bagian dari pendidikan mereka. Aku sendiri waktu pertama kali dtg ke Jepang risih, krn setiap orang bahkan yang tidak dikenal pun setiap pagi akan menyapa “Ohayou Gozaimasu”. Lama kelamaan seiring bertambahnya usia manusia semakin sedikit mengucapkan salam-salam itu. Alangkah baiknya kita selalu kembali menjadi anak kecil yang dengan polosnya mengucapkan salam itu kepada siapa saja.

    EM

  3. kebiasaan mengucapkan terima kasih sangat bagus untuk menjaga hubungan dengan pelanggan, dan saya sudah membuktikannya di warnet sini.
    sederhana, tapi sangat bermakna.

    soal penjaga titipan barang di toko swalayan itu, bisa jadi giginya sehat mba, cuma mungkin selama ini jarang adaorang yang ngucapin terima kasih, jadi ketika ada yang ngucapin buat dia yah biasa aja🙂

  4. Aku juga selalu diajarkan untuk mengucap terima kasih, dan sedang usaha untuk ditularkan ke anak. Yang agak risih adalah mengajarkannya kepada orang-orang lain, seperti pada asisten rumah tangga, atau anak tetangga. Kesannya kita gila hormat minta diberi ucapan terima kasih. Kalau hubungan pertemanan anakku dengan anak itu cukup erat, dan aku kenal orang tuanya biasanya aku ajari untuk mengucapkan terima kasih. Herannya anak-anak sekarang makin susah diajarkan mengucapkan terima kasih, mungkin karena contoh yang ada di sekeliling kurang mendukung ya?

  5. Kata sederhana tapi berarti banyak…
    Mang bubur ayam tersenyum walau tak menjawab saat saya membayar bubur ayam yang dipesan.
    Sopir taksi balik mengucapkan terimakasih saat kita membayar. Juga karena mereka diajarkan mengucapakan selamat pagi atau selamat siang, atau selamat malam, secara tak langsung kita juga langsung membalas, dan merasa nyaman.

    Mungkin toko swalayan tadi perlu mendidik para pegawainya untuk lebih tersenyum…dengan senyum, ucapan terimaksih wajah kita juga lebih berseri dan awet muda.

  6. dg sll mengucapkan terimakasih d iringi rasa ikhlas, akan membuat orang yg berada d sisi qta merasa bahagia, merasa d hargai meski mereka tidak memgungkapkannya.
    kpd siapapun itu, suami, orang tua, org lain, atau sekalipun itu adalah anak qta sendiri pastinya ucapan terima kasih tlah membahagiakannya….

  7. sama tukang ojek, tukang sampah, tukang sayur, supir jemputan anak2 selalu kuusahakan mengucapkan terimakasih, dan mereka balas dengan hormat juga,

    tapi baru kuingat penjaga tempat penitipan tas di retail terkenal juga cuek aja diucapkan kata itu,

  8. Sedari kecil aku sudah dibiasakan untuk mengucapkan terima kasih, dan lebih heboh lagi saat di asrama… saking tiap hari selalu mengucapkan dan mendengar kata “terima kasih” di asrama, -meski hanya untuk sebuah tawaran sederhana-, aku jadi kaget banget waktu masa PPL dengan mahasiswa/mahasiswi UN*..

    ceritanya, waktu itu ada temen PPL yang sedang sibuk mengerjakan buku nomor induk Siswa baru.. aku menawarkan bantuan, kan banyak tuh yg bisa dikerjakan: nempel foto, nulis nama siswa di foto, dsb.. aku kaget banget waktu dia jawab, “Nggak usah, nanti malah beantakan semua….”. Aku sempet tersinggung lho, karena yaelah, emang aku anak kecil yang bisanya cuma bikin berantakan? aku merasa caraku menangani buku induk siswa itu lebih sistematis. Tapi dia menolak bantuanku ya sudah. Setelah kupikir-pikir, sepertinya dia sedang mengumpulkan “nilai positf” supaya terlihat aktif dan rajin, dan nggak mau kalau peserta PPL lainnya ikut kecipratan dapat nilai…
    Kalau dia emang ga butuh bantuan, kayaknya akan lebih enak didengar kalau dia cukup bilang, ” terima kasih, aku bisa sendiri…”.

    Well, lain orang pasti lain sifat dan pembawaannya ya?

  9. aku selalu mengucapkan kata TERIMAKSIH kepada setiap orang, al hasil menurun ke anak saya, dan saya juga menerapkan setiap saya di panggil orang sekitar saya selalu menjawa SAYA-SAYA dengan nada lirih tapi terdengar jelas. untuk apa untuk lebih menghargai, dan itu saya terapkan ke anak saya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s