Ketemu di Mana?

Sejak aku tinggal di Jakarta, ada perubahan dalam caraku menanggapi ajakan atau undangan kawan. Misalnya, ketika diajak bertemu kawan. Maka, pertanyaan pertama yang biasanya terlontar adalah, “Ketemu di mana?” Jawabannya bisa membuatku urung untuk mengiyakan undangan atau ajakan tersebut.

Semasa masih tinggal di Jogja atau di Madiun, urusan tempat bertemu kawan sepertinya bukan masalah yang cukup berarti. Bahkan biasanya aku lebih suka bertemu kawan di rumahnya daripada di tempat umum. Ya, kecuali jika memang acaranya di gereja atau di sekolah. Kalau itu sudah jelas. Lagi pula, rumah teman-temanku biasanya mudah ditemukan.

Namun, jika di Jakarta, semuanya berubah. Aku agak mikir-mikir jika hendak bertandang ke rumah kawan. Kenapa? Biasanya cenderung susah dan ribet. Belum kalau rumahnya mesti ditempuh dengan berganti-ganti kendaraan umum. Ancer-ancernya njelimet dan sepertinya harus banyak tanya. Capek deh. (Hanya sedikit rumah kawanku yang pernah kudatangi. Itu karena biasanya jaraknya tak terlalu jauh, tak memaksaku untuk berulang kali ganti kendaraan.)

Pertanyaan “ketemu di mana?” bagiku adalah penting untuk dilontarkan. Jawaban yang membuatku jadi berpikir puluhan kali adalah jika jawabannya (1) menunjukkan suatu daerah yang aku kurang akrab dengan daerah tersebut; (2) menunjukkan daerah yang terkenal karena kemacetannya; (3) jauh–maksudnya lebih dari 1 jam waktu tempuhnya–dan menuntutku untuk berulang kali pindah kendaraan umum (kalau cuma dua kali ganti kendaraan umum, sih itu masih tak apa).

Karena itulah aku lebih suka bertemu kawan di tempat umum. Ujung-ujungnya sih ketemu di mal yang letaknya di tengah-tengah dari lokasi kami masing-masing dan mudah dijangkau (padahal aku tak terlalu suka dengan mal). Tetapi mau bagaimana lagi? Mal atau kafe sepertinya (mau tak mau) menjadi pilihan untuk bertemu teman. Padahal sebenarnya, lebih enak bertandang ke rumah karena suasananya lebih akrab, apalagi jika bertemu dengan teman lama. Dan kalau ke rumah kawan, itu artinya aku tak perlu mengeluarkan uang sampai belasan ribu hanya untuk secangkir teh. He he he.

Aku tak tahu, ada berapa banyak orang yang seperti aku. Maksudnya, yang malas menembus lalu lintas Jakarta yang kemacetan dan polusinya begitu aduhai itu untuk bertemu dengan kawan atau kolega. (Aku tak tahu, barangkali memang ada orang yang menyukai dan benar-benar menikmati kemacetan lalu lintas Jakarta. Barangkali memang ada yang merindukan kemacetan dan menganggapnya aduhai dalam arti literal.) Tetapi kalau tempatnya masih terjangkau, tak apa-apa. Acap kali aku lebih memilih mengurangi pulsa atau chatting di depan laptop sambil duduk menikmati teh tawar hangat plus pisang rebus kesukaanku. Lebih hemat; tidak terlalu capek dan tidak terlalu berat di ongkos🙂

15 thoughts on “Ketemu di Mana?

  1. saya juga begitu sekarang, selalu bertanya mau ketemu di mana😀
    sejak berhenti kerja, malas sekali menghadapi macetnya Jakarta.
    Jadi, mau ketemu di mana kita ? ::)

  2. apalagi sekarang ini pada tinggalnya jauh2 ke pinggir kota kan?
    yg di dalam kota aja malesin krn itu tadi, selain macet blum tentu hapal juga daerahnya
    sementara klo di mal sudah pasti ketemu asal jelas aja nunggunya di mana
    praktis pula hehehe
    bisa sekalian ngapa2in gitu😀

  3. Kalau tinggal di Jakarta, memang begitulah konsekwensinya, Kris, jadi terbatas ruang gerak kita. Kawan-kawanku yang di Jakarta juga seperti itu, kalau aku kebetulan ke Jakarta dan mengajak mereka ketemuan, selalu pilihannya Mal yang berada di tengah-tengah posisi kami…🙂

  4. Kalo di sini orang banyak menolak untuk ketemuan di rumah/apartemen.
    Kami lebih memilih ketemu di coffeeshop ataupun restaurant untuk bersosialisasi, Kris.

    Aku paham kenapa malas menembus lalu lintas di Jakarta yang super duper menyebalkan. So, bisa dibilang Jakarta bikin sosialisasi langsung menurun karena hal itu ya?

    Pindah wae!🙂

  5. Hehehe.. kalo pertanyaanku selalu: Kapan? Soalnya teman2ku suka mendadak ajak ketemu, padahal pas kita sudah punya acara lain.. nah, parah lagi kalo teman dari daerah yang mengira ketemuan di Jakarta itu gampang, mereka suka minta ketemu di jam kantor, yang ga mungkin banget bisa kekejar waktunya..🙂

  6. Sebegitu parahkah kehidupan Jakarta dengan macet nya😕 Itulah sebabnya aku gak mau seandainya disuruh bekerja di Jakarta. Masih enakan di Tabanan, sejuk dan tenang😆

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  7. Menik,
    Masih ada PR..kita belum ketemu lho, walau berkali-kali aku menikmati pecel kirimanmu dari Madiun.

    Ketemu dirumahku ya….asal bukan minggu depan, soalnya ada undangan reuni di Cipanas, Puncak. Ada teman yang punya vila mengundang saya kesana.
    Kalau mau seadanya, berdesakan (maklum rumahku kecil, jadi gelar tikar aja)….bisa dibuat acara dirumahku. Si mbak bisa kok buat makanan sederhana…..atau nanti pas ada Imelda….kalau kira2 kurang tinggal pesan. Rumahku dekat Citos….ancer2 nya gampang….mau?

  8. Beuh, sama mbak! Males banget kalo dah kayak gitu. Padahal rumah ortu di Bekasi. Itu kadang dah dibilang deket ke Jakarta, tapi tetep aja gak kayak di Jogja (pembandingya Jogja pula..) Makanya (juga) aku hampir gak bisa ketemuan ama temen2 di Jakarta. Jauh. Lama. Ribet. Mahal (hihihi). Ujung2nya capek. Kadang kalo dah kelamaan di mal trs diajak stay di tempat temen itu (girls only!). Tapi tetep aja cuapek. Kadang udah capek duluan mikirnya sebelum berangkat dan akhirnya bikin 1001 alasan supaya gak bisa berangkat, tanpa satupun bilang alasan2 di atas. Maaf ya temans… Sama2 pengen ketemu sih, tapi ketemuannya kalo pas kalian dateng ke Jogja aja, gimana?

    Mbak..mbak.. sama yah, kita gak perlu ketemuan kalo pas aku ke Jakarta. Kapan2 aja kalo mbak ke Gloria, kita ketemu di sana.. Otre?? hehehehehe…..

  9. Itu memang pertanyaan lumrah sekarang ya mbak, jadi mau ketemuan utk urusan apapun tetap harus ketemu di tempat yang mudh diakses semua peserta.

  10. Itu memang pertanyaan lumrah sekarang ya mbak, jadi mau ketemuan utk urusan apapun tetap harus ketemu di tempat yang mudh diakses semua peserta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s