Beres Beres

Pulang menjelang akhir tahun. Itu mengandung beberapa arti: melepaskan hiruk-pikuk kota Jakarta, berburu mi jawa, beristirahat sejak terserang flu dan menstabilkan tekanan darah yang belakangan ini naik turun, dan membereskan kamar.

Yang terakhir itu sebenarnya yang memakan pikiranku. Entah sudah berapa lama kamarku bertebaran buku dan beberapa barang. Semua itu menumpuk di rak-rak dan memakan ruang yang sebenarnya masih bisa dipakai untuk yang lain. Lalu ada pula barang-barang yang harus dibuang karena sudah lama sekali tak tersentuh. Ada yang rusak, ada yang terlalu usang. Ada pula debu yang harus disingkirkan dari atas rak. Melihat tumpukan buku dan barang itu sebenarnya membuatku capek duluan. Apalagi karena aku masih belum fit benar, jadi rasanya akumulasi rasa capek dan malas itu semakin tebal saja. Uh! Tapi mau tak mau aku harus membereskannya. Harus. Karena masih ada beberapa kardus barang kiriman dari Jakarta yang menanti untuk dibereskan dan dicarikan tempat.

Akhirnya, tadi siang aku membereskan rak yang ada di kamarku.

“Kamu menemukan apa saja?” tanya kakakku yang beberapa kali masuk kamarku dan melongokkan kepala sekadar ingin tahu apa yang sedang aku lakukan.

“Buanyak!” jawabku.

Memang banyak. Aku sendiri sampai heran, kenapa selalu saja ada banyak barang yang bisa dibuang setiap kali aku membongkar kamarku. Padahal aku tak suka berbelanja. Tapi selalu saja ada barang-barang tak terpakai yang tiba-tiba muncul dan menyediakan dirinya supaya dikirim ke tempat sampah atau diloakkan. Kertas, itu sudah pasti. Tetapi ada pula spidol bekas, jepit rambut usang yang dulu kupakai ketika rambutku masih panjang, lensa kacamata yang sudah banyak goresannya, bedak tabur yang sudah lama dan hampir tak ada isinya lagi, dan lain-lain. Yang paling banyak memang kertas, dan itu cukup lumayan jika akan diloakkan. Cukup untuk membeli beberapa piring mi jawa. Hmmm….🙂

Tetapi dari antara barang-barang itu, tak terelakkan muncul kembali beberapa benda yang memuat banyak kenangan. Terutama sih foto-foto. Ada beberapa tumpukan foto di situ. Yang itu jelas tak kubuang. Hanya kusisihkan dan kuletakkan di satu tempat. Tetapi lucu juga melihatnya lagi. Lewat foto itu, kulihat lagi diriku ketika masih (sangat) kurus :p Lalu terpampang pula beberapa foto kawan yang entah sudah pergi ke mana mereka sekarang. Dan wajah-wajah yang ada di foto itu mengingatkanku akan beberapa kejadian dan perasaan-perasaan yang menyertainya–menyenangkan, pahit, getir, senang, biasa-biasa saja. Barang-barang dan foto-foto itu membuatku teringat beberapa hal: protes teman lama karena aku terlampau sibuk; kebersamaan dengan teman-teman dekat ketika masih SMA dulu; perselisihan dengan mantan pacar; waktu yang dihabiskan dengan teman-teman dengan berkumpul bersama; kado-kado yang kuterima saat beberapa ulang tahun di waktu lalu, dan sebagainya.

Jika berkaitan dengan kenangan manis, rasanya tak ada masalah. Tetapi kalau buntut kenangan yang ditimbulkan tidak mengenakkan, rasanya masih terbersit rasa sebal melihat barang-barang tertentu. Namun yang  agak aneh bagiku, beberapa barang yang dulu tampak sangat menyebalkan jika dilihat, sekarang tingkat “menyebalkannya” sudah jauh berkurang. Waktu tampaknya menyembuhkan luka. Dan waktu juga menguapkan kegembiraan yang dulu meluap-luap. Dulu begitu menyenangkan, tetapi sekarang biasa-biasa saja. Dulu begitu menyakitkan, sekarang sudah bisa diterima dengan hati lapang. Dulu rasanya sulit sekali memaafkan diriku sendiri berkaitan dengan hal-hal tertentu, tetapi sekarang mulai bisa menerimanya.

Acara beres-beres kamar menjadi suatu permenungan buatku menjelang akhir tahun 2010 ini. Aktivitas yang tampak biasa-biasa ini menjadi semacam simbol yang mengingatkanku bahwa yang kumiliki sebenarnya adalah saat ini. Masa lalu barangkali memang memuat banyak hal dan kenangan, entah itu menyenangkan atau membuat sedih, tetapi masa kinilah yang lebih penting. Apa sih yang akan aku lakukan dengan saat ini? Mengingat masa lalu, membuainya dan menumpuknya di suatu tempat sampai membusuk? Mungkin ada kalanya kita perlu memilah dan melihat kembali apa yang pernah ada. Jika itu bisa dibuang sehingga tersedia ruang yang lebih lapang untuk hal yang penting saat ini, kurasa itu lebih baik.

10 thoughts on “Beres Beres

  1. Wah… acara pulang kampung kita nyaris sama… beberes kamar/rumah… dan ternyata memang banyak barang yang dulu hilang/ketlingsut, akhirnya bisa ketemu lagi. kadang waktu beberes jadi molor lamaaaaa…banget gara2 kita keasyikan mengamati barang atau terkekeh-kekeh melihat foto2 lama..

    Seringkali, barang2 yg dulu dieman-eman, disayang sayang, sekarang ketemu sudah dalam kondisi rusak/nggak utuh lagi. mau nggak mau terpaksa dibuang deh…😦

  2. Beres-beres itu menyenangkan, tapi perlu waktu yang tenang. Kadang membereskan satu lemari saja, perlu waktu seharian….apalagi jika banyak menemukan hal-hal yang menarik. Dibuang sayang, tapi memenuhi tempat….

  3. ..
    beres-beres ternyata punya makna yg mendalam ya mbak..
    kalo gitu gak musti tiap akhir tahun dong, bisa akhir bulan atau akhir minggu..
    biar makin bersih dan rapi.. he..he..
    ..

  4. Ya, beres-beres memang mengasuikkan, bisa menemukan berbagai barang yang seringkali bahkan sudah kita lupakan. Saya juga sering takjub kalau sedang beberes. Lho, aku punya ini to? Lho, ini kan yang lama kucari nggak ketemu.
    Tapi untuk foto dan barang pribadi lainnya, kalau saya tidak ingin menyimpannya lagi, biasanya saya hancurkan (dibakar atau dimasukkan mesin penghancur kertas) supaya tidak ditemukan oang lain …

  5. Pulkam kemarin aku ngga sempet beres2 barangku, Kris.
    Cuma sempat melongok ke dalam lemari dimana kaos, kemeja, celana dan jacketku berada.

    Rasanya ya hampir sama denganmu, kenangan itu meruap semua… mengalokasi memori otak untuk sejenak ada… tapi itu tak lama karena penyadaran bahwa masa kini ya masa kini, jembatan untuk masa yang akan datang.

    Selamat tahun baru!

  6. Kata-kata yang sering muncul jika saya sedang beres-beres …

    Menemukan barang usang / benda usang / kertas usang …
    Pertanyaan dan pernyataan standart adalah selalu …
    Aaahhh simpen aahh … nanti perlu …
    Aaahhh sayang – sayang nih … ada kenangannya
    Aaahhh nanti dicari … simpan saja dulu …
    Aadduuhhh eman-eman ini kalau di buang …
    dst … dst …

    Akhirnya … ndak ada yang dibuang … hahahaha

    Barang Tetap menumpuk … bedanya hanyalah … lebih rapi saja sikit …
    hehehe

    Salam saya Kris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s