Sederhananya Masa Sekolahku Dulu …

Beberapa waktu yang lalu aku bertandang ke rumah seorang kawan. Dia bercerita bahwa dia baru saja membelikan alat tulis anaknya. Ya, tahun ajaran baru memang membawa kesibukan tersendiri. Anak yang masuk sekolah, orang tua pun jadi ikut-ikutan sibuk. Mulai dari membeli alat tulis sampai menyampul buku.

Tak urung, cerita temanku itu mengingatkanku pada pengalamanku saat aku masih sekolah dulu. Untuk urusan buku tulis, biasanya Bapak membelikan kami (aku dan kakakku) buku tulis yang sama. Aku manut saja. Kadang covernya pun bukan seleraku. Seingatku ada yang gambar Rambo segala. He he… Untuk seragam sekolah, biasanya Ibu yang menjahit bajuku. Lumayan, bisa mengirit ongkos jahit. Dan untuk urusan alat tulis, biasanya aku masih memakai alat tulis yang lama. Kalaupun harus membeli yang baru, itu tidak semua. Hanya membeli yang memang benar-benar dibutuhkan atau karena yang lama sudah rusak.

Bagaimana dengan buku pelajaran? Aku masih mengalami masa ketika buku pelajaran bisa dipinjam di sekolah. Biasanya di tahun ajaran baru, guru wali kelas akan membagikan kepada kami masing-masing buku pelajaran yang dibutuhkan. Seingatku hanya sedikit buku diktat yang harus kami beli sendiri karena tidak disediakan di perpustakaan. Kalaupun ada di perpustakaan, hanya sedikit jumlahnya.

Ketika masih belum bisa naik sepeda sendiri, aku diantar ke toko buku untuk membeli buku pelajaran. Tapi ketika sudah kelas empat dan aku ke mana-mana biasa naik sepeda sendiri, aku berkeliling ke toko-toko buku sendiri. Paling-paling aku diingatkan oleh orangtuaku supaya tidak pergi terlalu malam. Ibu atau Bapak akan memberikan uang secukupnya untuk membeli buku. Selanjutnya, aku urus sendiri kebutuhan untuk sekolahku. Seingatku dulu ada beberapa toko buku yang sering menjadi tujuanku: Toko Amin di dekat Alun-alun, toko Gunung Mas di jalan HA. Salim, toko Media di jalan Mastrip (bener nggak ya nama jalannya? Lupa-lupa ingat nih!) , dan toko Bahagia di dekat SMA 1 Madiun. Kadang tidak semua buku yang kubutuhkan bisa kubeli di satu toko. Tak jarang aku harus berpindah ke toko yang lain. Tapi seingatku, toko Bahagia-lah yang cukup bisa memenuhi kebutuhanku akan buku pelajaran. Dan di toko buku itulah aku mengenal diskon waktu membeli buku. Lumayan kan?

Aku kadang masih saja heran ketika ada beberapa temanku yang bercerita bahwa mereka harus pontang-panting mencari buku pelajaran untuk anak-anak mereka. Dalam hati aku berpikir, apakah anak-anak itu tidak bisa membeli sendiri? Sebenarnya sekolah menjual buku pelajaran, tetapi harganya lebih mahal dibandingkan dengan harga di toko. Dan lagi pula, ini di Jakarta. Rasanya sangat sedikit orang tua yang mengizinkan anaknya pergi sendiri berkeliling kota untuk mencari buku yang dibutuhkan. Lalu lintas yang ruwet pasti membuat orang tua tak tega membiarkan anaknya pergi sendiri. Akhirnya, ya orang tualah yang berkeliling sibuk membeli kebutuhan sekolah anak-anak. Kupikir-pikir, betapa sederhananya sekolah pada zamanku dulu. Dan biarpun masa sekolahku dulu sederhana, toh hasilnya aku sekarang nggak bodoh-bodoh amat… :p

8 thoughts on “Sederhananya Masa Sekolahku Dulu …

  1. wah kalau aku malah tidak pernah diberikan uang untuk membeli ini itu sendiri. Kami selalu pergi bersama membeli buku pelajaran dan alat tulis di TB Anggrek di Mayestik. Lengkap di situ.

    Bahkan sampai SMP aku tidak pernah dapat uang saku/uang jajan. Kami tidak pernah jajan di sekolah. Ke sekolah s/d SMP ada antar jemput yang dikelola dgn baik oleh swasta.
    Baru mendapat uang saku waktu di SMA untuk transport dan makan kalau ada praktikum.

    EM

  2. ..
    tapi Mbak Kris termasuk beruntung lho, karena sampai sekarang masih banyak anak-anak yang gak bisa sekolah..
    ..
    tulisan yang menginspirasi Mbak , aku suka..😉
    ..

  3. Kalau dulu waktu SD, dan perlu buku, Pak/Bu Guru akan menulis di papan tulis: judulnya, untuk kelas berapa, penerbitnya, dan pengarangnya siapa. Lalu kuberikan pada papaku yang akan bersepeda ke kota sembari sekalian pergi mengajar para calon baptis. Kadang juga titip mamaku yang ngajar di sekolah yang dekat pasar. Ada banyak kios buku di situ dgn harga murah, lagian, pemiliknya kenal mamaku karena anaknya murid mamaku, jadi dikasih diskon khusus hehe…

  4. Nana, dulu memang sederhana namun gurunya berkualitas, artinya beliau mendorong murid2 untuk kreatif, mau mempelajari sendiri dan mengembangkannya.

    Dan buku tulis memang sederhana, bagus tak ada gunanya kan? Lha kan hasil tulisan sama…dan dulu belum ada baju jadi, jadi mesti jahit sendiri, Kalau mau punya baju baru, ibu sendiri yang menjahit.

    Saat anak-anak mulai masuk TK, saya udah klenger, kemudian masuk SD, karena SDN nya inpres, bergaul dengan anak tukang bakso, tukang sayur dan tukang bajaj…anakku malah mengembangkan empaty nya. Dan saya bisa menyumbang buku2 ke sekolahnya, yang diterima guru dengan senang hati untuk keperluan perpustakaan sekolah. Dan sekolah tsb bagus, kenyataannya 98% lulusan SD itu diterima di SMP Negeri yang saat itu rankingnya tertinggi di Jakarta Selatan.

    Anakku masih mengalami permainan sederhana, seperti dolanan, gobak sodor, bekel dsb nya

  5. sejak sd sampai sma buku cetak sebagaian besar dipasok dari perpus sekolah, kl yang nggak ada di perpus memang beli sendiri, tp nanti masih dipakai sama adik2

    skrg kan tiap tahun ganti buku
    dulu kita nggak boleh nulis jawaban soal latihan di buku cetak, skrang anak2 malah harus nulis di situ

  6. Hehehe aku juga beli buku di Mayestik, nama toko bukunya lupa. Biasanya dianter…Waktu sudah SMP dan SMA baru naik bis sendiri kemana-mana. Sekarang anak naik bis saja bisa kena todong diminta hp dan sepatunya (ini murid lesku yang SMP dan SMA yang kena)…nggak heran dong kalau ortu tambah parno…pemakaian mobil pribadi makin menjamur…

  7. hm..untuk seragam sewaktu SD sampai SMP masih dijahit oleh ibuku sendiri. Sama ya?

    untuk buku, kalau memang harus beli biasanya kami pesan lewat koperasi sekolah, harganya gak jauh beda. Jadi tidak ada yg perlu pontang-panting mencarinya.

    Sepakat dengan bu Enny, biarpun sederhana namun sangat berkualitas. Cara mengajarnya membuat kita belajar mengembangkan diri ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s