Sejarah

Apa pelajaran favoritmu ketika di sekolah dulu? Kalau aku, rasa-rasanya tidak ada pelajaran yang benar-benar menjadi favoritku. Tetapi memang ada pelajaran yang aku hampir selalu mendapat nilai memuaskan, misalnya agama, PMP, bahasa daerah (bahasa Jawa), bahasa Indonesia, bahasa Inggris, biologi, dan sejarah. Meskipun mendapat nilai baik, aku tidak selalu mengganggap favorit pelajaran-pelajaran tersebut. Dari mata pelajaran yang aku sebutkan tadi, aku menganggap pelajaran sejarah-lah yang hapalannya membuatku puyeng. Jadi, meskipun mendapat nilai baik untuk pelajaran sejarah, aku sebenarnya tidak terlalu menyukai pelajaran tersebut.

Bagiku, sejarah adalah serangkaian tanggal, nama, peristiwa yang harus dihapal. Aku–dengan bodohnya–menganggap, apa yang terjadi di masa lalu, hanyalah onggokan barang kuno. Tak perlulah diingat-ingat, kecuali untuk mendapatkan nilai bagus di raport.

Sejarah menjadi sesuatu yang kurang kusukai sampai aku bertemu dengan suamiku. Dia pecinta sejarah. Dan karena dialah pandanganku terhadap sejarah perlahan-lahan mulai berubah. Sewaktu mengobrol dengannya untuk membahas hal-hal yang aktual, dia kadang menyisipkan aspek-aspek sejarah yang memengaruhi keadaan saat ini. Dia juga sering menunjukkan buku-buku sejarah yang menurutnya sangat bagus. Meski demikian, aku tidak langsung melalap buku-buku yang dibilang bagus itu. Aku cukup senang mendengarnya bercerita hehe.

Waktu berlalu. Kami menikah dan aku pindah ke Jakarta. Dulu aku membayangkan Jakarta adalah kota yang modern, artinya pelayanan publik sudah sangat baik dan tatanan masyarakat sudah cukup teratur. Yah, namanya juga ibukota negara, tentu kota itu lebih bagus dong daripada kota-kota di daerah, begitu pikirku. Tetapi rupanya perkiraanku keliru. Ya, bagi orang yang suka dengan Jakarta, hal-hal yang menurutku membingungkan di kota ini, mungkin tak jadi soal ya? Ah, tidak masalah. Selera orang memang beda-beda. Tetapi, yang jadi pertanyaanku adalah: Sejak kapan sih Jakarta menjadi kota yang terkenal karena kemacetan dan banjirnya? Sejak kapan Jakarta ini perlahan-lahan menjadi kota yang polusinya begitu pekat? Aku yakin, hal-hal seperti itu tidak berlangsung dalam sekejap.

Suatu kali, saat aku mengobrol dengan seorang temanku mengenai situasi Jakarta ini, dia mengatakan, “Eh, ada lo buku tentang sejarah Jakarta. Di situ ada dibahas tentang asal-usul nama suatu daerah di Jakarta, tentang keadaan Jakarta zaman dulu…”
Aku pun tertarik. “Apa judulnya? Buku impor ya?”
“Aku lupa judulnya. Tapi tulisan orang Indonesia, kok,” jawab temanku.

Akhirnya setiap kali ke toko buku atau pameran buku, aku mencari buku yang dimaksud temanku tadi. Hanya dengan menebak-nebak sih, karena aku tidak tahu apa judul bukunya. Dan … akhirnya aku pun menemukan buku tersebut. Judulnya Jakarta 1950-an: Kenangan Semasa Remaja karya Firman Lubis. Aku sangat menikmati buku tersebut. Buku itu ditulis dengan gaya bercerita, jadi–menurutku–tidak membosankan. Barangkali itu adalah buku bernuansa sejarah yang untuk pertama kalinya bisa aku nikmati.

Sesuai dengan judulnya, buku itu lebih banyak bercerita tentang kenangan masa remaja Pak Firman Lubis. Yang menarik, kenangan itu bukan sekadar cerita biasa, tetapi di dalamnya banyak terselip cerita tentang keadaan Jakarta di masa lalu. Jika membaca buku itu, tampaknya Jakarta merupakan kota yang cukup nyaman di masa lalu. Singkatnya, dari buku itu aku mengetahui banyak hal khususnya tentang Jakarta, dan Indonesia secara umum.

Sejak menemukan buku itu, tergelitiklah rasa ingin tahuku mengenai sejarah. Perlahan-lahan, aku mulai mencari buku-buku bernuansa sejarah yang menarik buatku. Tentunya, aku mencari buku yang cukup enak dibaca–bukan tulisan yang kering dan hanya berisi data semata. Maklum, ini hal baru buatku dan aku membacanya semata-mata sebagai hobi. Jadi, aku tidak memaksakan diri membaca buku sejarah yang cukup berat.

Saat ini, cerita-cerita mengenai “masa lalu” Jakarta masih menjadi salah satu tema yang aku nikmati. Dengan mengetahui hal itu, kebingunganku tentang kota yang besar ini seolah-olah mendapatkan jawaban secara tidak langsung. Selain tema tentang Jakarta, aku juga menikmati tulisan mengenai budaya Jawa, orang Tionghoa di Indonesia, Indonesia tempo doeloe, peradaban manusia. Namun, dalam hal sejarah aku masih “pendatang baru”. Jadi, jangan anggap aku pakar sejarah ya. Banyak hal yang aku nggak tahu kok…🙂

Jika melihat pengalamanku dengan pelajaran sejarah, aku pikir, jika anak-anak sekolah belajar sejarah dengan membaca buku yang enak dibaca dan dipaparkan secara naratif, mungkin mereka akan menjadikan sejarah sebagai pelajaran yang mengasyikkan. Bagaimanapun, dengan belajar sejarah, kita bisa belajar banyak. Setidaknya dengan belajar dari hal-hal di masa lalu (diharapkan) kita tidak mengulangi kekeliruan di masa lalu dan bisa membuat kemajuan yang berarti bagi bangsa ini.

Kini aku menanggap sejarah bukan sekadar onggokan hal-hal tak berarti dari masa lalu. Justru hal-hal di masa lalu itulah kerap kali menjadi batu pijakan atas apa yang terjadi pada masa sekarang. Dan jika kita melihat apa yang terjadi di masa lalu, kita akan menjadi lebih memahami keadaan masa sekarang.

Ngomong-ngomong, apakah kamu suka (buku) sejarah juga?

14 thoughts on “Sejarah

  1. jadi inget dulu neeh, kalo aku pelajaran yang menonjol Agama dan Orkes dapet 9 di rapot padahal di kelasku jarang dapet nilai segitu.

    sejarah juga sangat suka makanya blogku kawanlama95. kalo dah baca buku sejarah.paling seneng dah seperti masuk ke masalalu. dengan sejarah kita bisa meresapi bagaimana pembangunan masa lalu. kisah2 heroik dan yang terpenting mengambil pelajaran dari kisah2 masa lalu

    met pagi

  2. Kayaknya memang ada kesalahan konsep dalam pelajaran sejarah kita di sekolah dulu. Sejarah hanya diisi dengan tahun peperangan, peralihan tahta, silsilah keturunan. Capek dan puyeng. Padahal sejarah seharusnya bercerita tentang manusia, tentang budaya, mengapa suatu peristiwa terjadi, apa dampaknya terhadap masyarakat, dst.

    Aku suka sejarah, makanya kalau jalan-jalan aku suka mengunjungi museum, situs-situs sejarah. Rasanya amazing mengetahui kehidupan masa lalu yang ada kalanya begitu hebat …

  3. aku paling senang sejarah, pernah bercita2 jadi arkeolog,
    mkny skrg jalannya ke museum mulu he..he..he..

    gara2nya guru sejarahku di kelas 5 SD oke banget, membahas kerajaan singosari sambil diceritain kisahnya ken arok dan ken dedes

  4. Pelajaran sejarah kurang kusukai, tapi saya suka membaca buku tentang sejarah, juga novel atau buku sastra yang menggambarkan keadaan saat itu.
    Tapi sulungku benar-benar penggila sejarah, bahkan sejarah bangsa lain…memang menyenangkan menyibak dan mengetahui kehidupan kita dulu, nenek moyang kita…dan bersyukur kita bisa mencapai tahapan sekarang.

  5. Aku suka banget sejarah tapi seperti katamu, suka yang dikemas dalam cerita.

    Oleh karenanya aku sangat menyukai buku2nya PAT yang bernuansa sejarah… seakan dibawa terbang ke masa itu tanpa harus dipaksa mengingat-ingat tanggal tepatnya🙂

  6. Suka buku sejarah ?
    mmm … kurang begitu kris …

    BTW …
    Kalau Kris ingat …
    M Rafiq I Radio itu kan sarjana keguruan jurusan sejarah …
    Dia pernah bilang …
    bahwa sejarah itu bukan menghafal tanggal dan tahun … Sejarah adalah belajar untuk melihat sebab-sebab kenapa suatu kejadian itu terjadi …
    dari situlah mata saya terbuka Kris …

    Salam saya

  7. Aku dulu nggak terlalu suka pelajaran sejarah. males ngapalin nama orang, tempat, peristiwa dan tanggal…

    Tapi aku suka baca cerita yang ada unsur sejarahnya, seperti katamu..

    Aku cari buku itu belum nemu je.. yang aku pnya sekarang Djakarta 1960-an. Mau baca kok rasanya kurang afdol ya kalau belum baca yang “lebih dulu” yang tahun 1950 ini?

  8. kalo saya dari SMP senang dengan hal2 yang berbau sejarah, menyenangkan kok hehe..
    kalo ke jakarta say juga pengennya ke museum bukan ke mall2nya hihi.. pengen ke kota tua, coba donk mbak tulisin di blognya🙂
    salam..

  9. Aku sebenarnya nggak suka menghapal Kris, tapi aku suka sejarah karena dari kecil sudah kutu buku. Dulu ada komik Imam Bonjol, Sunan Kali Jaga, dll. Dari situ aku suka nyocokin tahun (hahaha bakat kritik sudah dibangun…) apa ada yang salah nggak dengan yang diterangkan guruku. Eh jadi lebih mudah hapal.
    Sempat ingin masuk jurusan bahasa supaya bisa masuk arkeologi atau sejarah tapi ditentang mamiku. Ternyata masuk IPA juga tetap saja minatnya nggak lari jauh-jauh…jadi arsitek juga lebih suka baca sejarah kota dan perkembangannya daripada ngebangun rumah hahaha…..

  10. Terima kasih loh kris, ini buku yang aku terima dari kamu kan…belum sempat baca.

    Aku suka sejarah wkt SMP karena bertemu seorang guru sejarah namanya Pak Dirjo (kalau tidak salah dia guru dr Tar3 malahan dipinjamkan ke kami) Dan cara dia menjelaskan dengan membuat bagan. Setelah kami mengerti semua, dia hapus sedikit demi sedikit, lalu menantang kita apakah bisa menuliskan kembali bagan yang terhapus. Dan…aku bisa! Sejak itu aku suka sejarah.

    Tapi wkt SMA, sama spt Retty masuk IPA. Eh akhirnya masuk Sastra Jepang, dengan spesialisasi Sejarah Tokugawa (1603–1867), terutama sejarah pendidikannya😉

    EM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s