Evolusi HP (Sampai Facebook)

(Haiyaaa … judulnya serius sekali ya? :p)

Kapan pertama kali kamu memiliki HP sendiri? Maksudku, HP yang kamu beli dengan uang hasil keringatmu sendiri, bukan HP pemberian, bukan pula HP colongan :p

Kalau tidak salah ingat, aku membeli HP pertama kali dengan uangku sendiri sekitar awal tahun 2000-an. Entah tahun 2001 atau 2002–aku tak ingat. Aku memilih merek S****ns–semata-mata karena kakakku memakai HP dengan merek tersebut. Saat itu HP masih barang mahal. Belum terlalu banyak orang yang memiliki HP. Tidak seperti sekarang; HP (dan kartu perdana) begitu murahnya, sehingga rasanya setiap orang mampu membeli HP.

Saat itu, rasa-rasanya aktivitas yang paling banyak dilakukan orang dengan HP-nya adalah mengirim SMS. Telepon masih mahal. Setidaknya, jika hendak menelepon, orang lebih memilih menelepon ke telepon rumah atau telepon kantor yang fixed dibandingkan menelepon ke HP seseorang. Wartel juga rasanya masih cukup banyak dan lumayan laku. Permainan di dalam HP pun juga tidak bervariatif seperti sekarang. Jadi, rasa-rasanya relasi orang dengan HP masih berjarak. Setidaknya, orang tidak terlalu sering menggenggam HP-nya. Saat itu HP dilirik saat ia berdering atau kita “kebelet” mengirim SMS atau hendak menelepon. Orang pun tidak terlalu sering memasukkan kata HP atau istilah yang berkaitan dengannya dalam pembicaraan sehari-hari dengan kawan atau kerabatnya.

Sepuluh tahun berlalu. Mari kita bandingkan. Saat di kendaraan umum, berapa banyak orang yang mengeluarkan HP-nya? Ada berapa banyak orang yang sibuk memencet-mencet tombol di HP-nya untuk: SMS, membuka Facebook, mendengarkan lagu/radio? Tadi, saat aku berjalan menyusuri tiga ruas gang di sekitar rumah, di setiap gang aku selalu menemukan orang sedang sibuk dengan HP-nya. Entah mereka sedang sendirian atau bergerombol. Sekilas kudengar, mereka bicara soal HP, status Facebook, pesan singkat yang diterima/dikirim.

Di mal-mal, tak jarang kulihat orang sedang duduk, membuka laptop, dan yak betul, Facebook-lah yang sedang mereka buka. Kalau mau iseng, coba hitung berapa kali dalam sehari kamu memakai kata Facebook saat bercakap-cakap dengan teman, pasangan, atau kerabat? Atau, jika bukan kata Facebook, berapa kali kamu memasukkan kata SMS/pesan pendek saat berbincang, berpikir, atau melamun?

Dua hari yang lalu, aku mengobrol dengan seorang teman. Dia bercerita bahwa akhir-akhir ini dia jarang membuat status Facebook. “Kenapa?” tanyaku. “Banyak hati yang harus dijaga. Beberapa waktu lalu, ada yang protes padaku karena tersinggung dengan status Facebook yang kubuat.” Apakah kamu juga pernah mengalami hal serupa? Atau kamu malah menjadi pihak yang tersinggung? Atau kamu diam-diam sebal dengan status Facebook temanmu? Karena statusnya yang lebay, terlalu puitis tak karuan, atau mungkin terganggu karena temanmu melemparkan kesebalannya ke ruang publik dengan cara yang kurang pas di FB? Kurasa kejadian semacam itu sudah wajar. Setidaknya sudah tiga orang temanku yang menceritakan hal semacam itu. Ada yang kesal karena setiap statusnya selalu dikomentari dengan pedas oleh temannya.

Aku sendiri sebenarnya juga sempat mengalami hal serupa. Ada yang protes karena aku (dan beberapa teman) memberikan komentar di postingan salah satu temanku. Katanya sih, komentarku kurang pantas. Hehehe, memang kadang jari ini bisa tak terkontrol saat di depan komputer. Aku minta maaf, dan kuhapus komentarku di sana. Dan … aku kini tak pernah “menyentuh” status temanku itu sama sekali. Hahahaha! Aku pernah juga merasa sebal dengan status FB temanku. Tapi sekarang aku tak terlalu peduli dengan hampir semua status FB teman-temanku. Hanya orang-orang tertentu saja yang sering aku baca statusnya dengan cukup cermat. Jika dulu aku sebal dengan status si X misalnya, sekarang aku lewatkan saja. Toh biasanya status-status itu tak berhubungan langsung denganku. Anggaplah aku bosan dengan statusnya yang maha lebay dan terkesan mencari perhatian, lalu aku berpikir, itu haknya mengungkapkan hal seperti itu. Setiap orang berhak berpikir, memiliki perasaan tertentu, dan mengungkapkannya bukan? Aku memang kurang suka, tetapi aku tidak berhak melarang mereka berkata ini dan itu. Bagiku, kalau tidak mau terganggu, ya tidak usah dibaca atau lewati saja. Beres, kan?

14 thoughts on “Evolusi HP (Sampai Facebook)

  1. status: merit
    dan itu tidak akan berubah hihihi

    aku mungkin termasuk orang yang jarang ganti status, sama juga jarang ganti pacar…(tapi kalau CelDal ganti terus loh ahahaha)

    evolusi/revolusi/reformasi komunikasi?

    EM

  2. Aku udah nggak pernah update status FB dari FB, Kris🙂

    Aku lebih senang update FB lewat Twitter🙂 Hayo, judulnya diganti… evolusi hp sampei twitter🙂

  3. kadang aku update status langsung di FB, kdang lewat twitter.

    kalau aku gak suka dengan status orang yang seringkali “lebay” aku menggunakan setting..supaya “news” dari teman ku itu tidak muncul di Wall ku…lebih mudah daripada melewatinya kan, Kris?

  4. Kalau lagi iseng saya justru suka melihat status teman-teman…malah lucu sekali, ada orang yang kayaknya rajin banget meng up date statusnya. Sah aja kan?

    Terus terang, saya paling hanya sekali lihat FB dalam sehari, cukup untuk monitor anak-anak….sedang komentar lainnya bisa dilihat dari email..

  5. gara-gara hp yang terintegrasi dengan fb, dua orang yang duduk bersebelahan bisa tidak saling sapa, sibuk dengan gadgetnya masing-masing… dengan kata lain: hp+fb mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat…😀

  6. Saya hanya ingin berkomentar tentang HP pertama Kris …

    And percaya atau tidak …
    HP pertama saya juga yang merek itu …
    bentuknya Gede kayak ganjel pintu … hehehe …

    Mengenai FB – atau jejaring sosial lain … plus Talipong Bimbit pipih lebar itu …
    No comment …

    Jujur saya suka sebal melihat orang uplek nyenuk … nunduk … asik nggratil … tak menghiraukan sekitar …
    koyo yak-yak-o …
    kaya nya kok sibuk-sibuk banget gitu …
    padahal … jiah paling cuma gitu gitu aja … nyetatus yang nggak penting-penting amat …
    (hehehe akhirnya nyrocos juga saya …)

    salam saya Kris

  7. wah, aku lupa hp pertamaku…kayaknya mereknya sama tuh (itu yang nyemplung di ember pel kayaknya). Yang aku inget banget dulu itu pakai pager, dan kalau lagi pager suami rasanya pengen banget nggak usah pakai perantara ….hehehe sekarang ada SMS tuh! Malah males SMS…hehehe…

    HP pertama yang aku inget itu punya orang, gede…dan harus dibawa kemana-mana bareng tempatnya (charger nya? entah ya, bukan punyaku sih..)

    Hehehe aku lagi lebay nih di FB, soalnya lagi males nulis dan lagi puyeng keleyengan (padahal FB di hp bikin mata tambah sakit ya…). Ajaibnya FB itu kan bisa memunculkan jaringan yang tidak terlihat. Ayo kenal Diadjeng Laraswati ya? Aku tahunya dari FB hehehe…

    Kalau HP sih sekarang tukang susu kacang aja lupa jualan gara-gara ngobrol di HP. Asistenku dulu masakannya rada hangus karena dia HPnya dua, kadang dua-duanya bunyi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s