Dari Eskalator Sampai Nasi Berkat

Teknologi apa yang pertama kali “membiusmu”–membuatmu berdecak kagum dan merasa dirimu hebat saat bersentuhan dengannya?

Kalau kupikir-pikir, teknologi yang membiusku pertama kali adalah eskalator atau boso Jowo-nya tangga berjalan. Seingatku, aku pertama kali melihat dan memakai eskalator ketika masih SD. Waktu itu aku biasa menghabiskan waktu ke Jogja saat libur sekolah tiba. Bisa seminggu lebih kuhabiskan waktu di sana. Biasanya bersama kakakku. Dan di sana, waktu itu omku–adik ibuku yang paling kecil–masih kuliah. Jadi, saat omku ada waktu, aku dan kakakku akan membonceng motor Honda Pitung (Pitung–singkatan dari pitung puluh atau tujuh puluh), dan kami akan keluar masuk toko-toko besar di Malioboro atau Jalan Solo.

Wah, aku serasa jadi anak kampung masuk kota! Aku terkesan melihat berbagai barang bagus yang dipajang di toko-toko itu. Dan aku terperangah ketika melihat eskalator! Wiiih, kereeen! Mungkin begitu kata anak sekarang. Kalau dulu sih, kayaknya belum ada istilah keren :p Coba pikir, dengan melompat ke salah satu anak tangganya, kita akan terbawa lantai yang dihubungkan dengan eskalator itu. Tak perlu bersusah payah untuk mendaki setiap anak tangganya, tak perlu terengah-engah dan kehabisan napas untuk sampai di lantai yang dituju.

Ketika pertama kali menjajal naik eskalator, aku sempat deg-degan. Yah, maklum wong ndeso… Berkali-kali aku diingatkan untuk berhati-hati supaya jangan sampai kakiku terjepit. Dan rasanya tegang juga ketika hendak melangkah ke anak tangga pertama yang membawaku ke lantai berikutnya. Bisa nggak ya? Bisa nggak ya? Ih, deg-degan looo! Bagaimana kalau aku jatuh? Bagaimana kalau aku salah melangkah? Belum lagi, bagaimana saat sampai di puncak tangga? Jangan sampai terlambat melompat! Aku membayangkan, kalau aku sampai telat melompat, aku akan gepeng karena masuk ke putaran eskalator yang masuk ke bawah. Hahaha! Sepertinya aku kebanyakan menonton film kartu ala Walt Disney … teringat Donald yang gepeng tetapi tidak mati ketika terlindas mobil.😀

Hi hi … konyol juga kalau mengenang saat itu. Aku yang tinggal di kota kecil, terbengong-bengong saat melihat teknologi di sebuah kota yang lebih besar dari kota kelahiranku–yang jaraknya hanya empat atau lima jam dengan naik bus. Jarak yang tak terlalu jauh, tetapi tetap saja ada perbedaan yang membuatku terperangah (setidaknya pada saat itu).

Barangkali kalau teknologi memang bisa membius; membuat kita kagum. Tetapi kadang ada saja perbedaan budaya atau kebiasaan antara kota kecil dan kota besar atau desa dengan kota besar yang membuat orang terheran-heran. Mungkin ini pula yang dirasakan Mbah Wir. Ya, sebut saja begitu namanya. Lagi pula aku tak tahu nama panjangnya. Nah, Mbah Wir ini sebagian besar hidupnya dihabiskan di sebuah desa di perbatasan Jogja dan Klaten. Suatu kali ia diminta oleh salah satu dari keluarga besarku yang di Jakarta untuk tinggal bersama mereka. Suasana kota besar rupanya membuatnya terheran-heran. Salah satunya orang kota yang menanami halaman dengan rumput. Ia berkomentar, “Rumput kok ditanam. Kalau di desa saya, rumput itu tak ada yang menanam. Bahkan dibabat untuk makan ternak.” He he he. Orang kota menanam rumput, orang desa mengambil rumput.

Seperti Mbah Wir, kebiasaan di tempat kelahiranku yang adem ayem di mana semua terasa dekat juga kadang membuatku terheran-heran saat aku berada di kota besar macam Jakarta ini. Hal terakhir yang membuatku heran adalah ketika akhir pekan kemarin aku jalan-jalan ke Kelapa Gading. Saat itu, karena lapar aku dan suamiku mampir ke food court. Sambil berjalan untuk mencari makanan yang kira-kira pas dinikmati di siang hari itu, aku melewati sebuah stan makanan. Di situ salah satu menunya adalah: Nasi Berkat. Rasanya geli aku melihat menu itu. Bayangkan, di tempat kelahiranku tak ada yang menjual nasi berkat. Nasi berkat itu “makanan gratis”, yang dibagikan ke tetangga saat keluarga kita punya hajat. Biasanya nasi berkat itu diberikan kepada orang-orang yang datang ke rumah untuk sembayang untuk memohon keselamatan (dalam bahasa Jawa, upacaranya disebut slametan). Tapi di Jakarta, nasi berkat kok dijual. Oalah ….  Lagi pula, kalau memang mau menjual nasi dengan menu yang mirip nasi berkat, apa tidak bisa cari nama lain ya? Kreatif sedikit, tentu bisa kan?

9 thoughts on “Dari Eskalator Sampai Nasi Berkat

  1. kalau aku dulu suka makan “Ayam Berkah” di blok M tuh… ntah mungkin nama keluarga yang buat namanya Berkah, dan memang selalu ngantri kalo beli… Ayam kampung…. masih ada ngga ya? Nanti mau napak tilas ah

    EM

  2. Lha? tangga berjalan khan bahasa Indonesia!
    Kalau boso jowo = tonggo berjolon😆

    Usul sama Oni, kalau ntar ada minat bikin restoran, bikin menu: Supermie Sembahyang Rebut :mrgreen:

  3. Tonggo Mlaku!

    Aku ingat juga gimana sensasi pertama naik eskalator hahahaha! Di Sri Ratu Peterongan Semarang🙂 — deg-degan juga dan tegang.

    Masalah nasi berkat yang dijual… ganti nama aja, jadi Nasi Kredit :O haha

    Ah a

  4. Hahaha, aku ingat pertama naik eskalator itu di Toko Ramai Jogja… kringetku nganti kotos-kotos kae hahaha…

    Soal nasi berkat, aku heran setiap makan nasi berkat selalu kenyang dan nikmat meski lauknya sederhana.. apa mungkin karena sudah diberkati ya? heheheh

  5. Kalau di kota, sudah jarang orang bikin nasi berkat. Yang kadang-kadang masih ada adalah bancakan, itupun waktu aku kecil dulu. Makin kesini makin jarang orang bikin bancakan. Bahkan bancakan selapanan, nyewu, dll, yang dulu biasanya berupa nasi dan lauk-pauk pun sekarang sudah sering diganti dengan roti …

  6. Itu namanya Branding Strategy …
    hahaha …

    yang dicari bukan rasanya …
    tetapi sensasi “besek” atau kotakan itu …
    serasa habis kondangan dan selametan …

    hahahahaha

    salam saya Kris

  7. Menik,
    ibuku pertama kali naik eskalator di hotel Borobudur terpeleset, dan saya yang dibelakangnya tak bisa memegang, malah ikutan jatuh….heboh deh, untung petugsa segera mematikan eskalator tsb…rasanya menyesal sekali, setelah itu mendingan naik lift….dan rupanya ibu juga trauma tempat sempit…duhh susah.

    Penasaran..apa isi nasi berkat itu?
    Kalau di kampung isi nasi berkat tergantung thema yang mengirim..selamatan patangpuluhan, selamatan anak baru lahir, selamatan untuk syukuran kan isinya berbeda.

    Jadi kangen apem..dulu kalau ada nasi berkat seneng banget dan dimakannya keroyokan..maklum cuma dapat satu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s