Susahnya Berbahasa Indonesia

Semalam aku mendengarkan radio. Saat itu ada perbincangan yang membahas UN (Ujian Nasional) anak SMA. Rupanya dari hasil UN kemarin, banyak anak yang nilai bahasa Indonesianya jeblok. Dan dari semua mata pelajaran yang diujikan, nilai bahasa Indonesia inilah yang rata-rata nilainya paling jelek. Bahkan di Yogyakarta, 5.000 lebih siswa harus mengulang UN untuk ujian bahasa Indonesia.

Kenapa bisa begitu? Dari pembicaraan dengan nara sumber, dikatakan bahwa salah satu alasannya adalah karena banyak murid dan mungkin juga guru menyepelekan bahasa Indonesia. Misalnya, kalau di suatu sekolah dibutuhkan guru matematika, maka akan dicari guru matematika yang paling bagus. Tetapi kalau yang dibutuhkan guru bahasa Indonesia, dicarinya asal yang bisa berbahasa Indonesia. Pemikirannya: Toh semua bisa berbahasa Indonesia kan? Benarkah? Yaaa, kalau dilihat dari hasil UN tadi, kelihatan kalau tidak semua siswa (dan mungkin juga gurunya) mahir berbahasa Indonesia.

Perbincangan di radio itu mengingatkanku pada beberapa peristiwa. Salah satunya berkaitan dengan pekerjaanku. Begini, suatu kali aku mendapat pekerjaan untuk mengedit naskah berbahasa Indonesia yang akan diterbitkan.

“Siapa penulisnya?” tanyaku kepada teman yang memberi pekerjaan.
“Penulisnya banyak bergerak di bidang pendidikan,” jawabnya.
Oke deh. Mestinya tulisannya sudah cukup enak dibaca dong. Tetapi rupanya perkiraanku keliru. Tulisannya masih kacau. Ada bagian yang tidak jelas mana subjek dan predikatnya. Beberapa ide melompat-lompat. Wah, kalau orang yang bergerak di bidang pendidikan saja tulisannya masih kacau, bagaimana dengan yang lain ya?

Peristiwa yang lain adalah ketika suamiku ditawari menerjemahkan naskah dari sebuah departemen pemerintahan. Kalau tidak salah, naskah itu mau dibuat buklet dua bahasa. Waktu mengerjakan terjemahan naskahnya, suamiku lama-lama jadi jengkel sendiri. Kenapa? “Bahasa Indonesianya kacau!” begitu katanya. Ada banyak kalimat yang tidak jelas apa maksudnya. Kalau seperti itu, penerjemahan ke bahasa Inggris jadi sulit. Wong naskah bahasa aslinya sudah kacau kok …. Padahal kalau bahasa Indonesianya sudah bagus, penerjemahan ke bahasa lain akan jauh lebih mudah.

Dulu, ketika aku baru awal-awal bekerja sebagai editor, aku juga baru sadar bahwa aku tidak mahir berbahasa Indonesia seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Ketika menghadapi naskah mentah, ada saja hal-hal yang membuatku sadar bahwa ternyata aku tidak pintar-pintar amat berbahasa Indonesia. Biasanya sih soal penggunaan tanda baca. Kadang aku juga tidak tahu mana kata yang baku dan mana yang tidak.

Dari perbincangan di radio semalam, aku mendapat informasi bahwa soal UN yang diujikan kepada anak SMA beberapa waktu lalu isinya banyak yang berupa teks bacaan. Mereka banyak diminta untuk menentukan mana ide utama dalam sebuah paragraf. Jadi, jika dibandingkan dengan soal ujian bahasa Indonesia beberapa tahun lalu (mungkin pas zaman aku sekolah dulu) memang jenis soalnya berbeda. Barangkali soal yang sekarang lebih menekankan keterampilan berbahasa ya? Bukan asal hapal tanda baca dan macam-macam arti imbuhan. Eh, ini perkiraanku saja lo. Soalnya aku juga tidak melihat dan membaca langsung soal UN tersebut.

Barangkali kalau kita mau jujur, kita cenderung lebih menganggap penting bahasa asing. Eh kita? Aku aja kaleee … hi hi hi. Padahal kalau kita tidak menguasai bahasa utama kita dengan baik (dalam hal ini bahasa Indonesia), belajar bahasa asing akan lebih sulit. Kalau dari pengalamanku aku melihat orang yang bisa berbahasa Indonesia dengan sangat baik, memiliki kemampuan bahasa asing yang baik pula.

Ngomong-ngomong, pernahkah punya pengalaman sulitnya berbahasa Indonesia?

11 thoughts on “Susahnya Berbahasa Indonesia

  1. hehehe sulit loh sebenarnya bahasa Indonesia itu.

    Bahkan dulu aku itu tahunya bahwa kata “anda” harus ditulis “Anda” dengan huruf kapital dari orang Jepang, dan setelah kucari memang benar. Jadi setelah itu aku pasti tulis Anda, dan aku suka gemas kalau baca tulisan di blog-blog karena menulis anda dengan huruf kecil. Satu-satunya blogger yang menulis benar yang kutahu hanya Daniel Mahendra. Ya jelas…. karena dia editor.🙂

    Sekarang aku bisa menulis dengan “slenge’an a.k.a. slang” di mana-mana, bahkan di TE aku tidak memperhatikan penulisan bahasa Indonesia yang baik. Karena dulu aku sering ditegur teman karena berbahasa “kaku”… hehehe. Di blog lama mana ada pemakaian kata “aku”, yang ada “saya”😀

    EM

    • Jangankan “saya”, pakai saja “hamba” hiahahaha.

      Anyway, nggak cuma bahasa Indonesia sih. Setiap negara, orang yang fasih berbahasanya sendiri, pasti mabok kalau dihadapkan dengan aturan baku masing2 xD

  2. Setuju sama Mas Dewa Bantal…
    hampir semua orang punya problem dengan aturan-aturan baku dalam bahasa masing-masing.
    aku juga punya kesulitan dalam mengerjakan soal ujian Bahasa Indonesia dulu waktu sekolah hehehe…

    Sekarang, aku malah lebih sering menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan para tetanggaku…🙂

  3. Aku mencintai Bahasa Indonesia.
    Sejak kanak-kanak, mungkin karena Eyangku adalah mantan editor Intan Pariwara, aku terbiasa untuk suka dengan Bahasa Indonesia.

    Tapi kalau ditanya “susah?” kujawab “Entah” karena siapa tau Bahasa Indonesiaku masih buruk🙂

  4. Saya suka bahasa Indonesia, tapi nilai bahasa Indonesiaku selalu pas-pas an, bikin guru SMA ku marah karena beliau adalah murid ayahku, yang guru dan dosen bahasa/sastra Indonesia. Apalagi beliau melihat nilai matematika, dan ilmu pasti lain bagus….

    Justru itulah yang menantangku saat mulai ngeblog, soalnya atasanku sellu mengkritik, bahasa ku baru “seperti bahasa Indonesia” Si sulungpun komentar mirip seperti itu, apalagi suami..makanya mereka heran..lho kok nulis blognya bisa terus ya…hahaha..padahal bahasa Indonesiaku payah.
    Ojo di nyek lho, Kris

  5. Di sini masih banyak diijumpai himbauan “Utamakan Bahasa Indonesia”

    Dan aku sangat mensyukuri bahasa persatuan ketika sampai di sini, yang nota bene masih banyak yang hanya bisa berbahasa daerah, hemmm baru terasa sekali manfaatnya!

    Bahasa pada dasarnya adalah sarana komunikasi dan mengungkapkan ide/gagasan, kalo kedua fungsi itu sudah bisa berjalan dengan baik, menurutku tidak terlalu masalah, tapi kalau “mengungkapkan ide/gagasan” tidak berfungsi dengan baik, tentu saja menjadi masalah.

    salam,

  6. Sebagai dosen, salah satu tugas saya adalah membimbing mahasiswa menulis skripsi/tesis. Di sinilah ketahuan, betapa memprihatinkan kemampuan berbahasa mahasiswa kita, bahkan yang sudah level S2. Saya, meskipun tidak sangat ahli, kadang-kadang juga diminta mengedit naskah, sehingga kepekaan berbahasa saya agak sedikit tajam (sedikiit aja loh …🙂 ). Saya selalu cerewet kalau memeriksa skripsi/tesis mahasiswa. Kadang-kadang, karena sudah diberi tahupun tetep nggak bener, saya yang membantu menuliskan …😦

    Nah, tapi kalau di blog, bahasa saya semau gue … hehehe …

  7. HHmmmm …
    Saya tidak tau apakah komentar saya ini nyambung atau tidak …

    Berkaitan dengan penulisan naskah dalam Bahasa Indonesia …
    Mungkin ini bukan masalah kemampuan berbahasa saja … tetapi juga …
    #1. kemampuan untuk berfikir secara terstruktur …
    #2. kemampuan untuk menuangkan ide tersebut kedalam bahasa tulisan … dengan …

    #3. menggunakan kalimat yang efektif …

    Mungkin masalahnya di situ …
    Sekali lagi ini mungkin lho …🙂
    Dan jelas … Ini bukan perkara yang mudah …

    Salam saya Kris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s