Jogja dan Acara Murah Meriah

Beberapa waktu lalu, aku ditanya: “Hal apa yang mengubah hidupmu?” Aku tak butuh waktu lama untuk menjawabnya, “Kuliah di Jogja dan tinggal di asrama.”

Ya, rasanya memang dua hal itu yang mengubah hidupku. Dua hal itu merupakan “peristiwa besar”. Memang aku tak pernah mencoba kuliah di kota lain, tetapi aku pernah mencicipi kira-kira satu bulan hidup di luar asrama–kost. Tapi menurutku rasanya tidak berlebihan jika Jogja dan asrama memberi dampak yang berbeda dalam perjalanan hidupku.

Begini, dulu ketika aku sudah pasti diterima kuliah di Sanata Dharma, Jogja, aku bisa memilih tinggal di rumah Mbah atau di asrama. Aku sendiri waktu itu sebenarnya lebih pengin tinggal di rumah Mbah. Rumah Mbah cukup enak, dan sejak kecil, di rumah itulah aku sering menghabiskan waktu liburan sekolah. Jadi, tidak terlalu asing. Tetapi waktu itu, Mbah Putri sudah sakit-sakitan (Mbah Kakung sudah meninggal). Kakakku sendiri waktu itu sudah hampir lulus kuliah. Tetapi, kakakku toh “ngotot” memintaku supaya aku tinggal di asrama. Dia bilang, rumah Mbah lebih jauh dari kampusku dan kalau aku tinggal di asrama, katanya aku akan punya teman banyak dari seluruh Indonesia serta punya kegiatan macam-macam. Kalau mau jujur, aku sama sekali tidak tertarik dengan alasan yang dikemukakan kakakku. Tapi orang tuaku sangat mendukung kakakku. Jadi, si bungsu ini akhirnya menurut saja (dengan setengah hati, tentunya …).

Soal kegiatan asrama, aku sudah pernah menuliskan di sini. Tetapi ada satu hal lagi yang ingin aku ceritakan. Begini, di asramaku dulu cukup sering ada informasi tentang hiburan murah meriah. Apa itu hiburan murah meriah? Itu lo, acara yang gratisan. Kalaupun harus bayar, sangat murah biayanya. Acaranya bisa berupa resital piano, resital gitar, pertunjukan film, teater, pameran lukisan, pameran fotografi. Kalau piano, biasanya pemain musiknya adalah orang asing dan yang dimainkan adalah musik klasik. Sedangkan untuk pertunjukan film, kadang acara itu terselenggara karena ada festival film asing (selain film-film Hollywood).

Awalnya, aku tidak terbiasa dengan pertunjukan atau acara semacam itu. Sebelum ke Jogja, kalau nonton film, yang kutonton ya sebatas film-film bioskop biasa. Dan aku sama sekali tidak kenal dengan resital piano, apalagi musik klasik. Teater juga hanya kukenal waktu SMP. Tapi itu pun sangat berbeda dengan pertunjukan teater yang kutonton di Jogja.

Tetapi, namanya juga mahasiswa yang uang sakunya terbatas, kalau ada acara murah meriah semacam itu, maka itu jadi pilihan kami untuk menghabiskan malam minggu. Acara-acara itu sebagian diadakan di LIP (Lembaga Indonesia Perancis) atau di UGM yang tidak jauh dari asramaku. Biasanya kami akan berangkat dan pulang bersama-sama. Jadi, biarpun acaranya selesai malam, aku tidak takut pulang karena kan bareng-bareng. Dan untuk mengirit, kami akan jalan kaki. He he …

Bagiku, pengalaman itu memberi pengaruh sampai sekarang. Kadang aku masih merindukan saat-saat semacam itu. Jadi, sekarang kalau di Jakarta ada acara semacam itu yang cukup terjangkau tempatnya dari tempat tinggalku, aku biasanya akan menyempatkan waktu untuk menonton. Nah, saat ini di Jakarta ada festival film Perancis. Aku sudah menonton dua filmnya, Le Concert dan Les Enfants de Timpelbach. Bagiku, menyaksikan film festival, yang biasanya temanya berbeda dari film-film yang ada di pasaran, memperkaya hati dan pikiran. Menyenangkan dan tidak mengecewakan.

Kadang-kadang aku berpikir, kenapa ya kok sepertinya tidak terlalu banyak peminat acara-acara seperti itu? Misalnya, dibandingkan film-film Hollywood yang sedang boom seperti Harry Potter atau bahkan film 2012 (yang katanya nggak bagus-bagus amat), masyarakat sepertinya lebih menyerbu film-film itu. Dari pengalamanku, menonton film dari negara lain (selain Amerika), rasanya ada semacam percikan yang berbeda yang ditimbulkan ke dalam hati. Duh, belibet deh ngomongnya. Ibarat makanan, kita tidak hanya mencicipi menu masakan yang umum, tetapi lidah kita juga terlatih menikmati masakan yang lain dari yang lain. Dan “masakan” itu enak kok. Dengan begitu, selera kita pun jadi diperluas.

Ngomong-ngomong pernahkah menyaksikan acara murah meriah semacam itu? Atau barangkali nonton festival film Perancis juga?

11 thoughts on “Jogja dan Acara Murah Meriah

  1. Pernah doooonnnnkkk… Waktu masih SD, nonton layar tancap di lapangan deket rumah. Nontonnya dari atap rumah. Romantis to? Hahahaha ….

  2. Terutama film India, 3 Idiots… diwajibkan nonton deh🙂 Film ringan yang memiliki beribu makna dan hikmat tetapi tetap apik dan konyol.

    Kalau film Prancis, yang aku tonton cuman Taxi heahahaha. 1 2 3.

    Kalau untuk festival, aku sih nggak begitu antusias dengan acara2 nya kecuali untuk berjalan2 saja sama temen.

  3. LIP mengingatkanku pada saat aku kerja untuk GudegNet. Bisa dibilang, LIP salah satu pelopor penyedia hiburan cerdas dan murah…

    Kangen LIP! Kangen angkringan ngarepe LIP🙂

  4. Hmm kalau mengikuti keinginan, mungkin tiap hati saya bisa nonton musik, resital piano dan acara seni lainnya…di awal perkawinan karena belum ada buntut saya sering datang bersama suami.
    Sekarang buntutnya udah terbang dua2nya, tapi ada faktor “U”…hehehe

    DiJakarta, masalah macet dijalan mempengaruhi semuanya. Jadi, pada akhirnya orang Jakarta akan memilih apa yang menjadi prioritasnya

  5. Ada 3 hal Kris …
    #1
    Menyaksikan acara murah meriah ?
    dulu sering Kris …
    Bahkan bukan menyaksikan … tetapi menjadi penyelenggaranya … (maklum dulu saya kerja di salah satu sanggar musik Vokal di Jakarta)

    #2 Film non US
    Iya ya Kris … sepertinya jika kita menonton film yang tidak diproduksi di US (atau India) rasanya ada sentuhan yang berbeda … (saya beberapa kali lihat di Metro TV)

    #3. Mengenai Festifal Film Perancis ?
    Saya belum pernah melihatnya

    Salam saya Kris

  6. wah LIP!!!! uenakeee…. murah (baca kadang gratisan) acaranya bagus-bagus…

    disini skr susah mo cari film non holywood, lha yg holywood aja harus k makassar dulu…

  7. hahaha…. memang hidup di asrama itu menyenangkan dan memperluas wawasan ya… kebayang nggak kalau dulu “hanya kos”?

    pentas teater di Marga Siswa juga pasti banyak peminat ya? walah, jadi kangen masa-masa itu lagi…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s