Macet Itu … Indah Ya!

Ketika pertama kali datang ke Jakarta, salah satu hal yang harus kuterima dan aku harus beradaptasi dengannya adalah kemacetan lalu lintas. Maklum, wong ndeso … jadi kemacetan termasuk barang baru bagiku. Di tempat tinggalku dulu, kemacetan lalu lintas bukan merupakan menu wajib yang mau tak mau harus kusantap jika berkendaraan di jalan. Yaaa, memang kadang-kadang aku menemui kemacetan sih, tetapi nggak tiap hari lah. Lagi pula, kadarnya tidak “akut” seperti di Jakarta ini.

Kalau di Jogja belum tentu sebulan sekali aku menemui kemacetan. Di sana, kemacetan biasanya terjadi di sekitar Jalan Malioboro. Biasanya itu terjadi saat akhir pekan atau long weekend karena Jogja kebanjiran turis dari kota lain. Karena sudah tahu begitu, biasanya aku tidak akan ke Malioboro di saat-saat seperti itu. Mendingan tidur atau leha-leha di rumah. Selain itu, kemacetan juga terjadi saat menjelang buka puasa. Salah satu titik kemacetan akut terjadi di Bundaran UGM. Nah, kalau sedang bulan puasa, biasanya aku memilih pulang tepat waktu atau justru berlama-lama di kantor sampai jam buka puasa.

Dulu ketika ada teman dari Jakarta datang dan bercerita soal kemacetan lalu lintas, aku tidak terlalu paham mengapa kemacetan lalu lintas bisa menjadi penghambat yang signifikan dan menjadi alasan keterlambatan yang mudah diterima. Nah, ketika sudah tinggal di Jakarta, barulah aku tahu betapa tersiksanya berada dalam kemacetan. Apalagi kalau sedang naik kendaraan umum yang berjubel dan tidak ber-AC. Panas, capek, kesel, semuanya bercampur jadi satu. Masih mending kalau dapat tebengan kendaraan pribadi yang joknya empuk, ber-AC, dan ada musik lembut yang mengalun dari tape. Syukur-syukur jika masih ada camilan yang bisa dimakan. Paling-paling yang cenut-cenut kepalanya adalah si pemilik mobil karena bensinnya bakal lebih boros :p (Inilah penebeng yang kurang ajar hehehe.) Dan satu lagi hal yang agak kurang menyenangkan jika terjebak dalam kemacetan, yaitu kebelet pipis. Huaaa … itu siksaan bener deh!

Tetapi seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang sudah lama di Jakarta seperti para om dan tanteku, jika menghadapi kemacetan, jurusnya adalah: nikmati saja! Memang nasihat itu bikin gatel di kuping, apalagi kalau terjebak dalam kemacetan yang parah. Tapi rasanya tidak ada cara lain yang bisa dilakukan selain menikmatinya. Mumpung masih di Jakarta, kalau di kota lain kan belum tentu sebulan sekali mengalami macet. Iya to? (Siap-siap dilempar sandal.) Dan karena kemacetan sudah menjadi menu wajib sehari-hari, maka tidak heran jika di Jakarta ada beberapa radio yang menyiarkan laporan kondisi lalu lintas.

Beberapa waktu lalu, aku dan beberapa teman bertemu dengan Om Ibel. Dia menginap di sebuah hotel di daerah Sudirman. Karena di lobi tidak ada tempat duduk yang cukup menampung kami, akhirnya kami mengobrol di kamar Om Ibel. Lumayan, selain bisa ngadem karena AC-nya cukup dingin (dan akhirnya lama-lama aku kedinginan juga), kami juga bisa ikut mencicipi sajian buah-buahan di situ๐Ÿ™‚ Beginilah kalau wong ndeso kesasar ke hotel berkelas, bener-bener kelihatan ndeso-nya. Nah, saat itu kami mengunjungi Om Ibel petang hari kira-kira saat orang-orang pulang kantor. Hari sudah mulai gelap dan dari jendela kamarnya yang terletak di lantai 8, kami bisa melihat jalan raya yang dipadati kendaraan. Saat sedang asyik memandang keluar, Om Ibel menyeletuk, “Kemacetan itu indah ya … kalau dilihat dari atas begini.” Kami tertawa menanggapinya. Dan dilihat dari atas, kemacetan itu memang indah; lampu-lampu kendaraan itu seperti kunang-kunang yang memenuhi jalanan. (Aku jadi ingat kata-kata siapaaa gitu, yang mengatakan bahwa Jakarta itu indah karena banyak lampu.) Apalagi waktu itu kami menikmati kemacetan dari dalam kamar hotel yang dingin dan nyaman, wah … jadi kelihatan semakin indah. Tapi sebenarnya kalau disuruh memilih, aku lebih memilih menikmati bintang yang bertaburan di langit malam yang kelam dibandingkan menikmati lampu-lampu kendaraan yang terjebak dalam kemacetan dari atas sebuah gedung bertingkat dan di ruangan yang nyaman. Bagaimanapun kemacetan itu … melelahkan!

19 thoughts on “Macet Itu … Indah Ya!

  1. memang harus menikmati kemacetan,
    atau mungkin lebih tepat memanfaatkan kemacetan. Tahu apa yang dilakukan bapakku dalam mobil yang terjebak macet?

    Doa Rosario…. dan kadang bisa sampai 2-3 putaran lengkap….

    (Dan waktu itu dia belum katolik)
    (Tapi aku sendiri belum pernah mencobanya)

    EM

    • wah ide yg menarik mbak… kayaknya aku pengen nyoba meditasi juga pas di kendaraan umum. setidaknya bisa menenangkan diri ya๐Ÿ™‚ hehehe


  2. Lihat macet bikin aku mikir mbak..
    Berapa bnyk bensin yg terbuang..
    Berapa banyak polusi yg tercipta akibat asap knalpot..
    Berapa bnyk orang jadi sakit akibat menghirup udara kotor..
    Aih..!
    Capek…
    He..he..๐Ÿ˜€
    ..

  3. Kalo diboncengin sih mo ngapain waktu macet ada banyak pilihan. Kalo yang nyupir itu… jadi senewen hahaha… kata si penumpang tak tahu malu.

    Kalo aku gak nyupir mobil, kalo macet parah mah denger musik pake headphones terus tidur. Ato nonton film dari laptop๐Ÿ˜€

  4. itulah salah satu alasan mengapa saya lebih memilih jogja ketimbang jakarta, kris… sebetulnya, sebelum dapat beasiswa ke jogja, aku lebih dulu mendapatkan untuk ke jakarta. tapi syukurnya, sebelum yang ke jakarta ku ambil, tawaran dari jogja datang. akhirnya, sekarang aku benar-benar “macet” di jogja, gak bisa (gak mau) keluar lagi, hehehe…๐Ÿ˜€

    kata temanku: bila sedang mendapat kemacetan, nikmati saja, jangan mengeluh. apakah dengan mengeluh macetnya bakal berkurang…? hehehe…๐Ÿ˜€

  5. Dulu waktu masih di Jakarta, karena rute yg dilewati itu-itu aja tiap hari jadi hafal “jam macet”-nya. Jadi berangkatnya sebelum waktu macet deh..
    Pernah beberapa kali terjebak macet di kendaraan umum, bawaannya capek dan ngantuk, tp nggak berani tidur juga..lebih takut kalau ada rampok hehehe…
    Nikmatin aja deh seperti katamu, biar nggak tambah capek hehehe..๐Ÿ™‚

    • untung aku aktivitasnya lebih banyak di rumah.jd kalau keluar rumah menghindari jam macet jg sih… kadang aku lebih memilih naik kereta drpd naik bus utk menghindari macet

  6. Hahaha…Kris, engkau sudah mulai menikmati Jakarta dengan kemacetannya…banjirnya belum ya…
    Jakarta itu indah karena banyak lampu…kayaknya saya deh….soalnya suka kangen Jakarta jika lebih dari seminggu tugas ke luar kota. Bandungpun lampunya tak seindah Jakarta.
    Dan kalau lewat Kuningan (Rasuna Said) lihatlah gedung kiri kanannya yang unik2 itu.

    Sekarang kalau mau pulang, saya mesti ke toilet dulu, ke Mal pun mau pulang ke toilet dulu..soalnya kalau macet yang nggak tahan ya kebeletnya itu…hahaha

    Dan tiap pagi, jika mesti ke luar rumah, acara rutinku mendengarkan radio Sonora, karena mengabarkan akan ada demo dimana dan jam berapa….hehehe..supaya kita tak terjebak macet.

  7. Bulan Oktober 2008, sebulan penuh aku tinggal di Jakarta sebelum hijrah ke Sydney.
    Dan, sebulan kuwi wes more than enough untuk merasakan perjalanan yang penuh dengan kemacetan!

    Jogja ki saiki yo wes macet lho.
    Ndak usah malam minggu, malam2 biasapun di sekitar Amplas kae wah ra kalap macete..๐Ÿ™‚

  8. Macet ?
    mmm … saya sudah sampai pada suatu situasi bahwa … saya harus menikmatinya …

    jika tidak …
    yang rugi kita sendiri …
    karena bagaimanapun … saya berkontribusi terhadap kemacetan itu …

    So …
    Kalo macet ?
    Ya … nyanyi aja …
    Sambil dengerin I radio tentu …

    hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s