Take Something/Someone For Granted

Aku sebenarnya agak kerepotan untuk menerjemahkan istilah take something/someone for granted itu ke dalam bahasa Indonesia. Kalau minjem arti kata dari lelaki panjang alias Longman, penjelasannya begini: to expect that someone will always be there when you need them and never show them any special attention or thank them. Boso Jowo-nya: mengharapkan si X selalu ada pas kamu butuh dia, tapi kamu nggak pernah memberi perhatian istimewa kepadanya atau berterima kasih/bersyukur kepadanya. Intinya sih, dia mesti ada, tapi kita menganggap dia itu biasa-biasa saja. Weleh, kok kedengarannya agak kurang ajar begini ya? Hihihi.

Kalau kupikir-pikir, banyak hal yang ku-take for granted-in. Hal-hal itu keberadaannya kuanggap biasa-biasa saja. Kuanggap wajar. Kuanggap sudah semestinya begitu. Jadi, boro-boro bersyukur atau berterima kasih, dia ada saja kadang aku nggak sadar kok. Biasanya hal-hal itu baru terasa makna dan pentingnya pas kita kehilangan mereka. Manyun, deh!

Satu hal yang aku take it for granted adalah Gunung Merapi. Dulu, di awal-awal aku di Jogja, gunung yang gagah itu memang kuanggap “wah!”; aku takjub melihatnya. Perasaan takjub itu kurasakan sungguh ketika aku berangkat kuliah pagi-pagi, dan saat turun dari bus kota, aku “disapa” oleh gunung itu. Waktu itu, langit tampak bersih. Tak ada awan. Udara masih sejuk, dan agak dingin. Kendaraan di sekitar jalan Gejayan (sekarang jalan Efendi), memang sudah mulai banyak. Tapi toh aku masih merasakan syahdunya pagi itu. Dan, di situ, kulihat Merapi begitu gagah, kuat, bagaikan cowok cakep berbadan atletis. (Haiyah, sopo kuwi?) Saat itu, aku seperti jatuh cinta pada pandangan pertama pada Mas Merapi itu. (Uhuy!) Beberapa kali Merapi tampak indah seperti itu, tapi kadang samar-samar karena tertutup awan. Seiring berjalannya waktu, aku akhirnya melihat Merapi itu biasa saja. Ya sudah semestinya begitu–dia selalu nongkrong di sisi utara. (Jadi, Merapi itu penanda arah utara termudah di Jogja.) Setiap kali pergi ke utara, terutama jika lewat jalan Kaliurang atau Jalan Gejayan (dua jalan itu yang paling sering aku lewati), aku melihatnya. Dan yah, dia begitu-begitu saja. Tidak berubah.

Merapi dilihat dari depan rumah

Merapi semakin kuanggap biasa keberadaannya saat aku tinggal di Krapyak, Wedomartani. Rumahku menghadap ke utara. Jadi, jika aku berjalan beberapa langkah dari halaman rumah, aku melihat Merapi. Jika aku akan berangkat kerja atau pergi di pagi atau siang hari, kulihat Merapi. Jika aku pulang sebelum hari gelap, dia juga masih tampak. Sejak aku kuliah dan bekerja di Jogja, maka kira-kira sebelas tahunan aku akrab dengan pemandangan Merapi itu. Ya, ya … aku masih menganggap Merapi itu gagah dan ganteng (halah, lebaaaay!). Tapi ya sudah. Memang dia seperti itu. Well, singkat kata, lama-lama aku tidak mensyukuri keberadaannya.

Dan masa itu pun tiba. Masa-masa ketika aku harus mengemasi sebagian barangku yang kuanggap penting. Masa di mana berbagai macam perasaan muncul dan beradu begitu rupa–antara senang, sedih, bahagia, cemas, dan entah apa lagi. Ya, itu adalah masa ketika aku akan menikah, mengikuti suami, dan bersiap meninggalkan Jogja. Rasanya setiap detik begitu berarti. Seperti sepasang kekasih yang berdiri di depan kereta yang akan membawa pergi salah satu dari mereka. “Kemesraan ini, janganlah cepat berlaluuuu…” begitu mungkin lagu yang pas untuk menggambarkannya. (Hiks … hiks kok jadi inget siapaaaa gitu, ya?) Saat itu aku merasa aku begitu mencintai setiap jengkal kota itu. Saat itu aku baru sadar bahwa saatnya akan tiba ketika aku tak bisa memandang Si Gagah itu setiap pagi. Rasanya seperti ingin berdiri lama memandanginya dan merekam setiap lekuknya; dengan bau segar rerumputan dan padi memenuhi hidung. Tapi biar selama apa pun aku berdiri melihatnya, senja akan turun dan hari menjadi gelap. Merapi tak tampak lagi. Dan aku pun harus pergi. (Ya, waktu itu aku meninggalkan Jogja untuk berangkat ke Jakarta pada malam hari, jadi aku tak melihat Merapi pada detik-detik sebelum aku pergi.)

Eh, tapi kenapa sih aku menulis soal Merapi dan take it for granted? Karena beberapa hari kemarin aku bertemu dengan teman lamaku, Om Ibel. Dulu kami seruangan. Tempat duduknya berseberangan denganku. Menurutku dia teman yang enak diajak ngobrol. Kadang dia lucu, kadang tegas, kadang njelehi, kadang keluar bijaknya, kadang nyebelin juga. Tapi dia kawan yang baik. Meskipun dia sudah meninggalkan Jogja dan kini bekerja di kampung halamannya di Sorowako sana, dia masih selalu ingat kami. Setidaknya dia berusaha mengontak dan mengajak kami bertemu jika dia sedang ke Jawa–ke Jogja atau kali ini ke Jakarta. (Eh, Jakarta itu termasuk Jawa apa bukan ya? :p)

Danau Matano di dekat rumah Om IbelKetika kami bertemu, dia memperlihatkan beberapa foto: anaknya, istrinya, rumahnya, mobilnya, mertuanya, kegiatannya, para keponakannya, dan danau dekat rumahnya. “Eh, rumahmu itu deket danau ya Om? Asyik dong!” spontan aku berkata begitu. Aku langsung membayangkan asyiknya duduk di tepi danau setiap sore. Sepertinya menyenangkan ya?
“Iya,” jawabnya.
“Berapa kilo jarak dari rumahmu ke danau, Om?”
“Kilo? Wong cuma beberapa meter kok.”
“Wiiih… asyik banget tuh Om!”
“Iya, awalnya begitu. Tapi lama-lama biasa saja.”

Tepat seperti itulah yang kurasakan dengan Mas Merapi dulu. Awalnya senang, takjub, gembira melihatnya, tapi lama-lama biasa aja tuh! Dan kini Om Ibel mengatakan hal yang serupa mengenai danau di dekat rumahnya. (Duh Om … suer, aku iri denganmu. Punya rumah di dekat danau gitu loooh! Apalagi pemandangan kiri kanannya masih hijau dan menyegarkan.)

Ya, memang manusia punya kecenderungan untuk menganggap semua hal yang di sekelilingnya biasa saja. Wajar. Menganggap sudah begitu adanya. Take it/them for granted. Tapi pengalamanku dengan Merapi mengingatkan bahwa akan tiba saatnya nanti, hal-hal itu atau orang-orang itu akan terasa begitu istimewa. Dan sayangnya, keistimewaan itu muncul ketika kita atau mereka tiada atau akan beranjak pergi. Lalu aku jadi berandai-andai, kok dulu tidak sungguh-sungguh menikmatinya, ya? Kok dulu tidak menyempatkan begini atau begitu, ya? Kok baru sekarang sadarnya, ya? Nah, saat itu kadang aku jadi kumat melankolisnya. Kupikir, senantiasa mensyukuri atau merasakan keistimewaan hal-hal/orang-orang itu adalah cara yang tepat untuk mengurangi pengandaian yang membuatku melankolis itu.

*Foto pertama diambil oleh Oni Suryaman. Foto kedua adalah Danau Matano di dekat rumah Om Ibel, foto itu hasil bidikan temannya. (Makasih Om atas kiriman fotonya :D)

7 thoughts on “Take Something/Someone For Granted

  1. LOL Don… bertambah lagi koleksi di kamus bahasa inggrismu.

    Kris, kalo disini Salju. Aku ingat pertama kali melihat salju November 2005, takjub…. sumpah cengir-cengir sendiri di depan jendela.

    Sekarang? “J****K! Salju meneh!” hahahaha.

    Tapi Danau vs Merapi… menang danau dong. Danau bisa dilihat dan bisa dipegang. Merapi dilihat doang sambil ketutupan awan😀

  2. Jadi teringat, setiap kali liburan habis dan harus kembali kuliah di Bogor saya muterin rumah berkali-kali dan hati terasa berat meninggalkan rumah.

    Jadi..mungkin kita memang harus lebih menikmati pemandangan sehari-hari yang kita temui ya Kris?

  3. Pingback: Tumpul | My Writings

  4. Pingback: Kota Kecil Yang Indah Itu Bernama Sorowako | rindutanahbasah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s