Silakan Merokok, Tapi Jangan Minta Sokongan Duit Negara

Kemarin sore, waktu mendengarkan I-Radio, dikabarkan bahwa Pemprov DKI tidak akan memberikan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Keluarga Miskin (JPK-Gakin) maupun Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) kepada pemegang kartu yang merupakan perokok berat. Tadi pagi, hal serupa diberitakan oleh KBR 68 H. Kenapa bisa begitu? Alasannya adalah 70% perokok (berat) berasal dari kalangan kelas bawah, alias orang miskinlah yang selama ini paling banyak mengonsumsi rokok. Jadi kalau ada perusahaan rokok yang bisa menjadi besar dan kelihatan “wah”, orang-orang yang bekerja di sana sebaiknya berterima kasih kepada orang-orang miskin yang menjadi pelanggan tetap produk mereka. (Du … du … du …. siapa ya? :D) Bahkan bagi mereka, rokok sudah jadi kebutuhan nomor dua–kalau tidak salah setelah kebutuhan untuk membeli makan. Logikanya begini, kenapa pemerintah mesti peduli dengan kesehatan mereka jika mereka sendiri tidak peduli dengan kesehatan diri mereka sendiri? Dengan kata lain, ini kan tindakan meracuni diri sendiri yang disengaja. Lagipula, uang untuk subsidi kesehatan mereka itu kan uang negara. Uang kita-kita juga. Bukan uang yang mak pluk… turun dari langit. Ya, kurang lebih begitulah yang aku dengar dari radio dari kemarin dan pagi tadi.

Aku tak tahu bagaimana pelaksanaannya di lapangan nantinya. Dan bagaimana caranya mengecek apakah si X perokok atau bukan? Aku sendiri kadang kecele ketika melihat seseorang yang dari tampangnya tidak kelihatan perokok, tapi ternyata dia merokok juga. Mungkin tidak sering sih–sesekali saja. Tapi kan tetep saja dia perokok.

Aku memang tidak suka dengan perokok. Tapi lebih jauh lagi kupikir, merokok atau tidak itu pilihan. (Termasuk memilih pasangan yang merokok atau tidak :p) Kalau mau merokok ya silakan saja, asal tidak mengganggu orang lain. Minimal tidak merokok di ruangan publik sehingga mengganggu orang-orang di sekitarnya yang berhak mendapatkan udara bersih. Dan kalau kemudian pemerintah mengeluarkan seperti yang diberitakan oleh radio tadi, itu kudukung banget deh!

Tak lama setelah aku mendengarkan radio tadi pagi, majalah Newsweek langganan kami datang. Dan ndilalah, ada sebuah artikel yang pas cocok dengan kebijakan pemerintah tadi. Judulnya: Crimes of The Heart, ditulis oleh Walter C Willet dan Anne Underwood. Apa isi artikel itu? Ini adalah feature tentang kota Albert Lea, Minnesota, Amerika. Jadi ceritanya, penduduk kota itu tahun kemarin tidak lebih sehat daripada penduduk Amerika lainnya. Tapi kemudian kota itu menjadi kota Amerika pertama yang menandatangani AARP/Blue Zones Vitality Project. Itu adalah proyek untuk menjadikan kotanya memiliki kebiasaan yang sehat. Gagasan ini dilontarkan oleh Dan Buettner, yang menulis buku The Blue Zones. Di buku itu dia mengemukakan kebiasaan-kebiasaan yang sehat. Tujuannya? Supaya orang-orang Amerika mengadopsinya. Caranya bagiamana? Bukan dengan memaksa orang untuk berdiet atau berolah raga. Lha terus? Tapi dengan mengubah lingkungan mereka sehingga mendukung gaya hidup yang sehat.

Perubahan apa saja yang sudah dilakukan kota itu? Kota itu membangun jalan yang menghubungkan kompleks perumahan penduduk dengan sekolah dan pusat perbelanjaan. Lalu juga dibuat jalan untuk rekreasi di sekeliling danau dan akan dibuat taman yang bisa dinikmati oleh masyarakat. Restoran-restoran mengganti menu mereka dengan menu yang sehat. Sekolah mengeluarkan larangan bagi murid-muridnya untuk makan di koridor–jadi, anak-anak tidak jajan. Lebih dari 2.600 orang dari 18.000 penduduk menjadi sukarelawan untuk menyeleksi apa saja yang menyehatkan jantung. Piring-piring superbesar yang memungkinkan orang mengonsumsi makanan dalam jumlah besar dieliminasi. Lalu mereka membentuk “walking schoolbuses” untuk mendampingi anak-anak berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. (Kalau naik sepeda sebenarnya asyik juga ya.)

Hasilnya? Dalam 6 bulan, orang-orang yang berpartisipasi dalam kegiatan itu berat badannya turun rata-rata 1,14 kg dan meningkatkan harapan hidup mereka 3,1 tahun. Hal ini bisa terjadi berkat pengaruh jaringan sosial (social network). Sebenarnya diet dan olahraga rutin itu gagal “melakukan tugasnya”–untuk membuat kita jadi lebih sehat–bukan karena kurangnya semangat, tetapi karena lingkungan sekitar tidak mendukung gaya hidup sehat. Sebenarnya kalau lingkungan kita mendukungnya dan semua–atau hampir semua–orang bergaya hidup sehat, sepertinya kita akan jadi terpengaruh untuk menjalankan gaya hidup sehat kan? Misalnya, kalau semua orang di rumah rajin berolahraga, kurasa aku juga akan ikut rajin olahraga juga hehehe. (Ketahuan kalau males olahraga :p).

Dalam gaya hidup sehat, tentu tak ada ruang bagi rokok. Kurasa sih, bukan soal orang (miskin) itu nggak mau berhenti merokok, tetapi karena lingkungan di sekitarnya sangat memungkinkan dia merokok dengan bebas. Harga rokok masih terjangkau. Larangan merokok di area publik tidak ditegakkan. Bahkan pernah aku melihat seorang polisi asyik merokok di dekat tanda dilarang merokok.

Tapi kupikir barangkali ada satu poin yang bisa dikemukakan: gaya hidup sehat itu pilihan. Orang bisa memilih untuk merokok atau tidak. Dan pemerintah memiliki “kuasa” yang sangat cukup untuk mendukung terbentuknya gaya hidup sehat itu. Mungkin ada yang dikorbankan, dan yang penting: mau atau tidak?

8 thoughts on “Silakan Merokok, Tapi Jangan Minta Sokongan Duit Negara

  1. harga rokok 1 pak di sini hampir 3 kali lipat minuman kaleng… jadi sebetulnya bener-bener bakar duit.
    bahkan ada desas desus juga di sini satu pak akan menjadi 1000 yen! duhhhhh aku bilang sama Gen, kalau dia masih merokok juga dengan harga segitu, ya kita bisa makan cuma 3 kali seminggu😦

    EM

  2. Sama seperti kata Imel, di Aussie harga rokok juga sangat tinggi!
    Kupikir itu terapi yang bagus untuk membuat orang semakin mikir buat merokok. Dan entah kalau di Indonesia, sekarang kotak rokok disini ‘dihiasi’ gambar2 mengerikan tentang sakit yang bisa didapat dari rokok.

    Untung aku dah berenti merokok🙂

  3. Laporan, rokok di kota-kota besar di US juga naik 2x lipat. Dulu rata rata 4-5 $ per pack, sekarang di NYC, California, Vegas, etc, sampai 10$

    Aku kadang masih merokok sih, tapi cuma kalau ditawarin temen hahaha. Ga pernah beli lagi.

    Bagus kalau di Indonesia perokoknya bisa diturunkan, soalnya banyak sekali yang ga tau aturan. Walau aku dulu juga ngerokok, tapi ngerokok di angkot ? Sempit begitu? Grr…

  4. @ Donny…Don, jadi ingat , anakku bilang kalau mau kaya, bawa rokok dari Indonesia untuk dijual di Aussie…asal nggak ketahuan oleh imigrasi…kan Sidney suka sadis dalam arti bongkar membongkar koper penumpang, saya pernah melihat cewek yang mau menangis, karena bahan makanan diminta dibuang semua.

    Kris, aku setuju orang merokok tak perlu didukung…pas acara Lisa dan DM, hal yang paling saya sebalkan adalah banyaknya asap rokok, sehingga setiap kali pulang dari acara, mata perih dan kepala pening…padahal ruangannya ber AC. Apa seniman selalu dikonotasikan dengan asap rokok ya?

  5. Hm..seingatku ini adalah kali ke sekian kamu menulis tentang Rokok dan kesebalanmu kepadanya, Kris!🙂 kamu bener2 antipati sama rokok ya?

    Aku juga bukan perokok, dan sangat tidak nyaman kalau ada di dekat perokok. Salah satu kriteria waktu mencari jodoh pun : TIDAK MEROKOK

    Dulu, saking sebelnya sama rokok aku ingin banget Nutup semua perusahaan rokok di negeri ini (lebay !)

    Namun setelah dewasa dan terbiasa menghadapi realita hidup, aku jadi berpikir, seandainya aku jadi penguasa yg bisa membubarkan pabrik rokok…mungkin aku akan menjadi penguasa yang menciptakan PENGANGGURAN terbesar di negeri ini. Coba sesekali kalau kamu mudik, singgah ke Kediri sore hari (km tau pabrik apa yg aku maksud kan?) betapa indahnya para buruh itu keluar dari pabrik dengan muka berbinar2. Look..!! Apa yg kita benci bisa jadi lahan mata pencaharian orang banyak.

    Jadi…aku berkeputusan untuk berdamai dengan kebencianku itu. Toh..aku jg belum bisa berbuat banyak untuk orang2 itu kan.

    Paling2 aku cuma bisa menghimbau agar para perokok lebih santun menggunakan haknya, sehingga tidak ada pihak yg dirugikan.

    du du du…panjang bener… maap !!

  6. Septarius punya poin bagus tuh! Mungkin mesti ada klausul yang mengijinkan jaminan pemeliharaan kesehatan buat penyakit yang merupakan dampak negatif merokok dengan catatan pasien berhenti merokok?
    Btw, Albert Lea, MN cuma 3,5 jam dari kota tempatku tinggal sekarang lho..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s