Si Jo

Aku biasa memanggilnya Jo. Dengan huruf O seperti jika kita melafalkan kata “orang” atau “ongkos”. Suka-suka aku, enak mana. Karena dia pun–dalam pandanganku–juga anak yang suka-suka gue. Ceria. Begitulah jika aku diminta menggambarkan dia dalam satu kata. Tapi yah, itu lagi-lagi pandanganku secara subjektif. Aku tak tahu bagaimana dia memandang dirinya sendiri.

Ketika kami masih berseragam putih biru, kami sekelas waktu kelas 2. Menurutku, itu kelas paling wuenak. Kami kompak dan selalu gembira. Dan aku ingat betul dulu aku dan si Jo itu merasakan hal yang sama. Nah, karena kelas 3 kami akan dikembalikan seperti kelas 1 dulu, aku dan Jo pagi-pagi menghadap Pak Dawud selaku kepala sekolah SMP dulu. “Pak, bagaimana kalau nanti naik kelas 3, kami kelasnya tetep seperti kelas 2 ini? Nggak usah dikembalikan seperti kelas 1 dulu. Ya, Pak? Ya?” begitu pinta kami. Eh lebih tepatnya Jo yang bilang begitu kepada Kepala Sekolah. Bukan aku. Wong aku pemalu begini. Jadi ya cuma mengompori Jo supaya dia tidak gentar mengajukan permintaan itu. Dan kupikir itu adalah permintaan konyol yang cuma dibalas dengan senyuman plus ucapan, “Ya, nggak bisa begitu.” Dan kami mendadak merasa putus asa. Lha wong sudah menghadap Kepala Sekolah lo, kok ya nggak ada hasil.

Tapi sungguh, mengingat keberanian kami itu, aku suka geli sendiri. Wong untuk urusan komposisi kelas saja kami berani menghadap beliau. Memang, di masa SMP antara guru dan murid rasanya hampir tiada jarak. Murid sering bercanda dengan guru, dan guru pun tak canggung ikut mengobrol dengan murid-murid. Jadi, kalau sekadar menghadap Kepala Sekolah, itu bukan hal besar. Yaaa … kalau aku sih pakai acara deg-degan sih. Tapi Kepala Sekolah kami dulu bukan orang yang “sangar” atau sangat ditakuti. Biasa saja. Segan sih. Tapi tidak sampai pada tataran takut.

Si Jo Beruang dan pisang-pisangnya.

Si Jo Beruang dan pisang-pisangnya. Katanya sih itu pisang utk bikin kue. Nggak tahu kalau dimakan sendiri... hihihi

Oiya, kembali ke Jo. Sebenarnya siapa sih nama aslinya? Nama aslinya ya memang ada unsur Jo. Joice tepatnya. Meviana Joice R. R-nya siapa aku lupa. Hehe. (Sorry ya Jo…) Panggilannya bukan cuma Jo, tapi ada pula yang memanggilnya Jus, Is, dan dia sendiri di FB melabeli dirinya sendiri Jo Beruang. Hahaha. Anaknya memang tergolong lebih lebar dibandingkan teman-teman yang lain. Jadi, ya maklum kalau dia menyebut dirinya Beruang. Atau jangan-jangan “beruang” itu artinya memiliki (banyak) uang? Amiiin. Moga-moga aku dapat jatah traktirannya. :p

Ngomong-ngomong kenapa sih aku khusus menulis buat Jo? Ulang tahunnya toh masih nanti bulan Agustus. Bukan karena ulang tahunnya, bukan pula karena ingat dulu suatu sore yang mendung dia mengantarkan ke rumahku serantang menu ala imlek berupa rebung campur daging B2 dan daging B2 masak kecap. (Mendadak lapar deh!) Tapi semata-mata karena aku terinspirasi padanya.

Well, bagaimana ceritanya?

Ceritanya suatu siang aku mendapat kabar dari ayahku jika mamanya Joice meninggal. He? Meninggal? Ingatanku melayang pada sosok perempuan yang ramah, yang selalu mengingat nama kecilku. Dan yang membuatku lebih shock lagi adalah perempuan setengah baya itu meninggal karena ditabrak kereta. Duh! Bagiku tabrakan kereta adalah peristiwa yang tak mungkin menimpa orang yang kukenal. Tapi ternyata tidak. Mamanya Jo adalah salah satu korbannya😦

Aku tak tahu bagaimana kabar Joice selepas Mamanya tiada. Kabar tentang dirinya hanya kudengar sepotong-sepotong. Sempat bertemu saat kami akan membeli tiket kereta api di Stasiun Madiun, aku hanya bertukar kabar singkat. Dia tinggal di Semarang. Katanya sih dia membuat roti di sana. Dan kemudian dari salah seorang kawan, katanya dia bekerja di perusahaan pembuat celana dalam. Biyuh, jauh banget hubungannya ya? Dari roti sampai ke celana dalam.😀

Aku, Joice, Pauline and Joanna, setelah kenyang nasi jotos

Nah, saat pulang ke Madiun kemarin aku bertemu dengannya lagi. Apalagi kemarin beberapa teman juga pulang. Malam itu beberapa teman menyempatkan ke rumahku karena kebetulan rumahku letaknya bisa dikatakan di tengah-tengah. Setelah ngobrol di rumahku, kami–aku, Joanna, Pauline, dan Joice akhirnya makan malam di sebuah warung nasi jotos. Kalau kubilang sih benernya mirip angkringan di Jogja dengan menu nasi kucing, sih.

Salah satu bahan obrolan kami di warung nasi jotos itu adalah aktivitas Joice yang kini menjadi pembuat roti.

“Siapa yang membantumu Jo?” tanya kami.
“Pegawaiku ada delapan,” jawabnya.
Wah! Aku sendiri tak punya bayangan memiliki usaha sendiri apalagi sampai punya pegawai 8 orang.
“Kakakmu ada membantumu?”
“Nggak. Ya, cuma aku sendiri.”
“Roti apa saja sih yang kamu buat?”
“Ah, cuma roti biasa sih. Donat dan kue-kue seribuan yang dititipkan di toko atau warung. Dan kue-kue sesuai pesanan orang saja, sih.”

Ternyata sejak masih remaja, Jo memang sering diminta membantu membuat kue orang orang tuanya. “Lha karena badanku yang besar ini, maka akulah yang diminta membanting-banting adonan donat.” Hihihi. Aku cuma terkekeh membayangkan Jo yang gempal itu membanting-banting adonan donat.

kue tar buatan joice

kue tar buatan Joice. dia terima pesanan kue apa pun. jadi termasuk kue tar (foto dipinjam dari FB-nya si Jo)

Malam itu kami mendengarkan cerita Joice bagaimana ia memulai usahanya itu. “Awalnya aku bikin kue dari tepung sekilo. Besoknya karena ada permintaan, jadi nambah tepung dua kilo. Begitu seterusnya. Sekarang aku menghabiskan tepung 1 sak untuk bikin kue.” Katanya, pelanggannya datang begitu saja. Kepergian mamanya, ayahnya yang sakit, dan kakak-kakaknya yang sudah memiliki kehidupan sendiri membuat Jo mau tak mau harus melanjutkan hidup dengan kemampuan yang ia miliki–membuat kue.

Perjumpaanku dengan Jo waktu pulang kemarin membuatku perlu menambahkan label padanya: kemandirian dan tidak putus asa. Dan satu lagi, dia jago dalam mengoordinir reuni😉. Jadi, di saat aku kepengin malas-malasan di hari yang mendung ini, aku jadi teringat padanya. Siang ini kurasa dia sedang bekerja keras membuat kue-kue. Jadi, ayo kerja, Kris! Jangan malas!

30 thoughts on “Si Jo

  1. yaolo… foto bawa gedhang pake nyengir juga akhirnya terpampang disini.. hahahahaha…

    Menik, special thanks buat kamu yah. Selalu menulis dan menulis.. Semoga menjadi penulis terkenal dan buku terbitanmu bertambah terus.. Ayo semangat semangat semangat!

    Rindu saat saat kamu masih di Gloria.. hehehe.. aku mulai mengenal tulisanmu di sana.. :p

    • Weleh, ternyata kamu dulu ikut jadi pembaca tulisanku di glorianet to? Hiks, wis suwe tenan kuwi Jo… durung nulis meneh neng kono.

  2. R-nya Rahardja yo Jo…pokonya anaknya T O P B G T deh…Salut bt perjuangannya n smgatnya (puji trs siapa tau diksh roti lg..hehehe…)

    • Oh iyo… R-nya Rahardja ya? Lali aku. Ya, kapan2 kita serbu Joice ke rumahnya ya. Kalau dapat roti sekresek kaya kemarin kan lumayan hahaha… (dasar, gelem’e gratisan tok dewe ki!)

  3. Turut berduka cita lho😦 —

    Kok bisa ditabrak kereta itu bagaimana ya? Selama ini aku pikir itu hanyalah suatu kecelakaan yang fiksi, kecuali untuk orang yang sedang mabuk.

    Anyway, tetap semangat. Membuat kue… adalah suatu bentuk karya seni juga!😀

  4. Saya bisa meramalkan, suatu ketika Jo ini akan punya toko roti…dan nantinya rasa rotinya punya kekhasan sendiri yang dicari banyak orang.

    Sukses untuk temanmu ya Kris, salam buatnya

  5. aduh aku ikut sedih tapi juga gembira, nano-nano deh.

    sdih karena membayangkan sedihnya Jo waktu ibunya meninggal

    tapi gembira karena Kris sudah memperkenalkan seorang perempuan tangguh yang hebat! Aku paling senang membaca tulisan seperti ini, dan aku percaya bahwa tulisan ini bisa menggugah keengganan dan kemalasan kita supaya kita bisa seperti Jo.

    Untuk Jo, good luck untuk usahanya ya. Sayang aku jauh jadi ngga bisa coba hasil karyanya.

    EM

  6. Tulisan yang menarik.
    Semangat bekerja yang mencitrakan daya dan upaya dari Tuhan, Kris!

    Btw, bojoku yo kerep diundang Jo (baik sebagai ‘O’ untuk ‘orang dan ‘O’ untuk ‘ongkos’)🙂

  7. Persahabatan yang Indah …

    Kris memberi dukungan dengan caranya sendiri … cara seorang Kris …

    Saya bisa merasakan kecintaan yang kental di tulisan Kris ini …

    So …
    Go Ahead JO …
    Stand Up …
    Banting itu Adonan …
    Buatlah Roti paling enak sak Madiun … !!!

    OK ?

    Salam saya

  8. Aku juga merasakan kesedihan sekaligus kebahagiaan membaca kisah perjalanan hidup seorang Jo, sahabatmu itu Kris…

    Terima kasih sudah mengkhabarkannya di sini, dengan demikian aku belajar sesuatu darinya…

    Buat Jo, salam kenal ya… *segera add di FB*😉

    • Soalnya gedenya sak-jotosan tangan. Eh, sebenarnya kurang gede sih. Mungkin dulu emang besarnya sekepalan tangan. Karena sekarang apa2 mahal, jadi kepalannya mengecil… gitu Ta..

  9. Sengaja mengunjungi sahabat untuk mengokoh-kuatkan jalinan tali silaturahmi sambil cari Ilmu.
    Tak lupa saya juga membawa doa agar sahabatku diberi kesehatan yang prima, kesejahteraan dan rejeki yang melimpah, halal dan barokah,kesuksesan dan kebahagiaan yang hakiki. Amin
    Salam hangat dari Surabaya

  10. Pingback: NINE FROM THE LADIES #3 | The Ordinary Trainer writes …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s