Nostalgia Madiun

– Aslinya dari mana Mbak?
+ Madiun.
– Madiunnya mana?
+ ??

Itu adalah pertanyaan klasik yang sering diutarakan kepadaku. Setiap kali mendapat pertanyaan seperti itu, aku lalu bertanya-tanya, Orang ini sudah pernah ke Madiun atau belum? Atau jangan-jangan dia sudah pernah ke Madiun tapi bukan ke kotanya, tetapi ke daerah pinggiran/kabupaten? Apa maksud pertanyaan, Madiunnya mana?

Bagiku, Madiun ya Madiun saja. Mungkin karena aku tinggal tak jauh dari pusat kota. Jadi, kalau ditanya Madiunnya mana, ya paling-paling aku menyebut jalan tempat rumahku berada, yaitu Jalan Bali atau suatu tempat yang cukup dikenal masyarakat–Rumah Sakit Umum–yang cukup dekat dengan rumahku.

Aku tak tahu betul apa yang muncul di benak orang-orang ketika mendengar kata Madiun. Apakah Madiun dianggap kota besar atau kecil? Kota seluas 33,23 km2 itu hanya terdiri dari tiga kecamatan besar: Kartoharjo, Manguharjo, dan Taman. Kalau mau muter-muter keliling kota, tidak sampai satu jam pasti sudah rampung. Apalagi bagiku yang rumahnya tak jauh dari pusat kota, mau ke stasiun kereta paling cuma 10 menit dengan naik motor pelan-pelan (atau malah tidak sampai segitu ya?). Ke Gereja (St. Cornelius), paling ya 10 menit, tanpa ngebut. Bagaimana mau ngebut? Wong motorku di Madiun cuma BMW … Bebek Merah Warnanya yang sudah sepuh itu.

Saat ini aku bersyukur dibesarkan di kota kecil seperti Madiun. Kenapa? Karena hidup terasa sederhana. Dan saat ini baru kusadari bahwa bisa makan siang bersama keluarga itu adalah suatu keistimewaan yang langka jika di kota besar macam Jakarta ini. Dulu, hampir bisa dipastikan ayahku makan siang di rumah. Karena sebagai seorang guru, ayahku biasanya pulang ke rumah pukul 12 atau 1 siang. Nanti, setelah beristirahat sebentar, ayahku akan melanjutkan mengajar lagi karena sekolah tempatnya bekerja masuk pagi dan siang. Agak berbeda dengan ibuku. Ibuku biasanya sampai rumah pukul 2 siang. Jadi memang acara makan siang itu ibuku jarang ikut. Tapi toh tak mengapa, karena biasanya aku, kakakku, dan ayahku bisa makan siang bersama. Kalau di Jakarta, rasanya sangat jarang keluarga yang bisa seperti itu ya? Contohnya tak usah jauh-jauh, yaitu aku dan suamiku sendiri. Suamiku saja berangkat pagi dan sampai rumah lagi saat sudah mendekati jam makan malam. Sarapan pagi paling hanya setangkup roti tawar. Siang dia makan di tempat kerja. Dan kalau sudah keburu lapar, sebelum sampai rumah di malam hari, dia makan di luar. Jadi, sudah sangat biasa kalau aku masak dan makan sendiri di rumah. Bisa benar-benar makan bersama itu kalau suamiku libur. Jadi, berbahagialah kalian yang tinggal atau tumbuh di kota kecil😀

Kini setelah tinggal di Jakarta, jika aku pulang, berarti selain ke Jogja aku juga pasti ke Madiun. Jarak kedua kota itu lumayan dekat. Apalagi sekarang ada kereta Sancaka jurusan Jogja-Surabaya yang lewat Madiun; Jogja-Madiun paling hanya 2,5-3 jam. Dan kalau aku pulang, salah satu hal wajib yang aku lakukan adalah … wisata kuliner! Lebih tepatnya adalah bernostalgia untuk mencicipi makanan atau minuman yang pernah sangat akrab dengan lidahku beberapa belas tahun silam. Lalu apa saja sih menu yang ada dalam daftarku?

1. Putu di pojok jalan utara Jalan Bali.

putu yang gendut-gendut...

putu yang gendut-gendut...

Menurutku, itu adalah putu paling enak yang pernah kurasakan. Mak nyus buanget! Putu itu besarnya hampir dua kali dengan putu-putu yang biasa kita jumpai. Dan aromanya harum sekali. Rasanya mantap, lembut di lidah. Isian gula merah dan parutan kelapanya membuat putu itu semakin gurih saja. Dulu kupikir semua putu itu ya seperti putu di jalan Bali itu. Ternyata tidak. Selain di situ, putu yang dijual di pasaran (setidaknya yang pernah kujumpai di kota lain) biasanya kecil-kecil dan kurang gurih.

2. Tepo tahu di pojok selatan Jalan Bali.
Makanan apa pula ini? Tepo itu sodara dekat dengan lontong. Rasanya sama. Nah, kalau tepo tahu itu adalah tahu yang dipotong dadu lalu digoreng pakai telor. Setelah matang, diiris-iris dan ditambahkan irisan tepo lalu diberi taburan taoge, daun seledri, dan brambang (bawang merah) goreng. Lalu diberi kuah kacang plus kecap. Hmmm… apa lagi ya campurannya yang lain? Seingatku sih cuma itu. Tapi tolong bagi yang tahu, koreksi ya jika aku salah menyebutkannya. Penjual tepo tahu itu belum berganti sejak aku masih kecil. Tempatnya berjualan sangat sempit. Jadi biasanya aku memilih supaya tepo tahu itu dibungkus saja dan dimakan di rumah.

3. Pecel

Pecel jalan Barito, Madiun. Porsinya cukup mengenyangkan

Pecel jalan Barito, Madiun. Porsinya cukup mengenyangkan

Ini menu wajib karena pecel adalah makanan khas Madiun. Dan di lidahku, pecel Madiun itu beda dengan pecel di kota lain. Menurutku yang membedakan adalah bumbu pecelnya dan sayurannya. Sayuran yang biasanya ada adalah sayur hijau (kalau tidak salah campuran daun singkong, daun pepaya, atau kadang cuma bayam), taoge. Kadang ada juga daun kenikir, krai rebus (aku tidak tahu krai itu apa ya bahasa Indonesianya. Tapi itu semacam mentimun berkulit hijau tua dengan garis-garis kuning), kunci muda yang direbus, rebusan ontong pisang (calon pisang), bunga turi, kemangi, petai cina. Tapi jarang sekali kita menemui pecel dengan sayuran bermacam-macam seperti itu. Biasanya sih cuma sayuran hijau dan taoge. Nah, pas pulang kemarin aku dapat pecel dengan rebusan krai dan kunci muda. Ini makanan langka bagiku. Hehe. Dan satu lagi, jangan lupa tambahkan serundeng, kerupuk atau keripik tempe, ya. Untuk menikmati nasi pecel biasa (tanpa lauk daging lo, ya), kita cukup mengeluarkan uang Rp 2.500-3.000 saja. Karena pecel adalah makanan khas Madiun, banyak sekali yang jual. Aku sendiri tidak terlalu fanatik dengan penjual tertentu. Tapi suamiku biasanya selalu mengajak makan pecel di jalan Barito (di dekat persimpangan dengan jalan Citandui). Tapi di situ malah sayurannya standar. Sambelnya yang cukup enak. Bahkan kata ayahku, pak walikota suka makan pecel di situ pula.

4. Dawet Suronatan

Dawet Suronatan yang bisa meredam panasnya siang yang terik

Dawet Suronatan yang bisa meredam panasnya siang yang terik

Hampir pasti aku menyempatkan diri mencari dawet Suronatan kalau pulang ke Madiun. Menurutku ini dawet paling enak yang pernah aku rasakan. Dan suamiku ketagihan lo. Sekali kuajak ke sana, dia selalu pengen kembali. Isinya adalah tape ketan, ketan hitam, bubur sumsum, dan cendol. Porsinya dari dulu tidak berubah; sekarang harganya Rp 3.500,00. Dawet Suronatan ini letaknya di jalan Merbabu, dekat Alon-alon Madiun.

5. Cemoe
Aku tak tahu di daerah lain apakah ada cemoe atau tidak. Tapi setahuku, hanya di Madiun yang ada cemoe. Cemoe adalah wedang manis dengan campuran santan. Isinya ketan putih. Gurih manis rasanya. Aku tak perlu jauh-jauh mencari cemoe. Cukup berjalan sekitar 100 meter dari rumahku. (See, banyak makanan enak yang tak jauh dari rumahku…). Aku lupa berapa harganya, kalau tidak salah sih Rp 3000,00 semangkuk.

Sebenarnya masih ada lagi makanan lain yang enak misalnya rujak cingur dan soto lamongan. Tapi setidaknya lima makanan/minuman itu yang biasanya kucari. Dan kurasa sekarang pasti ada lebih banyak lagi makanan yang enak di Madiun.

Selain wisata kuliner di Madiun, pas aku pulang kemarin aku bertemu dengan teman-teman lamaku semasa SMP. Dan menyenangkan sekali bertemu teman-teman lama setelah sekian belas tahun kami tidak bertemu. Rasanya jadi ketagihan pulang nih!😀

59 thoughts on “Nostalgia Madiun

  1. Waduh aku jadi terkenang masa laluku di madiun 40 th tidak jumpa dengan dawet suronatan. Padahal dulu hampir tiap hari jajan disana karena dekat sekali dengan tempat kos ku 10 menit. Dawet suronatan dulu kembaran dengan tahu wilis ( tahu ) dari susu sapi produk depan susteran ursulin madiun. Benar Mbak banyak sekali panganan dari madiun yang uenak-uenak. Itu brem nya belum di expose…

    • Oiya, brem… lupa. Tapi saya agak kurang suka brem. Tetep makan sih, tapi nggak bisa banyak. Hehe. Eh, saya baru tahu kalau pemilik susu sapi depan Ursulin dulu jg produksi tahu. Enak ya?

  2. Kangen pecel…yang ada di dekat terminal lama…keluarnya baru malam hari…hmmm sedaap.
    Kok bakso nggak ada Kris? Dulu, kalau nonton sama pacar, pulangnya tak lupa makan bakso..makannya pake lontong….rasanya baru di Madiun makan bakso pake lontong.

    Jangan kaget tiap kali ditanya, Madiun nya dimana? Karena orang yang daerah seputar Madiunpun kalau ditanya memang paling mudah jawabnya…dari Madiun…padahal bisa dari Dolopo, Takeran, dll.

    • Bu Enny, kalau pagi di lampu merah dekat terminal lama juga ada pecel yg enak lo. Kemarin saya beli di sana, sayurnya lengkap. Ada kunci rebus… enaaaak…🙂 Dan emang bener, sepertinya cuma di Madiun makan bakso pakai lontong. Saya juga suka tuh, Bu. Jadi kenyang soalnya hehe.

      Wah, iya ya. Madiun dikelilingi daerah2 seperti Dolopo, Takeran, Jiwan, Maospati, dll. Tapi saya asli Madiun kota lo Bu, Kartoharjo tepatnya …🙂

      • Saya juga besar di Madiun. Salam kenal Mbak. Setelah saya pindah ke Jogja, pernah pesen lontong buat makan bakso dan diketawakan penjualnya. Tapi tetap dilayani karena warungnya juga jualan gado-gado, jadi ada lontongnya. hehehehhe….
        Sekarang saya di Kalimantan Selatan, kalau mau makan bakso pakai lontong musti ke warung bakso Malang di kota Banjarbaru.

  3. ASTAGA PUTU!!!!! ADUH JADI KANGEN BANGET! ADUH ADUH. T______________T

    Btw, makan bersama keluarga DIMEJA MAKAN, itu yang penting.

    Jaman sekarang, bukan hanya mereka tidak bisa makan bersama, tetap banyak juga yang makan… ambil sepiring makanan,…. balik masuk kedalam kamar masing2… makan sambil main komputer (aku banget…)

    ;( gak baik memang.

    • Putu yg Madiun itu rasanya uenak banget! Dan aku nggak pernah nemu seenak itu di kota lain. Hehe. Wah, aku juga jadi pengen putu nih…

      Kalau makan di kamar tuh biasanya dulu kulakukan kalau PR lagi banyaaaak… atau pas lagi BT hihi

  4. waduh kulinernya kusuka…
    semuanya belum pernah coba kecuali pecel😀

    tapi ngomong2 tentang asal..
    aku juga bingung…
    A: salam kenal..darimana mas?
    B: dari lhokseumawe..
    A: lhokseumawe itu di aceh kan?,oh..temanku juga ada yg dari aceh,kenal g?namanya XXXX.. dulu teman sekantor…waktu tsunami…blablabla…
    B: emang tmnnya itu acehnya di mana pak?
    A: di banda aceh kalau g salah..
    B: oh..(sambil mikir, emang aceh kecil apa ya? hahaha…banda aceh – lhokseumawe 400KM jauhnya kekekek)

    • Pecel itu makanan yg ada di mana-mana sebenarnya. Tapi kalau pecel Madiun, tetep aja beda🙂

      Banda Aceh – Lhoksumawe itu jauh ya? Hehehe. Baru tahu aku. Kalau jaraknya 400KM, itu ibarat Jogja – Jakarta dong. Wah, jauh…

  5. ..
    Pecel madiun emang mak nyus, tapi yg nggak ada di tempat laen ialah lempeng gapit…
    Aku curiga sandwich itu ide awalnya nyontek lempeng gapit..
    He..he..
    ..
    Kayaknya Cemoe menyebar di seputaran jatim bagian barat..
    ..
    Tepo tahu itu kayak tahu tek ya..?
    ..

    • Hahaha, sandwich mencontek idenya lempeng gapit? Bisa aja kamu, Ta. Di tempatmu juga ada cemoe ya?

      Aku sendiri agak lupa2 ingat soal tahu tek, jadi nggak tahu mirip apa enggak dg tepo tahu. Bikin tulisannya dong🙂

  6. Mbak Kris …
    You know what …
    Ibu Saya kelahiran Madiun …
    Beliau menghabiskan masa kecil dan sekolahnya di Madiun …
    So … ada suatu masa dimana saya sering ke Madiun … sebelum akhirnya Eyang Kakung dan Eyang Uti saya pindah ke Yogyakarta …

    Dan ketika Eyang Kakung dan juga Eyang Utiku meninggal …
    mereka pun dimakamkan bersandingan di Madiun … di kampung halaman mereka
    (kalau tidak salah di daerah “cangkring”)

    And Yes Indeed …
    Pecel madiun … tidak ada duanya …
    Dan satu lagi … Brem … (eh ini asli madiun bukan ya ???)

    Salam saya

    • Om, Cangkring itu adalah kuburan di belakang rumah saya. Jalan kaki paling 10 menit lah. Dan Mbah Kakung dan Mbah Putri saya juga dikuburkan di situ. Beberapa bude saya juga dimakamkan di situ. Jangan2 makam Eyang Uti dan Eyang Kakung Om NH nggak jauh dari makam Mbah atau Bude saya? Hehehe. Dan, tahu nggak Om… saya kalau malam lewat makam itu, nggak berani nengok. Merinding…! Hihihi.

      Brem memang salah satu makanan khas Madiun. Tapi saya kurang begitu suka..😀

  7. X: asal dari mana?
    saya: Belitung
    X: Sebelah mananya?
    saya: Kampong parit
    X: wah, saya pernah ke Gantong. itu tuh yg ada di film laskar pelangi!
    saya: ??????
    X: situ gak asli Belitung yah?
    saya: emangnya napa? (sebel)
    X: matanya sipit sih kayak a kiong
    saya: Grrrrrrrrr………

    NB. kadang bukunya Andrea Hirata bikin aku jadi sebal.

    • Kampong Parit itu deket pantai ya?
      Haha, Gantong kan jauh banget dari Kampong Parit. Dua jam kali ada ya kalau naik mobil sendiri?

  8. Hahaha, aku juga sering ditanya, “Klatennya mana?”
    Lalu kujawab, “Kota! Kamu?”
    “Oh aku Wedi!”
    Lalu kujawab lagi “Itu bukan Klaten.. itu Wedi.. Klaten ya Klaten, wedi ya wedi” Hahahaha..

    Kris, aku beberapa kali pernah lewat ke Madiun tapi akhir-akhir sebelum pindah kemari, aku lebih sering lewat ngawi lalu bablas ke nganjuk ketika sedang menuju ke arah timur atau sebaliknya.

    • Aku ngerti, kowe ki Klaten’e Blateran to? Hehe.

      Kalau dari Jogja mau ke arah Surabaya, kebanyakan kendaraan akan langsung bablas dari Ngawi trus ke Nganjuk (lewat Caruban). Soalnya kalau lewat Madiun, itu terlalu jauh. Muter. Kecuali kalau mau wisata kuliner di Madiun hehehe.

  9. Mbak……

    Aku dulu tinggal di jln. Widosari, dekat Terminal Lama. Rumahku 200 meter dr gedung PLN.

    Dan Mbak tinggal di jalan Bali……

    Aku melewatkan 3 tahun di SMU 2 jalan Biliton – Madiun…

    KOK KITA GAK PERNAH KETEMU, YAAA???

    Hayo, kalo gitu kita ketemuan di Jakarta ajaaa…:mrgreen:

    • Oleh2? Setahuku oleh2 khas Madiun tuh sambel pecel atau brem. Tapi masih banyak yg lain sih. Kalau di mananya, aku lupa nama tokonya hehehe. Tapi tahu tempatnya…

  10. Kris …
    satu lagi boleh ya komen …
    Cuma mau kasih tau saja …
    salah satu teman saya Pak Oemar Bakri … aka pak Hendra Grandis … seorang dosen di ITB ..
    itu juga asli Madiun Lho …

    udah gitu aja …

  11. Kalau di Solo ada namanya Solo kemringet. Jika ada yang ditanya asalnya dari mana dan jawabnya, ”Solo kemringet” berarti itu daerah pinggiran Solo. Mengapa kemringet? Lha dari Solo naik sepeda sampai ngos-ngosan dan kemringet.

    Kalau di Jogja ada namanya Jogja coret. Kalau kita dari luar kota mau masuk kota ada rambu-rambu warna biru tertulis Jogja dan dicoret warnah merah (artinya menuju ke Jogja). Itu juga menunjukkan dia tinggal di daerah sekitar rambu-rambu itu alias daerah pinggiran.

    Kalau di Jakarta aku belum menemukan istilahnya.

    • Jakarta kalau “dekat” pun juga seringnya kemringet kok Mas … soalnya kena macet, apalagi kalau naik metromini yang penuh. hehe

  12. Salam kenal Mbak krismariana, saya temannya Ando. Mau bilang kalau postingan Mbak yang ini, yang saya temui waktu blogwalking tempo hari, menginspirasi saya untuk membuat postingan ini.🙂

    Terima kasih.😀

    BTW, pecel Madiun itu favorit ibu saya. Dan buat saya, karena seleranya mirip beliau, pecel Madiun lebih enak daripada pecel Jawa Tengah.:mrgreen:

    • Halo Mario, terima kasih sudah mampir ya. Tulisanku yang biasa-biasa ini cukup menginspirasimu to untuk menulis di blog? Sekali lagi terima kasih ya🙂

      Betul, pecel Madiun itu beda dengan pecel2 di kota lain🙂 Memang enak to?

  13. Pingback: Ayahku dan Musik « いつでも馬鹿馬鹿しい話

  14. pecel madiun itu.. mbuh ya, kok ngga bikin bosan sama sekali meski di makan setiap hari sehari tiga kali mungkin ya ndak bosen..

    beda sih sama pecel jawa tengah yang tergolong manis bumbunya dan di masak dulu bumbune lha lah jadi brubah nama nasi gado gado.. :))

    aneh tur ajaib.. wkwkw…

    tapi yang nyenengin kalau makan pecel jawatengah adalah lauknya yang bervariasi buanyak ngak ngak.. Leh madiun, kurang.

    haha.. kenapa yah.. udah puluhan tahun gini idup di madiun malah senengnya nyoba in pecel ndeso yang semebar di pinggir jalan.. haha.. piye piye.. kok kayak kurang trimo :))

    apalagi kamu Nik, pasti kamu kangen dengan pecel ini kalau muleh ndeso ya.. ahik ahik… :p

    • aku juga menganggap pecel madiun itu beda. khas. yg dijual di pinggiran jalan kalau pagi hari tuh enak juga. apalagi kalau sayurannya macem-macem. kapan2 kita berburu pecel yuk… (pas aku mudik… hehe)

      • Yang membuat pecel Madiun yummy itu adalah aroma daun jeruknya yang menonjol. Setelah keluar dari Madiun barulah terasa bedanya. Pecel-pecel daerah lain yang lebih menonjol adalah aroma kencurnya. Kalo favorit saya yang di dekat klentheng jalan Cokro samping lap. basket, atau yang lurus ke arah selatan lagi pas di pojokan perempatan sebelah kanan jalan setelah klentheng sama enaknya, keduanya bersaudara. Yang di perempatan itu jual ketan bubuk juga (pagi). Kalau malam di Podang jalan HA Salim. Sering makan di sana dari harga murah sampai harga turis (baca:mahal). Langganan keluarga besar kami.

  15. mba mba… saya jd suka baca tulisan mba semenjak baca buku “Tuhan, ngobrol yuk”
    dan stlh tau kalo mba jg asli madiun, jd tmbah seneng deh baca tulisan mba, he3… inspiratif ^,^
    setuju mba, di madiun emang banyak makanan enaknya, apalagi pecelnya, hhmmmm…. jd laper….. kmrn waktu pulang madiun jd makan pecel mlulu saking kangennya :p
    wah, mba nya dari smu2 ya, sama dooonnnggg… aku angk 2002, mba nya angkatan brp?

    • hai🙂 wah, pembaca bukuku ternyata mampir ke sini. hehe.

      kalau aku sih kangen dg putu sama pecel kampungnya. hmmm… yummy!

      kamu SMU 2 angkatan 2002? aku tahun segitu sudah mulai kerja. hehehe, angkatan tua nih. aku masuk SMU 2 tahun ’93. kamu sekarang di mana tinggalnya?

      • tinggal di bogor mba… udh hmpr 5thn tp masih suka mbok2en, hehehe… setuju kalo putunya emang enak, trnyta harga ngga bo’ong ya mba… (kl dibandingin sm penjual yg lain)
        kalo masuk smu th 93 berarti lulus thn 96 ya mba? mmm…kenal siapa ya aku…?? oiya, ada mas inoek, mas bremi, mba nya kenal ga? dulu aku ikutan bramastya mba.
        wah, jangan2 mba nya sd di bernardus jg nih? (maaf kl salah)

  16. salam kenal bu,saya juga dr madiun kabupaten tepatnya mburi pabrik gulo pas…
    jadi kangen sama makanan di madiun yg gk ada yg ngalahin(menurutku)opo maneh pecel,puthu,tepo tahu,dawet suronatan.woaaaaaaa makin ngeces aja.
    kl disini susah banget nyari makanan enak.adanya cuman kariii.hiks hiks
    kl pulang mau tak datengin semua pokoknyaaa……..

  17. madumongso, lempeng huah bisa 1 besek beli titipan org hiks
    suronatan wooow dah mahal ya skrg……
    dawet timbangan juga enak 24 th lalu dr biliton sma 2 ke bosbo ngaso minum dawet timbangan slurp…..
    tepo pecel hehee inget jg lempeng gapit aduh jajanan kecil walau cuman krupuk direnyek2 dan dipecel lemtoro kemangi timun…..inget jaman kecil dulu….
    pasar kawak jajan komplit

    Sekarang dawet timbangan sudah tidak ada… sayang sekali ya.

  18. Salam kenal smw,,,
    Sudah 26 hari saya Gɑ̤̈ pulang ĸέ jiwan daerah madiun barat, jd inget sego pecel ama putu bali nya,,,
    Minggu depan pulang ahhh,,,
    Ayo siapa Ųɑ̈ήƍ mau ikut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s