Kehidupan Pernikahan yang Normal

Kemarin pagi (Rabu, 2/12/09), listrik yang mengalir ke rumahku mendadak mati. Yaaaa … padahal aku sedang asyik-asyiknya blogwalking sambil mendengarkan radio. Duh, pagi-pagi sudah kena serangan mati listrik. Beberapa tetanggaku bilang listrik bisa mati sekitar 4 jam. Aduuuh! Pagi yang buruk, pikirku.

Tapi untunglah setelah kira-kira bengong selama dua puluh menit, listrik pun menyala. Rutinitas pagi mendengarkan radio kembali kujalani.

Radio langgananku saat pagi adalah I-Radio. Acara Pagi-pagi, oleh Rafiq dan Poetri. Sebelum “kenal” dengan mereka, permulaan hari di Jakarta agak membosankan. Dulu aku masih suka kangen dengan suasana Jogja plus teman-teman seruangan yang kadang begitu kocak dan membuat suasana jadi segar. Nah, begitu sampai Jakarta, ke mana cari suasana seperti itu? Apalagi aku tidak bekerja kantoran. Jadi, sepanjang hari, kalau tidak ada janji ketemu teman, ya di rumah saja sendirian mengerjakan naskah yang ada. Nah, begitu aku kenal dengan acara Pagi-pagi, aku jadi seperti mendapat teman baru. Mereka itu kalau ngomong ceplas ceplos. Dan kadang bahan siaran mereka membuatku geleng-geleng kepala.

Salah satu yang aku sukai dari acara itu adalah jika mereka mulai membongkar rahasia orang. Halah… sok pengen tahu juga rupanya aku. Hihihi. Kemarin itu yang dibahas adalah orang yang menikah sembunyi-sembunyi.

Gara-gara listrik mati, aku tidak bisa mendengarkan dari awal. Padahal sepertinya menarik tuh soalnya sepertinya yang dibahas adalah pernikahan Rafiq (sang penyiar).  Tapi aku benar-benar dapat buntutnya saja saat Poetri bilang ke Rafiq bahwa istrinya Rafiq termasuk berani tuh karena biasanya perempuan kalau menikah biasanya kan pengen ditungguin orang tuanya, bla … bla … bla ….Ah, sayang aku nggak mengikuti dari awal, jadi tidak tahu ceritanya.

Mau tak mau, aku jadi ingat hal-hal yang harus aku hadapi saat akan menikah. Yang jelas sih, keluarga besar sudah tahu semua. Dan rasanya kok tidak kepikiran ya menikah diam-diam. Mana bisa? Minimal tetangga kiri kanan tahu lah. Dulu sih pengen nggak rame-rame. Males saja sih harus berdiri cukup lama di atas pelaminan sambil terus menerus tersenyum dan menyalami tamu-tamu. Tapi teman-teman orang tua dan kerabatku yang buanyak itu kabarnya bisa protes jika tidak ada acara resepsi. Ya, sudahlah akhirnya karena kami juga tak ingin acara yang heboh, dibuatlah resepsi sederhana. Tetapi biarpun sudah didesain sesederhana mungkin, tetap saja semua orang tahu. Jadi waktu kemarin mendengar soal menikah diam-diam? Memangnya bisa ya?

Ternyata bisa. Itu kuketahui dari acara Pagi-pagi kemarin. Ada berbagai cerita dari beberapa narasumber. Sebagian sih, karena itu pernikahan dengan istri kedua. (Ternyata ada saja ya perempuan yang mau jadi istri kedua?) Lalu sebagian yang lain karena mereka menikah beda agama, jadi tidak disetujui orang tua. Kawin lari bahasa kerennya.

Dari sekian banyak cerita itu, ada cerita yang aku ingat. Pertama, cerita soal laki-laki Islam yang menikah dengan seorang perempuan Budha. Karena tidak disetujui keluarga, mereka menikah diam-diam secara Islam. Entah bagaimana, si istri ini mungkin merasa tidak sreg dan akhirnya pamit pulang meninggalkan suami serta anaknya. E, ternyata dia tidak pulang. Dia rupanya pergi ke Magelang untuk menjadi biksuni. Owh …! Aku yang mendengarkan cerita yang dikisahkan sang suami jadi trenyuh. Dari suaranya sih, sang suami kedengaran melas banget dan dia bilang masih mencintai istrinya. Sesekali dia masih menengok sang biksuni itu karena baginya, perempuan itu masih istrinya. Wong tidak pernah bercerai. Tapi laki-laki itu kini sudah menikah lagi dengan perempuan pilihan orang tuanya. FYI, istrinya yang sekarang ini (istri kedua) tidak pernah mengetahui bahwa suaminya dulu pernah menikah dan punya anak sebelumnya. Loh kok bisa? Ya, karena pernikahan pertama suaminya itu dilakukan diam-diam. Keluarganya tidak tahu. Dan si laki-laki itu mengatakan bahwa anak tersebut bukan anaknya, tetapi anak dari temannya. Aduh, aduh… kok bisa ya dia menutupi semuanya itu? Aku tak bisa membayangkan betapa sulitnya harus menutupi masa lalu yang mungkin kelam. Dan kupikir, cukup hebat juga si laki-laki itu dalam menutupi pernikahan pertamanya.

Sebenarnya masih ada beberapa kisah lagi. Intinya sih, mereka yang diwawancarai via telepon itu mengatakan bahwa mereka harus menutupi pernikahan mereka karena berbagai hal. Soalnya jika terang-terangan, bisa-bisa mereka tidak jadi menikah. Kandas deh percintaan mereka.

Mendengar cerita-cerita itu, aku kemudian berpikir bahwa sepertinya kehidupan pernikahan yang normal itu mahal harganya. Kehidupan pernikahan normal dalam hal ini adalah pernikahan yang wajar-wajar saja, di mana seorang perempuan bertemu laki-laki dan bisa menikah baik-baik. Pernikahan mereka direstui orang tua. Kalaupun ada perbedaan, hal itu tidak menjadi masalah yang cukup besar sehingga perlu disembunyikan. Aku membayangkan, betapa beratnya menyembunyikan sesuatu yang “tidak wajar”. Tahu sendiri kan, kadang masyarakat begitu kejamnya karena dengan mudahnya memberikan cap begini dan begitu kepada orang-orang yang “berbeda”. Yah, mungkin memang ada yang salah dalam pernikahan-pernikahan itu. Tetapi kupikir, seberapa pun salahnya, setiap orang berhak dicintai.

22 thoughts on “Kehidupan Pernikahan yang Normal

  1. menarik banget mbak…
    Aku gak ada temen yg married diem2, jd belum ada pengalaman nyata. Namun aku gak kebayang mbak kalau harus menikah diam2.. wah ngeri kualat sama orang tua. Melihat senyum ortu pas aku dipelaminan, rasanya bahagia sekali mbak.
    Ya, bersyukurlah kita ya mbak dimudahkan jalan menikah “normal”

    • Aku juga nggak punya teman yg menikah diam2. Makanya pas denger radio kemarin sempet terkaget2 saja mendengar cerita yang lain dari yg lain. Tetapi jadi ikut sedih melihat ada pasangan yang masih ditolak orang tuanya setelah mereka menikah diam-diam dan punya anak. Susah ya.

  2. Wah aku nikah diam-diam dan beda agama tuh😛

    Aku menikah diam-diamnya yang tanpa pesta gitu hihihi. Soalnya pestanya di Jepang aja, tidak buat di Indonesia. Kalau mau datang sih boleh aja😀

    Beda agamanya juga dapat dispensasi dari Roma🙂

    EM

    • Dulu aku juga pengen tuh Mbak tanpa pesta, cuma pemberkatan aja. Pestanya cukup keluarga saja. Tapi keluarga nggak setuju. Padahal, niatnya kan mau irit… Hehehe.

  3. Pasti waktu di Jogja dengernya ya i-Radio juga, ya mbak?!

    Kita sepemikiran mbak. Kok yo iso nutup2i pernikahan ke orang tua. Kalo temen si masih mungkin. Lha iki orang tua sendiri bisa dikelabui. Waah.

    Aku ada temen yang begitu. Untung diem2nya cuma untuk temen2nya. Keluarga & kerabat mereka tau & dapet restu. Awalnya memang aku hampir punya pikiran yang aneh2 ttg pernikahan mereka. Tapi akhirnya semua jelas & kami (temen2nya) ikut senang.

    • Di Jogja dulu dengernya apa ya? Seingatku bukan cuma I-Radio. Ganti2.

      Aku juga heran dg narasumber di radio kemarin. Ada yg bener2 kabur dari rumah, dan tidak menghubungi keluarganya sampai 1 tahun! Kok bisa ya?

  4. Aku punya temen yang nikah beda agama dan juga diem2 dari temen-temennya.

    Dia memberitauku dan suami secara pribadi, dan berpesan untuk nggak menyebarkan berita ini kepada yang lain. Meskipun agak “gelo” juga, tapi kami tetap menghargai pilihannya. setelah anak keduanya lahir, sepertinya berita ini baru tersebar..(ini juga bukan dari mulut kami) jelas teman-teman kaget semua lah…

    • Kadang memang hal seperti itu membuat “gelo” alias kecewa teman atau keluarganya. Tapi mau bagaimana lagi ya? Akhirnya itu adalah pilihan hidup mereka.

    • Aku sebenarnya kurang sreg kalau dana pernikahan sampai harus berhutang. Dan biasanya memang harus punya uang banyak. Buanyaaak, tepatnya. Padahal, setelah resepsi usai, masih pasangan tsb masih butuh biaya lagi utk hidup mereka. Ya, semoga kamu besok “normal2” saja, Ta🙂

  5. Aku selalu berpikir bahwa pada dasarnya yang paling susah adalah mempertahankan dan konsisten :))

    Benar katamu, mempertahankan kehidupan pernikahan yang normal aja sudah susah..:))

    Jadi, seperti kata pepatah, stick together, team🙂

    • Mempertahankan memang susah juga Don. Yg membuatku agak bingung, kalau di awal saja sudah “bermasalah”, mempertahankannya kan agak repot juga.

  6. waktu baca judulnya ‘kehidupan pernikahan yang normal’ (baru baca judul, belum baca isi), aku membatin, yg gimana nih yang normal, yg gak pake berantem atau yg gimana nih…eh ternyata isinya mengenai prosesi/acara pernikahan itu sendiri.

    kalo menurut aku, yg sewajarnya sih, pernikahan seorang anak harus melalui ijin dan restu dari orang tua karena memasuki pernikahan adalah juga perubahan jenjang seorang anak menjadi seorang pribadi dengan kehidupan yang baru (terlepas dari orang tua dan keluarga) untuk bergabung dengan keluarga yang baru, dengan latar belakang (adat, agama, pendidikan, dll) yang bisa totally different, dengan kehidupan sebelumnya.

    namun, jika toh terjadi pernikahan itu tanpa restu (hiks, jgn sampai terjadi pada anak cucuku), ya ybs hrs bersedia menerima konsekuensi dari semua itu, spt dikucilkan keluarga dll.

    mengenai pesta atau tidak, itu tergantung kemampuan kedua belah pihak…dulu aku juga ga mau ramai2, tapi karena aku, anak perempuan pertama dan orangtua baru pertama kali menikahkan anak, Puji Tuhan, aku dibuatkan pesta oleh orangtuaku secara adat jawa dan dari pihak keluarga suami (yg berbeda suku), juga dibuatkan pesta secara adat mereka.

    Jadi, aku menjalani 3 pesta saat itu…sampai rasanya tidak menapak di bumi..melayang aja, manut, nurut saja, pasrah, ga bisa protes karena yg bicara para pinisepuh..hiks.

    DL

    • Aku juga tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menikah tanpa restu ortu. Kayaknya kok bakal aku sesali seumur hidup ya. Dulu acara pernikahannya rame dong Mbak? Aku menikah cuma pakai adat Jawa waktu acara siraman. Lain-lainnya nggak pake acara adat. Males ribetnya itu lo…

  7. Menikah diam-diam? Kok kayaknya ga ada enaknya.
    Kalau menikah secara sederhana, yang diundang sedikit, malah tak masalah, yang penting sah secara kepercayaan yang dianut nya dan sah secara hukum.

    Saya menikah sederhana sekali, karena saat itu ayah meninggal, jadi menikahnya di depan jenazah ayah. Saat ditawari mau dipestakan, rasanya udah males, ntar malah sedih.

  8. Kris …
    Saya juga mendengar siaran episode yang itu …
    (we both I-listeners right ??)(penggemar setia Pagi-pagi Rafiq – Poetri)
    tentang pernikahan yang diam-diam …

    Dan persis seperti apa yang dipikirkan oleh Kris …
    Saya juga berfikir … kok sulit sekali ya orang menikah itu …
    mengapa mesti sembunyi … mengapa mesti berdusta … sampai kapan mereka akan terus begitu … dst dst …

    But …
    Ya begitu lah hidup manusia …
    sangat beragam …

    Salam saya

    • Haha, sesama penggemar acara Pagi-pagi ketemu di blog🙂

      Saya berpikir, pernikahan2 itu rasanya kok sulit sekali ya. Banyak yg disembunyikan. Apa nggak capek ya terus menerus berdusta?

      Saya salut sama Rafiq-Poetri. Bisa ya mereka bikin topik kaya begitu…. Dan seru! Hehe

  9. Wah, di Yogya ada I-Radio nggak sih? Tapi kalaupun ada, aku harus beli radio dulu untuk bisa dengerin siaran mereka (hawong nggak punya radio … hehe)

    Saya sering melihat anggota masyarakat yang menikah diam-diam. Bahkan di kalangan artis pun tidak sdikit yang menikah diam-diam. Alasannya tentu macam-macam : tidak disetujui orangtua, karena menikah dengan suami orang, demi karier, dll …

    Pade akhirnya, pasangan yang menikah diam-diam tetap saja butuh pengakuan, tetap saja akan mendeklarasikan pernikahan mereka, karena terus berbohong dan sembunyi-sembunyi itu sangat melelahkan …

    • Di Jogja ada I-Radio juga, Bu. Tapi kalau acara Pagi-pagi yang penyiarnya Rafiq-Poetri, cuma ada di Jakarta sepertinya (eh, tapi bisa didengarkan lewat streaming internet, deh kayaknya, Bu).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s