Akan Ada Paus dari Indonesia?

Hari Minggu kemarin (22 November 2009), aku dan temanku, Joanna sengaja ikut misa di Gereja St. Anna, Duren Sawit (Jakarta Timur). Biasanya kami misa di kapel dekat rumah yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Awalnya sih, dia cuma bilang kalau di St. Anna ada laki-laki ganteng bazar seusai misa. Baiklah, aku sih oke-oke saja mau misa di mana.

Setelah parkir motor, kami masuk pelataran gereja dan aku melihat Bapak Uskup Mgr Julius Darmaatmadja SJ sedang keluar dari mobil. Wah, misa yang cukup meriah sepertinya nih. Dasar aku nggak ngeh kalau misa kali ini adalah misa ulang tahun paroki St. Anna yang ke-25.

Sesampai di dalam gereja, Joanna bilang bahwa gereja ini dulu pernah dibom. Itu lo, waktu musim pengeboman pas misa Natal beberapa tahun lalu. Dan aku kembali terheran-heran, gereja seperti ini dibom? He? Nggak salah? Bayanganku, kalau orang mau ngebom, dia pilih gereja yang dekat dengan jalan raya dong. Kalau St. Anna ini, gerejanya agak masuk, agak jauh dari jalan raya, dan dekat sekali dengan kompleks perumahan. Berarti dulu si pengebom itu, memang niat banget ya. Sampai jalan masuk-masuk pun dijabani.

Nah, ketika doa Syukur Agung, telingaku mendengar nama Mgr Ign Suharyo Pr disebut-sebut. Mendadak aku jadi bertanya-tanya, “Aku sedang di Jogja atau di Jakarta sih ini?” Perlu diketahui, pada doa Syukur Agung, ada bagian yang menyebut nama uskup setempat dan Paus. Setahuku, Mgr Ign Suharyo Pr, kan uskup Keuskupan Agung Semarang (dan Jogja masuk keuskupan Semarang). Sedangkan aku ini kan sedang di Jakarta (Keuskupan Agung Jakarta–KAJ), mestinya yang disebut nama Mgr Julius Darmaatmadja SJ saja dong. Apakah aku mendadak berpindah ke Jogja? Halah, lebay deh!

Sepulang dari misa di St. Anna dan puas makan nasi tumpeng, aku pun browsing di Internet. Dan ternyata Mgr Ign. Suharyo Pr. sejak tanggal 25 Juli kemarin secara ditunjuk sebagai Uskup Koajutor atau uskup pembantu. Jabatan Uskup Koajutor bisa secara otomatis menjadi uskup bila uskup sebelumnya pensiun (emeritus) Jadi, beliau ini on the way menggantikan Mgr Julius Darmaatmadja SJ yang akan emeritus atau pensiun.

Mgr Ign Suharyo Pr ini dilahirkan di Sedayu, Yogyakarta, tanggal 9 Juli 1950. Beliau adalah putra dari Bapak Florentinus Amir Hardjodisastra (alm.) dan Ibu Theodora Murni Hardjodisastra. Beliau ini lahir sebagai dalam keluarga besar–10 bersaudara. Dari 10 bersaudara itu, seorang sudah meninggal. Jadi, tinggal 6 putra dan 3 putri. Sepertinya keluarga Bapak Florentinus Amir Hardjodisastra itu cukup religius, karena 2 putranya menjadi pastor, yaitu Pst. Suitbertus Sunardi, OCSO dan 2 putrinya menjadi suster/biarawati, yaitu Sr. Marganingsih dan Sr. Sri Murni. Aku cuma mikir, dua putranya itu kok bisa jadi pastor yang “tidak umum”, yang satu jadi uskup, dan yang satunya lagi menjadi pertapa. Itu kalau pertemuan keluarga, yang diobrolkan apa ya?

Aku tidak terlalu mengenal Mgr Ign. Suharyo Pr ini, tetapi aku ingat saat aku di Asrama Syantikara dulu setiap Rabu dan Jumat ada misa di kapel asrama. Kalau misa hari Rabu, pastor yang memimpin misa (zaman aku masih di sana lo), pastornya itu-itu saja–Romo Padmo. Tapi kalau hari Jumat, pastornya ganti-ganti. Nah, salah satunya dulu yang kadang memimpin misa di sana adalah Pastor Ign. Suharyo itu. Yang aku ingat dari beliau adalah, beliau kalau bicara itu tertata sekali. Nada bicaranya datar dan halus. Tipikal orang Jawa lah.

Nah, suatu kali dikabarkan bahwa Keuskupan Agung Semarang (KAS), uskupnya ganti. Aku cuma dengar suster asrama mengatakan bahwa yang menjadi uskup adalah Romo Haryo. “Jangan-jangan yang jadi uskup, romo yang kadang misa di asrama ya?” pikirku. Dan ternyata memang begitulah kenyataannya. Aku sama sekali tidak menduga kalau pastor yang berwajah baby-face dan yang bicaranya halus itu menjadi Uskup KAS.

Dan sekarang, ketika aku tahu bahwa Mgr Ign Suharyo Pr akan menggantikan Mgr Julius Darmaatmadja SJ, aku jadi berpikir, “Bisa-bisa besok beliau bisa menjadi Kardinal.” Dan jika menjadi Kardinal, maka beliau bisa terpilih menjadi Paus. Hmmm, besok jangan kaget ya kalau ada Paus dari Indonesia😉

*Foto pinjam dari sini.

19 thoughts on “Akan Ada Paus dari Indonesia?

  1. Meskipun saya Muslim …
    Saya pernah menjalani sekolah di yayasan katolik lho Kris …
    So membaca cerita kamu ini ingatan saya pun langsung terbang ke masa-masa SD-SMP dulu …

    (ya … yang aku ngabur sementara itu )(hehehe)

  2. Romo Haryo memang pribadi yang menyenangkan. Secara personal aku ngga terlampau kenal tapi pernah keep in touch sama beliau ketika aku aktif di pelayanan karismatik tempo hari di Jogja.

    Dia pribadi yang bisa hapal nama saya, “Kamu..Doo..” lalu kusahut “Donny, romo”…

    Orangnya halus juga pintar.
    Meski aku gak yakin dia bisa jadi paus, tapi dia memang one step ahead menjadi kardinal.
    Hidup semarang!🙂

    • Iya, aku melihatnya sebagai pribadi yang rendah hati. Kalau pas misa dibacakan surat gembala sewaktu dia menjabat uskup KAS, rasanya mudah dimengerti. Beda dg surat gembala yg lain. Atau itu cuma perasaanku saja ya? hahaha

  3. hehehe siapa tahu ya orang Indonesia bisa jadi paus… Jika itu kehendak Tuhan.

    Yang aku heran ya kris, banyak sekali keluarga Jawa yang anaknya banyak, dan paling sedikit 2 dari anaknya menjadi biarawan/biarawati. Keluarga besar dari adik iparku di Solo juga gitu, mesti ada yang jadi suster/pastor.

    Yang lucu aku kenal Romo Pujasumarta (sekarang Uskup Bandung) lewat Multiply, lalu kami membuat jaringandoa lewat internet (http://www.jaringandoa.com). Tau-taunya beliau adalah adik dari Romo Ismartono (KWI) yang dulu mengajar agama waktu aku kuliah. Hebat!

    Oh ya aku mau tanya, Romo Padmo itu projo bukan?

    EM

    • Romo Padmo itu Yesuit, Mbak. Dulu dia Romo Mahasiswa (pas aku kuliah). Kalau dia yg mimpin misa (di kapel asrama), nggak pernah pakai jubah. Hanya pakai baju biasa, plus celana jins.😀

  4. aku pernah sekali ktemu romo haryo . .. eh dua kali deng.. pertama di kenthungan, mohon bantuan beliau untuk misa di sekolah.. yg kedua.. ya waktu misa di sekolah

    pribadi yang hangat dan sederhana🙂

  5. Orang-orang tua dulu sering bilang, kalau ketemu Bapa Uskup, ciumlah cincin di jari manis kanannya. konon, banyak berkah disitu…aku beberapa kali ngincer cium cincin Mgr. Suharyo itu..seringnya sih gagal hehe..karena umat berjubel berdesakan ingin salaman dengan beliau.
    aku nggak tau apakah orang-orang muda masih sering mendengar “ritual” ini.
    Aku sukes mencium cincin Uskup waktu di Balikpapan, Uskup dari Pontianak.

    oh ya, aku punya kenangan khusus dgn Mgr. Suharyo. aku pernah jadi MC di misa agung penerimaan Sakramen Krisma di Muntilan th. 1998 kalau nggak salah. lalu dilanjutkan dengan ngemsi di acara ramah tamah bersama dengan dewan paroki. dan…beliau sempat memuji suaraku merdu…dooh…klepek-klepek deh..seorang Mgr. Suharyo yang hebat gitu loh, memujiku…uhuy….

    • Oh, mesti mencium cincinnya ya? Baru tahu aku. Aku selama ini kalau salaman dg Uskup, ya sekadar salaman saja. Tidak pernah cium cincinnya, apalagi cipika-cipiki hihihihi. (Bisa dihajar massa kali ya kalau cipika-cipiki?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s