Kenangan di Hari Hujan

Hari hujan dan suasana yang dingin dengan sempurna melemparkanku untuk menyusuri lorong-lorong waktu di masa lalu. Dan kemarin sore, setelah berhujan-hujan sepulang dari rumah teman, aku mandi lalu duduk di depan komputer–seperti biasa. Hujan memang paling nyaman dinikmati di dalam rumah. (Asal rumahnya nggak bocor atau kebanjiran ya?)

Lalu, kenangan seperti apa yang muncul saat hari hujan?

Kenangan yang pertama kuingat adalah kenangan saat aku berada di Madiun. Aku ingat, saat hari hujan, aku lalu berdiri di ruang tamu. Lalu dari balik jendela kaca, aku menikmati curahan air hujan yang menitik deras di halaman. Konyolnya, aku menganggap titik-titik air hujan itu seperti kodok yang sedang berlompatan dengan riangnya. Bukan kodok yang jorok dan muram, tetapi kodok “kartun” yang sering kulihat di buku bergambar anak-anak. Kodok yang tersenyum lebar, dan melompat sambil bernyanyi. Seolah-olah ada yang memegang gitar dan memulai koor. Bener-bener kartun deh isi kepalaku ini. He he!

Meskipun di dalam rumah, toh aku masih merasakan kedinginan. Dan aku semakin menggigil meyaksikan anak-anak yang berlari-lari, sengaja berhujan-hujan. Sepertinya mereka senang sekali. Entah sudah sampai mana mereka. Biasanya mereka bergerombol, sekitar tiga atau empat orang. Kadang sambil berteriak-teriak kegirangan. Tapi aku hampir tak pernah melihat ada anak perempuan yang ikut berhujan-hujan. Hanya anak laki-laki. Mungkin anak-anak perempuan yang lain cukup senang melihat hujan dari balik kaca jendela rumah, atau justru dilarang berhujan-hujan karena dikhawatirkan akan masuk angin dan demam sepulang menikmati guyuran hujan.

Kenangan yang kedua adalah saat aku berada di asrama. Waktu di asrama, selama tiga tahun pertama, unitku berada di dekat Sungai Babilon. Keren ya namanya? Padahal cuma sungai keruh yang mengalir di tengah halaman asrama. Kalau tidak salah, sungai itu adalah terusan Kali Mambu yang mengalir di Jalan Batikan. Kebetulan, di tahun kedua dan ketiga, aku bisa memilih tempat tidur dan meja belajar yang dekat dengan jendela. Jadi, sepanjang hari aku bisa mendengar suara aliran sungai. Nah, di saat hari hujan … Sungai Babilon ini airnya semakin tinggi. Alirannya semakin deras saja. Dan aku ingat betul, di tahun pertamaku tinggal di asrama, Sungai Babilon itu meluap sampai airnya masuk ke ruang tidur kami! Tapi waktu itu aku hanya bisa melihat teman-teman dan mbak-mbak asrama hilir mudik mengepel. Aku cuma menonton dari atas tempat tidur karena aku sedang demam. Hi hi…

Sekeluarnya dari asrama, aku dan kakakku menempati rumah di Dusun Krapyak, Wedomartani. Rumah itu cukup dekat dari kampus tempat kerja kakakku yang berada di Paingan. (Hmmm, bagi orang Jogja mungkin bisa menebak, kampus apa yang berada di Paingan itu.) Tapi dari kantorku yang terletak di Kotabaru, rumah itu lumayan jauh. Eh, tak jauh-jauh amat ding. Hanya sekitar 10-11 kilometer saja. Awalnya memang jarak rumah-kantor itu seperti menyeberangi samudera, alias juauhhh. Tapi dibandingkan perjalanan Bu Tutinonka ke tempat kerjanya, tentu perjalananku dari rumah ke kantor tak ada apa-apanya.

Di awal-awal aku menempati rumah di Krapyak itu, aku sering awang-awangen untuk pulang. (Halah, pulang kok awang-awangen to?) Karena jauhnya itu lo! Apalagi membayangkan rumah kami di tempat yang masih sepi, yang (waktu itu) tetangganya baru dua rumah, rasanya kok nglangut ya? Akibatnya, aku jadi sering berlama-lama di kantor. Aku tidak termasuk rombongan teng-go, yang begitu jam kantor usai langsung nggeblas–menghilang. Jadi, aku tetap tinggal di kantor. Kadang cuma baca-baca buku, kadang browsing internet. Tetapi tentu aku tidak sendirian dong, ada seorang kawanku Lena, yang dulu juga sering berlama-lama di kantor. Selain itu, setiap sore kantorku sering dipakai anak-anak muda untuk berbagai kegiatan. Jadi, kantorku tidak sepi di kala sore.

Suatu sore, hujan turun dengan derasnya. Waktu itu aku pikir, ah … nanti juga akan reda dalam satu-dua jam. Perkiraanku, pukul 6 pasti hujan sudah reda. Tapi perkiraanku meleset. Sampai pukul 19.30 hujan masih menggempur Jogja. Weladalah … mau pulang jam berapa ini? pikirku. Sementara itu, perutku sudah melilit. Ya, kantorku memang sebelahan dengan Mirota Bakery, tetapi kalau cuma memenuhi perutku dengan roti, mana kenyang? Maklum perut Jawa, kalau belum diisi nasi, masih berontak minta diisi. Akhirnya, dengan gagah berani aku menembus hujan. Itu berarti aku mesti siap jika motorku mogok. Waktu itu aku masih memakai BMW alias Bebek Merah Warnanya, yang kalau tidak hati-hati, kalau busi terkena air bisa mogok motorku. Wis, tak apa.

Begitu menyusuri jalan pulang, aku betul-betul deg-degan. Lha wong, aku hampir tak bisa melihat jalan. Hujan itu begitu deras, dan ada beberapa jalan yang tergenang air. Aku tak tahu mana jalan yang berlubang. Aku cuma berusaha jalan di tengah, kalau terlalu minggir, bisa-bisa kecemplung got. Hujan itu membuat pandanganku kabur. Aku berusaha keras menjaga gas motorku supaya tidak mogok. Sungguh suatu perjuangan yang membuatku mau tak mau ndremimil berdoa sepanjang jalan! Aku berdoa supaya tidak kecemplung got, tidak masuk lubang jalanan yang tertutup air, supaya tidak menabrak atau ketabrak orang. Rasa-rasanya dua putaran rosario selesai kudaraskan deh. Hihihi. Akhirnya, setelah berjuang selama empat puluh menit, aku pun sampai di rumah. Leganyaaaa…!

Kenangan pulang kantor dengan berhujan-hujan tentunya tidak hanya sekali itu saja. Beberapa kali aku terpaksa pulang menembus hujan. Tetapi ritual ndremimil berdoa sepanjang jalan itu rasanya tak berubah, sampai-sampai aku memasukkannya dalam bukuku Tuhan, Ngobrol Yuk! (Ah, buku pertamaku itu bagaimana kabarnya ya? Sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Dan sudah lama sekali aku tidak mengumpulkan tulisan-tulisanku. Apakah ini berarti sudah waktunya untuk memulai sebuah proyek untuk membuat buku lagi ya? Hujan memang punya sejuta arti…)

Teman-teman, di hari hujan, kenangan apa yang menempel kuat di benak kalian?

29 thoughts on “Kenangan di Hari Hujan

    • Bau tanah yg terguyur hujan pertama memang segar…. dan kalau aku, bisa membuatku melayang kita ke masa2 yang indah. (halah…!) hehe

  1. Wah, bukunya perlu dibaca nih…aku juga ngobrol seru dengan Tuhan di kala hujan…benar-benar menjadikanNya navigator di kala itu (baca di http://journey-to-his-words.blogspot.com/2009/02/berkat-malaikat-pelindung-2.html ). Hmmm andainya dalam setiap langkah bisa menjadikanNya navigator seperti pada hari itu, terkadang kepasrahan dan keyakinan yang seperti itu susah diperoleh. Semua dikalkulasi dengan otak, padahal hasilnya tidak seindah rencana…

    Yang jelas sehabis hujan saya selalu menanti pelangi (tapi jarang bisa ditemukan di Jakarta akhir-akhir ini)

    • Ya, memang pas hujan2 itu aku belajar pasrah. Habis mau bagaimana lagi? Wong benar2 nggak bisa melihat jalan. Iya, di Jakarta ini jarang ada pelangi ya?

    • Kalau aku yang kurang suka kalau hujannya sepanjang hari, plus dengan guntur dan kilat. Di kampung halaman suamiku, hujan deras seperti itu biasa terjadi. Dan kalau hujan spt itu, aku cuma di rumah terus. Sebel, jadi nggak bisa ke mana2 deh.

  2. Saat masih sekolah di Madiun, sepeda masih merupakan tranportasi yang umum. Jika pulang les sore hari, kehujanan dan melihat mendungnya rata dan putih alamat hujannya lama. Saya sering nekat bersepeda berhujan-hujanan.

    Pernah saat pulang dari Dolopo, sekitar 28 km dari Madiun ke arah Ponorogo, saya dan teman-teman kehujanan, dan ngeyub (hmm ..apa bahasa Indonesia yang tepat) di teritisan toko sambil memandangi hujan yang tak berhenti-henti. Dan karena rame-rame sama teman, hati ini senang aja.

    Rumah tempat kost ku di Bogor menghadap langsung ke IPB, ke arah halaman depannya…jika hujan saya suka melihat para mahasiswa/i yang pulang berpayung ria. Kami bertiga (teman sekamar) sampai hafal beberapa orang yang suka berpayung berdua, menebak-nebak apa mereka pacaran ya.

    Persis di depan kamarku, ada pohon bougenville yang besar sekali. Jika bulan Oktober, bunganya indah sekali dan berguguran di rumput yang menghampar hijau di bawahnya. Namun jika hujan campur petir ngeri juga, karena Bogor pernah ada angin puting beliung yang menimpa pepohonan di Kebun Raya (tempat kost ku persis sebelah Kebun Raya) dan banyak korbannya…dan bougenville di depan kamarku itu umurnya sudah sangat tua, namun indah sekali.

    • Ngeyub? Bahasa Indonesianya: berteduh.
      Dulu waktu di asrama saya juga suka begitu, suka mengamati teman-teman yg sering berdua dg teman lelakinya. Lalu menebak2, apakah mereka pacaran? Hahaha. Kadang tebakan itu meleset, karena yg dianggap pacar rupanya adik atau kakaknya.

  3. kalo aq lbh suka hujan drpd panas asal jgn lebat bgt soale kasian yg rmhnya langganan bnjir…bau tanah saat hujanpertama turun..ehmm..meski dijkt jrng kecium…Yg pasti sgl sesuatu yg kt alami adlh anugerah Tuhan yg terindah dlm hdp kt…

  4. oo kenangan2nya itu dibukuin ya.. keren! nulis lagi dong.. oiya yg jelas saya ga suka hujan. macet, banjir jadi susah kmn2..

    salam kenal yah!:mrgreen:

    • Kalau di Jakarta, hujan biasa menimbulkan banjir…. Sebel memang kalau harus terjebak banjir. Terima kasih sudah mampir kemari🙂

  5. Kenangan apa ya.. Yang pasti kalo lagi di jalan, hujan terasa nggak menyenangkan. Kalo di rumah, baru terasa nikmatnya.

    Mas, opo kuwi nglangut, ndremimil, dan nggeblas? Hehe..

    • Kalau di rumah, hujan itu jadi menyenangkan untuk tidur. Kalau pas di jalan, bikin kita kedinginan dan kangen rumah.
      Nglangut? Apa ya? Duh, jowo banget aku ki. Sampai bingung menjelaskannya. Btw, panggil saya “mbak” saja ya… hehehe😉

  6. Kenangan hujan… hmmm menarik…
    Aku mengenang hujan adalah saat yang menyenangkan karena bisa menikmati sayur bobor, sambel pedes, iwak teri digoreng garing, rujak dan wedang jahe bikinan Mama sambil bercengkrama di tengah suara butir hujan yang riuh..

    Gossshhhhh, kangen Klaten!

  7. aih… sudah pernah punya buku tho? mantaplah itu…😀

    secara spesifik aku tidak punya kenangan khusus dengan hujan. hanya, di masa kecil, mandi hujan adalah sebuah kesenangan luar biasa, apalagi sambil main bola, wuih… nikmatnya… sekarang? malu sama perut, hehehe…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s