Ketemu Presiden SBY di Metromini?

Sudah setahun lebih aku tinggal di Jakarta. Judulnya ikut suami. Ya, begitu menikah aku langsung memutuskan untuk keluar dari pekerjaanku di Jogja lalu langsung ngibrit mengikuti suami yang bekerja dan kuliah di ibu kota ini.

Seperti layaknya penghuni baru sebuah kota, aku mesti beradaptasi. Dari yang dulu tinggal di kampung yang sepi, sekarang mesti tinggal di sebuah perkampungan yang cukup padat. Dari yang dulu di mana-mana bisa bicara dengan bahasa Jawa dengan banyak orang, sekarang mesti berbahasa Indonesia. Dan di Jakarta ini bahasa Indonesianya adalah bahasa Indonesia yang gaul, yang lu-gue itu loh! Sumpah, sampai sekarang aku tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia ala Jakarta yang disebut gaul oleh banyak orang. (Sebenarnya aku bingung, apa maksudnya gaul dalam hal ini.) Lalu, salah satu adaptasi yang kurasa cukup signifikan adalah dari aku yang dulu ke mana-mana naik sepeda motor, sekarang ke mana-mana harus mengandalkan kendaraan umum.

Ampun!

Bagiku, ke mana-mana naik kendaraan umum adalah adaptasi yang butuh waktu lama. Sepertinya sampai sekarang aku juga masih adaptasi. Nggak pinter-pinter nih. Jadi, ceritanya begini, kalau naik motor sendiri, aku bisa langsung memperkirakan, kalau mau ke suatu tempat, umpamanya mau ke X tuh cuma butuh waktu ya, kira-kira 15 menit lah. Tapi begitu aku harus naik kendaraan umum, ternyata perkiraanku salah! Bisa setengah jam, bisa 45 menit. Dan di sini, perjalanan yang memakan waktu satu jam itu dibilang dekat. Doooh! Mau tahu kenapa bisa begitu? Karena kendaraan umum itu–entah mikrolet, metromini, atau KWK–tak bisa ditebak. Kadang mereka ngetem, kadang jalannya seperti keong, kadang nggak segera muncul, kadang ngebut nggak karuan. Aku sering geregetan kalau sudah begini. Pengin tak sopiri sendiri–sayangnya nggak bisa.

Salah satu kendaraan umum yang sering kupakai jasanya adalah metromini. Itu loh, bus yang warnanya oranye, yang kadang seperti keong tetapi juga suka ngebut itu. Di jam-jam orang berangkat dan pulang kantor, bus oranye jelek itu sering penuh. Penumpangnya kadang terpaksa harus merasa deg-degan karena berdiri di tepi pintu. Dan si sopir yang entah belajar nyopir di mana itu, dengan seenak udelnya terkadang mengerem dan mengegas busnya dengan mendadak. Biyuh… biyuh!

Selain metromini, kendaraan umum lain yang kadang kupakai adalah TransJakarta (TJ). Nah, naik TJ ini ada triknya. Kalau mau nyaman, jangan naik di jam berangkat dan pulang kantor. Lalu, kalau bisa, naiklah di halte pemberangkatan, misalnya di Dukuh Atas, Harmoni, atau Pulogadung karena di situ kita masih bisa mendapatkan tempat duduk, atau mencari tempat berdiri yang cukup nyaman. Nah, yang menyebalkan adalah jika kita buru-buru, dan TJ yang kita tunggu-tunggu tidak muncul. Atau kalaupun dia muncul, lewat begitu saja–tidak mengangkut penumpang yang sudah merindukannya di halte.

Ah, ya … memang naik kendaraan umum di Jakarta ini bisa menimbulkan banyak kesan–dan kadang menjengkelkan. Tapi tahu nggak, selama aku di Jakarta, belum pernah sekalipun aku bertemu Presiden SBY di metromini atau TJ. Ha ha! Mimpi kali yeee? Ya, memang mimpi. Ya jelas tidak mungkin Pak SBY ikut berjejal-jejal di dalam metromini. Dia juga mungkin tidak perlu menembus banjir yang sepertinya belakangan ini mulai berakrab-akrab dengan warga Jakarta. Dia tak mungkin ikut bergelantungan di dalam KRL yang padat. Dia tak mungkin duduk bersebelahan dengan sopir metromini yang sepertinya tak pernah mandi dan terus menerus merokok itu.

Aku cuma berangan-angan, seandainya, seandainya lo ini, jika Pak SBY itu ikut berjejal-jejal di dalam metromini selama sebulan saja, apakah dia bisa mengeluarkan kebijakan yang lebih baik ya? Setidaknya dia ikut merasakan bahwa sebagian besar rakyatnya ini tidak melulu hidup enak. Itu lo, seperti cerita masa kanak-kanak yang menceritakan ada raja yang menyamar dan tinggal bersama rakyatnya. Lalu usai menyamar ia membuat kebijakan yang menguntungkan rakyat kecil, dan ia akan semakin dicintai rakyatnya. Dalam bayanganku raja itu bijaksana sekali. Tapi rasanya nggak mungkin ya Pak SBY itu bertindak seperti raja yang bijaksana? Kupikir-pikir mengapa pemerintah kita sepertinya tidak mengurusi rakyat dan tidak bisa membuat kebijakan yang signifikan, kurasa adalah karena mereka sudah lupa bagaimana rasanya jadi rakyat biasa. Jika para pejabat itu sama-sama ikut menderita bersama rakyat, mungkin akan lain ceritanya. Jadi, bertemu dengan Pak SBY di metromini? Mimpi kali yeee …!

32 thoughts on “Ketemu Presiden SBY di Metromini?

    • Semoga bukan harapanku saja, Mas. Harapan semua rakyat kan pengen pemimpinnya dekat dengan mereka. Tapi siapa tahu nanti pas naik metromini, minimal ketemu Bang Foke… hahaha

  1. Ceritamu mengingatkanku pada seorang bupati ponorogo (yg aq lupa namanya hehe), dgr2 beliau sering keluar malem hari dgn pakaian spt org pd umumnya, ngobrol2 dg tukang becak atau mbok bakul pecel. Gak tau tujuannya utk apa, mgk dg cr spt itu dia bs merasa dekat dgn orang2 kecil. Tp bener lho beliau bgt dipuja masy ponorogo.

    • Oya? Bupati yang sekarang bukan? Bagus tuh ada pemimpin yg seperti itu.

      Wah, aku tidak menyangka kamu mampir ke blogku ini, Lin.πŸ™‚ Terima kasih sudah mampir ya.

    • Saya juga sebetulnya serem kalau sopir metromininya ngebut. Tetapi ya, kadang mau nggak mau naik itu sih, Mbak. Kalau naik taksi, berat di ongkos euy!πŸ˜‰

  2. Dulu waktu saya masih naik metro mini juga punya pikiran yang serupa lho sama mbak Kris … (dulu masih jaman orde baru …)

    Waktu itu Metromini lebih ajaib lagi …
    Langit-langitnya pendek … sehingga kalau mau berdiri didalam … kita harus menekuk leher kita sedemikian rupa … baru cukup …
    Dan saya termasuk berbadan tinggi waktu itu … Sengsara sangat …

    So keluarlah fikiran …
    “Kira-kira kalo presiden naik metromini ini komentarnya gimana ya …” (hehehee)

    Salam saya

    • Om, jadi metromini jaman reformasi ini lebih beradab ya ketinggian langit2nya? Eh, tapi buat orang yg tergolong tinggi, sepertinya memang ngepas banget ya tinggi metromini itu…

  3. Hehehe, kalau di sini meski tak naik transportasi umum, tapi perdana menteri dan pejabat yang lainnya menyetir sendiri dan tidak disupiri.

    Btw, kowe ra perlu berbahasa gaul, malah wagu podho karo aku…
    Mari kita tetap setia pada Bahasa Jawa, hahaha!

  4. Kris, aku 5 th di jkt, bahasaku tetap nggak loe-gue… bahasa jawa-indonesia masih 50-50 (kalo nawar ikan di pasar tetep basa jawa. aku dah pake basa indonesia, eh, pedagangnya nyautin pake basa jawa ;p)… tetep naik motor ke mana2… bahkan, kalo potong rambut tetep masih di jogja, hehe… asyik2 aja kok…

  5. Bahasa gaul? Hehehe..digunakan seperlunya saja. Tentang bahasa gaul di Jatim pun ada, bukan? Ebes untuk Ayah, Memes untuk Ibu dan bahasa Malang yang dibolak-balik menjadi istilah bahasane kera ngalam (bahasanya arek malang)

  6. Kedua anak saya lahir di Jakarta, tapi sampai sekarang yang bisa bahasa gaul hanya si bungsu. Walau sudah 30 tahun menetap di Jakarta saya juga tetap menggunakan bahasa Indonesia yang umum. Si sulung malah selalu pakai bahasa Indonesia dengan tata bahasa yang baku, membuat orang yang diajak ngomong terheran-heran apalagi saat dia masih TK s/d SD.

  7. aku komen bahasa gaul aja ya…hmm…aku kadang-kadang pakai “lu-gue” dgn temen yg udah deket bgt..
    dulu memang aku nggak pengen pakai “lu -gue” tp yah, tergantung lawan bicaraku aja. paling 2-3 org temen di Jkt yang kusapa dgn cara ini.
    “gue” jg kadang2 kupakai di bahasa tulisanku, untuk mengekspresikan kejengkelan (biasanya) hehe.. a.k.a getem-getem..

  8. sebetulnya pemimpin yang masuk ke angkutan umum itu sudah sangat banyak Kris… coba aja perhatikan ketika kampanye, banyak kan gambar mereka bertebaran di sana…? hehehe…πŸ˜€

    • Hehe, beraninya cuma pasang gambarnya saja. Kalau benar-benar naik angkot kayaknya masih belum berani deh. Salah-salah malah kecopetan… :p

  9. Aku inget itu cerita tentang raja yang menyamar jadi rakyat biasa, dan kemudian mengeluarkan kebijakan buat rakyat nya hehe.

    Jadi inget waktu kecil sering banget baca baca cerita-cerita bergambar, yang bukunya buesar dan berwarna. Gambarnya juga artistik banget.

    Entah karangan dari penerbit mana ya, lupa.

    Gak cuman mimpi pak SBY naik metromini. Gimana kalo naik metromini terus ditodong? Kira kira kebijakan macam apa yang bakal keluar ya?πŸ˜€

    • Wah kayaknya seru tuh kalau SBY sampe ditodong. Bisa buat bahan tulisan utk cerita anak2 kali…. hihihi. Kebijakannya mungkin setiap masuk bus, ada alat utk menscan isi tas dan kantong kita. Wuih, angkot jadi keren dong!πŸ™‚

  10. Sekarang kalu ada pejabat menyamar hanya untuk cari tahu apa dia disenengi atau dibenci rakyat lalu pulang rumah …n…tidak buat apa-apa??? Kalau ada petugas menyamar ya menyamar untuk cari tahu kebenaran sadapannya dan menangkap basah sang koruptor. Rakyat berteriak tangkap…tangkap…sementara penyadapan mau dibatasi …ketakutan nih yeeee… para koruptor atau calon/bakal jadi koruptor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s