Apakah HP Keluaran Terbaru Akan Membuat Hati Kita Menjadi Baru?

Aku ini termasuk lemot untuk urusan HP. Lemot itu karena aku malas sekali untuk gonta-ganti HP. Biarpun sekarang zamannya HP lebar dan besar, aku tidak (eh … belum kali ya) tertarik untuk mengganti HP tipisku ini dengan model yang terbaru itu. Prinsipku asal baterainya belum soak, ya tidak kuganti. Lagi pula, yang penting ada pulsanya. Kalau punya HP keren tapi nggak ada pulsa? Mau ngapain coba? Manyun aja deh.

Kalau aku sedang berada di tempat umum, katakanlah di dalam bus patas, aku akan dengan mudah melihat orang-orang yang sedang memencet-mencet HP mereka. Tentunya HP yang besar-besar dan lebar itu. Begitu juga kalau di mal-mal, banyak sekali orang asyik dengan HP semacam itu.

Dan yah, harus diakui HP lebar itu sekarang sedang tren. Ini mengingatkanku pada masa SD dulu, ketika hampir semua temanku memiliki tas koper untuk dibawa ke sekolah. “Wah sepertinya keren ya kalau ke sekolah pakai tas koper.” Mendadak sepertinya ada kebutuhan untuk menjadi sama dengan teman-teman yang lain. Aku lupa apakah aku merengek-rengek pada orang tuaku untuk dibelikan tas koper atau tidak, tapi mungkin juga aku merengek dan membuat bising di rumah. Hehehe. Yang jelas, aku akhirnya punya tas koper. Wah, senangnyaaaa …. Kutenteng tas itu dengan penuh kebanggaan. Lalu ketika membukanya, aku lalu membanding-bandingkan bagian dalamnya dengan tas koper milik temanku. Akhirnya aku sama seperti teman-temanku yang lain. Nah, tren ala tas koper itu kupikir tak jauh berbeda dengan tren telepon genggam yang lebar dan besar itu.

Bagi sebagian orang, tidak mengikuti tren mungkin membuat tidak nyaman. Jika tidak mengikuti tren barangkali kita seperti orang yang memakai baju polos, sementara hampir semua orang memakai batik. Kita mendadak merasa tidak nyaman, padahal tidak ada yang mengharuskan kita memakai batik. Kita mendadak merasa tidak nyaman, padahal toh kita masih memakai baju yang rapi, yang warnanya pun masih bagus, yang semua jahitannya masih terkelim dengan baik. Namun, karena kita berbeda dengan hampir semua orang, kita menjadi kagok. Berbeda memang kadang tidak menyenangkan, ya?

Perkembangan HP yang cepat itu tanpa sadar mempengaruhi cara kita berpikir dan berperilaku. Model-model HP yang baru menggelitik kita. Sepertinya kok mendadak ada yang kurang ya kalau kita tidak memiliki HP macam itu. Apalagi, teman-teman kita mulai memiliki dan menggunakannya. Bukan sekadar kenalan loh, tetapi kini teman-teman dekat kita sudah memilikinya. Lalu, kita merasa punya kebutuhan untuk menjadi seperti mereka. Dan biasanya orang-orang yang memiliki kesamaan akan memiliki aktivitas yang sama pula. Misalnya, suatu kali aku ditanya oleh seorang teman (lewat FB), “Pinmu berapa?” Dengan bodohnya aku berpikir, gile nih orang, nanya-nanya pin. Masak aku mau memberikan pin ATM-ku? Lalu suamiku mengatakan bahwa yang dimaksud dengan pin itu adalah pin Blackberry (BB). Oalah … aku menertawakan kebodohanku. (Nah, semakin jelas kan ke-lemot-anku dalam soal HP itu?) Coba pikir, kalau semua teman dekatku punya BB, dan mereka bisa chatting dengan leluasa, sementara aku sendiri yang tidak punya, bagaimana coba? Sepertinya dorongan untuk memiliki HP serupa akan begitu kuat. Dan aku yakin, dalam waktu singkat, pertahananku untuk tidak mengganti HP akan jebol juga. Bukan tidak mungkin aku yang semua keukeuh untuk tidak mau mengganti HP sebelum HPku rusak, akan berubah. Aku toh manusia biasa yang kadang masih tidak tahan terhadap godaan loh. Hehehe

Sekarang ini rasanya perkembangan HP semakin cepat saja. Sepertinya dalam hitungan bulan, akan muncul model HP yang baru. Dan entah bagaimana kurasakan manusia seakan semakin “rakus”. Seolah-olah kita tidak pernah puas. Kenapa bisa begitu ya? Karena tanpa sadar kita “dididik” untuk rakus. Tanpa sadar, iklan-iklan yang mejeng di jalanan, di majalah, dan di berbagai di media massa itu seolah-olah mengatakan bahwa barang yang kita miliki ini sudah ketinggalan zaman; sudah saatnya diganti karena sudah ada barang yang lebih bagus. Padahal, barang yang kita miliki (misalnya, HP itu tadi) masih bagus. Masih bisa dipakai. Tidak rusak. Paling-paling hanya warnanya saja yang sudah pudar sehingga tampak kusam saat disandingkan dengan HP keluaran terbaru.

Dulu ketika masih kuliah, saat ada teman yang pulang KKN, biasanya akan ada cerita-cerita yang lucu. Salah satunya adalah di desa yang nun jauh di sana, yang jauh dari kota dan masih belum kebagian listrik, penduduknya cukup kaya karena hasil pertanian mereka bagus. Dan tahu apa yang mereka beli? Yak, betul … mereka membeli lemari es. Loh, padahal pasokan listrik saja belum ada kok mau pasang lemari es? Iya, lemari es itu cuma buat lemari baju. Lemari baju yang keren kan? Ini hal yang aneh, lucu, atau menyedihkan? Entahlah. Tetapi kupikir kalau kita hanya mengikuti tren, mungkin sebenarnya kita pun mirip-mirip dengan mereka. Mungkin lo, ya … pikir saja sendiri bagaimana sebenarnya diri kalian.

Jika kita mau berdiam diri sejenak, mungkin kita tak akan mudah begitu saja mengikuti arus tren. Barangkali kita bisa merenung sejenak sebelum memutuskan untuk berbelanja. Dan sebaiknya sih kita menjadi konsumen yang kritis. Mengapa kita membeli X dan bukan Y? Sebenarnya barang yang kita akan kita beli itu apa sih? Apakah memang perlu? Apakah kita benar-benar butuh? Yaelah … banyak banget pertanyaannya. Jangan-jangan malah nggak jadi beli nantinya. Tetapi bukankah sepertinya memang ada kekuatan yang entah dari mana datangnya, yang seolah-olah menuntut kita untuk membeli ini dan itu, yang mengatakan kepada kita bahwa kita tidak bahagia jika tidak memiliki ini dan itu? Dan jika dikaitkan dengan HP, apakah HP keluaran terbaru akan membuat hati kita menjadi baru?

Eh, tulisan ini lagi-lagi sepertinya tak ada ujungnya dan aku makin tak jelas mau ngomong apa …

(Ini hanya sebuah catatan refleksi ala orang yang otaknya pas-pasan setelah mengikuti Seminar Teknologi Inovasi dan Dampaknya Bagi Kebijakan Publik, Selasa 10 Oktober 2009, oleh Yanuar Nugroho,ย  PhD, di STF Driyarkara, Jakarta)

 

12 thoughts on “Apakah HP Keluaran Terbaru Akan Membuat Hati Kita Menjadi Baru?

  1. handphone besar dan lebar??.. jangan-jangan yg kamu lihat kalkulator, Kris..hehehehe…

    Aku..menyukai teknologi. Gemar ngikutin perkembangan HP, BB, dsb. Tapi…selama ini dan hingga saat ini, aku baru akan ganti HP kalau HPku sudah tidak berpotensi (ga bisa telpon, gak bisa SMS)

  2. aku tau HP yang kaumaksud itu hihi…
    sampai sekarang sih, aku belum tertarik untuk membelinya…(dikasih sih mau, huuuu…)

    Aku masih pakai HP lama, sejak 2006. masih bagus, masih bisa buat SMS dan telpon. udah berapa kali tuh dibanting keponakanku, masih ok tuh, nggak rusak…dan kayaknya aku memang udah sayang banget sama HP-ku ini. kalau belum rusak sampai dhedhel dhuel mungkin belum akan ganti tuh…

    • HP-ku juga sudah lama kupakai. Mungkin umurnya sudah 4 tahunan. Yg satunya lagi malah mungkin sudah 6 tahun umurnya. Masih sekitar balita sih umur HP-ku๐Ÿ˜‰

  3. Tidak semuanya yang baru itu buruk dan tidak semuanya yang lama itu bagus๐Ÿ™‚

    Aku juga benci dengan orang yang gonta-ganti HP hanya karena memenuhi ‘standard hidup’ tapi aku angkat jempol untuk orang yang berani membeli HP versi terbaru untuk sesuatu yang ia tahu berguna secara positif.

    Kalau aku sih terbuka saja mengikuti arus perkembangan jaman. Kalau punya uang dan butuh, ya kubeli.. tapi kalau tak butuh atau tak punya uang, aku akan tetap membuka telinga dan mata terhadap perkembangan yang ada.

    Mengerti, mendengar dan melihat barangkali adalah senjataku untuk dapat peka terhadap jaman tanpa harus mengikutinya :))

  4. Anu… mau ngomong apa yah???๐Ÿ™„
    Ya udah, bingung nih.
    O iya. Aku lupa ngucapin terima kasih atas pinjeman HP yang tidak besar dan lebar nya di Bandung kemaren๐Ÿ‘ฟ

  5. HP LAYAR BESAR ? saya suka, apalagi ketika yang besar adadalam genggaman, masih tampak kecil ( tanganku besar wkwk).
    Hati baru karena HP baru, hanya sesaat, percayalah!

  6. BB? Pengin beli juga, namun kebutuhanku belum mendesak…
    Karena kegiatanku baru nelpon dan sms…sedang email bisa dikirim melalui kompie di rumah, atau di kantor.

    Saya malah beli kompie Hp yang kecil, yang kalau ditenteng kemana-mana tak berat, memang hanya bisa untuk ngetik, internetan, power point dan aplikasi sederhana, tapi sudah cukup untuk menaruh bahan mengajar. Walau saya punya note book kecil, cuma kok rasanya masih berat ya…jadi ingat EM yang note book nya yang gede….
    Mungkin juga karena badanku kecil..

  7. dulu waktu kecil, saya sering lihat di desa orang “angon bebek” – menggiring bebek berjalan. nah, kalau yang depan itu belok kanan, seluruh bebek yang lain ikut belok kanan, dst. itulah ‘herd principle’ (prinsip kawanan). seolah kedengaran kuno. tetapi justru di situlah jantung gagasan pemasaran produk (baru). ..๐Ÿ™‚

    salam,
    y

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s