Pingit dalam Kenangan

Apa uniknya tinggal di asrama?

Kalau kata kakakku, salah satunya adalah di sana aku bisa ikut kegiatan. Memang kakakku laki-laki dan dia tidak tinggal di Asrama Syantikara, tetapi dia punya teman yang dulu tinggal di asrama. Jadi, dia tahu sedikit-sedikit soal asrama.

Tapi terus terang, awalnya aku tidak tertarik dengan iming-iming adanya kegiatan di asrama. Apa bagusnya sih? Coba pikir, di kampus pasti ada kegiatan juga. Memangnya kurang ya kegiatan yang disediakan oleh kampus?

Ah, tapi sudahlah, akhirnya aku pun masuk asrama. Dan sebagai anak baru, aku harus memilih ikut kegiatan yang ada di sana. Ada tiga kegiatan utama di sana. Pertama adalah mengajar. Nah, untuk mengajar ini ada tiga tempat yang ditawarkan, yaitu mengajar di Sagan (daerah itu hanya berseberangan dengan asrama), mengajar di Code (ini di pinggiran Kali Code, agak jauh untuk ukuran anak asrama yang ke mana-mana hanya berjalan kaki atau paling pol naik sepeda), mengajar di Pingit (ini adalah daerah yang paling jauh, dan karena untuk ke sana kami naik bus kota. Kegiatan ini sebenarnya dimotori oleh Yayasan Sosial Soegijapranata atau YSS plus para frater Yesuit tentunya). Kegiatan yang kedua adalah koor. Kelompok koor ini biasanya menunjukkan aksinya saat misa di Kapel Bintang Samudera dan Kapel Panti Rapih. Sedangkan kegiatan yang ketiga adalah Pendalaman Iman (PI). Sebenarnya agak janggal juga bagiku ketika PI dijadikan kegiatan wajib. Pendalaman iman itu kan suka-suka orang. Imannya mau diperdalam kek, mau enggak kek, ya suka-suka dia kan?😉 (Mulai ngeyel deh…) Tapi di awal-awal aku toh memilih PI sebagai kegiatan asrama. (Hahaha!)

PI sebagai kegiatan asrama memang kegiatan yang paling santai. Biasanya kegiatan ini dipilih oleh anak yang kuliahnya memang sibuk, seperti anak-anak kedokteran atau farmasi. Kegiatan ini berlangsung di hari Sabtu sore. Tapi jangan tanya kegiatan PI itu ngapain aja ya? Aku wis lali alias lupa :p

Akhirnya aku bosan juga dengan PI. Lagi pula, PI itu kan Sabtu sore. Nah, giliran anak-anak yang lain bersantai atau berencana jalan-jalan keluar asrama untuk refreshing, aku justru wajib ikut PI. Yah, akhirnya aku mundur deh. Godaan untuk ikut bersantai dengan teman-teman yang lain lebih menarik.

Lalu aku mau ikut kegiatan apa dong? Mau ikut koor, aku tahu diri dengan suaraku yang pas-pasan ini. Lagi pula, biasanya mereka tampil di hari Minggu. Dan aku yang masih suka mbok-mboken alias kangen ibu, biasanya pulang kampung di hari Sabtu-Minggu. Nah, kalau harus ikut koor, nggak jadi pulang dong? Ah, ogah. Maka tinggal satu pilihan, mengajar. Alamaaak! Mules-mules deh kalau aku harus mengajar. Tapi demi bisa pulang di akhir minggu, aku pun memilih mengajar. Dan karena di unitku dulu banyak yang mengajar di Pingit, aku pun ikut saja ke Pingit.

Aku awalnya menghibur diri bahwa dengan ke Pingit, aku bisa “refreshing” di tengah minggu karena untuk ke sana kan lumayan jauh tuh. Mesti berjalan kaki dari asrama ke pangkalan bus kota jalur 15 di dekat Sekip. Yah, kira-kira berjalan kaki 15 menit lah. Lalu naik bus selama kurang lebih 30 menit. Anggap saja butuh waktu 1 jam untuk sampai ke sana.

Harus kuakui, aku bukanlah volunteer yang bagus, yang punya komitmen kuat dan tahan banting. Ada banyak teman yang punya hati lebih untuk mereka seperti Mbak Pudji, Mbak Paulin, Mbak Susi, dll. Tapi toh aku merasa kegiatan di Pingit itu menorehkan jejak yang masih kuingat betul sampai sekarang. Lewat kegiatan itu, aku jadi tahu bahwa di balik gedung-gedung itu terdapat sebuah perkampungan padat, yang rumah-rumahnya mepet-mepet, dengan kondisi yang bisa dibilang kurang sehat. Di situ YSS mendirikan beberapa petak-petak yang bisa dihuni oleh tunawisma. Diharapkan dengan mendapatkan bantuan, mereka bisa hidup wajar dan mandiri. Artinya bisa memiliki surat pelengkap identitas diri, mendapatkan kesempatan kerja, bisa menyekolahkan anak-anaknya, dll. Yah, seperti wajarnya warga masyarakat pada umumnya. Hmmm… setahuku begitu. Tolong koreksi saya jika salah ya.

Melihat orang-orang di sana sebenarnya akan mudah menimbulkan rasa iba bagiku. Oke, bisa dikatakan aku lebih beruntung daripada mereka. Tetapi bukan berarti aku bisa menganggap rendah mereka. Bagaimanapun mereka tetap manusia yang punya harga diri. Iya kan? Jadi, sebenarnya tidak bijak jika kita berdiri di atas mereka lalu seolah-olah mengulurkan tangan ke bawah untuk menarik mereka ke posisi yang lebih baik. Tapi menurutku, berdirilah sejajar dengan mereka. Jadilah teman. Rasakan apa yang mereka rasakan. Dengan begitu, kita bisa ikut memberdayakan mereka. Bukan sekadar memberi ikan, tetapi ikut duduk di tepi sungai, mengobrol, dan menemani memancing. Jika cara memancingnya kurang tepat, kita bisa memberi masukan. Bukan sekadar menyuruh ini itu supaya mereka bisa maju.

Dari kegiatan itu, aku jadi tahu alangkah sulitnya mengubah cara pikir mereka. Misalnya, ada anak yang biasa minta-minta di perempatan jalan. Dia akan sulit sekali diajak duduk bersama dan mengerjakan PR sekolah. Mereka menganggap sekolah itu tidak penting. Karena toh, tanpa sekolah pun mereka sudah bisa dapat uang, kok. Biasanya anak-anak semacam itu tak jarang suka bikin ulah. Nakalnya bukan main. Bahkan sudah biasa jika di ruangan kelas tempat kami belajar bersama itu, mereka gaduh, melompat ke sana ke mari. Dimarahi tak ada gunanya. Apalagi untuk volunteer yang tidak mereka takuti seperti aku ini. Duuuh! Mau nangis rasanya.

Selain mengajar, kami biasanya berkunjung ke rumah-rumah warga yang memang mendapat bantuan dari YSS. Mengunjungi mereka itu berarti ikut mengobrol bersama mereka, menghabiskan waktu untuk mendengarkan keluh kesah mereka, tetapi juga tak jarang ikut merasakan kegembiraan yang mereka rasakan seperti bisa mendapatkan uang lebih saat mengamen. Kadang capek juga mendengarkan keluhan mereka yang itu-itu saja. Misalnya, ya nggak punya uang, pekerjaan yang semakin sulit. Rasanya pengen menjadi sinterklas dadakan, yang bisa memenuhi kebutuhan mereka. Tapi ya, mau bagaimana lagi? Wong aku (saat itu) cuma mahasiswa, uang juga masih minta orang tua.

Ya, kegiatan di Pingit itu memang sudah sepuluh tahun lebih kutinggalkan. Tetapi jejaknya masih ada sampai sekarang. Berkegiatan di sana membuatku memiliki pemikiran yang lain terhadap orang yang terpinggirkan. Mereka memang miskin dan kita akan dengan mudah merasa iba terhadap mereka. Tetapi itu tidak cukup. Jika kita memang betul-betul peduli, jadilah teman mereka. Itu berarti kita harus mau berdiri sejajar dengan mereka. Mungkin dengan sedikit merunduk; mungkin dengan melepaskan semua atribut yang menunjukkan bahwa kita lebih beruntung dari mereka. Jika kita sesekali hanya turun membantu dan menebar senyum kepada mereka, rasanya kok kurang pas ya? Itu menurutku loh. Soalnya itu ibarat memberi ikan kepada mereka, yang dalam sekejap akan habis. Itu hanya akan membuat mereka tidak mandiri. Butuh banyak tenaga dan hati yang cukup luas untuk itu. Karena untuk semua itu butuh waktu yang tidak singkat. Karena kupikir yang mesti diubah adalah cara berpikir mereka, cara mereka memosisikan diri. Tapi lagi-lagi itu sulit, karena pemerintah memang tidak memberi tempat bagi mereka. Jika sekarang ada banyak seminar yang membicarakan kemiskinan, rasanya tidak berlebihan jika kubilang itu tak ada gunanya. Lebih baik turunlah, dan jadilah teman mereka. Ikutlah merasakan dinamika hidup mereka. Siap?

22 thoughts on “Pingit dalam Kenangan

  1. Wah, kenangan iki!
    Sik, Pingit kuwi rak cedhak Samsat yo?

    Kris, meski aku dulu anak asrama tapi aku nggak pernah ikut kegiatan begituan dan aku menyesal. Harusnya kalau aku ikut kegiatan begituan tentu hidupku akan lebih berwarna🙂

    Aku mangsuk asrama sing swasta yang meski aturannya asrama tapi kita tetap borju hahaha Hidup asrama ampel 2!

    • Iyo Don, Pingit cedak Samsat, mburi Janabadra. Aku dulu juga sebenarnya menganggap ini hanya sebagai kewajiban. Tapi sekarang aku berpikir, kegiatan itu memperkaya hidupku. Asrama Ampel ki samping JB yo Don?

  2. Mbak setuju sekali. Mengubah perilaku, pola pikir itu butuh waktu yang luar biasa lama juga kesabaran. Kita ingin kehidupan yg lebih baik untuk mereka namun kalau mereka gak mau ya sulit. Tapi dengan berdiri sejajar dan jadi teman, sedikit demi sedikit kita bisa memberikan pandangan sekaligus meneladankan sikap hidup.

    Mbak, itu di Pingit sana, gimana kalo apa yg mbak pernah lakukan di Pingit kita lakuin sama2 di Jakarta?

    • Ka, pertanyaan “Siap?” di akhir tulisanku ini sebenarnya kutujukan ke diriku. Aku tak tahu apakah saat ini aku benar-benar siap untuk terjun ke dunia mereka seperti dulu. Awalnya tampak mudah dan menarik. Tetapi ini kegiatan yg tidak bisa berhenti begitu saja ketika kita kehabisan energi. Btw, emang kamu siap ya Ka? Kalau siap, sebaiknya carilah komunitas yang bisa menampungmu, dan terjunlah ke sana sungguh2.

  3. Menjadi pengajar dan pemerhati (spt : mengunjungi dan mendengarkan keluhan) tidak bisa dilakukan karena merasa “wajib”. Kedua hal tersebut akan sangat menyenangkan ketika kita merasa “cinta” dengan “pekerjaannya” dan “objeknya”

    Suka dengan tulisannya yang sarat dengan pengalaman.🙂

    • Iya, pertanyaan terakhir itu yg penting. Siap nggak ya kita? Kalau aku jujur saja masih berpikir panjang. Dulu waktu masih mahasiswa sepertinya hidup ini enteng, tidak banyak tanggungan. Sekarang? Hmm … entah ya. Aku hanya tidak ingin begitu saja mengatakan ya, tetapi di tengah jalan mutung.

  4. aku pernah ikut kegiatan serupa Nik, embel embel-nya sih “mengajar” tp justru aku banyak belajar dari mereka, belajar “hidup harus diperjuangkan”, belajar “memahami dan merasakan orang lain”, belajar “menahan diri”, belajar …banyak deh…

    • Iya, sebenarnya banyak belajar juga aku dari mereka. Siapa bilang kita lebih kaya dari mereka? Kupikir, mereka juga kaya. Hidup yang keras mengajarkan banyak hal kepada mereka. Dan yah, … banyak yang sebenarnya bisa direfleksikan dari hidup mereka. Ayo mbok ditulis Mas, soal pengalamanmu itu. Menarik juga kan?

  5. Saya pernah tinggal di asrama mahasiswa. Memang wajib untuk mahasiswa IPB tingkat pertama. Rasanya berat pada awalnya harus berbagi kamar dengan orang2 asing. Tapi lama2 menyenangkan juga ada teman ^^

    Rasanya menyenangkan ya bisa punya kesempatan ikut kegiatan sosial semacam ini. Apa yang kita dapet biasanya lebih banyak dari apa yang kita beri

    • Sama, tinggal di asrama awalnya juga membuatku kagok. Tetapi lama-lama asyik juga. Dan kalau mendapat teman sekamar yg menyenangkan dan bisa kompak, waaaah… asyik sekali!

      Iya, kegiatan sosial ini benar-benar memperkaya hati🙂

      Terima kasih sudah mampir, Mbak🙂

  6. Hehehe…ternyata cerita Pingit yang nama daerah ya.
    Selama di Bogor saya tinggal kost kemudian dilanjutkan di asrama. Awalnya sulit menyesuaikan dengan makhluk asrama yang berasal dari berbagai etnis di seluruh tanah air, namun akhirnya menikmati. Dan di asrama memang penuh kegiatan, dari dan untuk penghuni asrama.
    Kegiatan yang paling berkesan, jika ada dies natalis IPB…..semua penghuni harus bikin acara melawak…yang tak lucu, bisa-bisa sandal melayang ke panggung. Tapi kalau lucu, bisa membuat penonton terkencing-kencing…hehehe

    Acara seperti ini membuat rasa pemaluku terkikis dan bisa menjadi orang yang lebih berani

  7. Pingback: THE TENDER WHISPERS BY THE LADIES « The Ordinary Trainer writes …

  8. Wa … nginget masa lalu. Tahun 1987-an kami terlibat dalam kegiatan pendampingan belajar di Pinggir kali winongo. Juga “Jalan Malam”. Sekarang di Jkt/Tng belum ada wadah macam tuh. Mbaca Blog-nya krismariana jadi keinget.

  9. Pingback: Jogja dan Acara Murah Meriah « My Writings

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s