Korupsi Itu …

Berapa tarif parkir di Jogja? Dulu, seingatku parkir motor cuma 300 rupiah. Tapi itu seingatku sudah lamaaa sekali. Lalu naik jadi 500 rupiah. Hmm, oke. Tak masalah.

Namun, aku ingat betul pernah ngeyel dengan seorang tukang parkir saat dia meminta lebih dari 500 rupiah.

“Loh, di karcisnya kan tertulis 500 rupiah, Mas?” tanyaku. Plus nada jengkel.

“Iya, tapi sekarang 1000 rupiah,” katanya. Ngotot dia juga.

“Di tempat lain masih lima ratus, Mas,” kataku lagi.

“Ini kan jalan Solo Mbak!”

Huh! Bayangkan, hanya karena kita parkir di sekitar tempat perbelanjaan, tarif parkir jadi lebih mahal. Menyebalkan. Oke, jika memang tarifnya seribu, mestinya ada aturan tertulisnya dong. Ini tidak, lo. Bahkan seingatku di beberapa jalan besar di Jogja, ada papan yang bertuliskan berapa tarif resmi untuk parkir sepeda motor. Tetapi kenyataannya? Tarifnya berlipat.

Sekarang ini kasus korupsi sedang marak. Sampai-sampai ada istilah cicak dan buaya. Di FB banyak orang yang memposting status seputar kasus korupsi ini. Ada yang memasang link berita, ada yang cuma menyuarakan pendapatnya.

Hal ini membuatku bertanya-tanya, kenapa ya kasus korupsi ini sepertinya alot banget ya? Sebagai orang bodoh dan tidak punya jabatan apa-apa, aku heran, apa susahnya menangkap koruptor? Kurasa rekaman yang kemarin diputar itu hanya salah satu bukti. Pasti ada dong bukti-bukti lain. Tetapi kok tidak segera dilakukan tindakan sih? Bahkan kesanku klemar-klemer alias lambat dan tidak ada ketegasan. Ah, embuhlah …

Tapi kurasa, korupsi ini hanya sebuah puncak gunung es. Maksudku, ada banyak hal yang jauh lebih besar yang mendasari korupsi ini. Tak usah jauh-jauh, barangkali hal-hal kecil seperti menarik uang parkir lebih besar itu juga menyumbang terjadinya korupsi yang besar sampai berjuta-juta atau bermilyar-milyar itu. Ini masalah mental bangsa ini, kupikir. Kalau bisa mengambil untung lebih banyak, kenapa tidak? begitu barangkali prinsipnya (CMIIW). Yang aku herankan adalah, kenapa ya mulai dari tukang parkir, pak RT, sampai orang-orang gedean di atas sana sepertinya sudah menganggap biasa penyelewengan uang?

Dulu, waktu aku masih di asrama, suster kepala asrama selalu mengingatkan kami untuk berhati-hati dalam hal uang. Dan salah satu petuah suster yang aku ingat adalah jika ada teman yang menitip belanja, jangan lupa berikan semua uang kembaliannya. Walaupun uang kembalian cuma 50 rupiah, itu harus dikembalikan. Uang kecil yah kelihatannya? Tetapi uang seribu tak akan jadi seribu jika kurang 50 rupiah kan? Nasihat suster itu selalu kuingat sampai sekarang. Dan kupikir, hal kecil seperti itu bisa mengatasi adanya korupsi deh. Korupsi kan intinya penyelewengan uang untuk kepentingan pribadi.

Ah, sebenarnya aku mau ngomong apa sih? Aku cuma bertanya-tanya, jika benar-benar korupsi ini dilenyapkan dari bumi Indonesia, apakah semua orang siap? Kalau aku sih seneng-seneng saja. Tapi bagaimana dengan orang yang sudah biasa mengambil uang yang bukan haknya? Jangan-jangan korupsi itu adiksi ya? Apakah orang yang demen korupsi itu kalau tidak korupsi jadi sakaw? …

(Ah, ini bener-bener postingan yang nggak mutu deh kayaknya. Muter-muter nggak jelas. Sorry buat yang baca …Hehehe.)

18 thoughts on “Korupsi Itu …

  1. Hehehe … nggak muter-muter kok Kris, aku bacanya enak aja tuh …

    Korupsi kayaknya memang sudah menjadi karakter bangsa kita. Menyedihkan sekali ya. Memang. Korupsi itu sudah meruyak ke segenap lapisan, dari lurah sampai pejabat tertinggi. Makanya kalau sekarang KPK gonjang-ganjing, itu karena kehadirannya membuat banyak orang (yang sudah biasa korupsi) terusik. Tapi gerakan massa mendukung KPK sangat melegakan, karena berarti masih cukup banyak masyarakat kita yang menentang korupsi (atau karena belum ada kesempatan saja? aduh, kok skeptis banget … hiks! 😦 )

    • Yah, ini sepertinya memang PR besar bangsa kita ya Bu. Dan memang mestinya kita bersyukur ada orang yang mendukung KPK. Jika tidak ada, wah … malah lebih menyedihkan lagi😦

  2. Ini bukan postingan yang muter2 kris …
    Ini postingan straight forward …

    moral of the posting adalah …
    jangan teriak anti korupsi dulu …
    sebelum kita bercermin pada diri sendiri …
    sudahkah kita mengembalikan uang orang lain walau itu hanya Rp. 50 rupiah saja …
    (perkara orang lain itu memasrahkan yang 50 rupiah itu … itu masalah lain …)
    yang jelas … kita harus laporkan yang 50 rupiah itu … karena itu bukan milik kita …

    Nice Post Kris …

    Salam saya Kris …

    • Ya, biarpun uang cuma 5 rupiah, kalau bukan milik kita, ya nggak sepantasnya kita ambil. Bagaimanapun itu bukan hak kita.πŸ™‚

  3. Kemarin ada cerita lucu…
    Salah satu mantan kolegaku nyaris seharian ngomel melulu via twitter. Dia bilang KPK harus dibela, dia bilang membela korupsi blah..blah..blah..

    Padahal bagiku dia pun juga seorang koruptor karena dia mencuri yang bukan haknya; menuliskan pesan twitter di saat jam kerja yang jelas itu adalah hak kantornya…

    Korupsi memang mengakar, mustahil dilenyapkan.

    • Memang kalau sedang mangkel, jengkel, kita punya kecenderungan untuk korupsi waktu dengan mengungkapkan kejengkelan itu ya. Memang sulit, tapi semoga kita bisa melenyapkan budaya korupsi. Butuh waktu, tapi entah berapa lama…

  4. wah, aku jadi bertanya-tanya, jangan-jangan ini warisan 32 tahun itu….
    kayaknya kok mustahil ya melenyapkan kebiasaan 32 tahun itu hanya dalam waktu yang singkat..

  5. korupsi memang sudah mengakar di budaya kita, tp bukan hal yang mustahil untuk kita berantas dari negeri kita…
    semua tergantung kita, apakah kita mau peduli untuk menghilangkannya atau kita anggap ini sebagai budaya yang gak bisa ilang????

    hal yang sepele yang bisa kita lakukan adalah “mengingatkan” org lain utk tidak korupsi, kl bukan kita sapa lagi????

  6. soal parkir di jogja memang bikin sebel. saya kerpa bertengkar kecil dengan tukang parkir. bila kita memberi uang 1000 mereka akan terima dan tidak dikembalikan, tapi bila kita beri 500 juga diterima… huh, jadi yang benar itu berapa sih biaya parkir di jogja? :mgreen:

    korupsi…? aih, itu adalah benang kusut yang sulit untuk diurai. tapi, bukan tidak bisa, sangat bisa, apabila kita mau… namun, celakanya, bangsa kita masih belum mau mengurai benang kusut itu…

    • Iya, betul Uda. Tukang2 parkir itu memang menyebalkan. Dikasih uang 1000 tidak dikembalikan 500 lo. Makanya aku sekarang membawa uang pas saja. Jadi, setidaknya mengurangi kecenderunganku untuk ngeyel. Memang kurasa bangsa kita belum mau mengurai benang kusut berjudul korupsi itu–entah disadari atau tidak.

  7. Korupsi memang sulit diberantas, dari mulai kecil2an, seperti ngentit (ambil diam2) uang belanja kecil2an, sampai tingkat lebih besar. Dan saya melihat ini saat tingkat akhir, karena harus penelitian dilapangan, tanpa diberi uang atau makanan para pekerja tak mau bertugas, padahal tugasnya memang di kebun, membantu para mahasiswa meneliti.

    Betul omongannya DV, bagaimana dengan orang yang bisa menjawab komentar di FB saat jam kantor?

    • Ngentit… hehehe. Istilah itu jarang saya temui di Jakarta iniπŸ˜€ Dari pengalaman Bu Enny saya pikir, korupsi itu memang sudah merajalela. Orang kecil pun ikut korupsi… Ngenes deh melihat kenyataan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s