Rambut Putih, Siapa Takut?

Satu tahun lebih aku tinggal di Jakarta. Tetapi belum pernah sekalipun aku memotong rambutku di sini. Biar pun di depan kompleks ada beberapa buah salon, aku tak pernah masuk dan meminta supaya rambutku dirapikan. Rasanya malas. Enggan. Mungkin masih ragu takut “dikemplang” alias harus membayar mahal untuk potongan rambut yang wajar. Dalam benakku, yang berlabel “Jakarta” itu mahal—padahal kualitasnya biasa-biasa saja alias tidak istimewa.     Jadi, aku hanya potong rambut ketika pulang ke Jogja. Toh hasil sama, harga lebih miring. Lagi pula aku tidak potong rambut setiap minggu kan?

Beberapa waktu lalu aku berkesempatan untuk pulang. Dan seperti biasa, jadwal tetapku saat pulang adalah potong rambut—selain belanja buku tentunya😉 Di Jogja ada sebuah salon yang tidak terlalu mahal di dekat rumahku. Aku memang selalu ke situ untuk potong rambut, tetapi tidak bisa dibilang aku pelanggan yang baik karena aku jadwalku datang adalah hitungan bulan. Ya, sekitar 2-3 bulan lah. Jadi, kurasa mbak-mbak yang bertugas di situ tidak mengenalku. Tapi itu tidak penting kan? Yang penting aku cocok dengan potongan rambutnya dan harganya.

Sore itu, setelah mengurusi pesanan tulisan dan belanja ini itu, aku mampir ke salon tersebut dalam perjalanan pulang. Nah, jika aku ke salon, berarti aku mesti menyiapkan hati untuk ditanya soal rambutku yang memutih sebelum waktunya ini. Dan memang seperti biasa, ketika si Mbak mulai mengeramasi rambutku, dia mulai bertanya, “Sekalian dicat rambutnya, Mbak?” Di salon mana pun aku selalu ditanya seperti itu, karena memang rambutku yang putih banyak sekali. “Enggak, Mbak,” jawabku seramah mungkin. Bosan juga lo ditawari seperti itu. Aku belum kepikiran untuk menyemir rambut.

Rambut putihku ini sepertinya bawaan orok. Kakakku yang usianya terpaut empat tahun dariku juga warna rambutnya sudah abu-abu alias warna rambut yang putih sama banyaknya dengan yang hitam. Ibuku sendiri ketika belum berusia 50 tahun, rambutnya sudah putih semua. Seperti nenek-nenek. Omku, adik ibuku yang paling kecil, hmmm … usianya berapa ya? Mungkin sekitar empat puluhan atau menjelang lima puluh tahun, juga sudah putih semua rambutnya. Jadi, ya sudah … kuterima saja warisan rambut putih yang muncul sebelum waktunya ini.

Memang saat ini orang bisa mengecat rambut dengan mudah. Warna pilihannya pun juga macam-macam. Tapi entah mengapa, aku tak pernah … eh belum ding, ingin mengecat rambut ya? Alasanku sih karena malas, karena jika aku sekali mengecat rambut bisa jadi mau tak mau aku harus rajin mengecat rambut dalam periode waktu tertentu. Lalu biaya untuk perawatan rambut jadi dobel-dobel dong?

Balik ke acara memotong rambut tadi. Sewaktu mulai memotong rambut, si Mbak kembali merayuku untuk mengecat rambut. Aku sekali lagi menolak dengan halus. Duh, Mbak … duitku sudah habis untuk beli buku nih, tidak cukup lagi untuk mengecat rambut, pikirku.

Urusan rambut putih ini memang susah-susah gampang. Jujur saja aku kini tidak peduli dengan rambut putihku yang sepertinya tumbuh subur setiap hari. Suamiku juga tidak mengeluhkan hal ini. Apalagi keluargaku, mereka jelas tidak komplain … karena mereka juga memiliki masalah yang sama denganku! He he. Bagaimanapun dengan memiliki rambut putih ini, aku menjadi tersadar bahwa manusia pada dasarnya akan menua. Ya itu adalah kebenaran yang tak terelakkan, tetapi mungkin tidak semua orang bisa menerima. Awalnya aku juga tidak suka dengan rambut putihku yang tumbuh subur ini. Tetapi aku pikir, mengapa aku harus menolaknya? Semua orang pada saatnya nanti rambutnya akan memutih, plus akan mengalami tanda-tanda ketuaan lainnya seperti kulit yang keriput, gigi-gigi yang tanggal, ingatan yang memudar, fisik yang tidak lagi kuat. Apakah itu hal yang mudah diterima? Entahlah, tetapi kurasa lebih mudah diucapkan. Untuk menjalani dan menerimanya dengan lapang hati, tidak semua orang bisa. Lihat saja, ada banyak produk untuk menyamarkan ketuaan: ada losion untuk anti kulit keriput, ada semir untuk membuat rambut selalu tampak hitam, dan masih banyak lagi. Tak ada yang suka dibilang tambah tua, kan?

Akhirnya aku menganggap punya rambut putih ini suatu keunikan. Jadi, kini jika orang mulai menanyakan rambut putihku, aku akan berkata, “Iya, ini tanda kebijaksanaan. Tidak semua orang punya kan?” He he.😉

20 thoughts on “Rambut Putih, Siapa Takut?

  1. Hehehe… rambutku jg udah mulai putih, dan mulai ditemukan sejak SD.

    O iya, tau Geoge Peppard gak? itu tuh Hannibal dlm The A Team. Dulu aku malah pengen punya rambut sprt dia. Abu2 semua.😀

    Pernah juga kepikir kayak si pendekar rajawali Yo Ko. Patah hati, lalu rambut memutih dalam semalam😆

    • kalau putih semua gitu malah keren loh. dulu ibuku putih semua. tp gara2 dikompori orang2 utk nyemir rambut, malah jadi merah kecoklatan sekarang. tapi kalau rambut bisa memutih saat patah hati, bisa langsung ketahuan dong kalau lagi patah hati… hehehe.

  2. Hehehehehe, di sini banyak bule tampan dan cantik berambut perak, paduan dari rambut hitam dan uban…

    Be yourself, Kris! Maju terus! Tuhan toh tak mempedulikan apa warna rambut kita kok🙂

    • sing jelas don, nek nyemir rambut ki ongkose dobel2 ngko… hahaha. sayang duite… dan mending begini saja. asli, alami..🙂

  3. aku juga mengalami uban dini, Kris. Sesekali aku mewarnai sendiri.

    Sejak punya anak, rambutku lebih sensitiv, mudah sekali rontok maka dari itu aku membiarkannya alami. Toh nabi Salomo jg pernah menulis di kitab Amsalnya : bahwa rambut putih adalah mahkota orang bijak..hehehe

    Soal potong rambut, aku tetap sering di Jakarta. Kalau aku harus pulang dulu ke Jawa Timur, rasanya Cost-nya jauh lebih gedhe..hehehe..

    • memang ris, kalau potongnya nunggu pas kamu pulang ke jawa timur jelas kelamaan dan ongkosnya besar. aku ini kan “pengacara” alias pengangguran banyak acara yg sering kangen rumah, jadi aku kadang2 pulang… dan sekalian potong hehe

  4. hehehe
    aku tidak takut tua
    tapi aku senang bermain dengan warna
    mengubah kepribadian dan penampilan sesuai warna rambut.
    biasanya warna agak terang untuk musim panas,
    dan warna gelap, seperti merah maroon untuk musim dingin.

    Tapi aku suka dengan pria yang berambut banyak dan sedikit hiasan putih-putih. (Bapakku rambutnya semakin tua malah hilang alias botak sih) Kelihatannya dewasa dan bijaksana sekali.

    EM

    (Jadi ingat udah mesti ganti warna hihihi)

  5. Waktu ketemu Kris di Yogya, aku memang agak heran, wajah masih muda tapi kok rambut sudah diselingi putih. Yang penting memang kepribadian kok Kris. Kalau kita memang yakin dan mantap dengan penampilan kita, orang akan menilai kita juga dari kemantapan kita …

    Hidup rambut putih! (besok juga rambut kita akan putih semua)

    • Hehe, iya Bu … rambut putih saya memang banyak sekali, dan sekarang rambut-rambut yang memutih itu semakin tidak malu-malu menunjukkan keberadaannya🙂

  6. Saat mahasiswa rambutku sudah ada yang putih, demikian juga anakku sekarang. Saat menikah sampai punya dua bayi, saya masih tahan, namun karena saya bekerja di bidang yang klien nya harus menaruh kepercayaan besar, maka akhirnya setelah si bungsu lahir, mau tak mau harus di cat, karena rasanya saya jarang sekali melihat perempuan berambut putih yang masih kerja di sekelilingku.

    Selama masih nggak terlalu banget, biarkan aja Kris, tapi jika sudah melahirkan dan putihnya makin banyak, pake aja cat rambut yang berasal dari akar2an….henna dan semacamnya. Dan yang mengecat cukup si mbak, dia udah lihai sekali.

    • Dulu sempat terpikir untuk mengecat rambut dengan henna atau cat rambut yang dikatakan “alami” itu. Tapi kok rasanya sayang ya memberikan bahan2 seperti itu ke rambut saya yg belum pernah disentuh apa-apa selain hair dryer… Lagi pula pekerjaan saya tidak menuntut saya berpenampilan prima. Jadi, ya … begini saja. Tapi kelak siapa tahu saya berubah pikiran😉

  7. Wah untung rambut putihnya banyak…Kalau aku, orang salon nggak pakai nanya a- atau u…langsung dicabut…sebel banget…bener aja tumbuh jadi lebih banyak lagi!

    Eh, memangnya melahirkan itu bisa bikin rambut putih ya? Habis melahirkan anak pertama memang aku jadi punya 5 rambut putih, punya anak kembar nambah lagi….eh ketemu mbak salon yang terlalu “baik hati” jadinya tambah banyak…Sementara ini juga masih kubiarin, dan kayaknya sih nggak bakal kuwarna karena aku memang agak pemalas untuk urusan rambut, dan juga karena aku gampang alergi….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s